12/06/2026
Culture Opini Prose & Poem

‘The Weight of Our Sky’: Lawan Bisikan Djin di Tengah Kerusuhan Rasial 1969

Di tengah kota yang terbakar dan kerusuhan rasial Malaysia 1969, Melati harus melawan dua hal sekaligus: kebencian massal di luar sana dan bisikan Djin di dalam kepalanya sendiri.

  • May 22, 2026
  • 6 min read
  • 380 Views
‘The Weight of Our Sky’: Lawan Bisikan Djin di Tengah Kerusuhan Rasial 1969

Foto: Hanna Alkaf

Kuala Lumpur, Malaysia pada 1969 tengah riuh oleh demam budaya populer yang melanda generasi muda. Di tengah gema lagu-lagu The Beatles yang berkumandang di berbagai sudut kota, Melati, remaja 16 tahun yang mengidolakan band tersebut, sedang menikmati waktunya bersama sahabat karib, Saf. Hari itu, Saf mengajaknya ke Bioskop Rex untuk menonton film terbaru yang dibintangi aktor legendaris Paul Newman.

Tak cukup menonton sekali, Saf mengajak Melati menyaksikan film Paul Newman untuk kedua kalinya. Namun saat hendak menyusul Saf, Melati mendadak disergap perasaan ganjil. Area sekitar bioskop yang sebelumnya dipadati manusia tiba-tiba berubah sunyi.

Hanya dalam beberapa langkah setelah melewati pintu keluar, Melati melihat toko-toko dan gerobak pedagang kaki lima ditutup tergesa-gesa. Puing bangunan berserakan di jalan, berdampingan dengan kantong-kantong belanja yang ditinggalkan begitu saja oleh pemiliknya di tengah kepanikan.

Perasaan aneh itu berubah menjadi ketakutan ketika seorang laki-laki yang tengah mengayuh sepeda melintas di hadapannya. Orang itu berteriak, orang Melayu dan Tionghoa sedang saling membantai di luar sana, lalu menyuruh Melati segera pulang demi menyelamatkan diri.

Menyadari bahaya yang mengintai, Melati langsung memutar arah dan berlari kembali ke dalam bioskop untuk menyeret Saf keluar. Namun pada saat bersamaan, segerombolan massa merangsek masuk sambil menenteng senjata tajam.

Di bawah ancaman maut, pimpinan kelompok tersebut memerintahkan penonton memisahkan diri ke dua barisan berdasarkan etnis: Melayu dan Tionghoa. Saf yang berkulit sawo matang langsung diseret ke kelompok Melayu.

Sementara Melati yang memiliki kulit lebih cerah kekuningan dibiarkan keluar setelah seorang perempuan Tionghoa paruh baya, Auntie Bee, meyakinkan massa bahwa Melati bukan Melayu.

Melati sempat meronta dan berusaha kembali masuk untuk menyelamatkan Saf. Namun cengkeraman Auntie Bee menahannya. Saat berhasil ditarik keluar, pemandangan di luar Bioskop Rex ternyata jauh lebih mengerikan.

Baca Juga: ‘Invisible Women’: Data Laki-laki yang Utama, Perempuan Nanti Saja

Jejak Kelam Sejarah yang Tak Sepenuhnya Lenyap

Kuala Lumpur berubah menjadi neraka. Langit memerah oleh kobaran api yang melahap bangunan dan mobil-mobil di jalanan. Puing jendela berserakan di aspal, sementara asap hitam menyesakkan dada. Di tengah kekacauan itu, telinga Melati dipenuhi pekikan amarah dan denting senjata tajam.

Rangkaian peristiwa mencekam tersebut menjadi pintu masuk novel The Weight of Our Sky, karya penulis Malaysia Hanna Alkaf. Novel historical fiction ini mengambil latar tragedi kerusuhan rasial 13 Mei 1969, salah satu peristiwa paling traumatis dalam sejarah Malaysia.

Meski meninggalkan luka mendalam bagi masyarakat Malaysia, tragedi tersebut relatif kurang dikenal di luar negeri. Di titik inilah novel Hanna Alkaf memainkan peran penting. Lewat sudut pandang remaja, pembaca diajak masuk ke dalam ketakutan, kehilangan, dan kekacauan yang dialami warga biasa saat sejarah runtuh tepat di depan mata.

Di tengah kerusuhan, Melati mempertaruhkan nyawanya demi mencari sang ibu, Salmah. Pencarian itu harus dijalaninya sembari bergulat dengan trauma dan kondisi Obsessive-Compulsive Disorder (OCD) yang selama ini menguasai hidupnya.

Berdasarkan kajian Dr. Kua Kia Soong dalam buku May 13: Declassified Documents on the 1969 Riots in Malaysia(2007), konflik bermula dari hasil Pemilu 1969. Kemenangan besar kubu oposisi yang didominasi warga Tionghoa memicu unjuk rasa tandingan dari komunitas Melayu yang khawatir kehilangan hak politik dan ekonomi.

Gelombang massa Melayu bersenjata tajam kemudian menyerbu permukiman Tionghoa, membakar bangunan dan melakukan pembunuhan. Warga Tionghoa, yang kerap dibantu komunitas India, membalas menggunakan senjata api ke perkampungan Melayu.

