07/07/2026
Issues Opini

Dari Cegil sampai ‘Red Flag’: Kenapa Kesenangan Perempuan Selalu Harus Dibuktikan?

Dari Taylor Swift sampai sejarah Romanov, minat perempuan sering diperlakukan bukan sebagai pintu obrolan, melainkan “klaim” yang harus diuji.

  • March 9, 2026
  • 6 min read
  • 630 Views
Dari Cegil sampai ‘Red Flag’: Kenapa Kesenangan Perempuan Selalu Harus Dibuktikan?

Bagi banyak perempuan, mengaku menyukai Taylor Swift atau K-Pop di ruang publik yang didominasi laki-laki terasa seperti menyerahkan diri untuk diinterogasi. Pertanyaannya jarang lahir dari rasa ingin tahu soal musiknya, melainkan seperti ujian kredibilitas: “Emang kamu tahu siapa produser albumnya?” Kadang lebih ekstrem, menyeberang menjadi penilaian karakter: “Cewek yang dengerin Taylor Swift biasanya red flagjir.”

Anehnya, suasana berubah drastis ketika aku menyebut Radiohead, Oasis, atau Bon Jovi. Tiba-tiba aku dianggap “layak diajak bicara”, punya selera yang “berbobot”, seolah mendapat stempel bahwa aku bukan penggemar “kaleng-kaleng”. Di situ aku makin paham bahwa di masyarakat kita, musik bukan sekadar urusan audio, melainkan kerap dipakai sebagai alat kontrol untuk mendelegitimasi kesenangan perempuan.

Pola “diagnosis” ini tidak berhenti di ranah musik. Beberapa hari lalu, aku melihat unggahan viral di Threads yang terasa sangat familier. Seorang perempuan mengaku menyukai sejarah, lalu ditodong pertanyaan spesifik tentang dinasti Romanov. Bukan sebagai pembuka diskusi, melainkan sebagai tes pengetahuan. Seorang pengguna lain menyoroti pengalaman yang akrab bagi banyak perempuan: pertanyaan semacam itu sering terasa seperti jebakan intelektual, bukan rasa ingin tahu yang tulus.

Sumber: X

Unggahan itu memperlihatkan sesuatu yang lebih besar. Bahwa pertanyaan yang tampak sederhana sering kali tidak benar-benar tentang objek yang dibicarakan. Musik, sejarah, film—semuanya bisa jadi medan untuk menguji apakah perempuan pantas dianggap tahu. Ketika seorang perempuan menyatakan ketertarikan pada sesuatu, masyarakat patriarkal cenderung tidak melihatnya sebagai hobi yang sah, melainkan sebagai klaim yang harus dibuktikan lewat serangkaian interogasi.

Baca juga: Ramadan 101: Sebuah Panduan untuk ‘Fangirl’ Saat Puasa

Mengapa kesenangan perempuan dianggap rendah?

Pengalaman seperti ini bukan kebetulan. Ada pola konsisten di mana kegemaran massal perempuan, terutama remaja, akan cepat dicurigai, direndahkan, atau ditertawakan. Ini berkaitan dengan konsep Pierre Bourdieu tentang cultural capital (modal budaya). Dalam bukunya Distinction: A Social Critique of the Judgment of Taste, Bourdieu menjelaskan bahwa selera tidak pernah sepenuhnya netral, tapi sering dipakai sebagai penanda status dan alat untuk membedakan siapa yang dianggap berkelas, cerdas, atau “pantas” diajak bicara.

Masalahnya, dalam masyarakat patriarkal, otoritas intelektual kerap dilekatkan pada laki-laki. Akibatnya, selera yang dianggap “tinggi” cenderung selera yang diberi cap maskulin: rock, indie yang obscure, atau musik eksperimental. Sementara pop, yang basis penggemarnya banyak perempuan, lebih cepat dicap “dangkal” dan “tidak berbobot”.

Pola ini sering berulang, dari The Beatles, One Direction, Taylor Swift, hingga invasi K-Pop yang membentuk fanbase perempuan begitu besar. Hannah Ewens dalam Fangirls (2020) menulis bahwa antusiasme kolektif perempuan sering kali menjadi mesin ekonomi industri musik, tetapi suara mereka justru yang pertama diremehkan atau diperlakukan seperti “histeria” dalam narasi “serius” yang banyak dibangun kritikus musik, yang juga didominasi laki-laki.

Fenomena “diagnosis” ini juga bisa datang dari sesama perempuan. Taylor Swift menangkapnya dengan tajam dalam “Mad Woman”: “And women like hunting witches too, doing your dirties work for you.” Ini adalah manifestasi dari misogini yang terinternalisasi, ketika perempuan merasa harus menjauh dari hal-hal populer demi mendapat label “not like the other girls”. Kebencian pada “perempuan kebanyakan” menjadi semacam tiket untuk dianggap keren atau cerdas dalam standar patriarkal, padahal tiket itu dibayar dengan merendahkan kesenangan perempuan lain.

