Macklemore Didepak dari Tur Ed Sheeran, Empat Musisi Ikut Mundur
Foto: Debbie Hickey/Getty Images
Macklemore resmi dikeluarkan dari daftar penampil pembuka (opening act) Loop Tour Ed Sheeran di Amerika Serikat (14/9). Hal itu terjadi tak lama usai mereka menyuarakan dukungan untuk Palestina dan menolak genosida di Gaza saat tampil di atas panggung. Keputusan tersebut diambil promotor setelah sejumlah pemilik stadion menyatakan keberatan atas kehadiran rapper asal Seattle itu.
Keputusan mengeluarkan Macklemore kemudian memicu reaksi dari musisi lain yang terlibat dalam tour. Empat musisi, termasuk Beoga yang menjadi band pengiring utama Ed Sheeran, memutuskan mundur dari sisa jadwal konser sebagai bentuk solidaritas kepada Macklemore dan Palestina.
Macklemore memang sudah lama dikenal sebagai musisi yang vokal mendukung hak-hak warga Palestina. Awal bulan ini, ia bergabung dalam Loop Tour dan tampil di dua jadwal konser di MetLife Stadium, New York, pada 4 dan 5 September 2026.
Pada konser hari pertama, Macklemore menjelaskan motivasinya bergabung dalam tur Ed Sheeran. Ia bilang, alasan terbesarnya adalah agar ia bisa berdiri di stadion raksasa dan meneriakkan pembebasan Palestina. Ia ingin pesannya terdengar keras dan jelas sebagai bukti bagi warga di Gaza dan Tepi Barat jika dunia tidak melupakan mereka.
Di atas panggung, ia menyatakan solidaritasnya untuk masyarakat di Gaza dan Tepi Barat yang diduduki Israel. Pitchfork melaporkan, dalam penampilannya pada hari itu, ia menampilkan visual kehancuran Gaza di layar panggung dan membawakan lagu Hind’s Hall, yang ditulis untuk mendukung para demonstran pro-Palestina di Universitas Columbia dan mengenang kematian Hind Rajab, anak perempuan Palestina berusia enam tahun yang tewas dalam insiden yang kemudian menjadi perhatian luas.
Investigasi Washington Post menemukan kendaraan lapis baja Israel berada di sekitar lokasi saat kejadian, sementara Israel sebelumnya membantah pasukannya berada dalam jangkauan tembak kendaraan keluarga Hind. Pada Agustus 2026, militer Israel mengumumkan penyelidikan kriminal atas kematian Hind dan keluarganya.
Pada konser hari kedua, Macklemore kembali menyuarakan pesan serupa. Ia juga memberikan pesan khusus kepada penonton beragama Yahudi. Ia menegaskan jika mengritik Israel, menentang sistem apartheid, dan menolak genosida sama sekali bukan bentuk kritik atau kebencian terhadap orang Yahudi. Ia menekankan jika pesan utamanya adalah perdamaian dan perlakuan yang setara bagi semua umat manusia.
Baca Juga: Ulasan ‘Minor Detail’: Kami Orang Palestina Dianggap Setengah Binatang
Macklemore Didepak dari Loop Tour
Pernyataan Macklemore di atas panggung berujung pada keputusan mengeluarkannya dari sisa jadwal Loop Tour. Messina Touring Group, promotor tur Ed Sheeran di Amerika Serikat, menyatakan sejumlah pengelola stadion menolak menggelar konser jika Macklemore masih masuk dalam susunan penampil. Menurut promotor, situasi tersebut berpotensi mengancam keberlangsungan keseluruhan tur dan berdampak pada para pembeli tiket.
Setelah berdiskusi dengan berbagai pemangku kepentingan, promotor memutuskan Macklemore tidak akan tampil di sisa jadwal tur. Berdasarkan jadwal, ia seharusnya tampil sebagai pembuka di delapan dari sepuluh konser tersisa Ed Sheeran di Amerika Serikat.
Beberapa stadion yang dilaporkan menolak kehadiran Macklemore antara lain Lincoln Financial Field di Philadelphia, Gillette Stadium di Massachusetts, Mercedes-Benz Stadium di Atlanta, Lucas Oil Stadium di Indianapolis, Bank of America Stadium di Carolina Utara, AT&T Stadium di Texas, dan Raymond James Stadium di Florida.
Salah satu nama yang kemudian muncul dalam polemik ini adalah Robert Kraft, pemilik New England Patriots sekaligus Gillette Stadium. Macklemore mengatakan melalui akun Instagram pribadinya jika Kraft mengumpulkan pemilik stadion lain dan menyampaikan ultimatum agar Macklemore dikeluarkan dari tur. Namun, pernyataan Kraft yang dikutip Al Jazeera mengonfirmasi keputusannya melarang Macklemore tampil di Gillette Stadium, tetapi tidak mengonfirmasi klaim mengenai pengumpulan pemilik stadion lain.
