5 Artikel Pilihan: ‘Global Rape Academy’, Lagu ‘Erika’, hingga Dugaan Pelecehan Seksual Mahasiswa FH UI
1. 80 Persen Warga Miskin Tolak MBG: “Maling Berkedok Gizi”
Riset Tim Peneliti Policy Research Center (Porec) pada 2026 menemukan 80 persen masyarakat berpendapatan rendah tidak setuju jika program Makan Bergizi Gratis (MBG) dilanjutkan. Padahal, kelompok ini merupakan sasaran utama kebijakan tersebut.
Temuan itu menambah daftar penolakan terhadap MBG yang telah berjalan lebih dari setahun. Sebelumnya, aksi protes terhadap program ini juga muncul di sejumlah daerah.
Baca artikel selengkapnya di sini.
2. ‘Global Rape Academy’: Saat Para Suami Berkoloni Lakukan Kekerasan Seksual pada Istrinya
Kasus yang menimpa Gisèle kemudian mendorong sejumlah reporter CNN menelusuri jejak kekerasan seksual lain dalam relasi, terutama pernikahan, yang tersebar di internet. Dominique diketahui tergabung dalam komunitas daring di Coco, situs web yang menampung sejumlah ruang obrolan berisi glorifikasi kekerasan seksual.
Hasil penelusuran menunjukkan Dominique bukan satu-satunya orang yang menyebarkan foto istrinya tanpa izin, terutama saat korban tidak sadar. Investigasi berbulan-bulan itu membuka dunia daring tersembunyi, tempat komodifikasi dan dukungan terhadap kekerasan seksual pada perempuan, khususnya pasangan sendiri, berkembang luas. Jaringan itu kemudian disebut sebagai Global Rape Academy.
Baca artikel selengkapnya di sini.
3. ‘Grup Chat’ Jadi TKP Kekerasan: Dugaan Pelecehan Seksual Mahasiswa FH UI dan Sisi Gelap Ruang Digital
*Peringatan pemicu: Kasus pelecehan seksual.
Enam belas mahasiswa di Fakultas Hukum Universitas Indonesia (FH UI) diduga melakukan pelecehan seksual terhadap puluhan mahasiswi dan dosen di fakultas itu. Mereka adalah Irfan Khalis, Keona Ezra Pangestu, Mohammad Deyca Putratama, Reyhan Fayyaz Rizal, Muhammad Valenza Rabbani Putra Harisman, Munif Taufik, Priya Danuputranto Priambodo, Dipatya Saka Wisesa, Muhammad Kevin Ardiansyah, Muhammad Ahsan Raikel Pharrel, Muhammad Nasywan Azizullah, Simon Patrich Bungaran Pangaribuan, Anargya Hay Fausta Gitaya, Nadhil Zahran Fernandi, Rafi Muhammad, dan Rifat Bayuadji Susilo.
Simak artikelnya di sini.
4. Erika: Lagu Seksis Zaman ‘Baheula’ yang Harusnya Dikubur Saja
Saya suka lagu keroncong dengan kekayaan instrumennya. Karenanya, joget hampir selalu jadi respons pertama ketika kocokan ukulele atau gitar dan irama kendang masuk ke telinga dengan sopan. Saya juga selalu berharap vokalnya membawa lirik yang sama sopannya ketika menyusul masuk. Jika itu terjadi, setiap gerak tubuh bisa dinikmati tanpa beban.
Sebaliknya, anggukan kepala kecil di bagian intro bisa terasa bersalah jika liriknya justru mengobjektifikasi perempuan. Itu sebabnya saya heran saat melihat video puluhan anggota Himpunan Mahasiswa Tambang Institut Teknologi Bandung (HMT-ITB) berjoget puas di atas lagu berjudul Erika. Sulit dipercaya tidak ada satu pun yang merasa enggak nyaman dengan liriknya.
Baca artikel lengkapnya di sini.
5. Putusan Nafkah Anak Tak Pernah Sampai, Ibu Pun Terus Bergerak
Anak saya lahir pada 2010. Mantan suami pergi membangun hidup baru bersama kekasihnya sejak 2015. Awalnya saya masih berkeras menunggu dia yang menggugat cerai saya, karena, kalau dia yang pergi, kenapa saya yang harus direpotkan? Namun akhirnya saya memutuskan menggugat cerai pada November 2017.
Setahun kemudian, pengadilan memutuskan bahwa mantan suami saya wajib membayar nafkah anak sebesar Rp2 juta per bulan. Putusan itu tegas, formal, dan resmi. Tapi sampai hari ini, tidak pernah ada satu rupiah pun yang datang.
Apakah saya diam saja? Tentu tidak. Saya menempuh berbagai upaya nonlitigasi, mengajak mantan berdiskusi dan menyepakati besaran sesuai kemampuannya sejak putusan turun.
Baca artikel selengkapnya di sini.




















