07/07/2026
#WaveForEquality Economy Health Issues Politics & Society

Bukan Salah Perempuan: Yang Tak Terlihat dari Maraknya Makanan Instan Saat Ramadan

Kerja perawatan yang tak terbagi sampai jepitan ekonomi, menyumbang tingginya konsumsi makanan olahan kala Ramadan.

  • February 25, 2026
  • 5 min read
  • 4168 Views
Bukan Salah Perempuan: Yang Tak Terlihat dari Maraknya Makanan Instan Saat Ramadan

Siapa yang familier dengan konsumsi makanan beku terutama saat Ramadan? Di rumah orang tua saya, menyetok makanan beku jadi rutinitas tahunan yang hampir tak pernah absen dijalankan. Meski di hari lain konsumsi jenis makanan ini juga dilakukan, frekuensinya tetap tak sesering bulan puasa. Ketika ditanya, ibu saya, “Wati”, 53, bilang ini demi menghemat waktu memasak. “Biar praktis dan enggak repot,” katanya.

Tak sendiri, nyatanya masyarakat Indonesia memang hobi menyimpan persediaan makanan olahan atau frozen food. Survei Populix bertajuk “Perilaku Belanja di Bulan Ramadan 2025” mencatat, makanan olahan atau beku masuk ke dalam lima jenis produk yang paling banyak dibeli selama Ramadan. Menempati posisi kelima, sebanyak 42 persen responden mengaku hal ini mereka lakukan demi mengedepankan kepraktisan. Dengan membeli makanan olahan, mereka bisa banyak menghemat waktu memasak.

Makanan olahan atau frozen food sendiri masuk ke dalam kategori ultra-processed food (UPF). Menyadur laman resmi Dinas Kesehatan Aceh Barat Daya, UPF merupakan makanan yang telah mengalami banyak tahapan pemrosesan industri. Tak sekadar dimasak atau diawetkan, makanan jenis ini biasanya juga dibuat dari bahan baku hasil ekstraksi, seperti pati, protein terisolasi, sampai minyak yang terhidrogenasi. Kemudian, bahan-bahan ini dicampur dengan pemanis, pewarna, penguat rasa, dan pengemulsi.

Dari laman yang sama, jenis makanan UPF yang sering ditemukan adalah mi instan, sosis, nugget, sampai makanan beku siap saji lain. Di pasaran, harga produk pangan ini biasanya dibanderol lebih murah dibanding bahan makanan non-olahan. Rasanya pun cenderung seragam, sehingga konsumen mudah terbiasa dengan rasa makanannya.

Persoalannya, UPF punya segudang dampak buruk bagi kesehatan. Laporan Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI) menyebut UPF bisa menyebabkan kenaikan berat badan signifikan sampai obesitas. Pada anak-anak, konsumsi UPF yang berlebih bisa menyebabkan gangguan pernapasan. Pada kondisi terburuk, konsumsi frozen food berlebih bisa menyebabkan kanker, penyakit jantung, sampai permasalahan usus besar.

Baca juga: ‘Mental Load’: Beban Tak Terlihat Perempuan Pemikul Kehidupan

Budaya dan Beban Kerja yang Tak Terbagi 

Melihat konsumsi UPF yang relatif tinggi saat Ramadan, Hariati Sinaga, Dosen Program Studi Kajian Gender Universitas Indonesia, angkat suara. Ia menyebut ada beberapa hal yang bisa jadi alasan. Salah satunya kerja perawatan yang bertambah dan terpusat di waktu sahur dan berbuka. Belum lagi, memasak masih sangat diasosiasikan dengan peran perempuan. Hal ini membuat perempuan cenderung memilih menu makanan praktis, seperti frozen food.

“Dia (perempuan) harus bisa menyiapkan sahur dan buka dalam waktu cepat. Karena kan ada waktu tertentu untuk maghrib dan batas waktu sampai sahurnya selesai,” kata Hariati.  