Merujuk pada laporan Al Jazeera yang berjudul “Who is Robert Kraft, pro-Israel billionaire who cancelled Macklemore?“, Robert Kraft adalah seorang miliarder asal Amerika Serikat yang memiliki tim American football New England Patriots dan Gillette Stadium. Ia juga dikenal sebagai pendukung Israel dan pendiri Foundation to Combat Antisemitism (FCAS).
Di luar ranah bisnis, Kraft memiliki rekam jejak panjang sebagai pendukung berbagai gerakan pro-Israel di Amerika Serikat. Melalui yayasannya, ia menyalurkan dana untuk kegiatan yang berkaitan dengan upaya memerangi antisemitisme dan mendukung hubungan Amerika Serikat dengan Israel.
Laporan Al Jazeera juga memaparkan keterlibatan Kraft dalam isu politik dan kebijakan terkait Israel. Dalam polemik Macklemore, Kraft menyatakan keputusan melarang rapper tersebut tampil di Gillette Stadium didasarkan pada penampilan terbarunya dan apa yang ia sebut sebagai “a broader history of antisemitic rhetoric and imagery” yang dinilainya menyakiti komunitas Yahudi.
Macklemore membantah tuduhan antisemitisme dan membedakan antara kritik terhadap kebijakan Israel dengan kebencian terhadap orang Yahudi. Perdebatan mengenai batas antara kritik terhadap negara Israel, Zionisme, dan antisemitisme kemudian menjadi bagian dari kontroversi yang mengikuti dikeluarkannya Macklemore dari tur.
Pengaruh Kraft dalam persoalan ini juga menjadi sorotan karena ia merupakan pemilik salah satu stadion tempat Ed Sheeran dijadwalkan tampil. Sementara itu, keputusan resmi untuk mengeluarkan Macklemore dari tur datang dari promotor, bukan dari Ed Sheeran, menurut pernyataan Sheeran sendiri.
Baca Juga: Magdalene Primer: Yang Perlu Diketahui tentang Isu Palestina-Israel
Klarifikasi Ed Sheeran dan Musisi yang Mundur
Menghadapi sorotan publik, Ed Sheeran merilis pernyataan di media sosial pada 15 September. Dalam unggahannya, ia mengatakan keputusan mengeluarkan Macklemore dari tur bukan keputusan pribadinya, melainkan keputusan promotor dan pengelola tempat konser setelah sejumlah stadion menolak menggelar pertunjukan jika Macklemore tetap tampil.
Sheeran juga mengatakan dirinya tidak ingin menggunakan panggung profesional untuk politik. Ia menyebut musik sebagai ruang yang mempertemukan orang dari berbagai latar belakang dan memilih menjaga pertunjukannya sebagai ruang aman serta terbuka untuk percakapan.
Pernyataan tersebut kemudian memicu perdebatan baru. Sheeran mengatakan ia “appalled by the conflict between Israel and Palestine” dan menegaskan jika dirinya memilih tidak memihak. Ia juga mengatakan, “Macklemore coming off tour was the promoter’s decision, it was not mine,” serta menambahkan jika ia menghormati keberanian Macklemore untuk menyuarakan keyakinannya.
Pernyataan Sheeran mendapat sorotan karena ia sebelumnya mengambil posisi berbeda ketika Rusia menginvasi Ukraina. Pada 2022, ia tampil dalam acara “Concert for Ukraine” yang bertujuan menggalang dana kemanusiaan untuk Ukraina.
Perbedaan respons tersebut menjadi salah satu alasan sejumlah pihak mempertanyakan pilihan Sheeran untuk mengambil posisi netral dalam isu Gaza. Namun, Sheeran tetap menyatakan pendekatannya adalah menggunakan musik sebagai ruang yang mempertemukan orang, bukan sebagai forum politik.
Beberapa jam setelah pernyataan Sheeran beredar, musisi yang terlibat dalam sisa Loop Tour mulai mengumumkan pengunduran diri. Mereka adalah FINNEAS, Lukas Graham, Aaron Rowe, dan Beoga.
FINNEAS, yang dijadwalkan menjadi penampil pembuka untuk enam konser Ed Sheeran di Amerika Selatan, menyatakan mundur pada (15/9). “Artists must not be silenced when they speak up for the oppressed,” tulisnya di media sosial. Ia juga menyatakan, “I stand with Palestine and its people.”
Aaron Rowe, musisi asal Irlandia yang sebelumnya tampil dalam tur Ed Sheeran di Australia, juga mengumumkan pengunduran diri. Ia mengatakan, “I don’t take the decision lightly,” sebelum menjelaskan alasannya dan mengaitkannya dengan sejarah Irlandia yang menurutnya membuat ia memahami persoalan genosida, kelaparan paksa, dan pendudukan.
Beoga kemudian ikut meninggalkan tur. Band asal Irlandia tersebut mengatakan, “We are a traditional Irish band who never saw ourselves playing in stadiums of that size and that opportunity is not lost on us.” Mereka juga menyatakan penolakan terhadap pembungkaman Macklemore dan tetap mendukung dialog sebagai cara untuk memperjuangkan nasib masyarakat Palestina.
