07/07/2026
Culture Opini Screen Raves

‘Heated Rivalry’ dan Durasi Panjang Adegan Seks yang Memang Dibutuhkan

Hampir semua episode ‘Heated Rivalry’ berhasil membuat saya meneteskan air mata—’and let’s be honest, kinda horny’.

  • February 26, 2026
  • 10 min read
  • 1918 Views
‘Heated Rivalry’ dan Durasi Panjang Adegan Seks yang Memang Dibutuhkan

(Artikel ini mengandung spoiler)

Di titik ini, nyaris mustahil algoritma-mu belum tersentuh Heated Rivalry, serial Crave Original dari Kanada, yang memang tidak tayang di Indonesia. Kecuali kamu berlangganan HBO dan menggunakan VPN Amerika, Australia, dan Filipina.

Premis Heated Rivalry secara singkat adalah enemies to lovers. Diadaptasi dari saga Game Changers karya Rachel Reid, serial ini menceritakan tentang Shane Hollander (Hudson Williams) dan Ilya Rozanov (Connor Storrie), dua orang pemain hockey yang kelihatannya bermusuhan. Tim mereka punya sejarah kompetisi yang sengit, media dan publik menganggap mereka sebagai archrival

Yang publik tidak tahu: Shane dan Ilya saling tertarik dan menjalin relasi seksual sembunyi-sembunyi. 

Heated Rivalry mungkin bukan serial pertama yang menjadikan seks sebagai daya tarik, tetapi ia termasuk yang paling jarang—terutama di lanskap televisi saat ini—yang benar-benar memanfaatkan adegan seks sebagai perangkat naratif. Dalam serial ini, setiap adegan intim memiliki fungsi yang jelas dalam perkembangan karakter dan hubungan. Seks tidak hadir sebagai tempelan, bukan pula sekadar pemancing sensasi.

Alih-alih mengandalkan eksploitasi atau shock value—seperti yang kerap terlihat dalam sejumlah serial arus utama—Heated Rivalry menempatkan adegan-adegan tersebut sebagai bagian integral dari cerita. Melalui keintiman fisik, penonton diajak memahami dinamika kuasa, kerentanan, hingga perubahan emosional antar karakter. Seks menjadi bahasa—cara lain untuk menunjukkan apa yang sulit diucapkan lewat dialog.

Foto: IMDB

Baca juga: ‘Boots’ dan Homofobia di Barak Militer

Di menit 13 episode pertamanya, Jacob Tierney langsung menjelaskan secara visual sexual tension antara kedua protagonis. Di menit 17, Shane dan Ilya berhubungan seks untuk pertama kalinya. Jacob Tierney memberikan durasi sekitaran 9 menit untuk adegan ini. Lalu ada pertemuan kedua di menit 35 yang berlangsung sekitar 3 menit. Jacob Tierney—yang openly gay—paham benar progresi hubungan antara Shane dan Ilya. 

Ini adalah kisah tentang dua orang laki-laki—Shane gay sementara Ilya biseksual—yang berada di lingkungan yang tidak aman untuk terbuka sebagai gay. Tidak hanya itu, karena publik dan media mem-framing mereka sebagai musuh, Shane dan Ilya tidak bisa bertemu dan PDKT di tempat publik. Seks adalah bentuk komunikasi yang efektif. Adegan-adegan ini bukan hanya menjadi pondasi hubungan emosional mereka, tapi juga cara masing-masing untuk mengerti masing-masing. 

Shane terlihat melipat pakaiannya setelah menanggalkan busananya, sementara Ilya tampil jauh lebih dominan di dalam kamar hotel. Sikap ini sangat kontras dengan perilaku Ilya di luar ruang tersebut, di mana ia cenderung pasif dan tidak memiliki banyak kendali atas hidupnya. Di luar kamar hotel, Ilya terus-menerus ditekan oleh tuntutan keluarga: saudaranya kerap meminta uang dengan alasan kebutuhan “logistik” rumah, dan ayahnya mengatur arah kariernya, bahkan sampai melarangnya berbicara langsung dengan pemilik klub.

