Standar Ganda Kemarahan yang Dirawat dari Rumah hingga Tempat Kerja
Malam itu saat ronda rutin warga, seorang teman memuji atasan laki-lakinya yang siang tadi menggebrak meja saat rapat. “Bapak itu memang keras banget, tapi wajar dia marah. Ketegasannya itu yang bikin tim kita disiplin.”
Sepuluh menit kemudian, ia mengeluhkan atasan perempuan dari divisi sebelah yang meninggikan suara karena stafnya melakukan kesalahan fatal. “Sumpah ya, itu ibu-ibu baperan banget. Paling lagi PMS makanya marah teriak histeris di kantor.”
Saya menyeruput teh yang disediakan Bu RT sambil menyadari ada yang salah dengan cara kita membaca emosi. Dua tindakan yang mirip diberi makna berbeda hanya karena dilakukan oleh orang dengan gender berbeda.
Cerita itu bukan kejadian langka. Ini realitas sehari-hari yang harus ditelan banyak perempuan di kantor, ruang publik, sampai meja makan di rumah. Kemarahan laki-laki sering dipandang sebagai tanda otoritas, ketegasan, dan kepemimpinan. Sebaliknya, kemarahan perempuan direduksi menjadi urusan hormon, dianggap tidak stabil, atau dilabeli satu kata sakti: “histeris.”
Inilah policing emosi berbasis gender, mekanisme kontrol yang membuat perempuan bukan hanya diatur tindakannya, tetapi juga dihakimi cara merasa dan cara bersuara.
Baca juga: Menolak Kata “Gender” Akan Melestarikan Ketidakadilan
Sejarah Histeria dan Cara Lain Bungkam Perempuan
Kata “histeris” berasal dari bahasa Yunani hystera, yang berarti rahim. Selama berabad-abad, perempuan dianggap lebih tidak rasional karena tubuhnya. Emosi perempuan dikaitkan dengan organ reproduksi, bukan dengan logika atau respons wajar atas situasi yang memang menyebalkan.
Meski teori itu sudah lama dibuang oleh sains modern, warisan budayanya tetap hidup. Sampai sekarang, masyarakat masih mudah mengaitkan kemarahan perempuan dengan menstruasi, kehamilan, atau menopause. Seolah perempuan marah bukan karena ada masalah nyata, melainkan semata karena tubuhnya sedang “berulah”.
Lihat saja di rumah tangga. Ketika seorang istri marah karena suami lepas tangan dari pengasuhan anak atau membiarkannya kelelahan mengurus rumah sendirian, respons yang sering muncul justru, “Kamu kenapa sih, lagi dapet ya? Sensitif amat.”
Kalimat seperti itu terdengar sepele, padahal itu bentuk gaslighting yang sangat rapi. Fokus dipindahkan dari persoalan utama ke emosi perempuan. Laki-laki tidak perlu mengevaluasi sikap malas, abai, atau ketidakadilan yang ia ciptakan. Yang dianggap bermasalah justru perempuan yang sedang marah.
Akibatnya, perempuan memikul beban tambahan. Mereka bukan hanya harus menyelesaikan masalah, tetapi juga mengatur cara menyampaikannya. Di kantor, perempuan sering merasa perlu menulis surel komplain dengan bahasa ekstra halus agar tidak dianggap galak. Di rumah, banyak istri merasa harus menunggu suami kenyang dan santai hanya untuk membicarakan pembagian kerja domestik yang adil.
Perempuan dipaksa menjadi diplomat setiap hari demi menyampaikan kebutuhan dasar tanpa melukai ego laki-laki.
Baca juga: 50:50 Tak Selalu Adil: Mitos Kesetaraan Perempuan dan Lelaki
Rantai yang Harus Diputus
Pulang dari ronda malam itu, saya membuka pintu kamar perlahan. Anak perempuan saya yang baru berusia dua bulan sedang tertidur pulas di ayunan. Napasnya teratur, dadanya naik turun dengan tenang. Wajahnya polos, belum tahu apa-apa tentang dunia yang menunggunya.
Di usianya sekarang, tangis adalah bahasa paling jujur. Kalau ia lapar, tidak nyaman, atau mengantuk, ia akan menangis keras dan saya akan berusaha mencari tahu kebutuhannya tanpa menghakimi.
Namun saya tahu, masa seperti itu tidak akan lama. Saat ia tumbuh besar, dunia perlahan akan mencoba menjinakkannya. Ia akan diajari untuk tidak terlalu keras, tidak terlalu marah, tidak terlalu banyak menuntut, dan tidak terlalu berisik.
Jika narasi itu dibiarkan masuk ke kepalanya, kita sedang menyiapkan perempuan untuk terbiasa dilanggar batasnya sendiri.
Saya ingin anak perempuan saya tumbuh sebagai manusia yang tahu batas dirinya berharga. Ketika ada yang melewati batas itu, ia berhak marah. Ia berhak bersuara keras. Ia berhak menggebrak meja kalau memang perlu, tanpa rasa bersalah dan tanpa takut dicap berlebihan.
Sudah waktunya standar ganda ini dibuang. Kemarahan perempuan atas beban domestik yang timpang, pelecehan di ruang publik, atau diskriminasi di tempat kerja bukanlah histeria. Itu respons rasional terhadap ketidakadilan yang nyata.
Baca juga: Saat Tasya Farasya ‘Akhirnya’ Cerai Juga: Cermin dari Publik, Media, dan Standar Ganda
Berhentilah sibuk meminta perempuan menenangkan diri ketika mereka punya alasan masuk akal untuk marah. Mulailah mendengarkan isi pesannya, bukan menghakimi nadanya.
Sebab masyarakat yang terus menolak kemarahan perempuan adalah masyarakat yang terlalu nyaman memelihara penindasan.
Dan saya tidak akan membesarkan anak perempuan saya di dunia seperti itu. Ia berhak marah. Ia berhak bersuara keras. Ia berhak menggebrak meja ketika ada yang salah.
Tulisan ini bagian dari serial Hari Kartini yang mengangkat tema pentingnya lingkungan yang memungkinkan perempuan bertumbuh. Baca tulisan lainnya di sini untuk melihat beragam perspektif kontributor.
Ilustrasi oleh Karina Tungari
This article was produced by Magdalene.co as part of the #WaveForEquality campaign, supported by Investing in Women (IW), an Australian Government initiative. The views expressed in this article do not necessarily represent the views of IW or the Australian Government.
Series lainnya bisa dibaca di sini.




















