Kalimat “enggak perlu capek di dapur” mungkin terdengar sepele. Namun di tengah Ramadan, ucapan seperti itu bisa menandai perubahan cara keluarga memandang kerja domestik dan siapa yang semestinya menanggungnya.
Saya menangkap kesan itu ketika menghadiri buka puasa bersama komunitas di sebuah rumah makan sederhana. Deretan meja dipenuhi pasangan muda—suami istri dengan satu anak—yang memilih berbuka di luar rumah. Di antara mereka ada keponakan saya, laki-laki berusia 35 tahun, duduk bersama istrinya dan anak balita mereka.
“Mantap kali, buka puasanya di luar,” sapa saya.
“Iya Buk, lebih praktis. Enggak capek kami di dapur, jalan-jalannya dapat,” ujarnya sambil tertawa.
“Modalnya juga sama kok Buk, enggak habis seratus ribu untuk kami bertiga.”
Baca juga: Ramadan Perempuan ASN: Jam Kerja Dipangkas, Beban Masih Saja Berat
Saya tersenyum, tapi juga tertegun. Keponakan saya tidak berkata istrinya tidak capek di dapur, tapi ia bilang “kami”. Pilihan kata itu sederhana, tetapi tidak kecil. Di dalamnya ada pengakuan, setidaknya secara halus, bahwa urusan dapur bukan semata urusan perempuan. Beban itu dianggap milik bersama, atau paling tidak sesuatu yang semestinya dipikirkan bersama.
Bagi banyak orang, berbuka di luar mungkin memang hanya soal praktis—tidak repot memasak, tidak perlu menyiapkan meja, tidak banyak cucian. Kadang juga terasa lebih hemat, terutama untuk keluarga kecil. Namun di banyak desa, pilihan seperti ini juga bisa dibaca sebagai tanda perubahan yang lebih pelan dan lebih dalam, bahwa pekerjaan domestik mulai dilihat sebagai kerja yang melelahkan, bukan “kodrat” istri.
Di meja lain, saya berbincang dengan seorang ibu muda yang baru dua tahun menikah. Ia bilang, berbuka di luar membuatnya bisa benar-benar menikmati Ramadan, dengan duduk bersama suami dan anak, tanpa diburu urusan memasak menjelang azan.
“Rasanya kayak waktu masih bebas dulu,” katanya.
Kalimat itu tertinggal lama di kepala saya. Sebab yang ia rindukan rupanya bukan sekadar makanan yang siap saji, melainkan pengalaman punya waktu untuk dirinya sendiri, atau setidaknya waktu untuk hadir utuh sebagai anggota keluarga, bukan hanya sebagai penyedia makanan.
Di situlah makna berbuka di luar menjadi lebih dari sekadar urusan konsumsi. Bagi perempuan muda di desa, pengalaman ini juga berarti hadir di ruang publik. Mereka duduk di meja rumah makan kecil, mengobrol dengan tetangga yang kebetulan datang, ikut merasakan keramaian Ramadan di luar rumah. Mereka tidak hanya hadir sebagai pekerja di balik dapur, tetapi juga sebagai bagian dari pengalaman sosial itu sendiri. Ada jeda, ada pergaulan, ada rasa ikut memiliki suasana.
Anak-anak pun tampak menikmati hal yang sama. Mereka bisa bergerak lebih leluasa, bertemu teman sebaya, bermain di halaman rumah makan, dan merasakan Ramadan sebagai momen sosial. Suasana itu memberi pengalaman yang berbeda dari berbuka di rumah, ketika fokus utama sering tetap bertumpu pada kerja menyiapkan makanan.
Perubahan seperti ini mungkin tampak kecil, tetapi justru dari hal-hal kecil itulah pergeseran sosial sering mulai terlihat. Ketika suami mengajak keluarga berbuka di luar, ada kemungkinan ia sedang mengakui bahwa pekerjaan rumah tangga itu melelahkan. Ada pengakuan bahwa memasak bukan tugas remeh dan bukan tanggung jawab istri semata. Kesadaran seperti ini mungkin tidak lahir dari diskusi panjang tentang feminisme atau pembagian kerja berbasis gender. Namun ia bisa tumbuh lewat keputusan sehari-hari yang praktis, berulang, dan terasa masuk akal.
Gagasan semacam ini juga punya pijakan etik yang kuat. Dalam kuliah Ramadan di Masjid Walidah Dahlan baru-baru ini, Rektor Universitas ‘Aisyiyah (UNISA) Yogyakarta, Warsiti, menekankan tema Equal Piety. Bahwa Ramadan seharusnya menjadi ruang yang menyatukan, bukan membedakan. Dalam kerangka itu, berbagi beban domestik juga bisa dibaca sebagai bagian dari penghayatan yang lebih adil terhadap kebersamaan dan tanggung jawab dalam keluarga.
Baca juga: Dari ‘Munggahan’ hingga ‘Ngabuburit’: Jargon Unik Ramadan Khas Indonesia
Dari jeda kecil ke pertanyaan yang lebih besar
Berbuka puasa di luar satu atau dua kali jelas belum cukup untuk menyimpulkan bahwa relasi gender dalam keluarga sudah setara. Bisa saja ini hanya strategi sesaat selama Ramadan, atau sekadar pilihan ekonomis. Bisa juga beban perempuan tidak berkurang, hanya bergeser bentuknya. Namun justru karena itu, perubahan kecil ini menarik untuk dibaca. Ia membuka pertanyaan tentang siapa yang memiliki waktu, siapa yang menanggung kerja perawatan, dan siapa yang akhirnya punya kesempatan untuk beristirahat.
Pertanyaan itu penting, sebab di balik jeda kecil seperti berbuka di luar, ada ketimpangan yang jauh lebih besar dalam pembagian kerja sehari-hari. Dalam lokakarya Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (FEB UGM) akhir Februari lalu, misalnya, mengemuka temuan bahwa unpaid work—dari pekerjaan rumah tangga hingga pengawasan anak—masih menjadi penghambat besar bagi partisipasi kerja perempuan.
Survei yang dibahas menunjukkan hampir 40 persen perempuan menghabiskan lebih dari delapan jam per hari untuk pekerjaan domestik dan pengasuhan, sementara hampir 40 persen laki-laki menghabiskan kurang dari satu jam per hari untuk pekerjaan serupa. Bahkan, setiap tambahan satu jam supervisory care dapat menurunkan peluang perempuan untuk bekerja lebih dari 6 persen. Angka-angka ini menunjukkan bahwa kerja perawatan masih belum benar-benar diperlakukan sebagai tanggung jawab bersama.
Baca juga: Batal Puasa hingga Minta Tanda Tangan Imam Tarawih: Nostalgia Puasa Saat Masih Kecil
Karena itu, saya melihat meja-meja rumah makan sederhana selama Ramadan bukan hanya sebagai tempat orang membeli makanan. Di sana ada potret kecil tentang perubahan: seorang ayah muda yang berkata, “kami enggak capek di dapur”; seorang ibu yang merasa bisa menikmati waktu berbuka; anak-anak yang ikut merasakan Ramadan sebagai kebersamaan, bukan sekadar rutinitas rumah.
Ramadan, pada akhirnya, bukan hanya soal menahan lapar dan haus. Ia juga bisa menjadi momen untuk meninjau ulang bagaimana kita berbagi beban, merayakan kebersamaan, dan membuka ruang baru bagi kesetaraan.




















