Meski Dihadang, Mahasiswa Tetap ke Bundaran HI Tolak BBM
Mahasiswa dari berbagai kampus di Jakarta tetap melanjutkan perjalanan menuju Bundaran HI, meski polisi sempat berupaya mengalihkan lokasi aksi ke gedung DPR. Sekitar pukul 14.00 WIB, peserta unjuk rasa berjalan kaki menuju kawasan tersebut.
Dikutip dari BBC Indonesia, Aksi mahasiswa tolak kenaikan harga BBM berkukuh menuju Bundaran HI – ‘Agar rakyat tahu situasi sekarang tidak baik-baik saja’, berdasarkan laporan wartawan BBC News Indonesia, Tri Wahyuni dan Silvano, para mahasiswa sudah berada di Jalan Sudirman, Jakarta Pusat, sekitar pukul 14.32 WIB. Sebelumnya, sebagian massa sempat diadang polisi di dekat Jembatan Semanggi.
Polisi kemudian berupaya mengarahkan aksi mahasiswa ke depan gedung DPR atau ke kawasan Patung Kuda di Monas. Namun, salah satu pengunjuk rasa mengatakan kepada wartawan bahwa mereka tetap bersikukuh menggelar aksi di Bundaran HI karena menilai “DPR tidak menjalankan fungsinya.”
Massa juga menolak menggelar aksi di depan Istana Merdeka. Ketua BEM UI, Yatalathof Ma’shum Imawan, mengatakan Bundaran HI dipilih agar publik sadar bahwa kondisi saat ini tidak sedang baik-baik saja.
“Ya, sudah kita menggelar di Bundaran HI untuk menyadarkan rakyat bahwa kondisi kita tidak baik-baik saja,” kata Yatalathof.
Dalam laporan video yang diterima BBC Indonesia, sekitar pukul 13.00 WIB, sebagian rombongan mahasiswa memang sudah diadang polisi di dekat Jembatan Semanggi, Jakarta Pusat. Polisi juga membenarkan bahwa pihaknya berupaya mengalihkan lokasi demo mahasiswa ke dekat Patung Kuda atau gedung DPR/MPR.
Kombes Pol Budi Hermanto, Kabid Humas Polda Metro Jaya, menyebut Bundaran HI sebagai kawasan ekonomi. Menurutnya, lokasi itu bukan tempat yang tepat untuk menyampaikan aspirasi karena di sekitarnya ada aktivitas perekonomian dan kegiatan masyarakat lain.
Dalam video dan foto yang diterima BBC Indonesia, rombongan mahasiswa tampak berdebat dengan aparat yang menghadang mereka.
Aksi mahasiswa pada Jumat (12/6) ini digelar di Jakarta dan sejumlah kota lain. Mereka menuntut pemerintah menurunkan harga BBM, menghentikan program MBG, serta mendesak Presiden Prabowo mengakui kesalahan pemerintah.
Di Jakarta, demonstrasi ini digerakkan oleh Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia (BEM UI), Front Mahasiswa Nasional (FMN), dan Serikat Perempuan Indonesia (Seruni). Awalnya, mereka berencana menggelar aksi bertajuk #MenujuIndonesiaBangkrut di Bundaran Hotel Indonesia (HI), Jakarta Pusat.
Ketua FMN, Symphati Dimas, mengatakan kepada BBC News Indonesia bahwa jumlah massa dari kelompok mereka mencapai sekitar 700–1.000 orang. Dalam aksi ini, mereka membawa lima tuntutan utama: menghentikan pemborosan APBN, menurunkan harga kebutuhan pokok dan BBM, menghentikan program MBG dan pembangunan Koperasi Desa Merah Putih, menghentikan militerisme di ranah sipil, serta meminta Presiden Prabowo berhenti mengelak dan mengakui kesalahan pemerintah.
Ketua BEM UI, Yatalathof Ma’shum Imawan, juga mengajak berbagai elemen masyarakat, termasuk buruh, guru, pedagang, ibu rumah tangga, dan kelompok masyarakat lain, untuk ikut bergabung dalam aksi tersebut.
“Kita rebut keadilan! Karena keadilan tidak datang sendiri. Ia harus dijemput oleh rakyat Indonesia yang besar, bukan pemerintah yang berlagak besar,” ujar Athof, dikutip dari Kompas.com.
Untuk mengawal aksi ini, Polda Metro Jaya mengerahkan 3.651 personel, sementara TNI menurunkan 500 personel. Budi Hermanto menegaskan pengerahan pasukan dalam jumlah besar ini bertujuan menjaga keamanan, baik bagi massa aksi maupun masyarakat umum.
Baca Juga: Di Tengah Aksi Buruh dan Mahasiswa, DPR Justru Ramai-ramai WFH
Aksi Serupa Muncul di Sejumlah Daerah
Masih mengutip laporan BBC Indonesia, gelombang protes mahasiswa ternyata tidak hanya terjadi di Jakarta. Sehari sebelum aksi pada Jumat (12/6), mahasiswa di sejumlah daerah lebih dulu turun ke jalan untuk menyuarakan tuntutan mereka.
Pada Kamis (11/6), gabungan mahasiswa dari Universitas Padjadjaran (Unpad), Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Universitas Katolik Parahyangan (Unpar), dan Universitas Komputer Indonesia (Unikom) menggelar aksi di depan Gedung DPRD Jawa Barat.