Kuala Lumpur lumpuh. Asap pekat menyelimuti kota, sementara aparat kehilangan kendali. Bahkan petugas pemadam kebakaran ikut ditembaki penembak runduk.

Setelah empat hari, ruang jenazah Rumah Sakit Umum Kuala Lumpur tak lagi mampu menampung korban. Menurut dokumen rahasia Kedutaan Besar Inggris dan sejumlah perwakilan asing, jumlah korban diperkirakan mendekati 600 jiwa, jauh di atas angka resmi pemerintah sebanyak 104 orang.

Novel ini berhasil membuat ketegangan rasial terasa sangat dekat karena disampaikan dari perspektif anak berusia 16 tahun. Tiap perpindahan tempat terasa seperti pertaruhan nyawa. Melati tidak pernah tahu dari arah mana ancaman datang atau siapa yang tiba-tiba dapat berubah menjadi musuh.

Di titik ini, novel Hanna Alkaf terasa relevan dengan Indonesia. Bukan karena Indonesia memiliki sejarah yang sama persis dengan Malaysia, melainkan karena trauma kekerasan berbasis identitas juga bukan hal asing. Ingatan tentang Kerusuhan Mei 1998, konflik komunal di berbagai daerah, atau menguatnya sentimen identitas dalam politik beberapa tahun terakhir memperlihatkan bagaimana perbedaan ras, agama, dan kelompok sosial masih mudah dipolitisasi ketika situasi memanas.

Novel ini juga memperlihatkan satu hal yang terasa mengganggu: Kebencian massal sering kali tidak berhenti ketika kerusuhan selesai. Luka sosialnya bertahan jauh lebih lama dibanding kobaran apinya.

Hal itu tergambar di akhir cerita. Ayah Safiyah yang dulu dekat dengan Melati kini menaruh dendam mendalam. Ia menganggap Melati pengkhianat karena selamat bersama kelompok Tionghoa, kelompok yang ia yakini bertanggung jawab atas kematian putrinya.

Frankie, putra Auntie Bee, juga mengalami hal serupa. Pasca-kerusuhan, ia tak lagi ingin berbicara dengan Melati karena kebencian terhadap kelompok Melayu secara keseluruhan, meski Melati pernah menyelamatkan nyawanya.

Baca Juga: “Bagaimana Cara Mengatakan ‘Tidak’?” Tampilkan Perempuan di Lingkaran Kekerasan  

Gangguan Mental dan Bisikan Djin

The Weight of Our Sky tidak hanya menarik karena mengambil latar salah satu tragedi paling kelam di Malaysia. Novel ini juga menghadirkan protagonis dengan OCD, gangguan kesehatan mental yang ditandai pikiran obsesif dan dorongan melakukan perilaku berulang untuk mengurangi kecemasan.

Melati mulai menunjukkan gejala setelah ayahnya meninggal. Saat kecemasan menyerang, ia harus menjalankan “ritual” tertentu seperti menghitung atau mengetukkan jari secara berulang.

Namun karena latarnya 1969, OCD tidak dipahami sebagai gangguan kesehatan mental. Melati dan Salmah, yang bahkan bekerja sebagai perawat, menganggap kondisi itu sebagai pengaruh Djin.

Salmah berulang kali membawa Melati ke ustaz untuk diobati. Namun gejalanya tidak kunjung membaik. Situasi tersebut justru dianggap sebagai tanda pengaruh Djin semakin kuat.

Di dalam novel, OCD yang tidak tertangani membuat Melati kesulitan berinteraksi dengan lingkungan sekitar. Ia kerap terobsesi menghitung dan menyusun sesuatu berulang kali demi membungkam bisikan Djin dalam kepalanya.

Akibatnya, rutinitas kompulsif itu menyita hidup Melati. Ia terisolasi, kesulitan berkonsentrasi, bahkan beberapa kali mengalami serangan panik hebat.

Baca Juga:  ‘As Long As Lemon Trees Grow’: Trauma dan Perlawanan dalam Konflik Suriah

Penggambaran ini terasa penting karena memberi konteks historis tentang cara gangguan mental dipahami di masa lalu. Pada periode tersebut, masalah kesehatan jiwa sering dimaknai secara mistis, bukan medis.

Pada akhirnya, The Weight of Our Sky bukan hanya novel tentang kerusuhan rasial atau tragedi sejarah Malaysia. Novel ini juga berbicara tentang trauma, rasa kehilangan, kebencian yang diwariskan, dan kesehatan mental yang lama diabaikan.

Hanna Alkaf menunjukkan bagaimana kekerasan tidak selalu berhenti setelah kerusuhan mereda. Kadang, yang tertinggal justru suara-suara di dalam kepala yang terus hidup jauh setelah kota kembali tenang.

About Author

Jasmine Floretta V.D

Jasmine Floretta V.D. adalah pencinta kucing garis keras yang gemar membaca atau binge-watching Netflix di waktu senggangnya. Ia adalah lulusan Sastra Jepang dan Kajian Gender UI yang memiliki ketertarikan mendalam pada kajian budaya dan peran ibu atau motherhood.