Jauh sebelum puasa dimulai, grup keluarga saya sudah ramai menentukan dresscode baju Lebaran. Dalam grup obrolan daring itu, salah satu anggota keluarga saya membuat polling penentuan warna baju lebaran. Tahun ini opsinya ada empat warna. Cokelat mahogany dan kuning “El Rumi” jadi warna yang ramai dipilih untuk meramaikan Hari Raya.
Antusiasme memilih baju lebaran nyatanya tak hanya terjadi di keluarga saya. Ketika berkunjung ke salah satu pusat perbelanjaan di Jakarta (31/1), saya melihat beberapa tenant dengan tema baju Lebaran yang terbilang ramai diserbu pembeli. Toko-toko tersebut punya beberapa jenis pakaian serupa, yakni tunik melayu sampai gamis rompi lepas pasang. Dengan promo melimpah, tak sedikit toko yang memasang poster “HABIS” di beberapa model baju Lebaran mereka.
Setiap tahunnya, netizen Indonesia memang kerap punya agenda tersendiri untuk membeli outfit lebaran. Dalam JAKPAT Ramadan Special Report (2023), 70 persen masyarakat Indonesia memang memilih pakaian baru untuk Lebaran. Sejarawan Marwati Djoened Poesponegoro dan Nugroho Notosusanto, dalam tulisan berjudul Sejarah Nasional Indonesia, menyebut kebiasaan membeli baju Lebaran bahkan sudah dilakukan sejak 1596-an, khususnya di Kerajaan Islam Banten. Dari catatan Tempo tersebut, warga masa kesultanan Islam ini ditemukan menjahit baju baru untuk keperluan hari raya.
Kini, budaya membeli baju Lebaran juga dibarengi dengan munculnya patokan tren fesyen. Sebut saja gamis berwarna sage green yang ramai pada 2023, atau baju shimmer yang ramai pada 2024. Motif katun bolong juga pernah jadi tren baju Lebaran pada 2025. Setiap tahunnya ada patokan outfit tersendiri sebagai panduan merayakan Idul Fitri di Indonesia. Kali ini giliran gamis rompi lepas yang unjuk gigi.
Baca juga: Pilih Salihah atau Cantik: Persimpangan Tubuh Muslimah di Instagram
Di Balik Semangat Belanja Baju Lebaran
Ramadan kerap dipahami sebagai bulan spiritual sekaligus periode lonjakan konsumsi. Enggak cuma produk pakaian, tapi juga bahan sekali habis. Survei Kurious-Katadata Insight Center (KIC) pada konsumsi sirup (2023) mencatat kenaikan konsumsi sebesar 43,3 persen selama Ramadan.
Pola serupa juga terlihat pada fashion item. Riset “Budaya Konsumsi Baju Lebaran Sebagai Bentuk Sosial Gaya Hidup Konsumtif Pada Desa Jubung Kecamatan Sukorambi Kabupaten Jember” (2024) menunjukkan peningkatan konsumsi pakaian terjadi seiring tradisi perayaan Lebaran. Dalam konteks ini, baju baru tidak lagi diposisikan semata sebagai kebutuhan dasar, tetapi bagian dari praktik sosial yang mengakar.
Riset tersebut juga mencatat ekspektasi sosial sebagai salah satu faktor pendorong. Individu merasa perlu tampil “pantas”, terutama saat bersilaturahmi dengan keluarga dan lingkungan sekitar. Pakaian baru berfungsi menjaga citra diri sekaligus menghindari potensi penilaian negatif. Outfit Lebaran, dalam praktiknya, turut berperan sebagai simbol status sosial.
Di saat yang sama, dinamika pasar memperkuat dorongan tersebut. Ramadan identik dengan promosi diskon, festival belanja, hingga kampanye koleksi Lebaran. Konsumsi menjadi lebih mudah diakses sekaligus lebih intens didorong.
