17/09/2026
Issues

Sini, Sis! Belajar Cara Hadapi ‘Impostor Syndrome’, Masalah yang Dilahirkan Sistem Patriarki  

Impostor syndrome mungkin terlihat seperti masalah personal. Namun, podcaster Sini, Sis! Hannah Al Rashid dan Nadine Alexandra menguliti akar yang lebih sistemik dari masalah ini: yang mana, lagi-lagi patriarki.

  • September 16, 2026
  • 5 min read
  • 487 Views
Sini, Sis! Belajar Cara Hadapi ‘Impostor Syndrome’, Masalah yang Dilahirkan Sistem Patriarki  

Foto: Toto Sartiko/Magdalene

Little girls are meant to be seen, and not heard (anak perempuan hanya perlu dilihat, tidak didengar),” kata aktris Nadine Alexandra menirukan kalimat yang disampaikan ayahnya sewaktu ia masih anak-anak. 

Ingatan itu kembali ketika Nadine sedang journaling, untuk mencari akar permasalahan dari ketakutannya untuk menyuarakan opini. 

Kalimat sang ayah bagaikan kaset rusak yang terus berputar di kepala Nadine. Hingga kini, ia masih belajar menguraimasalah tersebut. “Itu membuat luka yang sangat-sangat dalam, yang sampai sekarang aku baru sadar ada luka itu dalam diriku, dan aku baru mulai mengobatinya, I’m still trying to reclaim my voice,” katanya 

Dalam sistem patriarki, perempuan sudah dibatasi oleh pola asuh orang tua. Tak ubahnya di luar rumah, mereka diremehkan di sekolah dan kemudian tidak terlalu dianggap serius di dunia pekerjaan. Pengalaman-pengalaman ini akhirnya membuat banyak perempuan mengalami Impostor syndrome atau kondisi psikologi saat seseorang meragukan diri. 

Podcaster Sini, Sis! Nadine dan Hannah Al Rashid membuka ruang berbagi pengalaman menghadapi  Impostor Syndrome di Kegiatan Komunitas Sisterhood Festival bertajuk Sharing Session on Fighting Impostor Syndrome, di Meltingpop, Mbloc, Jakarta Selatan (5/9). 

“Karena kalau berbicara impostor syndrome ini harus banyak yang di-unpack. Bagaimana dari kecil kita didik dengan cara kita dididik dari kecil dengan gender bias yang sangat nyata,” kata Hannah. 

Baca juga: Why is His Loneliness an Epidemic, but Her Survival a Syndrome?

Dibangun Pengalaman 

Kalimat sang ayah hanya satu contoh pengalaman pahit Nadine dengan sistem patriarki. Setelah keluar dari rumah, ia mengalami pembatasan di sekolah. Saat berusaha aktif berpartisipasi dalam pembelajaran di kelas, Nadine malah ditegur gurunya. Perlakuan yang sama tidak dilakukan pada siswa laki-laki. 

“Giliran aku aktif, siswa-siswa yang cowok, gurunya malah ngomong ke aku, ‘Nadine youre overconfident’,” kisahnya. 

Merujuk buku The Authority Gap karya Mary Ann Sieghart (2021), Hannah mengatakan, pola didik penuh pembatasan menyebabkan perempuan tumbuh tanpa rasa percaya diri. “Karena di sekolah kita sering dibilang, calm down, atau dibilang, perempuan tempatnya di situ dan diam,” tuturnya.  

“Daripada anak lelaki yang benar-benar di-encourage untuk memanjat pohon, untuk berlari, untuk mengekspresikan diri,” lanjutnya. 

Tantangan tak cuma datang dari pola asuh orang tua dan dunia pendidikan, perempuan juga tidak dihormati dalam pekerjaan. Beberapa kali, Nadine dipermalukan oleh atasannya untuk alasan yang sebenarnya tidak jelas. Menurutnya, atasannya melakukan itu untuk menempatkan Nadine dalam posisi tidak nyaman. 

Pengalaman begitu berhasil bikin ia merasa buruk. Belum lagi, hal-hal begitu dilakukan di depan banyak orang. Menurut Nadine, impostor syndrome sulit dihadapi karena manusia cenderung lebih mudah meng-internalisasi hal buruk tentangnya. Kata-kata kasar yang diucapkan di depan publik juga menambah beban malu yang bisa bikin kita menghajar diri sendiri lebih keras.

