Ada ‘Darah’ YBS di Tangan Negara: Apa Hak Perlindungan Anak di Masa Depan
*Peringatan pemicu: Artikel ini tidak bertujuan mendorong tindakan bunuh diri. Jika kamu mengalami krisis emosional atau memiliki pikiran untuk melukai diri, carilah dukungan dan bantuan profesional. Khusus bagi warga Jakarta, layanan kesehatan mental gratis tersedia melalui JakCare (telekonsultasi 24/7 via aplikasi JAKI atau telepon 0800-1500-119), Puskesmas kecamatan, dan RSUD setempat.
Psikolog anak Joice Manurung prihatin terhadap dugaan bunuh diri anak di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT). Ia menyebut peristiwa tersebut tidak bisa dilepaskan dari persoalan perlindungan anak, terutama dalam kondisi kemiskinan.
“Seharusnya semua proaktif melakukan pencegahan dan identifikasi sejak dini,” kata Joice melalui sambungan telepon dengan Magdalene (5/2).
Kasus ini merujuk pada kematian YBS, siswa kelas IV sekolah dasar, yang ditemukan meninggal dunia. Pihak kepolisian menemukan sepucuk surat yang diduga ditulis YBS sebelum meninggal dan mengamankannya sebagai bagian dari penyelidikan.
Baca Juga: Saatnya Jujur pada Anak tentang Kemiskinan Struktural, Bukan Lagi Dongeng
YBS anak dari ibu tunggal yang bekerja serabutan. Pihak berwenang menyebut YBS diduga mengakhiri hidup setelah permintaannya kepada sang ibu—uang sekitar Rp10 ribu untuk membeli buku dan pena—tidak terpenuhi. Saat itu, ibunya tidak memiliki uang sama sekali.
Joice menjelaskan keputusan anak mengakhiri hidup tidak terjadi secara tiba-tiba. Faktor internal dan eksternal saling berkaitan, mulai dari gangguan kesehatan mental, trauma, hingga tekanan sosial seperti stigma.
“Misalnya dikatain anak miskin, anak yang tidak punya bapak, dan label-label lainnya. Stigma ini menciptakan tekanan baru yang berat bagi anak,” ujarnya.
Menurut Joice, anak usia 10–15 tahun belum sepenuhnya mampu mengelola emosi secara matang.
“Kemampuan berpikir mereka belum matang. Cara mengelola rasa takut, marah, sedih juga belum berkembang dengan baik,” katanya.
Ia menegaskan kondisi ekonomi bukan satu-satunya faktor.
“Ada juga anak dari keluarga ekonomi mapan yang melakukan hal serupa. Jadi ini persoalan yang jauh lebih kompleks,” ujarnya.
Sebagai informasi, data penelitian Kompas mencatat sepanjang 2025 terdapat 25 kasus bunuh diri anak yang dipicu perundungan, perceraian orang tua, dan tekanan ekonomi.
Baca Juga: Andai Jadi Ibu, Ini yang Takkan Saya Lakukan pada Anak
Peran Negara
Joice menjelaskan terdapat tiga tahapan dalam bunuh diri, mulai dari pemikiran, upaya, hingga tindakan bunuh diri.
“Pemikiran bunuh diri itu kaya ucapan si anak ‘enak yah kalau di surga’, atau upaya bunuh diri dengan menyakiti diri, pukul kepala, benturin tubuh, dan tindakan bunuh diri, semuanya ini bisa diamati dari luar,” katanya.
Ia menyebut keluarga kerap berada di garis depan tanpa dukungan sistem yang memadai.
“Nah itu yang kalau buat saya jarang ada di Indonesia. Kalau mencegah sakit jantung kan banyak tuh di TV, tapi gimana membuat anak kita sehat mental kan itu enggak ada,” ujarnya.
Kritik juga datang dari Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI). Koordinator JPPI Ubaid Matraji menilai kasus ini mencerminkan lemahnya perlindungan hak anak atas pendidikan.
“Di tengah klaim pemerintah tentang anggaran pendidikan yang terus naik, realitas di lapangan justru menunjukkan nyawa seorang anak bisa melayang hanya karena harga sebuah buku dan pena yang tak terjangkau,” ujarnya (4/2).
Baca Juga: Anak Perempuan Dibuang, Anak Lelaki Disayang
Ia juga menyoroti pengalihan anggaran pendidikan ke program Makan Bergizi Gratis (MBG).
“Pemerintah tampak lebih sibuk mengurusi urusan logistik makanan daripada memastikan anak-anak bisa belajar dengan tenang,” katanya.
Respons pemerintah pusat disampaikan melalui Menteri Sosial yang menyebut kasus ini menjadi perhatian. Menteri Koordinator Pemberdayaan Masyarakat meminta masyarakat aktif melapor jika mengalami kendala ekonomi.
Senada, Gubernur NTT Emanuel Melkiades menyampaikan rasa malu dan kemarahan atas kasus tersebut. “Kita gagal sebagai pemerintah. Malu saya sebagai Gubernur model begini,” ujarnya, dikutip dari Tempo.





