Di Indonesia, persoalan ini sering berkelindan dengan stigma moralitas. Dalam wawancara dengan DetikHOT, grup musik NonaRia pernah mengungkap bagaimana mereka kerap dihakimi bukan karena kualitas komposisi musiknya, melainkan karena jam kerjanya. Nesia, sang vokalis, bercerita bahwa pulang larut malam karena tuntutan pekerjaan (yang juga passion mereka dalam bermusik) memicu komentar miring tentang moralitas perempuan. Ketika kasus serupa dialami musisi laki-laki, masyarakat cenderung memaklumi, bahkan memujinya sebagai dedikasi.

Baca juga: ‘Turning Red’, Ketika Narasi Perempuan Diproduksi Perempuan Sendiri

Ini selaras dengan laporan USC Annenberg Inclusion Initiative (2025) yang menunjukkan betapa akutnya ketimpangan gender di industri musik. Ketimpangan ini juga dipelihara oleh ideologi rockism: pemujaan terhadap instrumen yang dianggap maskulin (gitar listrik/distorsi) dan merendahkan yang dianggap feminin (pop/disko). Dalam logika seperti ini, selera perempuan bukan cuma dianggap “rendah”, tapi juga dianggap pantas untuk diejek.

Sebagai perempuan, realitas ini memunculkan pertanyaan yang terasa getir: kenapa saat aku menyukai lagu dengan lirik emosional, aku langsung “didiagnosis”? Pelabelan “cegil” atau “red flag” pada sekelompok perempuan seolah menjadi cara modern untuk mempathologisasi emosi perempuan. Julia Serano dalam Whipping Girl (2007) membahas oppositional sexism: kecenderungan merendahkan hal yang dianggap feminin demi meninggikan apa yang dianggap maskulin. Dari sini kita melihat standar ganda yang telanjang:

1. Laki-laki fanatik terhadap band rock atau klub bola disebut “loyalitas” dan “dedikasi”;

2. Perempuan antusias terhadap hobi atau idolanya disebut “histeris”, “obsesif”, atau “desperate”.

    Label “cegil” hari ini juga tidak lahir di ruang hampa, tapi punya jejak sejarah yang panjang. Jauh sebelum ada istilah cegil, masyarakat sudah lama mengenal label “histeria” yang erat dikaitkan dengan perempuan. Rachel Simmons dalam Odd Girl Out (2002) menunjukkan bagaimana, secara historis, emosi perempuan kerap dianggap masalah yang harus “diperbaiki”, bukan pengalaman manusiawi yang layak didengar. Itu sebabnya, pelabelan hari ini bukan sekadar tren media sosial, melainkan residu dari masalah sistemik yang sudah lama mengakar.

    Baca juga: Dari A Sampai Z, Cerita Fans Generasi Dua K-Pop

    In-Group vs Out-Group dan Fragile Masculinity

    Secara psikologis, manusia punya kecenderungan merendahkan kelompok di luar kelompoknya (out-group) untuk memperkuat identitas kelompok sendiri (in-group). Joseph Vandello dan Jennifer Bosson, lewat penelitian Precarious Manhood (2008), mengungkap bahwa maskulinitas sering dipandang sebagai status yang sulit didapat tetapi mudah hilang, sehingga harus terus dibuktikan.

    Dalam budaya maskulinitas tertentu, sebagian laki-laki merasa perlu menolak hal-hal yang dianggap feminin agar terlihat “macho”. K-Pop, misalnya, kerap dicap tidak maskulin. Dari sini, mengejek hobi perempuan bisa menjadi mekanisme pertahanan diri: cara untuk memastikan “gue bukan kayak gitu.” Di balik candaan dan olok-olok, ada upaya pendisiplinan.

    Hadirnya stigmatisasi terhadap perempuan—pelabelan cegil, histeris, red flag—menunjukkan kerapuhan maskulin dalam struktur patriarkal. Laki-laki dengan maskulinitas rapuh bisa merasa terancam oleh komunitas perempuan yang solid seperti Swifties atau KPopers, karena komunitas ini punya kekuatan ekonomi dan suara kolektif yang besar tanpa perlu validasi laki-laki. Maka, kesenangan perempuan dilegitimasi sebagai “gangguan”: sesuatu yang harus diuji, direndahkan, atau dikoreksi.

    Pada akhirnya, masalahnya bukan pada hobi atau selera musiknya, melainkan pada siapa yang menikmatinya. Masyarakat kita sering tidak nyaman melihat perempuan bahagia sepenuhnya dengan pilihannya sendiri. Kesenangan perempuan dianggap “berbahaya” ketika ia tidak bisa dikontrol atau dikategorikan dalam standar intelektualitas maskulin.

    Sudah saatnya kita sadar bahwa kesenangan perempuan tidak perlu “disahkan” lewat interogasi. Validasi laki-laki bukan surat keterangan catatan kepolisian (SKCK) yang diperlukan perempuan untuk menikmati hidup. Mengutip Sara Ahmed dalam The Cultural Politics of Emotion, kita punya hak atas “ruang kenyamanan” kita sendiri. Dan selama perempuan masih harus membela hal-hal yang ia sukai agar dianggap sah, di situlah kita tahu bahwa sistem ini masih mencoba mendikte cara perempuan menjalani hidup, bahkan ketika yang sedang ia lakukan hanyalah bersenang-senang.

    Ilustrasi oleh Karina Tungari

    About Author

    Melania Kintan Kuswidyantari