Dari Gloria Steinem, Aku Belajar: ‘The Personal Is Political’
Ada satu kalimat dalam sejarah feminisme yang selalu terasa relate buatku saat membicarakan pengalaman perempuan: the personal is political. Gloria Steinem bukan penciptanya. Gagasan ini berkembang dari gerakan consciousness-raising pada akhir 1960-an dan dikenal luas lewat tulisan Carol Hanisch pada 1970. Lewat kerja jurnalistik dan aktivismenya, Steinem kemudian ikut membawa cara pandang ini ke khalayak Amerika dan dunia.
Gloria’s Foundation, yayasan yang mewakilinya, mengumumkan kabar tersebut melalui akun Instagram resmi Steinem, @gloriasteinem (2/9). Yayasan menyebut Steinem meninggal dengan tenang, dikelilingi orang-orang terdekat, tanpa mengungkap penyebab kematiannya.
Ia memang sudah jauh lebih jarang tampil di panggung besar, tetapi sampai tahun terakhir hidupnya, Steinem masih aktif menulis, diwawancarai, berdiskusi, dan menerima orang-orang yang datang untuk bertukar gagasan.
Pada Februari 2026, beberapa bulan sebelum meninggal, misalnya, Steinem masih mengadakan gelar griya di rumahnya, kawasan Upper East Side untuk acara climate talking circle. People menggambarkan tubuh Steinem yang sudah lemah, tetapi pikirannya tetap tajam dan menguasai ruangan.
Sebanyak 15 perempuan duduk bersama untuk berbicara, mendengarkan, dan menghubungkan pengalaman personal dengan persoalan politik. Pada April tahun yang sama, Steinem kembali membuka rumahnya untuk diskusi tentang seksualitas dan hasrat bersama 20 perempuan. Percakapan semacam ini merupakan tradisi diskusi yang sudah lama ia bangun di rumahnya.
Kebiasaan itu berlanjut hingga tahun-tahun terakhir hidupnya. Pada Februari 2025, Steinem merekam wawancara untuk serial dokumenter Netflix Famous Last Words, yang baru ditayangkan setelah kematiannya. Ketika disebut sebagai “the face of the feminist movement”, ia justru menolak label tersebut: “I hope I wasn’t the face of the feminist movement. It’s not right. It’s a diverse movement.” Menurutnya, ketenarannya lebih berkaitan dengan endurance lantaran ia bertahan lebih lama dan terus mengerjakan hal yang sama.
Daya tahan dan konsistensi itu pula yang membuat Steinem mudah dikenali sebagai wajah feminisme Amerika. Selama puluhan tahun, media ikut membentuk citra itu lewat rambut pirang panjang, kacamata aviator, celana flared, turtleneck, dan concha belt yang menjadi ciri khasnya. Penampilannya bahkan ikut menjadi bagian dari cara publik membaca sosoknya, sesuatu yang sejak awal kariernya tak pernah lepas dari masalah perempuan dan visibilitas di ruang publik.
Steinem sendiri enggak anti membicarakan soal pakaian. Dalam wawancara dengan Vogue, ia mengatakan, “Fashion in the past meant conforming and losing oneself. Fashion in the present means being unique and finding oneself.” Saat ditanya pakaian yang membuatnya merasa berkuasa, jawabannya justru sederhana: Sepatu bot, celana, sweater atau kaus, dan concha belt.
Steinem sendiri enggak anti membicarakan soal pakaian. Dalam wawancara dengan Vogue, ia mengatakan, “Fashion in the past meant conforming and losing oneself. Fashion in the present means being unique and finding oneself.” Saat ditanya pakaian yang membuatnya merasa berkuasa, jawabannya justru sederhana: Sepatu bot, celana, sweater atau kaus, dan concha belt.
Penampilannya ikut membentuk cara publik mengenali Steinem sebagai feminis. Popularitas memberinya ruang untuk mempopulerkan isu perempuan, tetapi juga membuat Steinem lebih sering tampil sebagai wajah gerakan yang sebenarnya dibangun oleh banyak perempuan dengan pengalaman berbeda. Dari sini muncul kritik soal siapa yang mendapat panggung dan siapa yang ceritanya masih kurang terdengar.
Baca Juga: Apa Kata Feminis Soal Parkir Khusus Perempuan?
