07/07/2026
Issues Opini

Saat Plastik Mahal, Perempuan Lagi yang Dipaksa Beradaptasi

Kenaikan harga plastik bukan sekadar soal ongkos belanja. Ia memperlihatkan bagaimana beban perubahan sehari-hari sering lebih dulu jatuh ke perempuan.

  • April 15, 2026
  • 4 min read
  • 1001 Views
Saat Plastik Mahal, Perempuan Lagi yang Dipaksa Beradaptasi

Jika ada kondisi kepanikan di pasar, biasanya itu terjadi karena ada penertiban—lapak digusur Satpol PP atau ada pejabat mau lewat. Tapi saat saya ke pasar kemarin ini, yang membuat ibu-ibu bersahutan dengan wajah kesal justru benda yang selama ini dianggap sepele: plastik.

“Apa-apaan ini? Mahal kali bah!” kata seorang ibu dengan suara keras sambil memegang satu bungkus plastik kresek. Yang lain langsung menyahut dengan suara tak kalah keras. Seorang perempuan penjual minuman dingin yang antre membeli plastik mulai cemas karena gelas plastik, sedotan, dan kantong pembungkusnya juga ikut naik. 

“Waduh, macam mana jualanku ini,” katanya, dengan nada sedih.

Dalam waktu singkat, saya melihat keresahan yang nyata. Di toko kelontong itu, semua orang mulai menghitung ulang biaya. Bukan karena sembako tiba-tiba melonjak, melainkan karena benda kecil yang biasanya nyaris tak dipikirkan: plastik. Dan ketika benda kecil itu mendadak mahal, yang terguncang bukan hanya pengeluaran, tetapi juga rutinitas yang selama ini ditopang oleh sesuatu yang dianggap murah, selalu ada, dan nyaris tak pernah dipersoalkan.

Baca juga: Aeshnina Azzahra: Aktivis Lingkungan Muda yang Kritik Sampah Plastik

Yang lebih dulu menanggung, lagi-lagi perempuan

Yang mengganggu pikiran saya sebenarnya bukan hanya harga plastik yang melambung. Yang lebih mengusik adalah pertanyaan ini: kenapa yang langsung panik selalu ibu-ibu? Kenapa setiap ada perubahan dalam kebutuhan sehari-hari, perempuan yang paling dulu dipaksa memikirkan jalan keluarnya? Yang lain seolah tenang-tenang saja.

Pulang dari pasar, saya bertanya kepada abang becak yang saya tumpangi apakah dia tahu harga plastik sedang naik. Ia menjawab santai, “Iya, kata mamak-mamak di pasar tadi, harga plastik kresek pun ikut naik. Makanya recok kali mamak-mamak di pasar.”

Jawaban itu membuat saya berpikir, bahkan informasi tentang repotnya hidup sehari-hari pun seperti sudah dititipkan ke perempuan. Merekalah yang dianggap paling tahu, sekaligus paling wajar untuk ribut lebih dulu.

Memang, di banyak rumah, urusan belanja, membungkus, menyimpan, dan menghemat agar semua cukup lebih sering jatuh ke tangan perempuan. Kalau gas LPG mahal, ibu-ibu yang harus putar otak menyesuaikan menu, jauh sebelum pemerintah mengimbau penghematan. Kalau anak perlu bawa bekal, ibu juga yang harus mencari caranya. Dan ketika plastik mahal, perempuan lagi yang pertama dituntut segera beradaptasi.

Tidak banyak yang melihat bahwa kerja semacam ini menguras tenaga dan pikiran. Perempuan bukan hanya diminta mengatur uang yang pas-pasan, tetapi juga menjaga agar ritme rumah tangga tidak ikut panik: agar anak-anak tetap makan, agar dagangan kecil tetap jalan, agar hidup sehari-hari tidak jatuh berantakan.

Kepanikan itu bukan tanpa alasan. Plastik kresek, gelas plastik, dan pembungkus murah sudah terlalu lama menjadi penyangga keseharian: praktis, ringan, mudah didapat, dan serbaguna. Dipakai untuk belanja, membungkus dagangan, membawa makanan, sampai menampung sampah rumah tangga. Jadi ketika harganya naik, yang terguncang bukan hanya isi dompet, tetapi juga rasa aman dalam menjalani rutinitas sehari-hari.

Kenaikan harga plastik mungkin bisa dijelaskan dengan bahasa industri: pasokan bahan baku terganggu, biaya produksi naik, distribusi tersendat, sampai konflik geopolitik di Timur Tengah. Pemerintah mungkin juga merasa sudah menyiapkan langkah mitigasi dan mendorong alternatif kemasan. Tapi di pasar, semua penjelasan itu terasa jauh. Yang datang lebih dulu justru repotnya: bagaimana membungkus belanja, bagaimana menjaga untung dagangan yang tak seberapa, bagaimana memastikan pengeluaran rumah tangga tidak makin bocor. Dan semua itu harus dijawab hari ini juga.

Di titik ini terlihat jelas bahwa persoalannya bukan sekadar harga, melainkan cara sebuah beban sosial bekerja. Ketika keadaan berubah, rumah tangga kecil tidak diberi waktu untuk bernapas; mereka langsung dituntut menyesuaikan diri. Dan yang paling dulu menghadapi tuntutan itu sering kali perempuan.

Baca juga: Tak Sekadar ‘Joke’ Dicoret dari KK, Tupperware Ternyata Berdayakan Ibu-ibu

Beban adaptasi tidak bisa terus dilimpahkan ke perempuan

Di sinilah letak masalahnya. Ketika orang diminta berubah—mengurangi plastik, mencari alternatif, atau menyesuaikan pengeluaran—beban itu seolah otomatis dilempar ke perempuan. Seolah-olah urusan menambal perubahan memang dari awal adalah tugas ibu-ibu.

Padahal, beban adaptasi tidak semestinya terus-menerus diletakkan di keranjang belanja yang ditenteng perempuan, di dapur yang mereka urus, dan di pundak yang sudah lebih dulu memikul banyak hal.

Kalau plastik memang sudah lama menjadi masalah, maka yang harus berubah bukan cuma kebiasaan belanja perempuan di pasar. Laki-laki di rumah, pelaku usaha, pengelola pasar, dan pemerintah juga harus ikut memikul tanggung jawab. Perubahan tidak akan pernah adil kalau seluruh repotnya tetap diserahkan kepada rumah tangga kecil, lalu diam-diam dibebankan lagi dan lagi kepada perempuan.

Karena itu, kepanikan ibu-ibu di pasar kemarin bukan cerita kecil yang bisa dianggap biasa. Ia memperlihatkan sesuatu yang lebih besar: perubahan sering disebut sebagai tanggung jawab bersama, tetapi repotnya terlalu sering lebih dulu mendatangi perempuan. Selama pola itu tidak berubah, setiap krisis kecil—bahkan yang tampak sesederhana plastik kresek—akan tetap lebih berat dirasakan oleh mereka yang sejak awal sudah dibebani urusan memastikan hidup sehari-hari tetap berjalan.

About Author

Laili Zailani

Lely adalah fasilitator pemberdayaan perempuan, pendiri HAPSARI dan Rumah Kata. Fellow Ashoka Indonesia (2000), serta penulis yang percaya bahwa cerita adalah alat perubahan.