Sebaliknya, Shane yang tampak lebih submisif dalam hubungan intim justru memiliki kehidupan yang lebih stabil dan aktif. Kariernya berkembang pesat, ia sering menjadi brand ambassador, dan hubungannya dengan keluarga terlihat fungsional serta hangat. Kontras ini menegaskan adanya perbedaan antara dinamika kuasa di ruang privat dan posisi kontrol dalam kehidupan sosial masing-masing.

Selama enam episode, hubungan Shane dan Ilya berkembang seiring dengan perubahan cara serial ini menampilkan keintiman mereka. Di awal, adegan-adegan seks terasa intens dan penuh gairah. Namun, semakin keduanya menjadi lebih emosional dan rapuh satu sama lain, intensitas itu justru mereda. Ketika adegan intim tetap muncul—seperti di episode keenam—nuansanya berubah: terasa lebih playful, lebih hangat, dan lebih intim, seolah kedekatan emosional menggantikan kebutuhan akan ledakan fisik.

Kontras paling kuat terlihat di akhir episode empat, “Rose”. Saat Shane memilih mendekat pada seorang artis bernama Rose (Sophie Nélisse) karena merasa hubungannya dengan Ilya “terlalu cepat menjadi serius”, adegan intim yang mengikuti justru terasa seperti mimpi buruk. Shane dan Ilya masing-masing bersama pasangan lain, tetapi pikiran mereka tetap dipenuhi bayangan satu sama lain. Adegan-adegan itu dilapisi lirik t.A.T.u, “this is not enough”, dari lagu All the Things She Said—yang mempertegas kekosongan yang tak bisa ditutup oleh pelarian sesaat.

Foto: IMDB

Baca juga: Aura Farming ‘And Just Like That’ yang Gagal Menyamai ‘Sex and the City’

Intimacy Coordinator Adalah Kunci

Adegan-adegan intim dalam serial ini tidak pernah terasa sebagai tempelan. Setiap momen dirancang dengan koreografi yang meyakinkan tanpa mengorbankan estetika visualnya. Jacob Tierney menggandeng intimacy coordinator Chala Hunter untuk memastikan seluruh adegan tersusun dengan aman dan terarah. Bahkan sebelum proses syuting dimulai, Hunter bersama dua pemeran utama sudah mendiskusikan secara detail bagaimana setiap adegan akan ditampilkan.

Salah satu detail yang paling menarik adalah bagaimana karakter-karakternya saling “check in” alias menanyakan kenyamanan satu sama lain. Ilya kerap memastikan Shane merasa aman dengan pertanyaan seperti, “Kamu nggak apa-apa? Is it okay?” 

Momen-momen kecil ini memberi dimensi baru pada adegan-adegan tersebut—bahwa keintiman bukan hanya soal gairah, tetapi juga soal komunikasi dan persetujuan. Serial ini memahami betul bahwa consent bukan sekadar formalitas, melainkan bagian dari daya tarik itu sendiri.

Dari segi naratif, Tierney juga melakukan eksperimen plot yang menarik. Setelah dua episode pertama berfokus pada dinamika Shane dan Ilya, episode ketiga justru sepenuhnya diberikan kepada dua karakter lain: Scott Hunter (François Arnaud) dan Kip (Robbie G.K.).

Scott adalah kapten tim New York Admirals yang sudah sempat muncul sebelumnya. Seperti Shane dan Ilya, ia seorang gay, tetapi belum memiliki rencana untuk come out.

Ketertarikan Scott pada Kip terasa instan sejak pertemuan pertama mereka di kedai smoothies. Tak butuh waktu lama hingga Scott mengajak Kip melihat apartemennya. Namun, di balik ketertarikan itu ada perbedaan latar yang cukup tajam. Scott, yang yatim piatu dan tidak memiliki sahabat dekat, memikul semuanya sendirian. Sementara Kip hidup terbuka sebagai gay, dengan lingkar pertemanan suportif dan ayah yang merayakan anaknya. Identitas dan aspirasi Kip bukan rahasia bagi siapa pun.

