07/07/2026
Issues Lifestyle Opini Politics & Society

Ternyata Konser Dangdut Bisa Jadi Ruang Aman Perempuan Asal Lelaki Ikut Menjaga

Di tengah lautan penonton Guyon Waton di Bekasi, perempuan berdiri di garis depan, bernyanyi lepas, dan menertawakan patah hati sendiri. Pemandangan yang dulu jarang terlihat di konser dangdut.

  • April 17, 2026
  • 5 min read
  • 1111 Views
Ternyata Konser Dangdut Bisa Jadi Ruang Aman Perempuan Asal Lelaki Ikut Menjaga

Malam itu di kawasan Summarecon Mall Bekasi, dua panggung berdiri berdampingan di bawah lampu sorot yang terang. Di satu sisi, Dewa 19 menghadirkan kemegahan nostalgia rock era 90-an dengan dentuman gitar listrik yang terdengar hingga ujung area konser. Di sisi lain, ribuan orang justru memilih larut dalam alunan dangdut akustik Guyon Waton yang lembut, tetapi menghantam tepat ke ulu hati. Saya dan istri berdiri di tengah kerumunan, menunggu Mas Bagus membuka lagu dengan suara khasnya yang tenang dan penuh perasaan.

Melihat kesuksesan musik hip-hop dut hari ini, sulit menafikan peran band-band dangdut seperti Guyon Waton. Mereka menjadi penerus estafet almarhum Didi Kempot yang tumbuh organik, berdampingan dengan nama besar seperti Denny Caknan. Namun yang paling mencuri perhatian malam itu bukan hanya musiknya, melainkan siapa yang memenuhi ruang konser tersebut.

Perempuan. Ratusan, bahkan ribuan perempuan. Mereka tidak berdiri di pinggiran atau bersembunyi di belakang pasangan. Mereka ada di tengah moshpit, berdesakan, bernyanyi lepas, mengangkat banner, berteriak mengikuti lirik, lalu tertawa bersama. Tidak satu pun terlihat takut atau was-was.

Pemandangan itu terasa penting karena wajah konser dangdut belasan tahun lalu sangat berbeda. Ruang semacam ini dulu identik dengan dominasi laki-laki, bau alkohol, senggolan fisik, dan suasana yang kerap membuat perempuan memilih menjauh. Konser koplo sering lekat dengan citra maskulin yang keras dan tidak ramah bagi perempuan.

Malam itu, semuanya terasa berubah. Perempuan bukan lagi penonton pasif di pinggir arena. Mereka menjadi pusat energi di ruang itu.

Baca juga: Negara Akui ‘Sound Horeg’: Upaya Lindungi atau Batasi?

Banner Battle: Saat Perempuan Punya Suara

Salah satu momen paling menarik di konser Guyon Waton adalah interaksi lewat banner penonton yang disorot kamera dan ditampilkan di layar besar. Momen seperti ini juga kerap diunggah akun resmi Guyon Waton.

Tulisan dari penonton laki-laki biasanya bernada pasrah dan melankolis, seperti: “Jika ketulusanku kamu anggap bercanda, maka kejarlah yang kamu anggap sempurna.” Mas Bagus membacakannya, penonton bertepuk tangan, lalu terdengar sorakan, “Wah, sabar mas!”

Tak lama kemudian, muncul banner dari seorang perempuan: “Masio mung dadi bahan gabutmu, kapan to aku ora mbales chatmu?”

(Meskipun hanya jadi bahan saat kamu bosan, kapan sih aku pernah tidak membalas chat mu?)

Riuh langsung pecah. Tawa membahana di mana-mana. Tetapi momen itu bukan sekadar lucu-lucuan. Ada sesuatu yang lebih penting: Perempuan merasa cukup aman untuk menunjukkan kecewa, kesal, bahkan patah hati mereka di depan ribuan orang. Mereka tidak dipaksa diam dan tidak perlu menyembunyikan emosi.

Baca juga: Konser Dangdut Koplo: Wadah Nostalgia Kaum Urban Jawa

Kenapa Bisa Berubah?

