Seminggu sudah umat Islam menjalani puasa Ramadan. Di sejumlah titik, suasana penjualan takjil tetap terlihat semarak. Beragam hidangan berbuka—mulai dari buras, gorengan, risol, kue-kue, hingga es cendol—tertata di lapak-lapak pinggir jalan.
Namun, semarak itu tak selalu berbanding lurus dengan ramainya pembeli.
Di kawasan Palmerah, misalnya, lebih dari sepuluh pedagang takjil mulai berjualan sekitar satu jam sebelum waktu berbuka. Aktivitas jual-beli terpantau tidak terlalu ramai. Pembeli datang sesekali, sementara sebagian dagangan masih tersisa hingga azan magrib tiba.
Baca Juga: Janji Setengah Hati: Tak Ada ‘Sweeping’ Saat Puasa, tapi Jam Operasional Tempat Makan Dibatasi
Ibnu Nuzul, 21, pedagang risol, onde-onde, dan pisang coklat yang telah tiga tahun berjualan setiap Ramadan, mengaku penjualannya menurun dibanding tahun sebelumnya.
“Sekarang paling dapat Rp500 ribu sehari. Tahun sebelumnya bisa Rp700–800 ribu. Dulu habisnya lebih cepat, warga sudah datang dari jam tiga, jam limanya dagangan sudah habis. Sekarang setengah enam masih banyak,” katanya kepada Magdalene di sela berjualan (25/2).
Menurut Nuzul, omzet yang diperoleh dalam sepekan terakhir hanya berbeda tipis dari modal yang ia keluarkan.
Hal serupa dirasakan Arif Munandar, pedagang es cendol yang telah berjualan selama sepuluh tahun. Ia menuturkan, lonjakan pembeli hanya terasa pada hari pertama puasa.
“Sisanya, lima hari terakhir ini es cendol saya tidak pernah laris semua. Paling sampai Rp800 ribu. Sebelum Covid bisa tembus sejuta. Tahun sebelumnya juga sekitar segitu,” ujarnya (25/2).
Arif menyiapkan sekitar seratus porsi es cendol setiap hari, dua kali lipat dari porsi hari biasa, dengan harga Rp10 ribu per cup.
“Ya itu risiko. Ada sisa, tapi tidak banyak. Awal puasa biasanya mentok. Sekarang agak normal saja pendapatannya,” katanya.
Penurunan transaksi juga dirasakan Rua, pemilik warung kelontong yang telah berjualan selama dua puluh tahun. Pada Ramadan tahun sebelumnya, ia mengaku bisa meraup omzet hingga Rp2 juta per hari.
“Kalau puasa sekarang biasa saja, enggak terasa ramai,” ujarnya kepada Magdalene.
Dari sisi pembeli, kesan serupa juga muncul. Sahril, warga Tangerang, mengaku merasakan perubahan suasana Ramadan tahun ini.
“Kalau pulang kerja biasanya jalanan macet di sekitar pedagang takjil. Sekarang enggak. Beli takjil juga enggak antre seperti tahun sebelumnya,” ungkapnya.
Baca Juga: Batal Puasa hingga Minta Tanda Tangan Imam Tarawih: Nostalgia Puasa Saat Masih Kecil
Sudah Diprediksi Sebelumnya
Kondisi ini sejalan dengan prediksi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), yang jauh-jauh hari sudah memprediksi Indonesia akan mengalami inflasi di kisaran 2,6-3,2 persen. Tekanan harga dinilai berpotensi memengaruhi daya beli masyarakat, termasuk pola konsumsi selama Ramadan.
Mengamini prediksi BRIN, pengamat ekonomi Wijayanto Samirin mengatakan kepada Kompas, kenaikan harga barang selama Ramadan dan Lebaran tetap terjadi. Namun ini tak terlalu berpengaruh karena daya beli masyarakat yang masih relatif lemah.
Kondisi tersebut sejalan dengan perlambatan transaksi yang dirasakan pedagang di sejumlah titik selama pekan pertama Ramadan.
Ilustrasi oleh Karina Tungari





















