08/06/2026
Issues People We Love

Dari Tongkrongan hingga Barbershop, Cara Muh. Agus Syam Advokasi Kesetaraan

Perbincangan tentang kesetaraan gender mungkin sudah sering berlalu-lalang di timeline media sosial. Isu ini juga kerap hadir dalam diskusi komunitas, webinar, atau percakapan santai di coffee shop. Namun, di luar ruang-ruang yang banyak mendapat sorotan, masih ada berbagai cerita tentang perjuangan kesetaraan yang tumbuh dari lingkungan sehari-hari. Di daerah, tempat nilai-nilai patriarkal masih mengakar kuat, […]

  • June 8, 2026
  • 7 min read
  • 27 Views
Dari Tongkrongan hingga Barbershop, Cara Muh. Agus Syam Advokasi Kesetaraan

Perbincangan tentang kesetaraan gender mungkin sudah sering berlalu-lalang di timeline media sosial. Isu ini juga kerap hadir dalam diskusi komunitas, webinar, atau percakapan santai di coffee shop. Namun, di luar ruang-ruang yang banyak mendapat sorotan, masih ada berbagai cerita tentang perjuangan kesetaraan yang tumbuh dari lingkungan sehari-hari.

Di daerah, tempat nilai-nilai patriarkal masih mengakar kuat, tantangan yang dihadapi sering kali berbeda. Di saat yang sama, ruang-ruang tersebut juga melahirkan berbagai bentuk advokasi yang dekat dengan kehidupan masyarakat. Salah satu cerita datang dari Muh. Agus Syam, 22 tahun, peserta Youth Leadership Camp (YLC) Magdalene yang merupakan bagian dari kampanye #WaveForEquality.

Sejak kecil, Agus mengaku senang mengikuti kegiatan sosial. Ketertarikannya pada dunia advokasi membawanya aktif di berbagai kegiatan kepemudaan hingga akhirnya pada 2022 terpilih sebagai Duta Generasi Berencana (GenRe) Kabupaten Majene, Sulawesi Barat. Dalam peran tersebut, ia banyak mengadvokasi kesehatan remaja sekaligus mengangkat isu kesetaraan gender di lingkungannya.

Menurut Agus, masih banyak orang di daerahnya yang belum menyadari bagaimana nilai-nilai patriarki hadir dan memengaruhi kehidupan sehari-hari. Karena itu, ia melihat pentingnya menghadirkan percakapan tentang kesetaraan dengan cara yang dekat dan mudah dipahami masyarakat.

Tahun 2024 menjadi titik balik dalam perjalanan advokasinya. Selama tiga hari dua malam mengikuti YLC, Agus bertemu dengan 15 anak muda dari berbagai daerah dan latar belakang. Pengalaman tersebut mengubah cara pandangnya terhadap kesetaraan gender, terutama dari perspektif laki-laki.

Sepulang dari kegiatan itu, Agus mulai melakukan advokasi terkait kesetaraan gender di daerahnya. Ia memanfaatkan ruang-ruang kecil untuk menyebarkan pengetahuan tentang kesetaraan gender, mulai dari media sosial, sharing session, hingga webinar yang melibatkan anak muda di sekitarnya.

Dalam proses tersebut, Agus menemukan satu persoalan yang berulang. Banyak perempuan muda mengaku tertarik mengikuti kegiatan, tetapi terkendala izin dari orang tua.

“‘Aku tidak diizinkan mama keluar. Kami tidak bisa apa-apa, cuma bisa di rumah’” kenang Agus mengingat cerita dari teman-teman perempuannya.

Menurut Agus, masih banyak pandangan yang menganggap perempuan tidak perlu terlalu aktif berkegiatan di luar rumah. Padahal, ia melihat banyak teman perempuan yang memiliki keinginan besar untuk belajar, berjejaring, dan mengembangkan diri. Di sisi lain, orang tua kerap diliputi kekhawatiran karena menganggap ruang publik belum cukup aman bagi anak perempuan.

