Foto: Toto Santiko/Magdalene
Burnout merupakan kondisi yang kerap dihadapi pekerja karena stres berkepanjangan. Kondisi ini ditandai dengan kelelahan fisik, mental, dan emosional akibat beban pekerjaan. Survei Workplace Happiness Index oleh Jobstreet by SEEK menunjukkan 43 persen pekerja di Indonesia berusia 18-64 tahun mengalami burnout akibat pekerjaan.
Masalah ini menjadi salah satu pembicaraan dalam Sisterhood Festival 2026, yang dilaksanakan di M Bloc Space, Jakarta Selatan (5/9). Dalam sesi “Panel Discussion: From Burnout to Boundaries”, pegiat isu perempuan Poppy Dihardjo, psikolog anak dan remaja Anastasia Satriyo, serta psikolog klinis Adela Witami membahas burnout lintas generasi, mulai dari pengalaman menghadapinya hingga cara mengenali dan menanganinya.
Sebagai pekerja dan pendamping korban kekerasan seksual, Poppy rentan menghadapi burnout. Contohnya ketika bekerja di industri kreatif, ia bekerja sampai tengah malam, masih merasa lelah setelah bangun tidur, dan sesekali menangis.
Hal serupa juga dialami Poppy ketika mendampingi kasus kekerasan seksual yang cukup berat. Bahkan, ia diminta mundur sejenak dari penanganan kasus untuk beristirahat.
Situasi itu membuat Poppy kebingungan. Ia merasa egois jika memikirkan diri sendiri saat harus membantu korban. Namun, Poppy menyadari ia tak bisa menolong orang lain jika dirinya tidak memiliki kapasitas.
“Di situ aku baru tahu, aku burnout,” ujar Poppy.
Baca Juga: Kerja, Kerja, ‘Burnout’: Alasan Perempuan Karier Lebih Rentan Alami Gangguan Mental
Burnout Dialami Berbagai Generasi
Fenomena burnout di kalangan pekerja disebabkan beberapa faktor, seperti sistem kerja yang tidak ideal, keterbatasan lapangan kerja, serta pekerjaan yang tidak diinginkan. Dari situasi ini, Adela melihat kebanyakan pekerja mempertahankan profesinya demi bertahan hidup. Burnout pun menjadi kondisi yang tidak hanya dialami Gen Z.
Poppy, misalnya, membutuhkan waktu lebih panjang untuk menyadari kondisi mentalnya. Saat pertama kali mengalami burnout, ia menyebut kondisi tubuhnya sebagai kecapekan. Ini dikarenakan Poppy tumbuh di keluarga yang tidak terbiasa mengutarakan perasaan, sehingga ia sempat menghadapi pergulatan batin ketika mengurai dan menyembuhkan luka emosional.
Sementara itu, Gen Z lebih terpapar akses terhadap informasi mengenai kesehatan mental. Mereka tumbuh dengan internet dan media sosial sebagai sumber informasi utama. Karenanya, Gen Z juga lebih terbuka untuk mencari bantuan profesional, termasuk saat mengalami burnout.
Melansir Psychology Today, ada beberapa hal yang menyebabkan Gen Z burnout: tumbuh di tengah ketidakpastian ekonomi, kondisi sosial yang tidak stabil, dan harus menghadapi pandemi. Mereka juga harus beradaptasi dengan sistem kerja dan pembelajaran jarak jauh. Artinya, ada gangguan terhadap pendidikan, pekerjaan, dan perkembangan sosial.
Selain pekerja dan Gen Z, anak dan remaja juga bisa menghadapi burnout. Bahkan, mereka lebih rentan karena sistem saraf yang sangat rapuh. Maka itu, menurut Anastasia, penting untuk melatih jam tidur yang teratur dengan durasi 8-10 jam.
Namun, sistem di sejumlah sekolah unggulan di Jakarta membuat remaja kurang tidur karena harus belajar. Kondisi ini dapat membuat mereka kehilangan kendali atas kesehariannya, terutama ketika orang tua tidak peka terhadap situasi yang dihadapi anak.
“Kalau orang tua nggak peka, situasi itu akan bikin remaja kehilangan sense of control. Mereka merasa helpless,” tutur Anastasia.
Ia pun menambahkan faktor lain yang dapat membuat anak dan remaja mengalami stres berkepanjangan, yakni menyaksikan konflik orang tua. Kondisi ini diperburuk dengan minimnya ruang gerak, sehingga anak tidak dapat mengelola emosi dan stres dengan bersosialisasi.
“Kalau ini yang terjadi, orang tua perlu konseling pernikahan atau mengakhiri (hubungan) baik-baik. Kemampuan anak untuk meregulasi emosi juga perlu dilatih,” ungkap Anastasia.
Tanpa penanganan yang tepat, tekanan tersebut rentan memicu burnout. Mengenali tanda-tandanya menjadi langkah penting untuk memahami kondisi yang sedang dialami seseorang.
Baca Juga: Tips Sehat untuk Generasi ‘Burnout’
Ciri dan Tips Atasi Burnout
Untuk bisa menangani burnout, Adela mengatakan perlunya mengenali ciri-ciri burnout. Pertama, merasa lelah berkelanjutan secara fisik maupun emosional. Pada fisik, rasa lelah juga dapat berupa sakit di anggota tubuh ataupun gatal-gatal.
Kedua, depersonalisasi atau kondisi ketika seseorang merasa terpisah dari tubuh dan pikirannya. Dalam keadaan ini, terdapat perubahan perspektif kognitif, seperti kehilangan ketertarikan terhadap aktivitas atau hal-hal yang biasanya disukai.
Ketiga, counterproductive. Misalnya, berkurangnya produktivitas di tempat kerja, membutuhkan waktu lebih lama dalam menyelesaikan pekerjaan, dan mudah marah karena ketidakstabilan emosi.
Terlepas dari ketiga ciri burnout tersebut, hal lain yang perlu dilakukan adalah berbelas kasih kepada diri sendiri. Salah satunya dengan tidak memaksakan produktivitas setiap hari.
“Kita perlu belajar lemah lembut dengan diri sendiri. Sadar bahwa kita ini manusia, nggak bisa setiap hari produktif tanpa ‘error’,” terang Adela.
Baca Juga: Ibu Bekerja dan Kelelahan Digital: Saat Notifikasi Menghapus Jeda
Selain itu, ia juga menambahkan beberapa cara yang bisa dilakukan sebagai support system jika orang di sekitar mengalami burnout. Pertama, pastikan memiliki kapasitas diri untuk membantu. Kedua, ajak ngobrol untuk mencari tahu penyebabnya.
Ketiga, tanyakan kebutuhannya, seperti didengarkan dan diperhatikan, serta tunjukkan bahwa kita hadir untuk menemani. Keempat, arahkan untuk mendapatkan bantuan profesional jika ada perubahan signifikan, contohnya sulit menjaga kebersihan tubuh dan tidak masuk kerja berhari-hari.





















