Di keluargaku, kondisi ini punya nama sendiri, yaitu “sangkuk” alias punggung bengkok. Baru bertahun-tahun kemudian aku tahu nama medisnya adalah skoliosis, kelainan pada tulang belakang yang melengkung ke samping dan bisa memengaruhi postur, keseimbangan, hingga menimbulkan nyeri.
Hilalnya mulai terlihat ketika aku praremaja. Awalnya aku tidak terlalu ambil pusing. Tetangga sering berkomentar, guruku tampak khawatir, tapi aku merasa baik-baik saja. Paling hanya pegal dan panas menjalari punggung kalau berdiri terlalu lama, dan hal itu kuanggap wajar.
Lalu tubuhku pelan-pelan berubah dan kebingunganku ikut tumbuh. Bagian kiri tubuhku terasa lebih lurus, sementara sisi kanan lebih berlekuk. Torsoku terasa pendek, perut seperti tidak punya ruang sehingga mudah berlipat. Kakiku tampak berbeda panjang, bokong terasa rata, payudaraku tidak simetris. Aku melihat semua itu di cermin, tapi tidak punya bahasa untuk menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Tidak ada yang bisa menjawab pertanyaanku. Yang ada justru solusi praktis yang terdengar sederhana, tapi meninggalkan jejak panjang, “Pakai baju longgar saja.”
Sejak itu, aku hidup dalam balutan baju kebesaran, dalam arti harafiah. Hampir semua bajuku selalu satu atau dua ukuran di atas ukuran tubuhku. Aku tidak selalu protes. Baju longgar memang nyaman dan tidak gerah, tetapi alasan di baliknya yang menyakitkan. Seolah punggung sangkuk adalah aib yang wajib disembunyikan, dan tubuhku rusak sehingga harus disamarkan.
Di sinilah stigma bekerja dengan cara yang halus. Bukan lewat hinaan terang-terangan, tapi lewat kebiasaan kecil yang dianggap demi kebaikan, dengan menutup, menyamarkan, dan melarang menonjol. Dalam budaya yang menilai tubuh perempuan sebagai proyek visual, perbedaan fisik sering dibaca sebagai kekurangan yang mengganggu standar cantik.
Padahal skoliosis bukan persoalan estetika, tapi kondisi medis yang bisa memengaruhi kualitas hidup. Namun karena minim pengetahuan, skoliosis sering diperlakukan seperti kesalahan personal akibat kurang olahraga, salah duduk, kurang rapi, atau kurang “menjaga diri.”
Baca juga: Misdiagnosis, Problem Laten yang Ancam Kesehatan Perempuan
Minim pengetahuan, terlambat mengerti
Saat pandemi, arus konten glow up merajalela. Banyak tips mempercantik diri berseliweran, dan aku ikut menjadi konsumennya. Aku menautkan semua ketidaknyamanan tubuhku pada satu tujuan untuk menjadi “proporsional.” Aku ingin perut rata, bokong lebih besar, badan terlihat normal. Aku mengikuti video YouTube tentang mengecilkan perut dan membentuk bokong, olahraga tanpa ampun dan tanpa libur.
Saat itu, aku tidak berpikir bahwa gerakan tertentu bisa jadi tidak cocok untuk tubuh dengan tulang belakang yang melengkung, dan bahkan berisiko cedera. Aku hanya ingin dilihat sebagai perempuan yang cantik, yang tubuhnya “normal”.
Butuh waktu lama untuk sadar bahwa aku sedang menyiksa diri demi standar yang bahkan tidak dirancang untuk orang sepertiku. Titik balik itu datang ketika aku kuliah berkat terbukanya dunia pengetahuan. Aku mulai memahami skoliosis secara lebih nyata. Bukan sekadar ilustrasi anak laki-laki yang duduk meliuk di bangku sekolah, melainkan tubuh manusia yang hidup, terutama perempuan.
Aku mengerti bahwa tulang belakang yang berkelok bisa “memendekkan” torso sehingga perut tidak akan pernah terhampar rata seperti dalam iklan. Aku mengerti mengapa tulang rusuk bisa terdorong, mengapa payudara menjadi asimetris, mengapa pegal dan panas muncul di punggung ketika berdiri, duduk, berjalan, bahkan ketika terlalu lama rebahan.