Berangkat dari kondisi itu, Agus mulai memikirkan bentuk advokasi yang tetap dapat diakses perempuan tanpa harus meninggalkan rumah. Bersama teman-temannya di PIK-R Marasana, ia kemudian menginisiasi lomba puisi dan penulisan esai bertema “Merayakan Perbedaan Menguatkan Kesetaraan”.

Dua lomba tersebut mendapat respons yang baik dari masyarakat sekitar. Terlebih, peserta tidak harus keluar rumah untuk mengikutinya.

Baca Juga: ‘Close’ Hegemoni Maskulinitas yang Membunuh Persahabatan Laki-Laki

Dari Barbershop hingga Ruang Kelas

Nilai-nilai kesetaraan gender tidak berhenti pada kegiatan advokasi formal. Agus juga berusaha menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari, termasuk saat menjalankan usaha barbershop miliknya.

Barbershop masih sering dipandang sebagai ruang yang sangat maskulin. Karena itu, tidak sedikit tempat yang membatasi pelanggannya hanya untuk laki-laki. Namun, Agus memilih pendekatan berbeda dengan membuka layanan bagi siapa saja tanpa membedakan gender.

“Kalau di sana ditolak, di sini tidak,” cerita Agus mengenang cerita pelanggan perempuan yang datang.

Selain menjadi tempat usaha, lingkungan barbershop juga menjadi ruang diskusi informal bagi Agus dan teman-temannya. Di samping bangunan terdapat gazebo yang biasa digunakan untuk berkumpul dan mengobrol bersama teman-teman laki-laki.

Ruang tersebut kemudian ia manfaatkan untuk berbagi perspektif tentang kesetaraan gender. Agus tidak memulai percakapan dengan teori yang rumit atau menghakimi pandangan orang lain. Ia memilih pendekatan yang lebih personal dengan mengajak teman-temannya memahami bagaimana laki-laki juga dapat terdampak oleh sistem yang timpang.

Baca Juga: Pesan Penting Hari Ayah Nasional: Membongkar Maskulinitas Toksik

Meski begitu, candaan seksis dan komentar yang mendiskriminasi perempuan masih sering muncul dalam percakapan sehari-hari. Agus mengaku memilih meresponsnya secara perlahan.

“Saya tidak langsung judge, saya tanya balik ‘Oh menurut pandanganmu begitu, ya?’ Baru sedikit-sedikit saya sampaikan kalau hal itu tidak benar,” kata Agus.

Pendekatan tersebut tidak selalu berjalan mulus. Agus beberapa kali menerima komentar sinis yang dibungkus candaan. Ia juga merasakan perubahan dalam relasi pertemanannya setelah aktif mengadvokasi isu kesetaraan gender.

“Mungkin ada perbedaan sebelum melakukan (advokasi) dan sesudah. Dulu mereka kayak yang menyapa ‘Bro, halo bro’ sekarang kayak ada yang kurang gitu,” cerita Agus.

Meski menghadapi berbagai respons negatif, Agus memilih untuk terus melanjutkan upayanya.

Saat ini, Agus tengah menyelesaikan studi di jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Universitas Terbuka Majene. Di waktu yang sama, ia juga bekerja sebagai guru pendamping di salah satu sekolah dasar di Majene.

Peran sebagai pendidik memberinya ruang baru untuk menerapkan nilai-nilai kesetaraan. Meski belum ada kurikulum khusus terkait kesetaraan gender di sekolah dasar, Agus berusaha memasukkan perspektif tersebut dalam berbagai aktivitas belajar, baik di dalam maupun di luar kelas.

Salah satu situasi yang sering ia temui terjadi saat pelajaran olahraga. Menurut Agus, tidak sedikit murid perempuan yang merasa minder atau malu karena ditertawakan murid laki-laki ketika berolahraga.

“Saya mencoba membiasakan kepada anak-anak, kalau ini tidak apa-apa, jangan diketawain,” tuturnya.