Sejak Kip mulai sering berada di apartemennya, Scott sudah tahu ia menginginkan hubungan yang serius. Tetapi keinginan itu datang dengan syarat berat: hubungan mereka harus tetap tersembunyi. Kip mungkin tak langsung menolak secara eksplisit, tetapi sahabatnya, Elena (Nadine Bhabha), menyuarakan apa yang sulit ia ucapkan. Dengan tegas ia mengatakan bahwa Kip layak mendapatkan “sunshine”—dan menambahkan, “And so do you.” 

Kalimat itu menjadi momen reflektif bagi Scott, menyadarkannya betapa tidak adilnya permintaan yang ia ajukan.

Episode tiga ditutup dengan simbol visual yang sederhana tapi kuat: Scott menutupi kaus kaki bergambar pisang—hadiah dari Kip—dengan kaus kaki polos. Sebuah gestur kecil yang menegaskan bahwa, meski hatinya mulai terbuka, ia sendiri belum siap untuk benar-benar keluar dari “lemari”.

Penonton yang tidak membaca buku-buku Rachel Reid tidak tahu bahwa episode tiga ternyata memiliki domino effect yang signifikan untuk hubungan karakter utama Heated Rivalry

Episode lima menjadi titik balik penting bagi Shane dan Ilya. Untuk pertama kalinya, keduanya berbicara dengan jujur—bukan hanya kepada satu sama lain, tetapi juga kepada diri mereka sendiri. Shane akhirnya mengakui bahwa ia gay, sementara Ilya membuka diri tentang rasa kesepiannya dan ketiadaan support system dalam hidupnya. Hubungan mereka tak lagi bisa disebut kasual; ada kesadaran yang lebih dalam bahwa perasaan yang tumbuh di antara mereka adalah kasih sayang yang nyata.

Tapi apakah mereka punya masa depan? Di sinilah episode tiga tadi menjadi penting.

Melalui kisah Scott dan Kip, serial ini seolah memberi cermin tentang konsekuensi dari cinta yang harus disembunyikan—dan tentang pilihan antara bertahan dalam kenyamanan yang gelap atau berani melangkah menuju “sunshine.”

Di menit-menit terakhir musim ini, New York Admirals akhirnya memenangkan MLH Cup. Saat para pemain lain berhamburan ke tribun untuk merayakan kemenangan bersama keluarga mereka, Scott Hunter justru berdiri sendirian di tengah lapangan es. Tak ada siapa pun yang bisa ia peluk atau ajak berbagi momen bersejarah itu—hingga ia melihat Kip di bangku penonton.

Dalam adegan yang dramatis sekaligus membebaskan, Scott memanggil Kip turun ke ice rink dan menciumnya di hadapan seluruh stadion. Deklarasi cinta itu bukan cuma jadi klimaks hubungan Scott dan Kip, tetapi juga seperti membuka pintu kemungkinan bagi Shane dan Ilya. Terinspirasi oleh keberanian tersebut, Ilya—yang sebelumnya berniat kembali ke Rusia—memutuskan untuk menghubungi Shane dan merencanakan kunjungan ke cottage-nya saat musim panas.

Heated Rivalry menutup musim pertamanya dengan kebahagiaan yang meletup-letup. Shane dan Ilya menghabiskan musim panas berdua, menjadi pasangan yang “membosankan” dan melakukan hal-hal domestik. Seakan ini belum cukup membuat saya tersenyum, Tierney menambahkan salah satu adegan coming out paling menghangatkan di layar televisi. 

Foto: IMDB

Baca juga: ‘Adults’: Komedi Nongkrong Gen Z yang Jujur, Riuh, dan Kadang Canggung

Shane dan Ilya menghabiskan musim panas bersama, menjalani hari-hari sebagai pasangan yang nyaris “membosankan”: melakukan hal-hal domestik, berbagi rutinitas kecil, dan menikmati kedekatan tanpa sembunyi-sembunyi. Namun Tierney belum berhenti memberi momen menghangatkan. Ia menyelipkan salah satu adegan coming out paling menyentuh di layar televisi.

