07/07/2026
Issues

Mikroplastik di Sayur dan Buah: Bahaya yang Sering Tak Disadari

Selama ini sayur dan buah dianggap makanan paling aman. Tapi riset terbaru menunjukkan mikroplastik bisa ikut masuk ke dalam rantai makanan.

  • April 27, 2026
  • 7 min read
  • 450 Views
Mikroplastik di Sayur dan Buah: Bahaya yang Sering Tak Disadari

Sejumlah makanan yang sehari-hari dikonsumsi masyarakat diduga sudah tercemar mikroplastik. Temuan ini disebut dalam penelitian yang dipublikasikan di Environmental Research pada Februari 2024.

Dikutip dari CNBC Indonesia dalam artikel berjudul Sayur dan Buah Ini Mengandung Mikroplastik Tertinggi, Warga RI Doyan, para peneliti dalam studi Environmental Research mengamati lebih dari 12 sumber protein yang umum dikonsumsi, mulai dari daging sapi, udang berlapis tepung roti dan jenis udang lainnya, dada ayam dan nugget, daging babi, makanan laut, hingga tahu. Penelitian itu juga menyoroti beberapa alternatif daging nabati, seperti nugget, remah nabati yang menyerupai daging sapi giling, dan stik ikan nabati.

Hasilnya cukup mengejutkan: hampir 90% protein yang diteliti mengandung mikroplastik. Temuan ini sejalan dengan studi yang terbit pada Agustus 2020 di Environmental Science, yang menemukan sekitar 52.050 hingga 233.000 partikel plastik berukuran di bawah 10 mikrometer dalam berbagai jenis buah dan sayuran.

Dalam studi tersebut, apel dan wortel disebut sebagai buah dan sayur yang paling terkontaminasi, dengan jumlah lebih dari 100.000 mikroplastik per gram. Partikel mikroplastik berukuran paling kecil ditemukan pada wortel, sementara potongan plastik terbesar justru ditemukan pada selada.

Temuan serupa juga datang dari penelitian peneliti Universitas Catania, Italia, yang menemukan partikel plastik kecil pada buah dan sayuran seperti wortel, selada, apel, dan pir. Apel tercatat memiliki salah satu jumlah mikroplastik tertinggi, dengan rata-rata 195.500 partikel plastik per gram, sedangkan pir berada di angka sekitar 189.500 partikel plastik per gram. Sementara itu, brokoli dan wortel juga terbukti termasuk sayuran yang paling terkontaminasi, dengan rata-rata lebih dari 100.000 partikel plastik per gram.

Baca Juga: Hujan Mikroplastik di Jakarta: Dari Mana Asal-usulnya?

Definisi Mikroplastik

Mikroplastik adalah partikel plastik berukuran sangat kecil, umumnya di bawah 5 milimeter. Menurut National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) dalam artikel What are microplastics?, partikel ini bisa berasal dari dua jalur utama: mikroplastik primer yang memang sengaja dibuat kecil, dan mikroplastik sekunder yang muncul dari pecahan plastik besar yang terurai perlahan di lingkungan. Penjelasan serupa juga dipakai oleh U.S. Environmental Protection Agency (EPA) dalam artikel Microplastics Research.

Masalahnya, plastik tidak benar-benar hilang ketika rusak. Ia hanya berubah jadi partikel yang makin kecil dan makin sulit dilacak. Dari tanah, air, hingga udara, mikroplastik bisa bergerak ke mana-mana dan masuk ke rantai makanan. Sejumlah riset yang dibahas dalam review ilmiah di ScienceDirect, termasuk Classification, sources, fates, and effects on plants dan Unveiling the impact of microplastics and nanoplastics on vascular plants, menunjukkan bahwa mikroplastik bisa diserap oleh akar dan berpindah ke bagian tanaman lain. Artinya, kontaminasi ini tidak selalu cuma menempel di permukaan makanan, tetapi bisa ikut berada di dalam jaringan tanaman.

Dari sisi kesehatan, dampaknya juga tidak bisa dianggap sepele, meski banyak pertanyaan ilmiahnya masih terus diteliti. World Health Organization (WHO) dalam laporan Microplastics in drinking-water menegaskan bahwa bukti tentang risiko kesehatan mikroplastik masih perlu diperdalam, tetapi paparan dari makanan, air, dan udara tetap jadi perhatian serius. Sejumlah ulasan ilmiah lain, seperti Detection of microplastics in human tissues and organs di PMC, melaporkan bahwa mikroplastik telah ditemukan dalam darah, paru-paru, dan plasenta manusia, sehingga ukurannya yang sangat kecil memungkinkan partikel ini menembus berbagai jaringan tubuh.

Baca Juga: ‘Sampah Plastik Bisa Didaur Ulang’ Ternyata Cuma Mitos?

Bagaimana mikroplastik bisa masuk ke sayur dan buah?

Sekilas memang terdengar aneh: kok plastik bisa “nyasar” ke tanaman yang tumbuh di tanah? Tapi menurut ScienceDirect lewat review Microplastics in agroecosystems: Sources of food crop contamination, detection challenges, and sustainable remediation strategies, mikroplastik justru bisa datang dari banyak jalur sekaligus, mulai dari tanah yang sudah tercemar, air irigasi, sampai deposisi dari udara. Review lain di ScienceDirect, Micro and nano plastics in fruits and vegetables: A review, juga menjelaskan bahwa tanaman bisa menjadi salah satu jalur masuk plastik ke rantai makanan karena partikel ini dapat menempel di permukaan atau masuk ke jaringan tanaman.