Lukas Graham juga mengumumkan pengunduran diri. “We should be able to speak about war, about civilians being killed, about children who deserve to grow up. Wherever they live. Whatever flag flies over them,” tulis mereka. Pernyataan tersebut ditutup dengan kalimat, “Money doesn’t give you the right to own the conversation. Nobody’s bank balance should decide who gets to speak or which suffering we’re allowed to acknowledge.”
Mundurnya Beoga memiliki dampak teknis berbeda dibandingkan tiga musisi lainnya. Selain terlibat sebagai penampil, Beoga merupakan band pengiring Ed Sheeran dalam pertunjukan, termasuk memainkan sejumlah lagu bersama Sheeran.
Gelombang pengunduran diri tersebut memperluas polemik dari persoalan Macklemore menjadi perdebatan mengenai kebebasan berekspresi musisi, posisi industri hiburan terhadap isu Palestina, serta pengaruh pemilik modal dalam menentukan siapa yang dapat tampil di panggung besar.
Fenomena ini berlangsung ketika dukungan publik Amerika Serikat terhadap operasi militer Israel di Gaza juga mengalami perubahan. Laporan jajak pendapat Gallup yang dirilis pada 2025 mencatat 32 persen warga Amerika Serikat menyatakan setuju terhadap operasi militer Israel di Gaza, turun 10 poin dari September 2024, sementara 60 persen menyatakan tidak setuju. Survei tersebut dilakukan pada 7 sampai 21 Juli 2025 terhadap 1.002 orang dewasa di Amerika Serikat, dengan margin kesalahan pengambilan sampel sekitar empat poin persentase.
Perbedaan pandangan juga terlihat berdasarkan usia. Dalam survei yang sama, hanya 9 persen responden berusia 18 sampai 34 tahun yang menyatakan setuju terhadap operasi militer Israel di Gaza, sementara 82 persen menyatakan tidak setuju. Untuk penilaian terhadap Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, 17 persen responden berusia 18 sampai 34 tahun menyatakan positif dan 59 persen menyatakan negatif.
“Ini merupakan tingkat penilaian negatif tertinggi sejak 1997,” catat mereka.
Menanggapi temuan ini, Profesor Universitas Maryland sekaligus Direktur Critical Issues Poll, Shibley Telhami, menilai data tersebut menunjukkan perubahan pandangan antargenerasi yang melampaui isu perang di Gaza semata.
“Mayoritas kaum muda di Amerika Serikat baik dari kalangan Demokrat, independen, hingga sebagian Republikan kini melihat kengerian yang berlangsung di Gaza sebagai cerminan langsung dari karakter negara Israel itu sendiri,” jelasnya kepada Al Jazeera.
Data mengenai aksi solidaritas Palestina juga menunjukkan peningkatan demonstrasi di berbagai negara. Laporan Armed Conflict Location & Event Data Project (ACLED), organisasi nirlaba yang mengumpulkan dan menganalisis data konflik bersenjata, aksi demonstrasi, dan kekerasan politik di berbagai negara, mencatat aksi pro-Palestina meningkat 43 persen antara Mei dan September 2025 dibandingkan lima bulan sebelumnya.
Baca Juga: 5 Buku tentang Palestina yang Harus Kamu Baca
Menurut ACLED, peningkatan tersebut berlangsung ketika perang Gaza memasuki tahun kedua dan demonstrasi pro-Palestina terus muncul di berbagai kawasan dunia. Data ini menunjukkan aksi solidaritas tidak hanya berlangsung di ruang hiburan, tetapi juga menjadi bagian dari gerakan demonstrasi publik yang lebih luas.
Dalam konteks industri musik, keputusan FINNEAS, Lukas Graham, Aaron Rowe, dan Beoga untuk meninggalkan Loop Tour memperlihatkan bagaimana isu Palestina ikut masuk ke ruang kerja para musisi. Mereka memilih mengakhiri keterlibatan dalam tur setelah Macklemore dikeluarkan dari daftar penampil menyusul pernyataannya di atas panggung.
Aksi tersebut sekaligus memperlihatkan perbedaan sikap di antara para musisi yang terlibat dalam satu tur. Di satu sisi, Sheeran memilih mempertahankan posisi yang ia sebut sebagai ruang musik yang netral dan terbuka untuk semua pihak, sementara empat musisi lain menyatakan dukungan terbuka kepada Macklemore dan Palestina.
Solidaritas terhadap Palestina pun tidak hanya muncul dalam bentuk pernyataan di atas panggung. Data ACLED menunjukkan aksi pro-Palestina terus berlangsung di berbagai negara, dengan peningkatan demonstrasi pada 2025.
Pada akhirnya, polemik Macklemore dan Ed Sheeran memperlihatkan bagaimana panggung musik dapat menjadi ruang perdebatan tentang politik, kebebasan berekspresi, serta posisi seniman terhadap isu kemanusiaan. Ketika musisi memilih bersuara atau mundur dari sebuah tur, keputusan mereka tidak lagi hanya berkaitan dengan pertunjukan, tetapi juga dengan nilai dan isu yang ingin mereka bawa ke hadapan publik.





















