07/07/2026
Issues Politics & Society

Dua Puluh Meter dari Podium: Mendengar Pembelaan MBG di Palmerah

Minggu lalu, jalanan depan kantor kami dibereskan karena Presiden mau lewat. Ada peresmian SPPG sekaligus pembelaan atas kritik-kritik pada MBG.

  • February 26, 2026
  • 6 min read
  • 861 Views
Dua Puluh Meter dari Podium: Mendengar Pembelaan MBG di Palmerah

Saya sudah setahun tinggal di kawasan Palmerah Jakarta Barat. Saya hafal betul ritme paginya: pedagang bubur mulai menggelar lapak, motor-motor menyerobot di pertigaan, dan yang paling konsisten ketiadaan polisi di titik krusial itu. Tapi, pagi itu berbeda. Polisi berdiri di setiap sudut Palmerah. Lalu lintas diatur rapi. Jalanan yang biasanya semrawut mendadak tertib. 

Belakangan saya tahu sebabnya: Presiden Prabowo akan resmikan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi, (SPPG), Makan Bergizi Gratis (MBG) milik Polri yang diresmikan Presiden Prabowo di Polsek Palmerah (13/2). 

Sejak pagi, akses menuju lokasi terasa sibuk. Ratuan aparat berjaga. Rambu jalan terlihat baru dicat. Pohon-pohon rindang yang biasanya menaungi trotoar sudah dipangkas. Pedagang kaki lima yang tiap hari mangkal di pinggir jalan tak terlihat lagi. Seolah-olah Palmerah sedang dirapikan untuk pesta besar yang tak semua orang diundang.

Baca juga: Rapor Merah MBG: Boros, Enggak Bergizi, dan Centang Perenang Tata Kelola

Saya ditugaskan mencari doorstop Presiden Prabowo, diharapkan dapat kutipan sang presiden terkait maraknya kasus keracunan dalam program MBG. Semenjak beliau jadi presiden, akses jurnalis ke Istana dan orang nomor satu Indonesia ini memang lebih diperketat—kalau tidak boleh disebut dibatasi. Hanya jurnalis yang terkonfirmasi pihak Staf Kepresidenan yang diberi kesempatan bertanya.

Petugas di lokasi menjelaskan, Presiden akan resmikan 1.072 SPPG dan 107 Groundbreaking SPPG milik Polri. Angka-angka itu disebut sebagai bukti dukungan nyata terhadap pemenuhan gizi anak Indonesia. Klaim yang terlalu besar, di tengah berita anak-anak sekolah yang mengalami keracunan makanan dari program yang sama. 

Saya berdiri di antara barikade, bersama jurnalis lain yang tak memiliki akses masuk. Empat jam acara berlangsung, tetapi saya tak pernah benar-benar melihat wajah Presiden dari dekat. Semua dijaga ketat. Siapa pun yang tak memiliki kartu akses atau dianggap mencolok akan segera diamankan. 

Kami hanya berjarak sekitar enam meter dari ruangan resmi. Dari luar, suara Presiden Prabowo terdengar tinggi. Saya mencoba menangkap setiap kalimatnya. 

Namun yang paling saya tunggu tak kunjung terdengar. 

Saya tidak mendengar komitmen yang jelas soal evaluasi sistem MBG di tengah maraknya kasus keracunan. Tidak ada penjelasan rinci tentang perbaikan pengawasan, standar keamanan, atau mekanisme tanggung jawab. Yang lebih banyak terdengar justru klaim capaian. 

Presiden menyebut MBG telah menjangkau 60 juta penerima manfaat dan menghasilkan 4,5 miliar porsi makanan. Angka-angka itu berulang kali ditekankan, seperti mantra keberhasilan. 

Pidato yang berdurasi sekitar 40 menit itu terasa lebih personal dari yang saya bayangkan. 

Baca juga: Dari Kantin hingga Katering: Bagaimana MBG Gerus Pendapatan Perempuan

Dari Peresmian SPPG ke Curhat Sang Presiden

Sejak awal, Presiden membuka dengan cerita tentang ejekan yang ia terima saat meluncurkan program MBG. Dia menyebut bukan hanya orang biasa yang meragukannya, tetapi juga kalangan terdidik—bahkan profesor terkenal. 

Nada bicaranya terdengar kesal, sekaligus juga ingin membuktikan diri.

Dia mempertanyakan tudingan bahwa program MBG menghina bangsa. “Kita mau menyelamatkan anak-anak kita, dibilang menghina,” ujar Prabowo. 

Di momen itu, pidato tersebut berubah jadi sangat personal. Dia mengaku ejekan terhadap MBG sempat menjadi beban pikirannya. “Aduh apa iya ya, saya menghina bangsa Indonesia,” ucapnya. 

