Ket: Foto ini adalah series viral di TikTok yang dibuat dengan AI Generated (Sumber: AI Miracle)
Beberapa waktu lalu saya tidak sengaja ikut nimbrung ketika keponakan laki-laki saya sedang menonton TikTok. Ia masih SD, dan saat itu sedang asyik menonton video cerita buah-buahan yang dibuat dengan kecerdasan buatan (AI). Sekilas, konten itu tampak seperti tontonan anak-anak. Visualnya warna-warni, karakternya berbentuk buah dan sayur, alurnya dramatis.
Namun semakin lama saya mengikuti ceritanya, semakin saya merasa tidak nyaman. Di balik tampilan yang mencolok dan lucu itu, ada narasi yang gelap: perempuan kembali digambarkan sebagai sosok jahat, penggoda, licik, materialistis, dan saling menjatuhkan sesama perempuan.
Salah satu cerita menampilkan buah stroberi sebagai ibu tiri yang tega membuang anak kecil ke laut, lalu berpura-pura sedih seolah tidak tahu apa yang terjadi. Sang suami pisang digambarkan sebagai sosok baik dan bertanggung jawab, segera memanggil polisi brokoli untuk mencari anaknya. Ketika kejahatan si ibu tiri hampir terbongkar, stroberi lantas menggunakan tubuh dan seksualitasnya untuk memanipulasi polisi agar kasus itu ditutupi.
Alurnya seperti dongeng lama yang sangat kita kenal: ibu tiri jahat, laki-laki baik, aparat yang datang menyelamatkan keadaan. Cerita berakhir di situ. Yang mengejutkan, ratusan komentar meminta kelanjutan kisahnya.
Rasa penasaran membuat saya mencari konten serupa. Hasilnya banyak sekali. Polanya terasa mirip: stroberi jahat yang menyuntikkan ramuan agar pisang menjadi tidak cantik, istri yang berselingkuh, asisten rumah tangga yang ingin menyingkirkan bosnya. Karakter jahat dalam cerita-cerita itu hampir selalu perempuan—dan bukan sekadar penjahat, melainkan juga penggoda, mata duitan, iri pada perempuan lain, manipulatif. Saya bahkan menemukan cerita yang menempatkan perempuan sebagai objek seksual dalam alur yang sangat tidak pantas untuk visual yang seolah-olah dibuat untuk anak-anak.
Di titik itu saya mulai berpikir: teknologi yang dipakai memang baru, tetapi cerita yang dibawa ternyata masih sangat usang.
Baca juga: Ada Bahaya di Balik Latah Kita Pakai Lagu Mas Bahlil Ganteng (MBG) di Medsos
Visualnya baru, prasangkanya lama
Dalam buku The Second Sex (1949), filsuf Simone de Beauvoir menulis bahwa seseorang tidak dilahirkan sebagai perempuan, melainkan “menjadi” perempuan. Gagasan itu terasa relevan di sini. Anak-anak tidak sedang melihat perempuan sebagaimana adanya—mereka sedang melihat perempuan sebagaimana berkali-kali dibayangkan oleh budaya kita: mudah cemburu, licik, menggoda, dan berbahaya.
Cerita-cerita itu mungkin terlihat sederhana, bahkan konyol. Tokohnya buah-buahan, warnanya mencolok, gerakannya aneh. Tetapi justru karena bentuknya tampak ringan, pesan di dalamnya bisa masuk tanpa banyak dipertanyakan. Anak-anak tidak menonton sambil berpikir bahwa ada stereotip gender di dalamnya. Mereka hanya mengikuti cerita: siapa yang baik, siapa yang jahat, siapa yang harus diselamatkan, siapa yang harus dicurigai.
Beauvoir juga menulis tentang bagaimana perempuan sering ditempatkan sebagai “yang lian”—bukan pusat cerita, melainkan sosok yang mengganggu atau mengancam subjek utama. Dalam video-video ini, pola itu terlihat jelas. Ketika satu tokoh perempuan digambarkan jahat, mungkin itu hanya satu cerita. Tetapi ketika perempuan terus-menerus muncul sebagai ibu tiri kejam, istri yang berselingkuh, atau sosok yang iri pada sesama perempuan, itu bukan lagi kebetulan. Sementara karakter laki-laki bisa menjadi korban, suami baik, atau penyelamat, ketika perempuan terus ditempatkan sebagai pelaku, kesalahannya perlahan melekat pada identitasnya sebagai perempuan.
Di sinilah misogini bekerja dengan cara yang halus. Ia tidak selalu datang dalam bentuk ujaran langsung—ia bisa hadir sebagai hiburan, kartun buah-buahan yang tampak ramah anak.
Persoalannya menjadi lebih serius karena penonton video-video ini banyak yang masih anak-anak. Albert Bandura dalam teori belajar sosialnya menyatakan, anak-anak belajar dari apa yang mereka lihat. Mereka mengamati, mengingat, lalu menjadikan tontonan itu sebagai salah satu cara memahami dunia. Sebelum mereka menyerap nasihat panjang orang dewasa, mereka sudah lebih dulu mengambil pola dari karakter yang muncul berulang-ulang di depan mata.
Anak-anak mungkin tidak langsung membenci perempuan setelah menonton satu video. Tetapi jika pola yang sama terus muncul, ia bisa ikut membentuk rasa curiga, cara bercanda, bahkan cara mereka membayangkan perempuan dalam kehidupan nyata.
Baca juga: Kegocek UGC TikTok Berkedok Kesedihan, Bagaimana Sebenarnya Etikanya?
AI dalam kasus ini tidak menciptakan stereotip baru. Ia hanya mendaur ulang prasangka lama dalam format yang lebih cepat, lebih menarik, dan lebih mudah menyebar. Jika dulu dongeng klasik menghadirkan ibu tiri jahat dan penyihir perempuan sebagai antagonis, kini pola yang sama muncul kembali melalui stroberi, pisang, dan brokoli yang memenuhi beranda TikTok.
Banyak orang khawatir suatu hari AI akan menggantikan manusia. Dalam kasus cerita buah-buahan AI, persoalannya justru berbeda—AI tidak menggantikan manusia, melainkan memperbanyak prasangka manusia dalam skala yang jauh lebih besar.
Karena itu, kita tidak cukup hanya bertanya apakah teknologi ini canggih. Pertanyaan yang lebih penting: cerita macam apa yang ia sebarkan? Nilai apa yang ia tanamkan? Sebab masa depan tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan AI, tetapi juga oleh cerita-cerita yang kita biarkan hidup di layar anak-anak hari ini.
Uswah Sahal adalah perempuan yang memiliki ketertarikan mendalam pada kajian sastra, budaya, gender, dan isu lingkungan.




