“Sangat-sangat meyakinkan, bahwa ‘oh iya kamu pantas dipermalukan’, ‘memang ada sesuatu yang salah’, ‘mungkin kamu memang tidak berhak ada di sini atau kamu kurang cukup kemampuan untuk berada di sini’, itu sangat meyakinkan at the moment,” ungkapnya. 

Tak hanya membicarakan akar permasalahan, Nadine dan Hannah juga membagikan cara mereka menghadapi impostor syndrome. Misalnya menghadapi keraguan yang disebabkan dari luar diri, hingga suara-suara yang terputar di dalam kepala sendiri. 

Baca juga: ‘She Smells Like Flowers’: Kunti Core dan Cara Baru Melihat Kuntilanak

Menghadapi ‘Impostor Syndrome’ 

Rasa percaya diri bisa dibangun dengan menjalani hal-hal yang digemari, belajar dari berbagai sumber, dan bertemu dengan teman-teman yang bisa jadi ruang aman. Hannah bilang, dalam perjalanannya mengerjakan sesuatu yang digemarinya dengan teman-teman yang bisa menjadi “guru dan sekutu,” kepercayaan diri itu mulai terbentuk. 

Ia pun mengubah pola pikir ketika dipilih untuk berbicara atau bekerja di sebuah proyek. Biasanya, keraguan datang, membuat dia bertanya mengapa bisa dipilih. Padahal, ia merasa bukan yang paling kompeten. Namun, Hannah terus meyakinkan diri dengan berpikir pasti ada alasan baik di balik pemilihannya. 

They picked me for a reasonBiarkan aku punya kepercayaan diri di situ. Dan biarkan aku membuktikan kenapa aku pilihan terbaik untuk pekerjaan ini. Jadi, let me take this and work hard, and interact with my peers in a way that shows that I deserve it,” tutur Hannah. 

“Untuk berada di sini, minimal gak kecewain orang yang memilih aku. Aku kayaknya memang berusaha untuk itu,” tambahnya. 

Sementara, Nadine membagikan sudut pandang lain yang ia lihat di konten TikTok @vanessadomslife. Dalam konten tersebut, konsultan kreatif itu membingkai ulang impostor syndrome. Daripada sibuk mencari penyebab impostor syndrome di buku self-help, seseorang harus menyadari celah yang bisa dikembangkan. 

“Mungkin kamu merasa seperti seorang impostor karena kamu adalah seorang impostor? Tapi itu tidak apa-apa,” ujar Nadine mengutip konsultan kreatif Vanessa Doms. 

“Misalnya gini, jika kamu ingin menjadi seorang penulis, apakah kamu menulis setiap hari? Apakah kamu membaca semua memoar yang perlu kamu membaca? Apakah kamu membaca semua novelis yang kamu perlu membaca?” lanjutnya.

Meski akar utamanya ada pada sistem, menunggu dunia berubah akan memakan waktu selamanya. Maka dari itu, membingkai ulang impostor syndrome untuk meningkatkan kemampuan dan kualitas diri bisa sangat membantu. 

Baca juga: Yasmin dan Yayasan Lohjinawi: Pemberdayaan Perempuan yang Dimulai dari Sampah

Tak ada yang salah, tegas Nadine. Kurangnya kemampuan hanya soal perjalanan yang masih ditempuh individu. “Masih ada yang gue bisa belajar dari proses ini. Gue belum sampai di titik ujung destinasi gue,” ujarnya. 

Namun, Nadine mengakui, mendengarkan suara di kepala yang terus berputar layaknya kaset kusut tentu saja melelahkan. Maka, ia menemukan cara untuk meredakannya. Ia mempersonifikasi suara-suara itu dengan nama perempuan dan laki-laki. 

So, sometimes ada yang masuk, and I’m like, not now, Deb! Kayak, I’m busy, I need to focus on this, Atau aku menggunakan, kayak, shut up Mark, shut up Bambang,” jelasnya kepada Magdalene setelah kegiatan komunitas. 

About Author

Andrei Wilmar

Andrei Wilmar bermimpi buat jadi wartawan desk metropolitan.

Royal ID adalah kunci utama akunmu. Di situs top up royal dream yang benar, Royal ID hanya dipakai untuk mengirim koin ke karakter yang tepat, bukan untuk mengakses akun. Tidak ada alasan bagi layanan mana pun untuk meminta password, PIN, atau kode OTP yang kamu terima lewat SMS. Kalau ada yang meminta hal itu, itu tanda bahaya dan sebaiknya segera ditinggalkan.