27/07/2026
Culture Opini Screen Raves

‘Would You Marry Me’, Plot Pura-pura Menikah, dan Klise-klisenya

Jika dieksekusi dengan baik, klise bisa menjadi daya tarik. Tapi, Would You Marry Me justru melakukan hal-hal berikut.

  • February 27, 2026
  • 7 min read
  • 2831 Views
‘Would You Marry Me’, Plot Pura-pura Menikah, dan Klise-klisenya

(Tulisan ini mengandung spoiler)

Jujur, Would You Marry Me dimulai dengan premis yang meyakinkan meskipun sekilas terlihat klise.

Yoo Me-ri (Jung So-min) adalah seorang designer yang tidak sadar bahwa dirinya adalah keset. Tunangannya, Kim Woo-ju (Seo Bum-june), tidak hanya membiarkan Me-ri mengurusi pernikahan mereka sendirian, tapi juga diam-diam berselingkuh. Bahkan ketika Me-ri mengkonfrontasinya soal perselingkuhan ini, Woo-ju meng-gaslight Me-ri habis-habisan. Ugh, men

Tapi, mimpi buruk Me-ri tidak berhenti di sini. Apartemen yang tadinya akan ia tempati bersama Woo-ju ternyata bodong. Me-ri ditipu oleh makelar dan sekarang menemukan dirinya tidak punya tempat tinggal.

Malam itu Me-ri mabuk dan tidak sengaja bertemu dengan Kim Woo-ju (Choi Woo-shik). Nama yang sama dengan mantan tunangannya ini akan berguna saat Me-ri ternyata memenangkan undian raffle yang diadakan sebuah mal. Me-ri dan mantan tunangannya memenangkan undian rumah baru di kompleks mahal. Masalahnya untuk mengklaim hadiah tersebut, ia harus hadir bersama suaminya. Tak ada pilihan lain selain mengajak Woo-ju, yang baru untuk berpura-pura menjadi suaminya.

Seperti yang sering saya katakan, tidak ada yang salah dengan mengikuti pakem genre. Klise ada bukan tanpa alasan—ia bertahan karena pola yang familiar itu terbukti berhasil. Jika dieksekusi dengan baik, klise justru bisa menjadi daya tarik. Ada kenikmatan tersendiri saat menonton cerita yang alurnya bisa kita tebak; itulah sebabnya saya selalu menonton romcom

Plot “pura-pura jadi pasangan lalu benar-benar jatuh cinta” yang dipakai Would You Marry Me jelas bukan hal baru. Bahkan bagi Jung So-min, ini bukan pertama kalinya—ia pernah memainkan dinamika serupa dalam Because This Is My First Life. Namun, ketika terlalu banyak klise ditumpuk tanpa sudut pandang baru atau eksekusi yang tajam, hasilnya justru terasa hambar.

Review ulasan drakor Would You Marry Me
Foto: IMDB

Baca juga: ‘Dynamite Kiss’: Drama Klise dan Ciuman yang Mengubah Hidup

Kurang Dramatis

Klise pertama yang dipakai Would You Marry Me adalah trope “kita dulu pernah saling kenal”—formula yang sudah sangat akrab dalam drama Korea. Serial ini jelas bukan yang pertama, dan tentu bukan yang terakhir, yang mengandalkan premis “kita pernah bertemu di masa lalu, dan itulah alasan kita terhubung di masa kini.” Beberapa drama Korea memang menggunakan klise ini dengan tepat guna, tapi dalam Would You Marry Me rasanya seperti tambahan bumbu yang tidak perlu. 

Drama ini sebenarnya berusaha meracik trope tersebut dengan pendekatan berbeda. Biasanya, dalam drama Korea, momen ketika dua karakter menyadari bahwa mereka pernah terhubung di masa lalu akan dikemas secara dramatis—lengkap dengan slow motion, potongan gambar cepat setiap beberapa detik, dan deklarasi yang emosional.

Would You Marry Me memilih jalur sebaliknya. Tidak ada fanfare, tidak ada slow motion. Woo-ju, yang lebih dulu menyadari bahwa ia dan Me-ri pernah bertemu saat kecil, tiba-tiba saja mulai menuruti semua permintaan Me-ri tanpa penjelasan besar. Pendekatan yang understated ini sebenarnya bisa terasa segar. 

Namun hasil akhirnya justru terasa datar, karena momen yang sudah dibangun dengan set-up dramatis tadi sengaja “dimatikan”. Alih-alih terasa subtil, ia kehilangan dampaknya sama sekali.

Baca juga: ‘Bon Appétit, Your Majesty’: Cinta dalam Sepiring Konspirasi

Berebut Harta Harusnya Bukan Ornamen Tambahan

Klise kedua yang diangkat Would You Marry Me adalah konflik perebutan harta keluarga. Woo-ju tentu saja digambarkan sebagai seorang chaebol yang sempat “dibuang” ke Amerika setelah dituduh sebagai penyebab kematian kedua orang tuanya. Kini, ketika ia kembali ke Korea, posisinya otomatis diarahkan sebagai calon penerus—dan, seperti yang bisa ditebak, selalu ada anggota keluarga yang siap melakukan apa saja untuk menghalangi jalannya.

Jika dieksekusi dengan tepat, konflik “tokoh utama versus keluarga” bisa menjadi sumber emosi yang kuat. Queen of Tears, misalnya, menggunakan plot perebutan harta dan kekuasaan bukan hanya untuk menaikkan taruhan cerita, tetapi juga untuk memperdalam karakter-karakternya. Ada konsekuensi yang nyata, ada sebab-akibat yang membentuk perubahan psikologis para tokohnya.