Baginya, yang terpenting adalah memastikan setiap anak mendapatkan kesempatan dan perlakuan yang sama. Menurut Agus, anak-anak memiliki banyak pertanyaan dan rasa ingin tahu terkait berbagai hal yang mereka temui sehari-hari.

Baca Juga: Antre Panjang Blok M, Tongkrongan ‘Anak Jaksel’ yang Menggeliat Kembali

“‘Pak Guru boleh gak sih perempuan ikut lomba ini’, ‘Boleh gak sih saya melakukan seperti ini’, ‘Boleh gak sih, boleh gak sih’, pokoknya banyak yang nanya seperti itu,” ungkapnya.

Dalam berbagai kasus, Agus melihat anak-anak sering berhadapan dengan batasan yang datang dari lingkungan sekitar, termasuk keluarga. Salah satunya dialami seorang murid yang ingin mengikuti lomba lari, tetapi merasa ragu karena menggunakan hijab. Murid tersebut juga menghadapi penolakan dari orang tuanya karena atlet yang ia lihat umumnya mengenakan pakaian ketat.

Alih-alih langsung memberi solusi, Agus memilih memahami keinginan muridnya terlebih dahulu. Setelah melihat minat dan potensinya, ia berusaha memberi dukungan agar murid tersebut tetap percaya diri mengejar cita-citanya.

“Bisa-bisa saja itu, meski pakai hijab,” cerita Agus saat menyemangati muridnya.

Dari situ, Agus mulai melakukan pendekatan kepada orang tua. Terkadang, ia memang menemukan kasus ketika anak-anak memiliki keinginan, tetapi terkendala dukungan dari orang tua. Namun, ia percaya dengan memberi pemahaman pelan-pelan, orang tua lama-lama akan mengerti. Terkadang orang tua melarang karena mereka belum mengerti.

Pengalaman lain datang dari seorang murid laki-laki kelas lima yang gemar memakai make up. Murid tersebut mengaku sering diejek karena dianggap tidak sesuai dengan gambaran laki-laki pada umumnya di lingkungan sekitar.

Alih-alih melarang, Agus memilih memvalidasi perasaan muridnya dan mendukung hobinya.

“‘Ini tidak apa-apa, ini skill, keterampilan kamu’ Justru di suatu acara ini ada manfaatnya dan dia justru yang membantu”.

Berbagai pengalaman itu membuat Agus semakin yakin dukungan terhadap kesetaraan gender dapat dimulai dari tindakan sederhana di sekitar kita. Ketika ditanya apa yang bisa dilakukan laki-laki untuk mulai terlibat, ia menilai langkah pertama justru dimulai dari lingkungan terdekat sebelum bergerak ke ruang yang lebih luas.

Menurut Agus, laki-laki dapat hadir sebagai pendengar, pemberi dukungan, dan orang yang bersedia memahami pengalaman perempuan di sekitarnya. Agus kemudian merefleksikan hubungannya dengan ibu, kakak perempuan, dan adik perempuannya sendiri.

“Saya punya kakak perempuan yang sempat gagal lolos saat mendaftar sesuatu, di luaran banyak yang mencemooh. Dari situ saya belajar hadir dulu untuk dia,”

Meski terlihat sederhana, Agus mengakui perjalanan tersebut tidak selalu mudah. Ada masa-masa ketika ia merasa lelah dan mempertanyakan apakah perjuangannya masih perlu dilanjutkan.

“Apakah saya harus berhenti? Berat sekali rasanya,” katanya.

Namun, dukungan dari keluarga, terutama ibunya, terus menjadi sumber kekuatan yang membuatnya bertahan. Itulah mengapa menurut Agus hubungan laki-laki dan perempuan saling terkait dan tidak bisa dipisahkan.

About Author

Sonia Kharisma Putri

Sonia suka hal-hal yang cantik dan punya mimpi hidup berkecukupan tanpa harus merantau lagi. Sekarang lebih suka minum americano daripada kopi susu keluarga.