Saya suka lagu keroncong dengan kekayaan instrumennya. Karenanya, joget hampir selalu jadi respons pertama ketika kocokan ukulele atau gitar dan irama kendang masuk ke telinga dengan sopan. Saya juga selalu berharap vokalnya membawa lirik yang sama sopannya ketika menyusul masuk. Jika itu terjadi, setiap gerak tubuh bisa dinikmati tanpa beban.
Sebaliknya, anggukan kepala kecil di bagian intro bisa terasa bersalah jika liriknya justru mengobjektifikasi perempuan. Itu sebabnya saya heran saat melihat video puluhan anggota Himpunan Mahasiswa Tambang Institut Teknologi Bandung (HMT-ITB) berjoget puas di atas lagu berjudul Erika. Sulit dipercaya tidak ada satu pun yang merasa enggak nyaman dengan liriknya.
Setelah video mahasiswa berbatik itu ramai di media sosial, HMT-ITB mengeluarkan pernyataan resmi dan meminta maaf kepada publik karena dinilai “lalai”. Kelalaian yang dimaksud adalah tetap memainkan Erika di tengah “perkembangan norma sosial dan kesusilaan di masyarakat dewasa ini.”
“Kami dengan tegas mengakui bahwa konten dalam penampilan tersebut tidak mencerminkan nilai-nilai yang seharusnya dijunjung oleh lingkungan akademik dan organisasi kemahasiswaan,” sebagaimana tertulis dalam pernyataan resmi di itb.ac.id, (15/4).
Saya tidak mengerti perkembangan norma sosial dan kesusilaan yang dimaksud HMT-ITB. Mereka beralasan lagu ini dibuat pada era 1980-an. Namun, bukankah sangat mudah membaca lirik tentang mahasiswa yang melecehkan janda sebagai sesuatu yang tidak pantas ditampilkan di acara resmi organisasi?
Baca juga: Setelah Banyak Kasus Kekerasan Seksual Viral, Kenapa Kampus Belum Belajar?
Lirik Seksis yang Dirayakan
Setelah menyaksikan para mahasiswa berpesta ria dibalut lagu Erika, saya langsung mencarinya di platform streaming. Sekitar pukul 10.00 WIB, lagu itu masih tersedia di akun OSD HMT-ITB. Pada pukul 15.00 WIB, lagu tersebut sudah hilang. Meski begitu, Erika masih bisa ditemukan di akun lain yang mengunggah ulang.
Lagu ini dibuka dengan instrumen khas keroncong yang menyenangkan. Kendang dan gitar mengikuti tamborin yang mengatur tempo sekaligus meramaikan suasana. Jika saya tidak tahu busuknya lirik, 13 detik intro itu mungkin cukup menggerakkan bahu saya ke kanan dan kiri. Namun, di detik ke-14, cerita seksis dimulai.
“Pengalaman tak terlupa/ waktu aku mahasiswa/ kecantol di Surabaya/ janda muda nama Erika.”
Saya tak paham bagaimana penulis lagu, yang diduga mahasiswa ITB angkatan 1980-an, bisa membingkai pertemuan dengan seorang perempuan dengan cara seburuk itu. Ia menggambarkan tubuh dan gerak perempuan sebagai objek tontonan. Masalahnya jelas bukan sekadar pilihan kata.
Kalimat-kalimat itu hanya puncak gunung es dari pemikiran seksis dan pelanggengan budaya pemerkosaan. Selain diperdengarkan dalam reff, penulis lagu juga dengan bangga mengintip perempuan yang sedang mandi di sungai pada verse kedua.
“Pagi-pagi Erika mandi/ lenggak-lenggok di pinggir kali/ kagetku setengah mati/ lihat barang kayak serabi.”
Baca juga: Yang Kita Tahu Sejauh ini tentang ‘Grup Chat’ Seksis Mahasiswa FH UI
Dalih Norma Sosial dan Cara Kita Bicara Soal Janda
Alasan perkembangan norma sosial dan kesusilaan, bagi saya, tidak masuk akal. Lagu-lagu zaman dahulu memang banyak memuat materi bermasalah. Namun, mahasiswa yang berdendang dalam video itu adalah manusia modern yang seharusnya bisa mengenali persoalan tersebut.
Beberapa tahun lalu saya pernah berdebat dengan ibu karena ia memutar lagu Karmila karya Farid Hardja. Awalnya saya menikmati irama pesta lawasnya, lengkap dengan tempo drum sedang dan alunan gitar rock berdistorsi. Namun, kenikmatan itu berhenti di kalimat terakhir verse pertama.
Vokal dimulai dengan kisah jatuh cinta dan bercumbu dengan seorang perempuan. Menjelang reff, Farid bernyanyi: “Pada saat itu/ kutahu usiamu baru sebelas.” Saya spontan melotot ke arah ibu yang sedang bernyanyi santai. Lagu itu langsung saya ganti dan ibu heran kenapa saya begitu tersinggung.
“Ya Mama coba bayangin aja ada om-om pacaran, cium-ciuman sama anak umur sebelas. Memang enggak serem? kalau itu anak Mama gimana?” ucap saya. Untungnya ibu langsung mengerti. Ia lalu menjelaskan lagu-lagu tak senonoh dulu dianggap “biasa” pada zamannya.
Orang-orang, menurut ibu, dulu belum banyak membicarakan kesetaraan gender dan budaya pemerkosaan. “Mungkin zaman sekarang sudah beda,” katanya.
Karena itu, alasan perkembangan norma sosial mungkin masih bisa dipahami jika datang dari orang yang hidup di masa lalu. Namun, untuk mahasiswa yang tugas dan pergaulannya berputar di internet, saya sulit percaya “perkembangan norma” adalah alasan utama mereka meminta maaf.
Kembali ke lagu Erika, mari bicara sedikit soal janda. Ayah saya meninggal hampir satu dekade lalu. Ibu saya janda hingga hari ini. Kami bukan keluarga yang kaku untuk bercanda soal status janda. Ibu bahkan senang menertawakan dirinya sendiri.
Baca juga: ‘I Cut, You Choose’: Cara Kami Besarkan Anak Lelaki Agar Sadar Kesetaraan Gender dari Rumah
Namun, tawa itu tidak lahir dari kalimat lucu tanpa makna. Kami tertawa setelah melewati kehilangan, kebingungan, dan tangisan di depan peti mati. Ada banyak kisah perih yang harus direlakan sebelum kejandaan bisa ditertawakan.
Saya tak paham mengapa janda begitu mudah dilihat sebagai objek seksual dalam masyarakat patriarki ini. Status itu dijadikan bahan lagu dengan lirik komikal yang mungkin lucu bagi sebagian orang, tetapi terdengar hambar bagi saya.
Mungkin saya memang tidak paham cara menertawakan janda dengan bingkai mesum. Namun, percayalah, saya pernah melihat betapa sulit hidup seorang janda. Dan pemandangan itu tidak se-sexy seperti yang dibayangkan penulis lagu Erika.
Ilustrasi oleh Karina Tungari





