Sebaliknya, dalam Would You Marry Me, konflik ini terasa seperti ornamen tambahan. Ia hadir sekadar untuk memberi Woo-ju sedikit hambatan—dan saya tekankan, sedikit. Sebab hampir semua rintangan itu dapat diselesaikan dengan relatif mudah, tanpa konsekuensi berarti yang benar-benar mengubah arah cerita atau perkembangan karakternya.

Foto: IMDB

Baca juga: ‘King the Land’: Drakor dengan Formula Cinta Klasik Antara Si Kaya dan Si Miskin

Kejutan yang Gagal

Klise terakhir terlihat dari penggambaran karakter antagonisnya—baik sang mantan tunangan yang brengsek maupun musuh dalam keluarga—yang ditulis tanpa upaya menjadikan mereka tiga dimensional. Mantan tunangan Woo-ju bersama keluarganya digambarkan sebagai oportunis satu nada, tipe karakter yang tak pernah belajar dari kesalahan. Sementara itu Jang Han-joo (Kim Young-min—ironisnya juga tampil kuat di Queen of Tears) hadir sebagai sosok om-om ambisius yang akan melakukan apa pun demi kekayaan. 

Maka ketika ia akhirnya diungkap sebagai dalang kematian orang tua Woo-ju yang sebenarnya, twist itu nyaris tak terasa mengejutkan.

Semua klise ini sebenarnya masih bisa dimaafkan—jika drama ini berhasil melakukan tugas utamanya: menjual romansa dua karakter sentralnya. 

Full House dan Because This Is My First Life sama-sama memakai premis “pura-pura menikah”, tetapi memanfaatkannya untuk membuat kedua tokohnya saling mengenal, belajar, lalu perlahan jatuh cinta. Daya tarik utama trope ini ada pada proses tarik-ulurnya—pada momen-momen kecil yang bikin penonton gemas. Tak harus selalu besar dan dramatis; adegan sesederhana satu karakter yang ngambek karena pasangannya pulang terlambat pun bisa terasa manis jika dibangun dengan tepat.

Sayangnya, Would You Marry Me melewatkan kegemasan itu. Ia terlalu sibuk dengan konflik perebutan harta, manuver si mantan tunangan, serta subplot second lead yang tak berkembang. Karakter Yoon Jin-kyung (Shin Seul-ki), dokter keluarga yang dekat dengan Woo-ju, diposisikan sebagai love interest alternatif, sementara Baek Sang-hyun (Bae Na-ra)—pegawai department store yang berperan dalam kemenangan undian rumah Me-ri—sebenarnya punya potensi menarik sebagai pengganggu “pernikahan pura-pura” mereka. Namun potensi itu buyar ketika Sang-hyun dibebani subplot hutang budi pada atasannya yang tak pernah benar-benar matang, dan Jin-kyung sebagai rival romantis terasa datar—nyaris tanpa dimensi.

Padahal klise bisa menjadi senjata yang efektif, terlebih ketika didukung dua aktor utama dengan kemampuan akting yang mumpuni. Alih-alih memanfaatkan pakem-pakem tersebut untuk membangun emosi dan kedekatan, drama ini justru tenggelam dalam plot tambahan yang terasa tidak esensial. Ketika romansa—yang seharusnya menjadi jantung cerita—tak pernah benar-benar mekar, elemen lainnya pun kehilangan arti. Pada akhirnya, Would You Marry Me bukan gagal karena terlalu klise, melainkan karena ia lupa mengajak penonton untuk ikut jatuh cinta.

Klise yang terakhir adalah penggambaran karakter antagonisnya—baik si mantan tunangan yang brengsek atau musuh dalam keluarga—yang digambarkan tanpa adanya usaha untuk membuat mereka tiga dimensional. Woo-ju si mantan tunangan bersama keluarganya adalah tipe oportunis yang tidak punya kemampuan untuk belajar dari kesalahan mereka. Sementara itu Jang Han-joo (Kim Young-min, yang ironisnya tampil di Queen of Tears) adalah tipe om-om yang melakukan segala cara untuk kaya. Sama sekali bukan kejutan akhirnya ia di-reveal sebagai penyebab kematian orang tua Woo-ju yang sebenarnya.

Semua klise yang hadir dalam Would You Marry Me sebenarnya bisa dimaafkan kalau drama korea ini melakukan tugas utamanya dengan baik: menjual romansa dua karakter utamanya dengan baik.

Plot Sang-hyun yang selalu hadir untuk mempersulit pura-puranya Me-ri dan Woo-ju sebagai pasangan sebenarnya menarik. Tapi, Sang-hyun kemudian dibebankan tambahan plot yang tidak berkembang—hutang budinya dengan si bos yang membuatnya harus mau melakukan apa pun—dan Jin-kyung sebagai love interest sama menariknya dengan tisu kamar mandi.

Klise sebenarnya bisa menjadi senjata yang efektif. Apa lagi Would You Marry Me memiliki dua aktor utama yang memiliki kemampuan akting yang baik. 

Namun, alih-alih memanfaatkan kekuatan klise untuk membangun emosi dan kedekatan penonton dengan karakter, Would You Marry Me justru sibuk dengan plot tambahan yang terasa tidak perlu. Ketika romansa yang seharusnya menjadi jantung cerita tidak pernah benar-benar mekar, yang lainnya jadi tidak penting lagi. Pada akhirnya, Would You Marry Me bukan gagal karena terlalu klise, tapi karena ia lupa mengajak penonton untuk ikut jatuh cinta.

About Author

Candra Aditya

Candra Aditya adalah penulis, pembuat film, dan bapaknya Rico. Novelnya ‘When Everything Feels Like Romcoms’ dapat dibeli di toko-toko buku.