Ketika suaminya meninggal, saya berusia sekitar 13 atau 14 tahun. Bu Her bisa pingsan belasan kali dalam sehari tiap kali ada orang datang mengucapkan belasungkawa. Ia tidak kuat menahan sedih karena kehilangan belahan jiwanya.
Bagi saya, pemandangan itu terasa ganjil.
Sepanjang hidup, saya tidak pernah mengenal Bu Her sebagai perempuan yang romantis. Ia selalu tampak kuat, tegas, dan nyaris tidak pernah menunjukkan kerentanannya di depan orang lain. Namun untuk pertama kalinya, saya melihat perempuan itu benar-benar rapuh.
Tak lama setelah suaminya meninggal, masyarakat di pulau konservatif dan agamis tempat kami tinggal, mulai merasa sudah waktunya Bu Her menikah lagi. Sebagai perempuan terpandang di lingkungannya, banyak orang menganggap menikah kembali adalah langkah yang wajar. Beberapa laki-laki silih berganti datang ke rumah untuk meminangnya.
Baca juga: Anak Perempuan Batak Toba dan Luka yang Diam-Diam Diwariskan Ibu
Saat itu saya sudah cukup besar untuk memahami situasi tersebut. Jika Bu Her memang ingin menikah lagi, saya tidak keberatan. Saya pikir ia juga berhak untuk bahagia.
Suatu sore, seorang laki-laki datang ke rumah. Bu Her meminta saya membuatkan kopi untuk tamunya. Permintaan itu terasa janggal karena seumur hidup, saya tidak pernah diminta membuatkan kopi untuk laki-laki dalam keluarga kami.
Sepanjang yang saya ingat, justru suaminyalah yang selalu membuatkan kopi untuk Bu Her.
Meski merasa heran, saya tetap melakukannya. Setelah mengantarkan kopi, saya tidak langsung masuk ke kamar seperti biasanya. Saya memilih berdiri di balik pintu ruang tamu dan mendengarkan percakapan mereka.
“Berapa harta yang Pak Haji punya?” tanya perempuan itu.
“Ada Rp1 miliar uang di bank? Karena saya ada. Saya juga masih mencintai suami saya. Jadi saya tidak mengerti mengapa saya harus menikah dengan Pak Haji kalau bukan karena uang atau pun cinta,” ujar Bu Her.
“Sebagai pendamping, menemani hari tua, Nyonya,” sambut Pak Haji.
Bu Her tersenyum lalu menjawab santai.
“Anak saya tinggal satu yang masih di rumah dan dia pun sering saya tinggal ke luar kota. Anak sekecil itu saja bisa hidup mandiri tanpa saya, jadi kenapa Pak Haji pikir saya ada waktu mendampingi Pak Haji?”
Pak Haji terdiam. Tak lama kemudian ia mengakhiri percakapan dan pamit pulang.
Percakapan itu membekas dalam ingatan saya hingga hari ini.
Dibesarkan di lingkungan yang konservatif dan agamis, saya tidak terbiasa melihat perempuan berkata tidak dengan begitu tegas. Perempuan biasanya diajarkan untuk mengalah, memahami, dan mengikuti harapan orang lain.
Saat itu saya belum mengenal teori feminisme ataupun konsep agensi perempuan. Namun ada sesuatu yang bergerak dalam diri saya ketika melihat Bu Her menolak tanpa rasa bersalah. Untuk pertama kalinya saya melihat seorang perempuan memilih hidupnya sendiri, meski lingkungan di sekitarnya menginginkan hal yang berbeda.
Baca juga: ‘Die My Love’: Tubuh Ibu yang Terancam Darah dan Dagingnya Sendiri
Perempuan yang Memilih Jalannya Sendiri
Entah untuk menghindari omongan tetangga atau lamaran-lamaran berikutnya, Bu Her memilih sibuk berkelana. Ia sering bepergian dan meninggalkan anaknya selama berbulan-bulan. Masa remaja saya banyak dihabiskan dalam rasa sepi yang saat itu sulit saya pahami.
Saya menyimpan kegetiran terhadapnya selama bertahun-tahun. Sebagai ibu, Bu Her tidak sempurna. Ada masa ketika saya merasa terasing, terabaikan, dan marah karena harus tumbuh tanpa kehadirannya.
Namun rekonsiliasi membutuhkan waktu. Saya perlu dewasa lebih dulu sebelum mampu melihat Bu Her bukan hanya sebagai ibu, tetapi juga sebagai manusia.
Pada akhirnya kami belajar saling memaafkan dan menerima kenyataan, masa kecil saya memang tidak selalu diisi kehadirannya.
“Berapa harta yang Pak Haji punya?” tanya perempuan itu.
“Ada Rp1 miliar uang di bank? Karena saya ada. Saya juga masih mencintai suami saya. Jadi saya tidak mengerti mengapa saya harus menikah dengan Pak Haji kalau bukan karena uang atau pun cinta,” ujar Bu Her.
“Sebagai pendamping, menemani hari tua, Nyonya,” sambut Pak Haji.