Dalam beberapa situasi, peneliti menemukan individu tetap berupaya membeli pakaian baru meski kondisi ekonomi terbatas. Konsumsi pakaian Lebaran, dalam konteks ini, bergeser dari kebutuhan menuju makna simbolik yang dipengaruhi tekanan sosial dan logika industri fashion.
Yang jarang masuk percakapan tren, keputusan terkait penampilan hari raya juga kerap terdistribusi secara tidak setara di tingkat rumah tangga. Dalam banyak keluarga, perempuan berada di posisi sentral dalam urusan busana—memilih warna seragam, menentukan model, hingga memastikan keserasian tampilan keluarga. Aktivitas ini kerap hadir sebagai rutinitas yang dianggap wajar, meski melibatkan kerja emosional dan pertimbangan sosial yang tidak kecil.
Baca juga: ‘Personal Color Analysis’: Bantu Kenali Diri atau Perkuat Stereotip Kecantikan?
Media Sosial dan Standar Visual Lebaran
Perkembangan media sosial memperluas dinamika tersebut. Dalam “Pengaruh Hedonisme, Marketing Influencer, dan Trend Fashion Terhadap Keputusan Pembelian Baju Lebaran pada Remaja Desa Drenges” (2024), media sosial—yang dimediasi influencer—terbukti memengaruhi persepsi mengenai apa yang dianggap modis dan layak dikenakan saat hari raya.
Influencer membangun ketertarikan visual melalui tampilan outfit di media sosial. Representasi visual ini memperkuat kepercayaan publik sekaligus memicu dorongan mengikuti tren.
Fenomena ini terlihat jelas pada tren baju Lebaran sage green. Riset “Konstruksi Makna Fashion Warna Sage Green Sebagai Bagian dari Komunikasi Identitas” (2025) menemukan adanya pemaknaan identitas dalam pilihan warna tersebut. Dipopulerkan oleh Maudy Ayunda dan keluarganya, warna tersebut diasosiasikan dengan kesan estetis dan elegan.
Media sosial, dalam konteks ini, tidak hanya menghadirkan referensi gaya. Platform digital juga bekerja sebagai ruang produksi standar visual. Konten tentang outfit Lebaran hadir dalam format yang relatif seragam: Foto keluarga kompak, palet warna senada, hingga citra perayaan yang rapi dan terkurasi.
Arus visual yang berulang membuat standar penampilan terasa seperti kewajaran baru. Outfit Lebaran bergerak menjadi bagian dari presentasi sosial, bukan sekadar pilihan busana.
Standar ini tidak selalu beroperasi secara netral. Representasi visual hari raya lebih sering berfokus pada tubuh perempuan. Busana perempuan cenderung menjadi pusat estetika visual, baik di media sosial maupun dalam interaksi sosial langsung. Outfit menjadi bukan hanya soal selera pribadi, tetapi juga citra, kepantasan, dan kesan yang ditampilkan.
Baca juga: Yang Perlu Diwaspadai di Balik ‘Glowing’-nya Industri Kosmetik Nasional
Pada saat yang sama, industri fesyen terus bergerak melalui pembaruan tren tahunan. Koleksi Lebaran diperbarui, gaya visual berganti, dan promosi musiman memperkuat siklus konsumsi. Tradisi membeli baju baru akhirnya bertemu dengan logika pasar yang mendorong pembaruan visual secara berkelanjutan.
Di tengah euforia tren, pakaian Lebaran memperlihatkan dinamika yang lebih luas dari sekadar soal gaya. Pilihan warna, model, hingga keserasian tampilan keluarga mencerminkan pertemuan antara tradisi, ekspektasi sosial, budaya visual, dan logika pasar.
Lebaran, pada akhirnya, menjadi momen yang menunjukkan bagaimana praktik konsumsi, standar penampilan, dan peran sosial bekerja secara simultan—membentuk cara masyarakat memaknai pakaian dari tahun ke tahun.




