Shane, yang selama ini belum sepenuhnya jujur kepada orang tuanya, akhirnya mengakui bahwa ia gay dan telah menjalin hubungan dengan Ilya selama hampir sepuluh tahun. “Mom, I’m sorry. I did really try,” katanya kepada ibunya, Yuna (Christina Chang). Jawaban Yuna terasa seperti pelukan bagi penonton: “Oh you have nothing to apologize for. I’m sorry that I made you feel like you couldn’t tell me.” Respons yang penuh penerimaan itu membuat saya tak bisa berhenti membayangkan betapa berbedanya hidup banyak orang LGBTQ+ jika mereka memiliki keluarga yang sama suportifnya.

Saya lama sekali tidak seemosional ini menyaksikan sebuah tontonan. Hampir semua episode Heated Rivalry berhasil membuat saya meneteskan air mata—and let’s be honest, kinda horny—berkat penulisan dan penyutradaraan yang mumpuni. Saya juga termasuk yang suka pacing-nya. Meskipun bujet produksinya tidak semahal banyak tontonan mentereng Netflix, tapi presentasi audio-visual Heated Rivalry bisa bersaing.

Dalam kisah romansa, chemistry pemeran utama adalah fondasi yang tak bisa ditawar. Karena itu, keberhasilan Heated Rivalry juga sangat bertumpu pada dua aktor sentralnya. Tierney dan tim casting boleh dibilang beruntung menemukan Hudson Williams dan Connor Storrie. Meski sebelumnya belum terlalu dikenal, keduanya tampil begitu kuat hingga terasa seperti “lahir” sebagai bintang lewat serial ini.

Siapa pun yang menonton keenam episodenya akan melihat betapa solid permainan mereka. Chemistry di antara keduanya terasa organik dan meyakinkan—bukan hanya dalam adegan-adegan intim, tetapi juga dalam dinamika kompetitif di atas es. Physicality mereka luwes, baik saat mengeksekusi adegan hoki yang intens maupun momen-momen yang menuntut kedekatan emosional.

Connor Storrie, yang tumbuh besar di Texas, tampil kredibel sebagai karakter Rusia. Monolognya dalam bahasa Rusia di episode lima jadi salah satu momen paling menyentuh musim ini dan meninggalkan kesan mendalam bagi banyak penonton. Sementara itu, Hudson Williams menghadirkan Shane sebagai sosok yang emosinya begitu transparan. Pergolakan batin, keraguan, hingga kerinduan—semuanya terbaca jelas lewat ekspresi wajah dan sorot matanya. Tak sekali pun penonton dibuat bingung dengan keadaan emosional Shane; Williams memastikan setiap perubahan perasaan terasa autentik dan mudah diikuti.

Dalam wawancaranya bersama Toronto Life, Jacob Tierney mengatakan bahwa visinya untuk Heated Rivalry adalah menciptakan “sesuatu yang sangat membahagiakan.” Baginya, menghadirkan kisah cinta gay di dunia hoki—sebuah ruang yang identik dengan maskulinitas konvensional—adalah bentuk pemberontakan tersendiri. Tierney juga menyoroti kecenderungan dalam karya seni queer yang kerap berpusat pada tragedi: Berapa kali kita harus menyaksikan karakter gay yang akhirnya mati, terpisah, atau dihukum oleh narasi?

Ia secara sadar menolak tesis tersebut. Heated Rivalry lahir sebagai antitesis dari pola lama itu. “We deserve to have a gay show that is sexy and horny and fun,” ujarnya. Sebuah pernyataan yang terasa sederhana, tapi radikal dalam konteks sejarah representasi queer di layar.

Dan sulit rasanya untuk tidak mengangguk setuju.

About Author

Candra Aditya

Candra Aditya adalah penulis, pembuat film, dan bapaknya Rico. Novelnya ‘When Everything Feels Like Romcoms’ dapat dibeli di toko-toko buku.