07/07/2026
Issues

Belajar #BerdayaMemberdayakan di Hari Kartini

Serial #BerdayaMemberdayakan di Hari Kartini ini bicara soal ruang aman bagi perempuan dan kesetaraan gender. Baik itu di ranah domestik maupun publik.

  • April 21, 2026
  • 3 min read
  • 776 Views
Belajar #BerdayaMemberdayakan di Hari Kartini

Kartini bukan cuma perempuan yang dikenang karena keresahannya hidup sebagai tawanan patriarki, tapi juga roh yang berhasil jadi hantu gentayangan di hati kita semua: orang-orang yang masih membayangkan hari-hari tanpa opresi.

Tiap tahun ia dirayakan, orang-orang berefleksi atas gagasan yang ia lawan. Mengulitinya dan mengaitkannya dengan hari ini—hari-hari yang buat Kartini, adalah masa depan.

Perempuan masih dipinggirkan di ruang domestik. Laki-laki masih dibatasi oleh definisi maskulinitas sempit. Relasi masih sering timpang, bahkan di rumah sendiri. Sejauh mana jarak refleksi Kartini dan situasi kita hari ini?

Lewat #BerdayaMemberdayakan, kami merangkum cerita-cerita tentang bagaimana kesetaraan dibentuk, diuji, dan diperjuangkan.

Di Indonesia, ayah rumah tangga masih sering dicap “kurang jantan”. Padahal, keterlibatan ayah dalam pengasuhan justru memperkuat keluarga dan membentuk maskulinitas yang lebih utuh: punya empati dalam, kehadiran tulus, dan kemitraan yang setara.

Baca artikel selengkapnya di sini.

Bicara letak dapur bukan cuma soal desain rumah, tapi juga bagaimana ruang domestik membentuk relasi gender dalam keluarga. Siapa yang terlihat ketika bekerja di sana? Siapa yang tetap bisa terlibat dalam percakapan? Dan siapa yang, sebaliknya, hilang dari ruang sosial rumah karena harus berada “di belakang”?

Baca artikel selengkapnya di sini.

Di Hari Kartini, penting untuk mempertanyakan apakah Kartini benar-benar punya ruang aman untuk tumbuh. Ia ditekan oleh tradisi pingitan, namun Kartini tetap punya caranya sendiri untuk melawan. Bagi Kartini, menulis bukan sekadar cara berekspresi, tetapi juga cara bertahan dan, dalam batas tertentu, cara melawan.

Baca tulisan lengkapnya di sini.

Salah satu kontributor kami bercerita bagaimana keluarganya membangun kesadaran anak terhadap kesetaraan gender dengan cara pembagian peran ‘I cut, you choose’. Nilai tersebut mulai diperkenalkan melalui praktik pembagian peran yang setara di rumah sehingga anak memahami tentang relasi yang adil antara laki-laki dan perempuan.

Baca artikel selengkapnya di sini.

Ketenangan didapat bukan karena menikah, tapi karena menikah dengan orang yang tidak pernah menyepelekan urusan orang lain. Ini yang dialami oleh salah satu kontributor kami ketika akhirnya menikah dengan suami yang mau bekerja sama demi rumah tangga yang sehat. 

Baca artikel selengkapnya di sini.

Putusan pengadilan soal nafkah anak bersifat tegas, formal, dan resmi, tapi tak punya daya paksa. Akhirnya, hak yang harusnya diterima anak kandas akibat sistem yang masih melihat istri dan anak sekadar objek pendataan atau ilustrasi masalah.

Baca laporan selengkapnya di sini.

Sebagai seorang ayah, salah satu kontributor kami bercerita bagaimana kepercayaannya soal ruang aman bagi anak perempuannya goyah setelah membaca kasus pelecehan seksual verbal yang dilakukan 16 mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Indonesia terhadap puluhan korban, termasuk mahasiswi dan dosen perempuan, di dalam grup obrolan internal. Baginya, yang menyakitkan adalah bagaimana mereka memandang perempuan sebagai bahan candaan dan objek hiburan. 

Baca tulisan lengkapnya di sini.

Konser dangdut yang identik dengan dominasi laki-laki, bau alkohol, senggolan fisik, dan suasana yang kerap membuat perempuan memilih menjauh, kini mulai berubah. Lewat kesuksesan musik hip-hop dut, perempuan mulai merasa aman berada di ruang konser. Syaratnya sederhana: Laki-laki berhenti mengontrol, lalu mulai ikut menciptakan rasa aman.

Baca artikel lengkapnya di sini.

Kemarahan laki-laki sering dilihat sebagai suatu hal yang tegas dan mampu memimpin. Sementara perempuan dianggap berlebihan. Di balik standar ganda ini, ada budaya policing emosi berbasis gender yang masih dilanggengkan masyarakat. 

Baca laporan selengkapnya di sini.

About Author

Amanda Andina Nugroho

Amanda adalah seorang Pecinta guguk, paling gemes sama corgy. Suka baca buku fiksi dan jalan-jalan tapi malah uangnya yang jalan-jalan.