Tubuh Perempuan, Pengalaman Personal, dan Politik
Sebelum menjadi ikon feminisme, Steinem adalah jurnalis. Di awal 1960-an, ia menulis tentang alat kontrasepsi dan dilema perempuan yang harus memilih antara karier dan keluarga. Kemudian pada 1963, ia menyamar sebagai Playboy Bunny selama sebelas hari. Hasilnya ia publikasikan dalam laporan bertajuk “A Bunny’s Tale”. Laporan tersebut membongkar aturan ketat ihwal kostum, sepatu hak tinggi, berat badan, dan penampilan pekerja perempuan di klub Playboy. Ia bahkan kehilangan sekitar 10 pon selama bekerja di sana, dan manajernya merespons penurunan berat badan itu dengan membuat kostumnya dua inci lebih ketat.
Steinem merasakan sendiri konsekuensi dari cerita tersebut. Setelah artikelnya terbit, ia kesulitan mendapatkan pekerjaan karena publik sudah telanjur melihatnya sebagai Bunny, alih-alih jurnalis yang sedang undercover demi melaporkan kondisi kerja perempuan. Ia mengalami langsung bagaimana tubuh perempuan dapat menjadi komoditas, memengaruhi kredibilitas, dan bagaimana perempuan bisa dinilai dari tubuhnya bahkan ketika ia sedang bekerja dengan serius.
Pengalaman dengan tubuh sendiri enggak berhenti di liputan Playboy. Pada usia 22 tahun, Steinem menjalani aborsi di London. Bertahun-tahun berselang, ia mengingat pengalaman tersebut sebagai titik penting dalam keterlibatannya dengan gerakan perempuan. Dalam wawancara dengan Observer pada 2011, ia bilang, “Speaking for myself, I knew it was the first time I had taken responsibility for my own life.” Ia melihat keputusan itu bukan semata soal mengakhiri kehamilan, tetapi merebut kembali kendali atas arah hidupnya sendiri.
Pengalaman itulah yang membuat hak reproduksi menjadi isu sentral dalam pekerjaannya. Ketika perempuan tidak bisa menentukan apakah ia akan meneruskan kehamilan, masalahnya enggak bakal berhenti pada keputusan pribadi. Tubuhnya telah masuk ke wilayah hukum, negara, agama, ekonomi, dan politik. Kalimat the personal is political menjadi kian relevan di sini. Bahwa keputusan yang berlangsung di tubuh satu perempuan dapat menunjukkan siapa yang memiliki kuasa atas tubuh tersebut.
Steinem lantas membawa cara pandang itu ke berbagai isu yang menyangkut kehidupan perempuan. Kekerasan dalam rumah tangga, misalnya, tidak berhenti sebagai konflik pasangan ketika hukum, ketergantungan ekonomi, dan norma gender ikut menentukan apakah perempuan bisa meninggalkan relasi tersebut. Begitu pula pelecehan seksual, yang tidak sekadar soal perilaku pelaku ketika posisi dan kuasanya dapat menentukan pekerjaan serta keamanan korban. Bahkan pekerjaan domestik enggak bisa dilepaskan dari urusan upah, waktu, karier, dan ketergantungan ekonomi.
Dalam esai satirnya berjudul “If Men Could Menstruate” (1978), Steinem memakai humor untuk membongkar cara masyarakat memberi nilai berbeda pada tubuh laki-laki dan perempuan. Ia membayangkan dunia ketika laki-laki mengalami menstruasi, lalu menunjukkan bagaimana sesuatu yang selama ini dianggap memalukan bisa saja berubah menjadi sumber kebanggaan, status, bahkan legitimasi politik jika tubuh yang mengalaminya adalah tubuh laki-laki. Tubuhnya sama, tetapi makna sosial yang dilekatkan padanya bisa berbeda jauh.
Cara berpikir itu juga terlihat dalam buku-bukunya. Outrageous Acts and Everyday Rebellions (1983). Buku ini menggabungkan reportase, esai personal, humor, dan kritik sosial, termasuk pengalamannya menyamar sebagai Playboy Bunny. Sementara dalam Revolution from Within: A Book of Self-Esteem (1992), Steinem beralih dari tubuh dan institusi ke persoalan yang lebih intim, yakni bagaimana ketimpangan sosial dapat tertanam di alam bawah sadar perempuan hingga kita belajar meragukan nilai dirinya sendiri.
