Kalau ditanya secara sadar, saya yakin hampir semua orang ingin hidup berkecukupan, bahkan kaya raya. Hidup nyaman, rumah layak, tabungan aman, pendidikan anak terjamin, dan tidak perlu cemas setiap akhir bulan ketika saldo rekening mulai menipis. Tidak ada yang salah dengan keinginan itu. Menjadi miskin juga bukan pengalaman yang bisa dengan mudah diromantisasi.
Waktu kecil, keluarga saya hidup pas-pasan. Jatah membeli baju baru biasanya hanya datang saat Lebaran. Honor pegawai negeri orang tua saya harus dibagi untuk membiayai anak-anak, merintis pesantren, dan menggaji pekerja rumah tangga. Meski begitu, ada dua hal yang selalu diusahakan dengan serius oleh orang tua saya: gizi dan pendidikan.
Saya sekolah di lingkungan yang cukup baik, dengan teman-teman yang sebagian hidupnya lebih mapan. Dari mereka, saya tahu bahwa ada anak-anak yang punya tempat pensil lebih bagus, binder lebih bervariasi, buku bacaan lebih banyak, dan tas yang lebih mahal. Tetapi anehnya, waktu itu saya tidak merasa miskin. Mungkin karena dulu kemewahan masih punya jarak.
Kami tahu ada orang kaya, tetapi kami tidak hidup di dalam rumah mereka setiap hari. Kami tidak melihat isi kulkas mereka setiap pagi. Kami tidak tahu harga skincare ibunya, harga stroller adiknya, atau berapa uang yang bisa dihabiskan seseorang untuk sepasang baju dan sepatu. Perbandingan hidup masih berada dalam ukuran yang relatif aman dan manusiawi.
Hari ini, keadaan berubah total.
Media sosial membuat kita hidup terlalu dekat dengan kehidupan orang lain. Kita bangun tidur dan langsung masuk ke rumah-rumah orang asing: melihat dapur mereka, liburan mereka, tubuh mereka, sekolah anak mereka, rutinitas mereka, dan pencapaian mereka. Sesuatu yang dulu hanya bisa dilihat sesekali, kini hadir tanpa jeda di telapak tangan.
Yang membuatnya lebih rumit, media sosial tidak selalu menampilkan kemewahan sebagai kemewahan. Justru kemewahan sering dipresentasikan sebagai keseharian. Perlahan, sesuatu yang dulu terasa istimewa berubah menjadi tampak normal. Di situlah, menurut saya, kelelahan itu bermula. Bukan semata karena kita miskin, tetapi karena standar tentang “hidup yang layak” terus bergerak menanjak di depan layar.
Baca juga: ‘Thin is in!’, ‘SkinnyTok’, dan Kembalinya Standar Cantik Kurus Ekstrem
Menjadi ibu di bawah tatapan algoritma
Saya merasakannya sendiri sekarang, sebagai seorang ibu.
Anak saya masih TK, ia belum mengerti bedanya tas merek apa dan harga berapa. Kami juga tinggal di lingkungan kabupaten yang cukup slow living. Tidak ada teman-temannya yang rutin liburan ke luar negeri, atau membawa kotak bekal berbanderol seharga lebih Rp1 juta. Tetapi saya tahu. Saya yang setiap hari melihat, membandingkan, dan menyerap semuanya, bahkan ketika saya tidak berniat melakukannya.
Saya pernah merasa bersalah karena tidak membuatkan bekal yang “estetik”. Pernah ragu apakah stimulasi yang saya berikan sudah cukup, apakah mainan edukatifnya memadai, apakah pakaiannya masih layak, apakah saya sudah membawa anak ke dokter dengan benar. Pertanyaan-pertanyaan itu tidak selalu lahir dari kebutuhan anak saya. Banyak di antaranya muncul setelah saya membandingkan diri dengan ibu-ibu lain yang saya lihat di Instagram.
Lalu saya tersadar: bukan kami yang kurang. Sayalah yang kelelahan oleh standar yang terus bergerak.
Kita mulai mempertanyakan hidup sendiri. Apa rumah kita terlalu kecil? Apa penghasilan kita terlalu sedikit? Apa anak kita kurang fasilitas? Apa kita belum cukup “naik kelas” sebagai orang tua? Padahal mungkin hidup kita, dan hidup anak-anak kita, sebenarnya tidak sesulit itu.
