07/07/2026
Issues

IHSG Anjlok tapi Kita Enggak Main Saham, Lalu Kenapa Harus Peduli? 

IHSG melemah setelah MSCI menyoroti masalah transparansi dan kepemilikan saham di Indonesia. Kita jelasin pake bahasa bayi sini.

  • February 5, 2026
  • 3 min read
  • 1175 Views
IHSG Anjlok tapi Kita Enggak Main Saham, Lalu Kenapa Harus Peduli? 

Anjloknya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dalam sepekan terakhir jadi puncak kegelisahan pasar modal Indonesia. Gejolak ini bahkan berujung pada mundurnya dua pejabat: Ketua Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Mahendra Siregar dan Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI) Iman Rachman. 

Pemicu utamanya datang dari keputusan Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang memberi peringatan keras—bahkan membekukan sementara penilaian—terhadap pasar modal Indonesia

Baca juga: Bangkitnya ‘FinTok’ dan ‘Finfluencers’ Muda: Ini Tiga Tips Memilah Saran Mereka

Siapa MSCI? 

Anggap MSCI itu seperti kepala sekolah internasional yang membagi rapor buat pasar saham berbagai negara. Investor asing—yang duitnya besar—selalu melihat rapor ini sebelum memutuskan mau beli saham di suatu negara atau tidak. Jika rapor bagus, uang mengalir. Sebaliknya saat rapor jelek, duit diambil. 

Pada (28/1), MSCI menyampaikan pengumuman kepada pelaku pasar dan calon investor. Intinya, pasar saham Indonesia dinilai belum cukup transparan dan perlu diwaspadai. Salah satu sorotannya adalah struktur kepemilikan saham yang dianggap belum jelas. 

MSCI juga melihat indikasi perdagangan yang mencurigakan—dalam bahasa pasar sering disebut saham gorengan. Artinya, ada potensi harga saham “dimainkan bareng-bareng” lewat perdagangan terkoordinasi, sehingga naik-turun tidak wajar. 

Masalah lain adalah soal kepemilikan saham publik. Standar MSCI mensyaratkan minimal 15 persen saham dimiliki publik. Faktanya, banyak emiten di Indonesia—baik swasta maupun BUMN—masih di bawah angka itu. Akibatnya, investor bingung. Kepercayaan pun menurun. 

Ketika MSCI memberi peringatan, investor asing langsung mikir, “Jangan-jangan ini berisiko.” Saham-saham besar—termasuk perbankan—ikut dilepas. Pasar panik, IHSG kaget. 

MSCI memberi tenggat sampai Mei bagi otoritas Indonesia untuk melakukan perbaikan. Kalau gagal, bobot Indonesia di indeks pasar berkembang bisa dikurangi, bahkan diturunkan ke level frontier market. Kalau itu terjadi, potensi dana asing yang keluar bisa mencapai triliunan rupiah. 

Baca juga: Di Balik Kecanduan Kita pada Konten Pamer Gaji di Media Sosial

Respons Pemerintah dan Otoritas 

Menteri Keuangan Purbaya menilai gejolak tersebut sebagai kegelisahan pasar yang bersifat sementara. IHSG tercatat turun sekitar delapan persen hingga ke level 7.480. 

“Kita akan menerapkan transparansi, dan masyarakat serta investor akan kembali melihat fundamental ekonomi kita yang sebenarnya kuat. Kami juga menyediakan likuiditas yang cukup dalam sistem,” ujarnya, dikutip dari CNBC Indonesia (3/2). 

Pemerintah dan lembaga terkait pun bergerak. OJK, BEI, Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI), Self Regulatory Organization (SRO), hingga Danantara menggelar pertemuan daring dengan MSCI. 

Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi menyebut ada delapan rencana hasil pertemuan tersebut. Fokusnya meliputi transparansi, porsi kepemilikan publik, tata kelola, dan penegakan hukum. 

“Kami mengimbau seluruh investor pasar modal untuk tetap tenang dan tidak panik. Dasar ekonomi kita sangat baik dan prospeknya ke depan juga baik,” katanya dalam konferensi pers di kantor BEI (1/2). 

Di kesempatan yang sama, Plt Kepala Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK, Hasan Fauzi, menyatakan komitmen menaikkan porsi kepemilikan saham publik dari 7,5 persen menjadi 15 persen secara bertahap. 

Baca juga: Apa Beda Krisis 2008 dan Resesi Global Kini?

“Kami juga sepakat memberikan pembaruan rutin kepada publik terkait progres komitmen ini sebagai bagian dari transparansi,” ujarnya. 

OJK dan BEI akan berkantor di lokasi yang sama hingga proses penilaian MSCI rampung pada Mei mendatang. 

Kalau Indonesia bisa membuktikan perbaikan sampai batas waktu tersebut, investor asing masih berpeluang kembali. Kalau tidak, Indonesia harus siap kehilangan dana lebih besar. Sekarang, tugas utama OJK dan BEI adalah bikin bikin pasar modal lebih transparan, merapikan tata kelola, dan menumbuhkan kepercayaan investor. 

Ilustrasi oleh Karina Tungari

About Author

Ahmad Khudori

Ahmad Khudori adalah seorang anak muda penyuka kelucuan orang lain, biar terpapar lucu.