Dalam demonstrasi tersebut, mereka menyoroti berbagai persoalan, mulai dari kondisi ekonomi yang dinilai semakin memberatkan masyarakat, pengesahan Undang-Undang Polri, hingga kenaikan harga BBM nonsubsidi seperti Pertamax.
Aksi serupa juga berlangsung di Pekanbaru, Riau. Ratusan mahasiswa Universitas Islam Riau (UIR) menggelar demonstrasi di Kantor DPRD Riau pada Kamis (11/6). Mereka mengkritik kinerja pemerintahan Prabowo-Gibran, termasuk menyoroti pelaksanaan program Makanan Bergizi Gratis (MBG) yang dinilai perlu dievaluasi.
Sementara itu, di Makassar, Sulawesi Selatan, sejumlah aktivis mahasiswa juga turun ke jalan untuk menolak kenaikan harga BBM. Kelompok yang menamakan diri Gerakan Aktivis Mahasiswa (GAM) tersebut menyampaikan sejumlah tuntutan, seperti menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, membatalkan kenaikan harga Pertamax, serta mencabut Undang-Undang Polri yang baru disahkan.
Sejumlah kelompok mahasiswa di berbagai daerah juga dikabarkan akan melanjutkan aksi mereka pada hari ini. Hal itu menunjukkan bahwa gelombang protes tidak hanya terpusat di ibu kota, melainkan menjadi suara bersama dari berbagai kampus di Indonesia.
Di Jakarta, polisi menyebut terdapat aksi massa lain yang berlangsung hampir bersamaan di Jalan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat. Aksi tersebut digelar oleh Perhimpunan Penegak Demokrasi Indonesia.
Untuk mengantisipasi kepadatan kendaraan di sekitar lokasi unjuk rasa, kepolisian akan memberlakukan rekayasa lalu lintas di sejumlah titik. Masyarakat diimbau menghindari kawasan demonstrasi dan menyesuaikan rute perjalanan agar tidak terjebak kemacetan.
Baca Juga: Yang Terjadi Jika Harga Kebutuhan Sehari-hari Naik
Polda Metro Jaya Klaim Ada Pihak Yang Akan Menunggangi Aksi
Dikutip dari Kompas, Polisi Klaim Ada Kelompok Ingin Tunggangi Demo Mahasiswa Hari Ini, Polda Metro Jaya mengklaim ada kelompok tertentu yang diduga akan menunggangi aksi demonstrasi mahasiswa di Jakarta pada Jumat (12/6/2026). Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya, Kombes Budi Hermanto, mengatakan pihaknya sudah mengidentifikasi kelompok tersebut dan menyiapkan langkah antisipasi untuk menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat.
“Perlu kami tekankan bahwa Satgas Penegakan Hukum Polda Metro Jaya sudah mengidentifikasi kelompok-kelompok tertentu yang akan mencoba bergabung, mendompleng, untuk mencoba membuat kegiatan-kegiatan lainnya dalam hal gangguan Kamtibmas, gangguan dalam penyampaian pendapat di muka umum,” ujar Budi di Gedung DPR RI, Jumat.
Budi menjelaskan, Satgas Penegakan Hukum saat ini sudah disebar di lapangan untuk memantau kelompok-kelompok yang diduga akan ikut bergabung dalam aksi dan memicu gangguan keamanan. Menurut dia, jika ditemukan barang-barang yang berpotensi menimbulkan gangguan ketertiban umum, aparat akan mengambil tindakan tegas.
“Ini petugas dari Satgas Gakkum sudah tersebar lebar di lapangan, akan memonitor kelompok-kelompok yang tadi sudah diidentifikasikan. Apabila ditemukan membawa barang-barang yang tujuannya untuk membuat gangguan Kamtibmas, maka kami akan melakukan tindakan tegas,” jelas Budi.
Ia juga menegaskan bahwa aparat akan bertindak tegas terhadap kelompok yang sudah diidentifikasi apabila membawa barang-barang berbahaya dan berpotensi mengganggu ketertiban umum.
“Kami ulangi, apabila kami menemukan kelompok-kelompok tertentu yang sudah teridentifikasi membawa barang-barang yang dapat membahayakan dan mengganggu ketertiban umum, Polda Metro Jaya dengan Satgas Penegakan Hukum akan melakukan tindakan tegas,” kata dia.
Selain mengantisipasi pihak-pihak yang diduga ingin menunggangi aksi, polisi juga mengimbau mahasiswa agar menyampaikan aspirasi secara tertib dan tetap menghormati hak pengguna jalan lain. Budi meminta peserta aksi, termasuk elemen masyarakat lainnya, untuk waspada terhadap pihak-pihak yang berpotensi memprovokasi jalannya demonstrasi.
“Kita mengimbau, mengajak kepada adik-adik mahasiswa untuk menyampaikan aspirasinya dengan baik dan sama-sama menghormati pengguna jalan lainnya,” ucap Budi.
“Juga kami mengingatkan untuk adik-adik mahasiswa ataupun komponen elemen lainnya memperhatikan sekitar kiri-kanan, tidak ada kelompok-kelompok lain yang ikut masuk memprovokasi atau menunggangi aksi-aksi penyampaian pendapat ini yang dilindungi oleh undang-undang,” imbuh dia.
Artikel ini diproduksi atau disusun dengan bantuan teknologi kecerdasan buatan (AI) untuk membantu mencari referensi. Ide tulisan, fakta, data, dan informasi di dalamnya telah melalui proses verifikasi dan penyuntingan redaksi.





















