17/07/2026
Culture Opini

Rayakan Bulan Kebanggaan dengan Lagu-lagu ‘Queer Joy’, Ini 5 Rekomendasi Untukmu

‘Pride Month’ merupakan bulan perjuangan yang patut dirayakan. Ini lima lagu dari musisi kwir yang mengangkat ‘queer joy’ sebagai perlawanan.

  • June 19, 2026
  • 6 min read
  • 666 Views
Rayakan Bulan Kebanggaan dengan Lagu-lagu ‘Queer Joy’, Ini 5 Rekomendasi Untukmu

Foto: Variety

Komunitas kwir kerap menghadapi berbagai tantangan, dari penolakan hingga perundungan. Pengalaman tersebut kerap dituangkan ke dalam karya seni, termasuk musik. Enggak heran jika banyak lagu dari musisi kwir mengangkat kisah kehilangan, diskriminasi, atau akhir yang tragis.

Dalam kajian media, kecenderungan tersebut dikenal sebagai bury your gays trope. Mengutip penelitian Haley Hulan (2017) berjudul “Bury Your Gays: History, Usage, and Context”, ini adalah trope sastra yang muncul di berbagai genre media sejak akhir abad ke-19. 

Karya yang menggunakan trope ini umumnya menampilkan pasangan sesama jenis, lalu mengakhiri cerita dengan kematian salah satu karakter kwir. Karakter yang ditinggalkan kemudian menyadari bahwa dirinya “tidak benar-benar gay” dan sering kali berakhir dalam hubungan heteroseksual.

Pada awalnya, trope tersebut digunakan para penulis gay untuk mengisahkan karakter kwir tanpa berhadapan langsung dengan hukum atau tekanan sosial yang melarang representasi homoseksualitas secara positif. Akibatnya, akhir yang tragis kerap menjadi satu-satunya cara agar cerita tentang karakter kwir dapat diterbitkan.

Meski begitu, pengalaman kwir enggak selalu identik dengan kesedihan. Banyak musisi justru merayakan cinta, kebebasan, persahabatan, dan kebahagiaan melalui karya mereka. Semangat inilah yang dikenal sebagai queer joy, yaitu pengalaman bahagia yang lahir dari keberanian menjadi diri sendiri di tengah berbagai bentuk diskriminasi.

Untuk merayakan Bulan Kebanggaan, berikut lima lagu dari musisi kwir yang mengangkat queer joy dalam berbagai bentuk:

Baca juga: 5 Film BL dengan Happy Ending: Alternatif Melawan ‘Bury Your Gays Trope’

Femininomenon – Chappell Roan

Judul lagu ini cukup catchy karena menggabungkan kata feminine dan phenomenon. Melansir Genius, Chappell Roan menciptakan kombinasi kata tersebut dengan latar belakang: “a phenomenon if sleeping with a man was better than sleeping with a girl”, atau fenomena “andai bercinta dengan laki-laki lebih memuaskan ketimbang dengan perempuan.”

Melalui lagu ini, Chappell menyampaikan perspektifnya sebagai perempuan kwir tentang pengalaman seksual perempuan yang kerap diabaikan dalam relasi heteroseksual. Namun, lagu ini tidak berhenti pada kritik tersebut.

Foto: Spotify

Secara lebih luas, “Femininomenon” juga dapat dibaca sebagai lagu tentang pemberdayaan perempuan dan kebebasan menentukan apa yang mereka inginkan. Chappell mengajak pendengarnya untuk tidak terus-menerus menyesuaikan diri dengan ekspektasi laki-laki.

“And I can’t understand / Why can’t any men / Hit it like, get it hot / Get a b*tch, it’s a fem.”

Selain “Femininomenon”, Chappell juga memiliki sejumlah lagu lain yang mengangkat queer joy dalam album The Rise and Fall of a Midwest Princess, seperti “Hot To Go” dan “Red Wine Supernova”.

Girls Like Girls – Hayley Kiyoko

“Girls Like Girls” dari Hayley Kiyoko dirilis pada 2015 melalui album This Side of Paradise. Lagu ini berkisah tentang ketertarikan dan cinta antara dua perempuan yang tumbuh di tengah lingkungan yang tidak sepenuhnya menerima hubungan mereka.

Video musiknya menceritakan perempuan yang jatuh cinta kepada sahabatnya. Pada saat itu, sahabat tersebut sedang menjalin hubungan dengan seorang laki-laki yang posesif dan kasar. Sepanjang cerita, penonton disuguhkan ketegangan, kecemburuan, hingga konfrontasi fisik.

Foto: Billboard

Meski demikian, kisah tersebut berakhir dengan kedua perempuan itu memilih satu sama lain. Alih-alih menghadirkan tragedi, video musik ini menawarkan akhir yang penuh harapan.