Pertama, pendekatan musik yang lebih inklusif. Guyon Waton jarang menjadikan perempuan sebagai objek dalam lirik. Lagu-lagu mereka banyak berbicara tentang patah hati dari sudut pandang manusia yang terluka, bukan semata kisah laki-laki yang ditinggal perempuan.

Contohnya di lagu “Pelanggaran”:

“Lilo aku lilo berjuang mati-matian / Nanging kowe malah milih demikian…”

Atau di “Korban Janji”:

“Abot tak trimo kanti ikhlas legowo / Sing tak arep kowe ra disiyo-siyo…”

Lirik seperti ini menyentuh rasa kecewa dan pengorbanan yang bisa dirasakan siapa saja. Perempuan merasa, “ini lagu saya juga,” bukan lagu yang hanya bicara dari perspektif maskulin.

Kedua, suasana konser yang jauh lebih hangat. Guyon Waton membawa format dangdut akustik yang intim, bukan energi kasar yang penuh intimidasi. Hasilnya, perempuan berani berada di tengah kerumunan, bernyanyi lepas, dan mengangkat banner tanpa takut.

Ketiga, penontonnya makin matang. Saya melihat banyak pasangan muda, saat suami atau pacar justru mendukung pasangannya menikmati konser. Ada yang menggendong anak sementara istrinya bernyanyi sepuasnya. Ada pula kelompok perempuan yang datang bersama tanpa perlu “pengawalan” laki-laki. Mereka merasa aman karena laki-laki di sekitar tidak sibuk mengontrol, melainkan ikut menjaga ruang bersama.

Perubahan ini tidak datang tiba-tiba. Ia lahir dari musisi yang peka terhadap audiensnya dan generasi penonton yang mulai menghargai ruang emosional bersama.

Baca juga: 15 Menit Urusan Privat ‘Basri dan Salma dalam Komedi yang Terus Berputar’

Ruang Aman Dimulai dari Hal Kecil

Kehadiran saya bersama istri malam itu menjadi refleksi pribadi. Menciptakan ruang aman bagi perempuan tidak selalu harus lewat kebijakan besar atau kampanye megah. Kadang ia dimulai dari hal sederhana: berdiri berdampingan di tengah kerumunan, mendukung pasangan menikmati waktunya, dan membiarkannya bernyanyi sekencang mungkin tanpa dihakimi.

Saya melihat istri saya bernyanyi dengan lepas, wajahnya penuh kebahagiaan. Di momen itu saya sadar, enabling environment bukan soal laki-laki “mengizinkan” perempuan bersenang-senang. Itu soal laki-laki paham sejak awal ia tidak punya hak untuk membatasi.

Saya berharap kelak, saat anak perempuan saya dewasa, ia bisa pergi ke konser sendirian tanpa takut dilecehkan. Ia bisa berteriak sekencang mungkin tanpa dicap tidak sopan. Ia bisa mengekspresikan emosinya tanpa khawatir dihakimi. Sebagai ayah dan suami, saya punya tanggung jawab memastikan ia tumbuh di lingkungan seperti itu, dimulai dari rumah.

Jika konser Guyon Waton di tengah keramaian Summarecon Bekasi bisa menjadi ruang aman bagi ribuan perempuan untuk bernyanyi lepas dan menumpahkan patah hati mereka, maka ruang lain juga bisa: kantor, kampus, jalanan, bahkan rumah tangga kita.

Syaratnya sederhana. Laki-laki berhenti mengontrol, lalu mulai ikut menciptakan rasa aman.

Malam itu, di antara alunan akustik yang menyayat, saya belajar satu hal penting: ruang aman bukan diberikan. Ia diciptakan bersama. Kadang cukup dengan berdiri di samping, mendengarkan, dan membiarkan perempuan bernyanyi sekencang yang mereka mau.

Tulisan ini bagian dari serial Hari Kartini yang mengangkat tema pentingnya lingkungan yang memungkinkan perempuan bertumbuh. Baca tulisan lainnya di sini untuk melihat beragam perspektif kontributor.

About Author

Akhmad Yunus Vixroni

Akhmad Yunus Vixroni adalah penulis yang percaya bahwa menjaga senyum istri adalah sumber rezeki.