Saya berdiri mendengarkan kalimat itu sambil membayangkan anak-anak yang dirawat akibat keracunan makanan. Di satu sisi, ada narasi penyelamatan bangsa. Di sisi lain juga, ada fakta-kata di lapangan belum sepenuhnya terjawab. Saya bingung dengan pernyataannya. 

Presiden juga mengatakan hidupnya telah didedikasikan untuk bangsa sejak menjadi prajurit letnan dua. Dia ingin mati untuk jalan kebenaran, membela keadilan dan keselamatan rakyatnya. Keinginan itu sekilas tampak pejuang yang emosional dan putus asa. 

Lalu ada momen yang membuat saya mengernyit. 

Di tengah pidato, Presiden secara langsung meminta Kepala Staf Kepresidenan, Muhammad Qodari, untuk mengumpulkan video-video yang menghina atau meramalkan kegagalan MBG. Qodari yang hadir menjawab dengan sikap hormat dari tempat duduknya. 

Saya jadi bertanya dalam hati: untuk apa video-video itu dikumpulkan? Untuk evaluasi? Untuk pembelajaran? Atau sekadar pengingat siapa saja yang pernah meragukan? Tidak ada penjelasan lanjutan. 

Pada titik ini Presiden juga menyinggung adanya pihak-pihak yang tidak ingin Indonesia maju. Dia mengibaratkan negara seperti tim sepak bola yang sedang bertanding. Jika tim sendiri bermain, seharusnya warga mendukung, bukan mencela.  

“Kita tahu siapa yang biayai gerakan-gerakan menjelek-jelekan bangsa Indonesia,” ujarnya. 

Kalimat itu menggantung di udara Palmerah yang siang terasa panas dan padat. Saya melihat beberapa pejabat mengangguk. Beberapa tamu tersenyum. Di luar, warga hanya menonton dari layar. 

Salah satu pernyataan yang paling menonjol bagi saya adalah ketika Presiden mengatakan jika seseorang diserang atau difitnah, berarti dia sedang diperhitungkan. Sebaliknya, jika tidak pernah diserang mungkin memang tidak dianggap penting. 

Saya mencatat kalimat itu cepat-cepat. Bukan untuk diingat, tapi mencatatnya sebagai ironi. Di tengah kritik masyarakat terhadap tuntutan pemberhentian MBG itu sendiri. 

Baca juga: Bayang-bayang (Bisnis) Militer di Dapur MBG Kita

Di satu sisi saya memahami narasi itu sebagai cara membangun citra diri. Di sisi lain, saya merenung: apakah setiap kritik selalu berarti serangan? Apakah setiap pertanyaan tentang anggaran Rp335 triliun dan keamanan pangan bisa disederhanakan menjadi sikap tidak mendukung bangsa? 

Kritik warga sipil, dari para akademisi, ekonom, dan koalisi warga lain yang minta MBG dihentikan jelas hanya ia dengar. Terkonfirmasi. Mungkin tidak detail, tapi masuk pikiran Presiden. Hanya saja, ia mengolah itu semua sebagai serangan belaka?

Peresmian SPPG di Palmerah hari itu akhirnya terasa lebih dari sekadar seremoni fasilitas gizi. Dia menjadi konser pembelaan atas program unggulan pemerintah. Sebuah ruang di mana angka-angka keberhasilan disuarakan lantang, sementara pertanyaan-pertanyaan teknis dan kekhawatiran publik belum mendapat ruang yang sama. 

Saat acara usai, Prabowo langsung beranjak, tidak ada pernyataan tambahan, petugas tampak selalu bersiaga setiap orang yang mendekat begitu pun pada jurnalis. 

Aparat perlahan bubar. Lalu lintas kembali padat. Palmerah kembali menjadi Palmerah yang saya kenal sedikit semrawut, sedikit bising, tetapi nampak nyata.

Saya berjalan pulang melewati trotoar yang pagi tadi disterilkan. Catnya masih terlihat baru. Jejak seremoni masih terasa.

Di kepala saya, ada satu hal yang terus berputar: kuping presiden konon dibatas-batasi dari informasi yang sebetulnya terjadi di lapangan. Itu sebabnya dia jadi sangat defensif dalam banyak hal dan sering melempar kata yang bertolak belakang dengan realitas hidup warga. Kawan-kawan jurnalis Tempo pernah menulis soal ini, lalu membicarakannya di podcast mereka, Bocor Alus Politik.

Sebagai jurnalis yang berdiri sekitar 20 meter dari podium, saya mungkin tak mendapat doorstop yang diharapkan. Tapi saya pulang membawa hal lain: meski tak dikonfirmasi sang presiden, saya tahu umur MBG masih lama. Mungkin selama itu pula, kritikan kita masih harus terus diteriakan.

About Author

Ahmad Khudori

Ahmad Khudori adalah seorang anak muda penyuka kelucuan orang lain, biar terpapar lucu.