Baca juga: Yang Tak Pernah Masuk FYP: Sunat Perempuan dan Budaya Diam
Saya kira, inilah salah satu tantangan terberat menjadi ibu hari ini. Bukan hanya soal materi, tetapi juga soal kehilangan ruang untuk merasa cukup. Bukan karena kebutuhan anak tiba-tiba menjadi jauh lebih banyak, tetapi karena keterpaparan kita terhadap kehidupan ibu-ibu lain nyaris tanpa batas. Algoritma membuat kita terus melihat versi pengasuhan yang lebih rapi, lebih sabar, lebih kreatif, lebih berdaya, lebih mahal. Tanpa sadar, kita mulai menganggap semua itu sebagai standar kewajaran.
Keinginan untuk memberi yang terbaik tentu wajar. Yang mengkhawatirkan adalah ketika menjadi ibu yang “cukup” perlahan terasa seperti kegagalan. Dalam kegelisahan itu, saya sering bertanya: apa yang akan terjadi pada anak-anak yang tumbuh dalam situasi seperti ini?
Generasi Alfa mungkin akan menjadi generasi yang paling akrab dengan kemewahan visual, tetapi sekaligus paling rentan merasa kurang. Mereka tumbuh di dunia yang menjadikan performa sebagai bahasa sehari-hari. Semua tampak harus menarik, unggul, mahal, dan layak dipertontonkan. Dan kita, sebagai orang tua, ikut membentuk dunia itu, sadar maupun tidak.
Saya sering teringat nasihat ibu saya setiap kali saya ingin menyantap makanan yang tidak tersedia di meja makan kami: “Makan yang ada di meja, Nduk.” Kalimat itu bukan bentuk pasrah. Bukan pula tanda bahwa ibu saya tidak ingin memberikan yang lebih baik. Itu adalah cara beliau mengajarkan kami untuk membeli, menikmati, dan hidup sesuai kemampuan tanpa merasa rendah.
Kini, kalimat yang sama saya ucapkan kepada anak saya. Dan setiap kali mengucapkannya, saya sadar bahwa yang sedang saya latih bukan hanya anak saya, tetapi juga diri saya sendiri.
Rasa cukup tidak datang begitu saja. Ia bukan bawaan lahir, juga tidak otomatis tumbuh seiring usia. Rasa cukup dibangun perlahan: dari kebiasaan kecil, dari cara kita berbicara tentang apa yang kita punya, dari pilihan untuk bersyukur sebelum membandingkan. Anak-anak menyerap banyak hal bukan dari ceramah, tetapi dari cara orang tuanya bersikap di hadapan keterbatasan.
Kalau saya, sebagai ibu, terus-menerus tampak gelisah dengan apa yang belum ada, bisa jadi itulah yang akan diinternalisasi anak saya sebagai cara normal memandang hidup. Sebaliknya, ketika saya mampu menunjukkan bahwa ada ketenangan dalam kesederhanaan, bahwa meja makan yang penuh kehadiran lebih berharga daripada meja makan yang penuh pilihan, saya sedang mewariskan sesuatu yang tidak ternilai.
Bukan kemiskinan yang ingin kita wariskan. Bukan pula kepuasan yang berhenti pada pasrah tanpa ikhtiar. Yang perlu kita wariskan adalah kejernihan berpikir: kemampuan untuk tahu mana yang cukup, mana yang perlu diperjuangkan, dan mana yang sebenarnya hanya kebisingan algoritma.
Maka mungkin, tugas kita sebagai ibu hari ini bukan sekadar bekerja lebih keras agar anak “tidak kalah”. Kita juga perlu menanamkan sesuatu yang semakin langka: ukuran hidup yang masuk akal. Bahwa hidup tidak harus selalu premium untuk tetap bermartabat. Bahwa tidak semua hal perlu dipamerkan untuk menjadi berharga.
Baca juga: Rehat Adalah Perlawanan: Bertahan di Tengah ‘Political Burnout’
Rasa cukup bukan berarti menyerah pada keadaan. Ia adalah cara menjaga kewarasan—kewarasan kita sebagai ibu, dan kewarasan anak-anak yang kelak tumbuh dari cara kita memandang serta menjalani hidup.
Saya tetap ingin hidup lebih baik. Saya tetap ingin penghasilan yang lebih layak. Saya tetap ingin anak saya memperoleh pendidikan terbaik yang mampu saya usahakan. Tetapi saya juga perlu melindungi diri saya sendiri, dan anak saya, dari standar orang lain dan algoritma linimasa.
Sebab jika tidak, kita akan terus merasa tertinggal, lalu lupa menikmati nikmat besar yang paling dekat: kewarasan, rasa cukup, dan kehadiran yang utuh untuk diri sendiri serta anak-anak kita.




