Revolution from Within sekaligus menjadi salah satu karya Steinem yang paling banyak diperdebatkan. Fokusnya pada self-esteem dikritik karena dianggap terlalu dekat dengan self-help, seolah persoalan perempuan bisa diselesaikan dengan memperbaiki diri. Sementara patriarki, rasisme, dan ketimpangan ekonomi jalan terus. Kritik ini buatku cukup valid karena perempuan yang percaya diri tetap bisa menerima upah lebih rendah karena gender, bisa mengalami kekerasan, atau kehilangan akses terhadap layanan reproduksi.
Namun, bagi Steinem, perubahan dalam diri tetap punya kaitan dengan perubahan sosial. Dalam Revolution from Within, ia menghubungkan self-esteem dengan komunitas dan keadilan sosial. Orang yang terus-menerus diajarkan untuk mengecilkan diri, menurut logika ini, akan lebih sulit mengenali ketidakadilan dan menuntut perubahan. The personal bukan pengganti politik struktural, melainkan salah satu ruang tempat ketimpangan bekerja dan membentuk cara seseorang melihat dirinya sendiri.
Gagasan itu kemudian mendapat bentuk yang berbeda dalam My Life on the Road (2015). Buku ini merekam perjalanan Steinem bertemu aktivis, pekerja, pemimpin komunitas, dan banyak orang yang memengaruhi pemikirannya. Ia lebih banyak menyoroti percakapan dan pertemuan daripada menempatkan dirinya sebagai tokoh utama. Dari sana terlihat cara Steinem bekerja selama puluhan tahun, datang, mendengar, bertanya, lalu membawa cerita personal ke persoalan sosial yang lebih besar.
Buku terbarunya, An Unexpected Life, yang akan terbit secara anumerta pada September 2026, membawa pendekatan tersebut kembali ke pengalaman hidupnya sendiri. Steinem menulis tentang masa kecil di Toledo, hubungannya dengan sang ibu, kemiskinan, perjalanan, hingga akar aktivismenya.
Dalam ulasan “An Unexpected Life by Gloria Steinem review: a fitting tribute to a feminist icon” di The Guardian, Steinem digambarkan menghabiskan terlalu banyak waktu melakukan apa yang diharapkan darinya dan terlalu sedikit melakukan apa yang ia cintai. Pengakuan itu terasa sejalan dengan cara Steinem sepanjang hidupnya membaca hubungan antara pilihan personal dan struktur sosial.
Di luar politik dan jurnalistik, Steinem punya sisi yang jauh dari citra feminis serius dan kaku. Ia menyukai reality TV, termasuk Dance Moms, karena menurutnya acara semacam itu memperlihatkan orang “being who they are and disclosing their own stories”. Ia juga menyukai tap dance dan dikenal punya selera humor yang nyeleneh. Saat ditanya Lenny soal favorite curse word, ia menjawab “Fan-fucking-tastic” dan menyebut musikal Hair sebagai salah satu hal yang membuatnya tertarik menyelipkan umpatan di tengah kata.
Pilihan buku favoritnya juga memberi sedikit gambaran tentang cara Steinem melihat dunia. Di situs resminya, www.gloriasteinem.com, ia menyebut The Color Purple (1982) karya Alice Walker sebagai salah satu buku favoritnya. Ia menyukai novel tersebut karena memperlihatkan kemungkinan manusia berubah di tengah kekejaman dan hierarki, sekaligus membicarakan kolonialisme dengan cara yang tetap dekat dengan pembaca. Pilihan ini juga terasa nyambung dengan cara Steinem menjalani feminisme, yang enggak selalu pas dengan gambaran tentang seperti apa seorang feminis seharusnya tampil.
Di Indonesia, misalnya, ada stereotip soal “penampilan feminis”. Rambut bondol, kacamata, kaos hitam berisi sumpah serapah ke pemerintah, kerap dilekatkan dengan citra tersebut. Sebaliknya, perempuan yang masih memakai baju mahal warna-warni, tampil modis, atau gemar berdandan bisa saja dianggap enggak cukup “feminis”. Steinem pun pernah menghadapi penilaian serupa. Ia bahkan dijuluki “the miniskirted pinup girl of the intelligentsia” karena penampilannya dianggap enggak sejalan dengan citra feminis yang serius.
Baca Juga: Saya Feminis, Saya Menentang Narasi ‘Semua Perempuan Cantik’
Ms. dan Jurnalisme yang Mengubah Apa yang Dianggap Penting
Jika ditanya pengalaman Steinem yang paling aku suka adalah inisiatifnya ikut mendirikan Ms. Magazine pada 1971. Ia duet bersama Dorothy Pitman Hughes setelah bertahun-tahun bekerja di media arus utama. Edisi perdana awalnya hanya dimaksudkan sebagai one-shot yang disisipkan dalam New York Magazine. Namun hasilnya di luar nurul: Edisi tersebut terjual habis dalam delapan hari dan menerima ribuan surat dari pembaca.