Lagu ini menyoroti keberanian mengakui perasaan dan memperjuangkan cinta kwir di tengah tekanan sosial. Lewat liriknya, Hayley menegaskan bahwa perempuan yang mencintai perempuan bukanlah sesuatu yang aneh atau baru.

“Girls like girls, like boys do, nothing new.”

Baca juga: Girl in Red: Rayakan Musik ‘Queer’ Bebas Heteronormativitas

This Hell – Rina Sawayama

“This Hell”, single utama dari album Hold the Girl, menghadirkan respons Rina Sawayama terhadap stigma yang kerap dilekatkan pada komunitas kwir. Lagu ini menyinggung anggapan sebagian kelompok konservatif yang memandang identitas kwir sebagai dosa.

Alih-alih menerima narasi tersebut, Rina justru membalikkannya menjadi perayaan. Jika dunia menganggap kelompok kwir pantas masuk neraka, maka neraka itu akan terasa lebih baik jika dijalani bersama orang-orang yang saling mendukung.

Foto: Youtube

Lewat lagu ini, Sawayama menunjukkan pentingnya solidaritas di tengah diskriminasi. Ketika dunia gagal memberikan rasa aman, komunitas kwir menciptakan ruang aman mereka sendiri melalui kebersamaan dan kasih sayang.

“This hell is better with you / We’re burning up together, baby, that makes two.”

Dengan balutan musik pop dan nuansa country, “This Hell” menjadi lagu yang terdengar riang sekaligus sarat pesan tentang kebanggaan dan penerimaan diri.

Coconuts – Kim Petras

Kim Petras merupakan penyanyi pop transgender yang merilis album debutnya, Feed the Beast, pada 2023. Salah satu lagu dalam album tersebut adalah “Coconuts”.

Melansir Genius, kata “Coconuts” dalam lagu ini merupakan eufemisme untuk payudara. Dengan lirik yang jenaka dan nada yang ringan, lagu ini cocok masuk ke dalam daftar lagu pesta.

Di balik nuansa cerianya, “Coconuts” juga membawa pesan tentang perayaan femininitas dan body positivity. Kim menampilkan tubuh dan identitasnya dengan penuh percaya diri tanpa berusaha menyesuaikan diri dengan standar yang ditetapkan orang lain.

Foto: Youtube Vevo

Makna lagu ini menjadi semakin kuat jika melihat konteks penampilannya. Melansir NME, Kim pertama kali membawakan “Coconuts” di panggung MTV Europe Music Awards 2021 sebagai bentuk protes terhadap legislasi anti-LGBTQ+ yang baru disahkan di Hungaria, lokasi acara tersebut digelar.

Sebagai perempuan transgender yang tampil percaya diri di atas panggung, Kim menjadikan “Coconuts” lebih dari sekadar lagu pop yang jenaka. Lagu ini juga menjadi pernyataan tentang kebebasan berekspresi dan keberadaan komunitas kwir yang menolak dibungkam.

Baca juga: Seksploitasi Penyanyi Perempuan

At Least I’m Hot – Reneé Rapp

Rekomendasi berikutnya datang dari musisi kwir Reneé Rapp. “At Least I’m Hot”. Ini merupakan salah satu lagu dalam album keduanya, BITE ME, yang dirilis pada 2025. Lagu tersebut mengangkat tema kepercayaan diri dan penerimaan diri di tengah kehidupan yang tak selalu berjalan sesuai harapan.

Pesan tersebut tercermin dalam lirik, “But if I can’t be happy, then at least I’m hot / Rather be in my bag than get stuck in my thoughts”.

Foto: Rolling Stone

Alih-alih terjebak dalam kekecewaan dan keraguan, Reneé memilih merayakan dirinya sendiri. Sikap itulah yang membuat lagu ini terasa dekat dengan semangat queer joy, yakni menemukan kebahagiaan dan kebanggaan pada diri sendiri meski hidup tidak selalu mudah.

Melansir AOL, Reneé Rapp pernah membawakan lagu ini secara langsung dengan mengajak kekasihnya, Towa Bird, naik ke atas panggung. Momen tersebut memperlihatkan bagaimana kepercayaan diri, cinta, dan kebahagiaan sebagai seorang kwir dapat hadir secara bersamaan tanpa perlu disembunyikan.

“But if I can’t be happy, then at least I’m hot.”

About Author

Muhammad Rifaldy Zelan

Muhammad Rifaldy Zelan adalah penyuka makanan pedas tapi gak suka berkeringat. Ia juga suka duduk-duduk di taman dengan pikiran kosong.