29/07/2026
Culture Opini

Efek Rumah Kaca Bakal Rilis ‘Matilah Kau Mati’, Lagu yang Gambarkan Laut Bercerita 

‘Matilah Kau Mati’ memang menggambarkan Laut Bercerita yang berlatar Orde Baru. Pun demikian pesan lagu ini tak jauh dari keadaan sosial politik sekarang, dua dekade lebih setelah Orde Baru jatuh.

  • July 29, 2026
  • 5 min read
  • 23 Views
Efek Rumah Kaca Bakal Rilis ‘Matilah Kau Mati’, Lagu yang Gambarkan Laut Bercerita 

Ket: Vokalis Efek Rumah Kaca (ERK), Cholil Mahmud menceritakan proses pembuatan lagu Matilah Kau Mati, di acara dengar perdana, Kios Ojo Keos, Lebak Bulus, Jakarta Selatan, (27/7) (Foto: Andrei Wilmar/Magdalene).

Puluhan orang berdiri di luar Kios Ojo Keos, Lebak Bulus, Jakarta Selatan, (28/7) petang. Mereka mendengarkan Matilah Kau Mati, lagu terbaru Efek Rumah Kaca (ERK), yang diputar lewat pengeras suara di depan pintu. Suasana di dalam cafe yang juga menjadi toko buku itu, juga tak kalah padat. Pengunjung larut dalam petikan gitar yang mengalun pelan bersama vokal Cholil Mahmud yang mengawang.

Sesekali raungan knalpot terdengar dari jalan di depan kios. Namun itu tak mengalihkan perhatian pengunjung yang setia menyimak lagu hingga rampung diputar. Beberapa di antaranya bahkan memejamkan mata.

Menjelang pukul 19.40 WIB, beberapa orang menatap langit yang mulai gelap. Yang lain menundukkan kepala sambil memandangi aspal. Saat lagu diputar untuk kedua kalinya, sejumlah pengunjung mulai menggumamkan penggalan liriknya. “Matilah / engkau mati / kau terlahir berkali-kali.

Matilah Kau Mati diadaptasi dari puisi berjudul Di Hari Kematianku dalam novel Laut Bercerita (2017), karya Leila S. Chudori. Lagu itu akan menjadi salah satu soundtrack film Laut Bercerita, yang dijadwalkan tayang di bioskop pada Oktober mendatang. Sebelumnya, kisah Biru Laut, aktivis yang dihilangkan pemerintah otoriter, telah lebih dulu diadaptasi menjadi film pendek pada 2024.

Judul Matilah Kau Mati sendiri bukan berasal dari puisi tersebut. Mulanya, Leila menamai puisi itu Di Hari Kematianku. Namun, Cholil mengusulkan judul baru yang diambil dari salah satu penggalan puisinya.

“Mas Cholil bilang kenapa enggak judulnya ‘Matilah Kau Mati’, karena itu sudah ikonik banget,” tutur Leila.

Baca juga: Generasi yang Dijauhkan dari Sejarahnya: Refleksi Setelah Baca ‘Laut Bercerita’

Transformasi Luka 

Leila sempat menyiapkan rencana cadangan seandainya Cholil menolak menggarap lagu untuk film Laut Bercerita. Ia bakal meminta izin menggunakan Di Udara, lagu ERK yang sama-sama berkisah tentang aktivis yang dibunuh pemerintah otoriter. Namun, rencana itu urung dilakukan karena Cholil menerima ajakan Leila dan melahirkan Matilah Kau Mati.

Lagu ini menjadi pengalaman pertama ERK menggarap soundtrack film. “Ada sih OST Mata Najwa, tapi kan itu bukan film,” kata Cholil. Setelah mendalami kisah Laut lewat novel dan film pendeknya, ia memilih nuansa tenang dengan kunci Major7, yang lazim digunakan dalam genre shoegaze maupun dream-pop. Menurutnya, karakter bunyi itu paling mendekati emosi yang ingin dihadirkan dalam lagu.

Pilihan tersebut berangkat dari cerita di balik liriknya. Bagi Cholil, bait yang berbicara tentang penantian tidak perlu dibawakan dengan kemarahan yang meledak-ledak. Penantian keluarga dan orang-orang terdekat Laut justru dipenuhi kegelisahan yang perlahan berubah menjadi keteguhan. Nuansa itulah yang kemudian diterjemahkan ke dalam tempo lagu.

Gua pingin ada kayak ketenangan dalam menunggu, dia mentransformasikan lukanya menjadi sesuatu hal penantian yang lebih adem, enggak yang meledak-ledak, jadi secara tempo emang lebih lambat,” terang Cholil kepada Magdalene seusai acara Sesi Dengar Single Terbaru.