Isi edisinya sudah menunjukkan arah politik Ms.. Ada tulisan Johnnie Tillmon, “Welfare Is a Women’s Issue”, tulisan tentang lesbian, serta petisi “We Have Had Abortions”. Mereka tidak menunggu isu perempuan dianggap cukup serius oleh media arus utama. Mereka mengambil isu yang dianggap terlalu domestik, seksual, atau kontroversial lalu mengatakan: Justru inilah berita.
Dalam “At Last, We Know We Are Not Alone: Gloria Steinem on Ms., the Feminist Movement and the Work Still Ahead” diMs. Magazine, Steinem mengenang salah satu respons pembaca terhadap edisi pertama: “At last, I know we are not alone.” Kalimat tersebut menjelaskan fungsi media perempuan dengan sangat baik. Pembaca tidak hanya menemukan informasi, tetapi pengalaman mereka sendiri di halaman media.
Ms. kemudian menulis tentang kekerasan domestik, pelecehan seksual, acquaintance rape, pengasuhan, pekerjaan rumah tangga, upah, hak reproduksi, dan diskriminasi rasial. Persoalan yang sebelumnya mudah dikurung dalam halaman keluarga atau gaya hidup dipindahkan ke wilayah politik. Ketika pengalaman perempuan diberi konteks, pembaca dapat melihat jika sesuatu yang selama ini dianggap “nasib perempuan” sebenarnya punya penyebab sosial dan politik.
Itulah salah satu alasan Ms. relevan bagi Magdalene, tempat saya bekerja sekarang. Sebagai media perempuan, Magdalene pun berangkat dari pertanyaan serupa: Bagaimana pengalaman perempuan tidak sekadar diberitakan sebagai cerita individu, tetapi dibaca bersama struktur gender, kelas, ras, seksualitas, ekonomi, dan kekuasaan yang membentuknya. Ms. bukan cetak biru yang bisa disalin mentah karena lahir dari Amerika 1970-an, tetapi ia menjadi benchmark penting tentang bagaimana media perempuan dapat memperlakukan pengalaman perempuan sebagai isu publik.
Steinem sendiri memahami jika media perempuan tidak boleh berubah menjadi satu suara yang berbicara atas nama semua perempuan. Ia berulang kali menekankan pentingnya mendengar. Dalam wawancara yang kemudian banyak dikutip, ia mengatakan, “The women’s movement shouldn’t be speaking for anyone, it should be amplifying the voices of the women themselves.” Prinsip itu terdengar sederhana, tetapi justru menjadi salah satu tantangan terbesar bagi media perempuan: Memberi mikrofon tanpa menganggap satu pengalaman sebagai pengalaman universal.
Masalahnya, Ms. dan Steinem juga enggak lepas dari politik representasi. Steinem adalah perempuan kulit putih, berpendidikan, punya akses ke media besar, dan punya citra yang mudah dikenali. Media kemudian banyak menempatkannya sebagai wajah feminisme karena ia bisa menjembatani gerakan perempuan dengan media mainstream. Di satu sisi, posisi ini membantu membawa isu feminisme ke khalayak yang lebih luas. Di sisi lain, sosok Steinem yang begitu dominan bisa membuat gerakan yang sebenarnya beragam terlihat seperti diwakili oleh satu perempuan.
Kritik pun muncul dari feminis kulit hitam dan feminis yang menyoroti persoalan kelas. Persoalannya bukan sekadar warna kulit Steinem, tetapi juga soal siapa yang punya akses ke media, siapa yang dianggap kredibel, dan siapa yang akhirnya lebih sering dikenang dalam sejarah. Gerakan perempuan Amerika juga dibangun oleh perempuan kulit hitam, pekerja, lesbian, aktivis akar rumput, dan perempuan miskin. Namun, dalam sejarah populer, sosok seperti Steinem jauh lebih sering muncul sebagai wajah gerakan tersebut.
Steinem sendiri mengakui besarnya pengaruh perempuan kulit hitam terhadap perjalanan feminisnya. “Personally, I learned feminism disproportionately from black women,” katanya. Ia bekerja bersama Florynce Kennedy, Evelyn Cunningham, Shirley Chisholm, Fannie Lou Hamer, dan banyak aktivis lainnya. Bagi Steinem, pengalaman mereka juga menunjukkan jika ras dan gender saling berkaitan karena keduanya bisa digunakan untuk menempatkan manusia dalam hierarki.