Riset bertajuk “Triple Roles, Worship, and Period Shaming” (2023) menunjukan perempuan memang punya beban berlebih ketika Ramadan. Dari studi tersebut, perempuan Muslim ditemukan menjalani tiga peran sekaligus, yakni peran domestik, sosial-komunal (menjaga relasi keluarga), sekaligus peran religius untuk beribadah. Triple burden ini pun sering kali tidak terlihat. Sebagai dampaknya perempuan secara aktif menegosiasikan praktek spiritualnya. 

Di rumah tangga Indonesia sendiri urusan dapur masih sangat diasosiasikan dengan perempuan, dan tidak terbagi dengan adil. Temuan International Labour Organization (ILO) (2023) bahkan menunjukan 79,3 persen perempuan di Indonesia mengalami beban ganda, yakni kerja-kerja di ruang privat dan ruang publik. Hal ini pun diperparah dengan anggapan 68,3 persen laki-laki yang menganggap wajar stereotip kerja domestik ini. Dari survei tersebut, hampir seluruh responden masih percaya bahwa kerja domestik memang secara ‘kodrat’ cocok dengan perempuan 

Baca juga: 5 Cara Laki-laki Berhenti Jadi ‘Anak Tambahan’ di Rumah

Lonjakan Harga Pasar Khas di Ramadan 

Selain kerja perawatan yang belum terbagi, Hariati juga menyoroti kenaikan harga bahan makanan selama Ramadan. Menurutnya, hal ini juga jadi alasan lain mengapa konsumsi frozen food meningkat di bulan puasa. Pada keluarga berpenghasilan rendah, hal ini akan lebih sering ditemukan. 

“Selain harus nyiapin cepat, harga bahan makanan yang mahal juga bisa jadi alasan. Karena kan selama puasa ini harga bahan pokok yang fresh kayak daging, telur, itu naik ya,” jelas Hariati.  

Menyadur Kompas.com, harga bahan pokok memang mengalami lonjakan saat Ramadan 2026. Mulai dari cabai, sayur mayur, sampai daging, masing-masing mengalami kenaikan harga sekitar 30 sampai 40 persen. Joharia, 58, warga Jakarta Selatan, menyebut pengeluaran rumah tangganya bahkan membengkak dua kali lipat. Kepada media yang sama, ia bilang cost keluarganya di bulan Ramadan membengkak. 

Hariati pun menambahkan hal ini juga berkaitan dengan beban tak terlihat perempuan untuk mengurus keuangan keluarga. Di Indonesia, perempuan sering kali dikaitkan dengan tugas pengaturan keuangan, bahkan tercetus ungkapan ‘cukup tidak cukup harus dicukupkan’. Menurutnya, hal ini juga menyebabkan peningkatan konsumsi UPF sebagai strategi pembagian uang.  

Baca juga: #MerekaJugaPekerja: Banyak Perempuan Berhenti Kerja demi Urus Keluarga, Kenapa Masih Tak Diakui? 

“Dia (perempuan) juga harus tetap menahan pengeluaran ekonomi, atau menjaga pengeluaran rumah tangga. Ini (konsumsi UPF) berkaitan sama anggaran lebaran yang cukup. Jadi, perempuan biasanya berstrategi agar keuangan keluarga untuk Lebaran enggak terganggu,” imbuhnya. 

Maka itu, Hariati menuturkan perlu ada intervensi pemerintah agar konsumsi UPF tidak melonjak saat Ramadan. Pembagian kerja perawatan jelas wajib dilakukan, tapi stabilisasi harga bahan pokok juga perlu diterapkan. 

“Selain membagi kerja domestik, tetap harus ada intervensi, misalnya dari pemerintah, seperti operasi pasar. Jadi, konsumsi rumah tangga bisa stabil,” pungkas Hariati.  

Ilustrasi oleh Karina Tungari

This article was produced by Magdalene.co as part of the #WaveForEquality campaign, supported by Investing in Women (IW), an Australian Government initiative. The views expressed in this article do not necessarily represent the views of IW or the Australian Government.

Series lainnya bisa dibaca di sini.

About Author

Syifa Maulida

Syifa adalah lulusan Psikologi dan Kajian Gender UI yang punya ketertarikan pada isu gender dan kesehatan mental. Suka ngopi terutama iced coffee latte (tanpa gula).