Sekarang Bu Her sudah tidak sesering dulu bepergian. Jika tidak sedang umrah atau berjalan-jalan sebagaimana hobinya, ia menghabiskan waktunya di pulau. Di sana, ia menjadi koordinator perkumpulan para janda dan sosok yang cukup berpengaruh di masyarakat.
Ketika musim pemilihan umum tiba, Bu Her menjadi salah satu figur yang diperhitungkan dalam menggalang dukungan. Pulau tempat saya lahir dan besar pada 2024 bahkan tidak lagi masuk tiga besar wilayah dengan jumlah janda tertinggi. Saya tidak tahu apakah itu berkaitan dengan kerja-kerja yang ia lakukan selama ini, tetapi pertanyaan itu sering muncul di kepala saya.
Saya berbeda dengan Bu Her dalam banyak hal. Wajah dan sifat saya jauh lebih mirip almarhum suaminya. Namun jika ada satu hal yang saya warisi darinya, mungkin itu adalah kepedulian sosial.
Hubungan Bu Her dan suaminya juga jauh dari gambaran romantis dalam film. Namun setiap selesai magrib, suaminya akan membuat dua cangkir kopi, menyiapkan dua batang rokok kretek, lalu mereka menghabiskan waktu berdiskusi. Topiknya bisa apa saja, mulai dari keseharian mereka hingga politik dan ekonomi global.
Mungkin dari situlah saya belajar tentang cinta. Bukan dari bunga, cokelat, atau grand gesture. Melainkan dari dua orang yang menyediakan ruang aman untuk saling berbicara dan saling mendengarkan.
Baca juga: Menjadi Ibu atau Tidak, Perempuan Tetap Berhak Berpendidikan
Tentang Bu Her dan Saya
Ketika pengaruh Bu Her semakin besar, banyak orang menyarankan saya untuk pulang kampung dan mengabdi di daerah sendiri.
Mereka berkata, “Dengan koneksi, uang, dan pengaruh mamamu, kamu bisa berkuasa.”
Kalian pikir saya tidak tahu itu?
Saya menghormati Bu Her sebagai sesama perempuan yang berdaya. Bahkan ketika bercerita tentangnya, saya sering memanggilnya dengan namanya sendiri. Menurut saya, Bu Her pantas memiliki identitas yang berdiri sendiri, terlepas dari nama suami atau nama anak-anaknya.
Kita hidup di masyarakat yang sering melekatkan identitas perempuan pada orang lain. Ibu Adit, Mamanya Zeni, dan berbagai panggilan lain yang perlahan membuat nama perempuan menghilang.
“Anak saya tinggal satu yang masih di rumah dan dia pun sering saya tinggal ke luar kota. Anak sekecil itu saja bisa hidup mandiri tanpa saya, jadi kenapa Pak Haji pikir saya ada waktu mendampingi Pak Haji?”
Karena itu, saya menyukai cara Bu Her tetap menjadi dirinya sendiri.
Meski begitu, kami memilih jalan yang berbeda. Bu Her melihat sistem sebagai sesuatu yang bisa diubah dari dalam. Sementara saya lebih sering mempertanyakan, menantang, bahkan ingin merobohkannya.
Eksistensi saya saja sudah cukup menjadi ancaman bagi kota konservatif dengan moto Maju dan Religius. Pulau seribu masjid yang, seperti banyak tempat lain, juga menyimpan berbagai bentuk ketidakadilan terhadap perempuan.
Saya tidak mungkin tinggal dan menetap di kampung tanpa melakukan apa yang biasa saya lakukan: beradvokasi. Saya juga tidak ingin kembali berpura-pura menjadi orang lain demi diterima lingkungan.
Closet tempat saya pernah menyembunyikan seksualitas sudah saya tinggalkan jauh ketika berusia 16 tahun. Jika suatu hari saya menemukannya kembali, mungkin lemari itu sudah lapuk dimakan rayap. Pintunya hilang, kayunya membusuk, dan hanya menyisakan rangka.
Bersembunyi di dalam lemari seperti itu akan terasa sia-sia. Selain melelahkan, saya hanya akan terlihat konyol.
Kampung halaman adalah ruang bermain Bu Her, bukan saya. Dulu kami bisa hidup berdampingan karena Bu Her memilih menutup mata terhadap banyak hal tentang anaknya. Kini kami sama-sama dewasa.
Kami berjalan beriringan dengan cara masing-masing. Kami tidak selalu sepakat, tetapi saling menghormati wilayah perjuangan satu sama lain. Dan mungkin, itu juga salah satu bentuk cinta.
—
Tulisan ini dibuat untuk hadiah hari lahir Bu Her yang sudah mengajarkan saya feminisme tidak dengan manifesto, teori ataupun slogan. Bu Her memberi contoh, bahwa perempuan punya pilihan dan perempuan bisa menolak. Darinya saya belajar, perempuan tidak harus selalu lembut untuk dicintai, perempuan juga bisa rumit, terluka, dan tetap berdaya.
Ilustrasi oleh Karina Tungari




