Namun, pengakuan itu tidak otomatis menghapus kritik terhadap posisi Steinem. Ia bisa bekerja bersama perempuan kulit hitam dan tetap mendapat keuntungan dari privilese rasial. Ia juga bisa memperjuangkan kesetaraan sambil mendapat ruang lebih besar karena pendidikan, kelas, penampilan, dan akses medianya. Justru di situlah menurutku warisan Steinem menarik dibaca. Bukan sebagai kisah kepahlawanan perempuan, tetapi bagian dari sejarah feminisme yang juga memperlihatkan siapa yang lebih mudah didengar.
Baca Juga: Feminis Radikal dan Gagasan-gagasan tentang Seksualitas Perempuan
Tak Kebal Kritik
Steinem memang membuat kesalahan politik. Pada 1998, ia menulis opini di The New York Times yang membela Bill Clinton ketika presiden tersebut menghadapi tuduhan pelecehan seksual. Ia menulis Clinton tidak bersalah melakukan pelecehan seksual dan menyebut tindakannya sebagai “a gross, dumb, and reckless pass” terhadap seorang pendukung. Hampir dua dekade kemudian, setelah percakapan publik tentang kekerasan seksual berubah, Steinem mengoreksi dirinya: “We have to believe women. I wouldn’t write the same thing now because there’s probably more known about other women now.”
Perubahan tersebut tidak menghapus tulisannya di masa lalu. Namun ia juga penting dicatat sebagai bagian dari sejarah pemikirannya. Steinem bukan figur yang seluruh pandangannya membeku sejak 1960-an. Ia bisa salah, dikritik, lalu mengubah posisi ketika konteks dan pengetahuan berubah.
Ia juga menghadapi kritik terkait pandangannya tentang transgender. Tulisan dan komentarnya pada 1970-an kemudian dibaca sebagai sikap bermusuhan terhadap transgender. Pada 2013, Steinem memperjelas posisinya: “I believe that transgender people, including those who have transitioned, are living out real, authentic lives. Those lives should be celebrated, not questioned.”
Ada pula persoalan yang jauh lebih rumit dan kerap jadi bulan-bulanan ngab-ngab: Hubungannya dengan CIA. Sebelum menjadi figur feminis, Steinem bekerja sebagai direktur Independent Research Service, organisasi yang mendapat pendanaan CIA untuk kegiatan yang berkaitan dengan festival pemuda internasional yang diselenggarakan Uni Soviet. Steinem kemudian mengakui mengetahui siapa yang membiayai organisasi tersebut dan mengatakan, “If I had a choice I would do it again.”
Hubungan itu memang layak dipertanyakan, terutama karena Steinem kemudian menjadi figur penting dalam gerakan politik yang sering dibaca melalui konflik Perang Dingin. Kelompok feminis radikal seperti Redstockings telah mengkritiknya sejak 1970-an, dan dokumen yang tersimpan di CIA Reading Room menunjukkan kontroversi tersebut bukan penemuan baru setelah kematiannya.
Namun, ada perbedaan antara fakta dan kesimpulan yang dibangun dari fakta tersebut. Steinem memang pernah bekerja untuk Independent Research Service, yang mendapat kucuran dana dari CIA, dan ia tahu sumber dana itu. Tetapi fakta tersebut tidak otomatis membuktikan tuduhan jika Steinem adalah “agen CIA” yang sengaja ditugaskan untuk menciptakan feminisme atau mengendalikan gerakan perempuan. Untuk sampai pada kesimpulan itu, tetap dibutuhkan bukti lain.
Menariknya, persoalan soal “wajah feminisme” juga berkaitan dengan kritik terhadap posisi Steinem sendiri. Dalam wawancara terakhirnya, ia menolak anggapan jika dirinya adalah wajah tunggal gerakan tersebut. “It’s a diverse movement,” katanya. Gerakan sebesar feminisme memang membutuhkan figur yang bisa dikenali publik, tetapi satu figur tidak pernah bisa mewakili seluruh pengalaman di dalamnya.
Ia juga menghabiskan sebagian besar hidupnya melakukan hal yang ia minta dilakukan orang lain dalam wawancara terakhirnya, yakni menceritakan pengalaman sendiri. Ia mengambil cerita tentang tubuh perempuan, aborsi, pekerjaan, seksualitas, kekerasan, keluarga, ras, dan kelas, lalu membawanya ke ruang publik. Bagi Steinem, persoalan-persoalan itu penting justru karena kehidupan sehari-hari sering menjadi tempat pertama kekuasaan bekerja.