Pengetahuan itu memberi dua hal sekaligus: tenang dan sedih. Tenang karena akhirnya aku tahu ini bukan salahku, tapi sedih karena aku terlambat mengetahui. Seandainya sejak awal ada informasi yang cukup di sekolah, puskesmas, dan keluarga, mungkin aku bisa memeriksa lebih cepat, memahami pilihan penanganan, dan menghindari bertahun-tahun menyalahkan tubuh sendiri.
Aku mulai mencari orang lain yang mengalami skoliosis. Aku membaca dan menggali informasi. Salah satu yang membuatku merenung adalah tulisan dr. Clayton Stitzel yang dikutip melalui situs ScoliSMART, yang merujuk pada American Academy of Orthopedic Surgeons. Ia menyebut bahwa skoliosis idiopatik cenderung lebih sering terjadi pada perempuan, terutama saat memasuki masa remaja, dan dapat berkaitan dengan berbagai faktor termasuk hormon.
Kurva bisa bertambah seiring pertumbuhan, sehingga sering baru disadari ketika sudah cukup terlihat, ketika penanganannya bisa lebih kompleks. Informasi seperti ini bukan untuk membuatku mendiagnosis diri sendiri, tetapi untuk menegaskan satu hal: minimnya pengetahuan membuat banyak perempuan terlambat tahu, terlambat ditangani, dan keburu menanggung stigma.
Baca juga: Peluang Sembuh atau Rasa Utuh, Dilema Perempuan Hadapi Mastektomi
Stigma, standar cantik, dan upaya berdamai
Berbekal informasi yang cukup, aku mencoba menjelaskan kepada keluargaku tentang kondisiku dan rencana penanganan yang ingin kutempuh. Respons mereka memantulkan stigma yang selama ini menempel di udara rumah: “Tenang saja, nanti juga ada yang menerima kamu apa adanya. Pasti ada jodohnya.” Mereka malah menyarankan metode pengobatan alternatif, yakni obat pelunak tulang. Apakah aku tampak seperti ikan bandeng yang bisa dilunakkan tulangnya? Sejak saat itu, aku bertekad untuk mengumpulkan uang sebanyak mungkin untuk mengakhiri atau setidaknya mengurangi rasa tak nyaman yang kurang ajar ini.
Sejak hari itu pula, aku mulai melirik kembali pakaian-pakaian lamaku yang dulu kuanggap “kekecilan”. Aku mulai mengukur badanku dengan benar dan memilih ukuran yang sesuai saat membeli pakaian, bukan sekadar memilih ukuran terbesar yang ada di katalog. Masih ada hari-hari ketika rasa minder datang, tapi aku belajar melihatnya sebagai bagian dari proses, bukan kegagalan.
Momen yang paling menghangatkan datang saat wisuda. Dulu aku membayangkan akan memilih kebaya atau gaun longgar dengan banyak detail untuk menyamarkan punggung. Namun akhirnya aku memilih kebaya dan rok batik yang benar-benar pas mengikuti ukuran tubuhku. Rasanya seperti mengembalikan tubuhku sendiri kepadaku. Untuk pertama kalinya, aku tidak menilai diriku dari tonjolan punggung atau lipatan perut. Aku bisa melihat kakiku yang jenjang, torsoku yang imut, dan bentuk tubuh yang—meski tidak simetris—tetap layak dirayakan. Aku bisa memilih setelan yang aku suka, bukan yang “aman”.
Perjalanan menerima skoliosis ini masih panjang. Masih banyak hal yang perlu aku unlearn. Tapi setidaknya aku sudah memulai sesuatu yang baik dengan menghargai dan menyayangi tubuh yang telah menopang dan membawaku sejauh ini. Tentu aku ingin mengobati dan menyembuhkan diriku, tapi kini fokusnya bukan lagi untuk tampil “cantik” dan mencari jodoh, melainkan untuk menyelesaikan masalah medis sesuai prosedur sebenarnya agar tidak mengganggu aktivitas harianku lagi.
Aku harap tulisan kecil ini dapat memeluk dan menghangatkan hati teman-teman dengan skoliosis di luar sana. Tidak ada yang perlu disembunyikan atau ditutupi. Kita semua indah, berharga, dan lebih dari sekadar apa yang ada di balik baju itu.





















