Dear Maudy, Tidak Ada Berita Baik yang Dihasilkan dari Realitas Buruk
“Kita ingin terus up-to-date, kita ingin terus concern, dan tahu apa sih yang terjadi, dan kita ingin terus peduli. Tapi di sisi lain kita mungkin juga ada elemen gimana, how we do protect our sanity?” kata Maudy Ayunda dalam video berjudul “Mindfulness in the age of bad news” di akun YouTubenya (21/8).
Beranjak dari situ, Maudy membagikan tips untuk melindungi kesehatan mental di tengah bombardir ‘berita buruk’. Ia bicara tentang mengonsumsinya hanya di waktu-waktu tertentu, mengurangi sumber informasi, hingga melakukan kegiatan sehat seperti membaca buku dan berinteraksi secara langsung dengan manusia lain.
Video itu kemudian mengundang kritik. Maudy dianggap tidak memahami penderitaan masyarakat yang tertulis atau terekam dalam berita buruk belakangan, mulai dari kebakaran hutan hingga erupsi gunung berapi. Di kolom komentar, dia akhirnya meminta maaf dan mengakui privilese yang dimilikinya.
“Tidak semua orang punya pilihan itu, terutama ketika apa yang terjadi berdampak langsung pada kehidupan, keluarga, pekerjaan, atau komunitasnya. Aku minta maaf karena bagian ini belum cukup aku refleksikan di videonya,” ucap Maudy.
Dia juga bilang video tersebut merupakan refleksi pribadi tentang, “bagaimana tetap peduli dan mengikuti apa yang terjadi, sambil menjaga diri supaya kita tetap bisa hadir dan engage dengan lebih berarti.”
Saya sendiri kerap merasa muak dengan berita buruk. Sebagai jurnalis, saya ingin menulis berita indah dan kabar baik yang tidak bikin Maudy overwhelmed. Namun, bagaimana caranya menulis berita baik saat bencana dan kegagalan pemerintah terlihat gamblang di depan mata?
Baca juga: Sini, Sis! Belajar Cara Hadapi ‘Impostor Syndrome’, Masalah yang Dilahirkan Sistem Patriarki
Berita Buruk
Ada beberapa ‘berita buruk’ yang saya liput, tulis, dan temui akhir-akhir ini. Mulai kekerasan yang berujung kematian warga setelah demonstrasi Agustus 2025, bencana, hingga pidato Presiden Prabowo Subianto.
Saya memang tidak meliput langsung meninggalnya Bambang Setiawan pasca-demonstrasi Agustus 2026. Namun, berita tersebut terjadi begitu dekat. Baru saja beranjak dari kantor untuk pulang setelah meliput demonstrasi, tiba-tiba jalan menuju rumah tidak bisa saya lewati.
Di Pejompongan, Jakarta Pusat, aroma gas air mata menusuk hidung dan membuat mata perih. Saya otomatis putar balik ke kantor di Palmerah. “Numpang nunggu ya, Pak, di Pejompongan sama Petamburan enggak bisa dilewatin, chaos,” kata saya kepada satpam yang sedang berjaga di pos.
Tiga jam berikutnya, saya masih menunggu di parkiran kantor. Sudah pukul 23.00 WIB, Instagram Reels, TikTok, dan YouTube Shorts rasanya sudah tidak menghibur. Satpam pun mengarahkan saya ke jalan lain yang sebenarnya lebih jauh, tetapi tak perlu melewati titik rawan.
Setelah melewati macet yang tak karuan dan dada yang deg-degan, saya sampai rumah dengan selamat. Keesokan paginya, ‘berita buruk’ itu lewat di linimasa: dugaan keterlibatan organisasi masyarakat GRIB Jaya dan pembunuhan Bambang, seorang penjual kaca di daerah Pejompongan.
Sakit hati atas ormas yang dipakai untuk membubarkan massa dan kematian Bambang didapat saat berita kebakaran hutan di Kalimantan masih hangat. Saya memang tidak datang ke sana, tetapi menelepon tiga organisasi yang bekerja melindungi orangutan. Sesak dan titik api harus mereka lalui demi menyelamatkan orangutan yang berada di sekitar area kebakaran.
Sebelum bertemu dengan berita kematian Bambang dan menggarap artikel orangutan yang terdampak kebakaran hutan, saya sedang rajin-rajinnya menulis blunder Presiden Prabowo saat berpidato. Belum lagi Sekretariat Kabinet dan kementerian lainnya yang sekarang berubah jadi penyebar propaganda.
Maka, ketika membayangkan pemerintah akan jadi pihak yang mengatur semua ‘berita buruk’ ini, bukannya lega, saya makin sakit kepala atau kalau kata Maudy, overwhelmed. Padahal, saya baru memikirkan sedikit dari menumpuknya ‘berita buruk’ di republik ini.
Saya belum memikirkan harga bahan bakar minyak (BBM) dan dolar yang naik, Pemutusan Hubungan Kerja di banyak sektor, keracunan akibat program Makan Bergizi Gratis, serta angka pengangguran yang tinggi. Kalau bisa, saya ingin sekali bisa lepas dari semua ‘berita buruk’ ini. Masalahnya, ini bukan cuma berita, tapi realitas yang harus dijalani sehari-hari.
Baca juga: ‘She Smells Like Flowers’: Kunti Core dan Cara Baru Melihat Kuntilanak
Antara Ingin dan Harus
Maudy tidak salah. Berita buruk memang bikin lelah. Penulis berita buruk pun tak lepas dari kelelahan itu. Saya dan teman-teman jurnalis muak dengan semua berita buruk yang kami rekam atau tulis.
Celotehan seperti, “Ini MBG enggak selesai-selesai deh masalahnya,” “kok bisa sih Menteri ngomong angin enggak punya KTP?” atau “pemerintahan sekarang mirip Orde Baru ya,” sering saya dengar ketika berkumpul dengan jurnalis lain.
Jujur saja, kami ingin menulis kabar bahagia seperti harga BBM turun, rupiah menguat, penanganan bencana cepat dan tepat, serta pidato Presiden berwibawa dan diejawantahkan dengan baik. Namun, kami membohongi khalayak jika menulis demikian. Pasalnya, berita baik tidak bisa dihasilkan dengan realitas yang buruk.
Maudy tidak salah. Berita buruk memang bisa dihindari dengan tidak dibaca. Namun, begitu masyarakat mematikan gawai, mereka masih harus menghadapi antrean BBM bersubsidi yang mengular.
Setelah melihat salindia terakhir, beberapa pekerja masih harus bergulat dengan ketakutan kena PHK. Bahkan warga Kalimantan tidak melihat kebakaran lewat video pendek di media sosial, mereka menghirup asap yang bikin sesak secara langsung.
Sekali lagi, Maudy tidak salah. Dia hanya tidak bilang dia punya realitas yang berbeda dengan kebanyakan masyarakat, sehingga bisa menghindari berita. Realitas itu mengizinkannya untuk ingin concern, tahu, dan peduli. Sayangnya, beberapa orang harus tahu dan peduli berita buruk karena itu adalah kehidupan mereka.
Alih-alih menaruh masalah sepenuhnya pada berita, yang perlu dikritik sebenarnya adalah realitas pemerintah yang bikin kita tidak mindful. Bagaimana caranya mindful di negara yang sedang mindless?





