Masalahnya, mikroplastik tidak selalu berhenti di permukaan. Dalam review ScienceDirect Uptake and transport of micro/nanoplastics in terrestrial plants: Detection, mechanisms, and influencing factors, dijelaskan bahwa partikel mikro dan nanoplastik bisa masuk lewat akar, celah jaringan, dan stomata, lalu berpindah ke batang, daun, hingga bagian yang bisa dimakan. Jadi, ini bukan cuma soal “nempel lalu hilang saat dicuci”, karena sebagian partikel memang sudah masuk ke dalam struktur tanaman.

Jalur utamanya banyak berkaitan dengan tanah dan air. Dalam review ScienceDirect Microplastics in the soil environment: A critical review, sisa plastik pertanian disebut bisa terurai jadi partikel kecil, memengaruhi sifat tanah, dan bahkan bergerak lebih dalam hingga berpotensi mencemari air tanah. Sementara review ScienceDirect tahun 2025 tadi juga menegaskan bahwa tanah tercemar, air irigasi, dan deposisi atmosfer adalah jalur utama mikroplastik menumpuk di tanaman pertanian.

Jadi, sayur dan buah tidak otomatis bebas mikroplastik hanya karena tumbuh secara alami. Yang lebih akurat adalah melihat bahwa kontaminasi ini bisa terjadi dari hulu ke hilir: dari tanah, air, udara, lalu masuk ke jaringan tanaman. Memahami hal ini penting supaya kita bisa lebih kritis terhadap sistem pangan, sekaligus lebih sadar untuk mengurangi sumber polusi plastik di sekitar kita.

Baca Juga: Aeshnina Azzahra: Aktivis Lingkungan Muda yang Kritik Sampah Plastik

Cara Mengurangi Paparan Mikroplastik dari Makanan

Kalau setelah tahu soal mikroplastik kamu jadi kepikiran, “terus aku harus makan apa dong?”, tenang dulu. Ini bukan ajakan buat panik atau berhenti makan sehat. World Health Organization lewat laporan Microplastics in drinking-water menegaskan bahwa bukti soal dampak kesehatan mikroplastik masih berkembang, sementara FDA dalam artikel Microplastics and Nanoplastics in Foods menjelaskan bahwa mikroplastik di makanan terutama bisa berasal dari kontaminasi lingkungan tempat pangan ditanam atau dipelihara. Jadi, fokusnya adalah mengurangi paparan semaksimal mungkin dengan cara yang realistis.

  1. Pilih bahan makanan yang masih utuh dan minim proses

Langkah paling simpel adalah memilih buah dan sayur yang masih utuh, segar, dan tidak terlalu banyak melalui proses pemotongan atau pengemasan. Ini memang bukan jaminan bebas mikroplastik, tetapi bisa membantu mengurangi kontak tambahan dengan plastik selama penyimpanan dan distribusi. FDA di artikel Microplastics and Nanoplastics in Foods menekankan bahwa sumber utama paparan ada pada lingkungan pangan itu sendiri, jadi makin sedikit titik kontak ekstra, makin baik.

  1. Cuci sayur dan buah dengan cara yang benar

Setelah sampai rumah, cuci sayur dan buah di bawah air mengalir. USDA Food Safety and Inspection Service lewat artikel Washing Food: Does it Promote Food Safety? dan USDA/NIFA dalam panduan Fight BAC! Safe Handling of Fresh Fruits and Vegetables sama-sama menyarankan bilas dengan air keran yang mengalir, bukan direndam, lalu dikeringkan dengan kain bersih atau tisu dapur. Panduan itu juga menegaskan jangan memakai sabun atau bleach untuk mencuci produk segar.

  1. Hindari memanaskan makanan dalam plastik

Kalau makanannya panas, sebaiknya pindahkan ke wadah kaca atau stainless steel. FDA dalam halaman Microwave Ovens mengingatkan bahwa sebagian wadah plastik tidak cocok dipakai di microwave, dan studi yang terindeks di PubMed, Assessing the Release of Microplastics and Nanoplastics from Plastic Food Containers into Food, menemukan bahwa pemanasan microwave bisa melepaskan lebih banyak mikro- dan nanoplastik ke makanan. Jadi, kebiasaan kecil ini cukup penting untuk dikurangi.

  1. Kurangi minum dari botol plastik sekali pakai

Soal air minum, memakai botol isi ulang yang aman juga layak diprioritaskan. Review di PMC berjudul Occurrence of Microplastics in Tap and Bottled Water menunjukkan mikroplastik memang terdeteksi di air keran maupun air kemasan. Artinya, membawa botol minum reusable bisa jadi langkah sederhana untuk menekan paparan dari kebiasaan harian.

Intinya, kita memang sulit lepas total dari mikroplastik di era sekarang. Tapi kita masih bisa mengurangi paparannya dengan memilih bahan makanan yang lebih utuh, mencuci dengan benar, menghindari makanan panas di plastik, dan membatasi botol sekali pakai. Pendeknya, bukan soal hidup sempurna tanpa plastik, melainkan soal membuat pilihan yang lebih aman dari hari ke hari.

About Author

Kevin

Kevin merupakan SEO Specialist di Magdalene, yang sekarang bercita-cita ingin menjadi dog walker.