Warisan Steinem karena itu enggak cukup dilihat dari jumlah organisasi yang ia dirikan atau perempuan yang terinspirasi olehnya. Yang lebih penting adalah perubahan dalam cara kita menentukan pengalaman mana yang layak dibicarakan sebagai persoalan publik. Ketika perempuan bicara soal tubuhnya, ceritanya bisa berkaitan dengan layanan kesehatan, hukum, atau hak reproduksi. Ketika ia enggak bisa meninggalkan pasangan yang melakukan kekerasan, ada persoalan ekonomi dan relasi kuasa di belakang keputusan tersebut.
Warisan Steinem juga relevan untuk jurnalisme perempuan. Dalam sejarah Ms., perempuan enggak hanya ditempatkan sebagai objek liputan, tetapi juga sebagai sumber pengetahuan tentang hidup mereka sendiri. Prinsip ini tetap penting bagi media seperti Magdalene karena perempuan yang kita ceritakan enggak pernah cuma “perempuan”. Mereka punya kelas, ras, agama, pekerjaan, usia, seksualitas, disabilitas, wilayah, dan pengalaman politik yang berbeda.
Itulah kenapa aku enggak ingin mengenang Steinem hanya sebagai feminist icon. Sebutan itu terlalu mudah mengubah perempuan yang kompleks menjadi patung (?). Steinem adalah jurnalis yang berani membawa pengalaman perempuan ke ruang publik, aktivis yang berhasil mempopulerkan isu perempuan, perempuan kulit putih yang juga mendapat privilese dari struktur media, sekaligus seseorang yang bekerja bersama dan belajar dari perempuan yang berbeda darinya.
Ia juga perempuan yang bisa memakai baju favoritnya, menikah untuk pertama kali pada usia 66 tahun, dan tetap menggelar percakapan politik di rumah ketika tubuhnya tak berdaya. Detail-detail itu bukan sekadar aksesori dalam biografinya. Itu semua menunjukkan jika feminisme yang ia perjuangkan juga berkaitan dengan hak perempuan untuk menjalani hidupnya sendiri, tanpa harus memenuhi satu gambaran tentang seperti apa perempuan “seharusnya”.
Pada akhirnya, the personal is political bukan berarti semua pengalaman pribadi otomatis revolusioner. Ungkapan itu adalah cara untuk melihat hubungan antara kehidupan sehari-hari dan kekuasaan. Pertanyaannya bukan cuma “apa yang terjadi padaku?”, tetapi juga “mengapa ini terjadi?”, “siapa yang membuatnya dianggap normal?”, “siapa yang diuntungkan?”, dan “apa yang harus berubah?”
Mungkin itu pula alasan Steinem masih penting dibicarakan setelah kematiannya. Ia membantu membawa pengalaman perempuan ke ruang publik dan menunjukkan hubungan pengalaman tersebut dengan hukum, ekonomi, budaya, institusi, dan relasi kuasa. Ia tidak menciptakan the personal is political, tetapi selama puluhan tahun ikut membuat gagasan itu hidup dalam jurnalisme dan gerakan perempuan. Sebagai seseorang yang bekerja di media perempuan hari ini, warisan tersebut terasa dekat sekaligus mengusik. Ms. menunjukkan bagaimana media bisa mengubah pengalaman perempuan menjadi agenda publik, tetapi sejarah Steinem juga mengingatkan jika media punya kuasa menentukan siapa yang mendapat panggung dan siapa yang tidak.
Karena itu, pesan Steinem yang paling ingin aku bawa pulang justru bukan tentang dirinya. “Please tell your own story,” katanya dalam wawancara terakhirnya. Ceritakan pengalamanmu sendiri, tetapi jangan berhenti di sana. Lihat struktur yang membentuknya, dengarkan pengalaman yang berbeda, dan jangan takut mengkritik orang yang pernah membuka jalan. Buatku, itulah cara paling masuk akal mengenang Steinem, bukan sebagai ikon yang kebal kritik, bukan pula sebagai tokoh yang satu kontroversinya bisa menghapus seluruh perjuangannya, tetapi sebagai jurnalis dan feminis yang membantu kita melihat jika apa yang terjadi dalam hidup perempuan tidak pernah sepenuhnya terpisah dari kekuasaan.