Gambaran itu mengingatkan Cholil pada pendiri Aksi Kamisan, Maria Catarina Sumarsih. “Kayak ibu Sumarsih saja, dia kan kehilangan (anaknya), terus bisa mentransformasikan rasa hilangnya jadi keberanian, jadi keteguhan untuk terus ada di Aksi Kamisan. Gue juga melihat itu sebagai contoh,” lanjutnya.

Baca juga: 6 Film Adaptasi Novel Indonesia yang Angkat Isu-isu Sosial

Bunyi yang Bercerita

Nuansa tenang enggak cuma dibangun lewat melodi, tetapi juga aransemen yang sengaja dibuat minim instrumen. Bas, gitar, dan vokal menjadi tumpuan utama lagu. Kesederhanaan itu justru memberi ruang bagi lirik untuk berbicara, sementara lapisan bunyi lain hadir secukupnya sebagai penegas suasana.

Cholil menyerahkan komposisi instrumen sepenuhnya kepada sang anak, Angan Senja. Sejak awal, Angan memang ingin menghindari aransemen yang terdengar terlalu kosong. Karena itu, ia menambahkan dengungan dan snare dengan efek delay untuk mengisi ruang tanpa membuat lagu terasa terlalu padat.

“Aku enggak mau lagunya kayak terlalu hollowso in order to fill the song, ada banyak momen yang pakai dengungan, untuk fill the space without over-produce,” ucap Angan kepada Magdalene.

Pilihan instrumen itu bukan tanpa alasan. Snare dengan efek delay yang mengikuti tempo lagu, misalnya, digunakan untuk menghadirkan kesan berada di dalam laut. Detail bunyi itu menjadi salah satu cara ERK menerjemahkan kisah Biru Laut ke dalam aransemen, tanpa harus menjelaskannya lewat lirik.

Cholil mengaku sengaja mengajak Angan terlibat untuk menghadirkan pendekatan yang berbeda. Menurutnya, ia tak akan berani menambahkan bunyi-bunyian yang tak lazim ke dalam lagu. Justru keberanian Angan membuat aransemen Matilah Kau Mati terdengar lebih kaya, tanpa kehilangan kesederhanaannya.

“Dia kalau bikin sound itu memang cukup berani kalau menurut guaGue enggak berani sih kalau bikin sound kayak gini. Contoh ada sound kayak lebah, itu kan kita (ERK) enggak pernah melakukan kayak gitu,” ujarnya.

Baca juga: Konser ‘Dari Warga untuk Andrie’, Cara ‘Funky’ Kecam Penyiraman Air Keras

Lahir Berkali-kali

Bagi Cholil, Matilah Kau Mati tak hanya menggambarkan kisah Biru Laut dalam Laut Bercerita. Lagu itu juga terasa dekat dengan situasi sosial politik hari ini, ketika ruang warga untuk menyampaikan pendapat dinilai semakin rentan.

Menurut Cholil, intimidasi bisa menyasar siapa saja, termasuk warga yang menyampaikan pendapat melalui akun media sosial pribadi. Massa bayaran, termasuk buzzer, disebut dapat dikerahkan untuk mempersekusi orang yang bersuara.

“Itu kan bikin kayak teror buat orang biasa untuk speak up bahkan di media sosial kita sendiri aja, mungkin kita takut, karena kayak massa bayarannya untuk mempersekusi itu bisa kapan aja datang,” tutur Cholil.

Situasi itu, menurutnya, membuat banyak orang memilih melakukan swasensor. Meski begitu, rasa takut merupakan hal yang wajar. Seperti lirik Matilah Kau Mati, ia percaya suara warga akan terus lahir, meski berkali-kali dibungkam.

Kan pertarungan di dalam hati kita, ‘gua ngomong takut, tapi gua udah enggak kuat lagi menghadapi kecongkakan, kepongahan ini, jadi gua ngomong-ngomong aja deh, abis itu gua kena ya sudah gua mendem lagi, abis itu bersuara lagi,” katanya.

“Jadi kita mau bilang takut itu wajar, enggak apa, berhenti atau mati sejenak, tapi nanti kita akan lahir berkali-kali, bersuara lagi,” tutupnya.

Matilah Kau Mati akan tersedia di berbagai platform layanan streaming mulai (31/7) pukul 00.00 WIB.

About Author

Andrei Wilmar

Andrei Wilmar bermimpi buat jadi wartawan desk metropolitan.