Ketika pertama kali mengunjungi keluarga suami di Belanda, hal yang paling membekas bagi saya justru bukan cuaca dingin, kanal-kanal yang rapi, atau bunyi bahasa Belanda yang terasa keras di tenggorokan. Yang membuat saya berhenti sejenak justru sesuatu yang sangat domestik: dapur.
Di rumah-rumah yang saya datangi, dapur tidak diletakkan di belakang, tidak disembunyikan, dan tidak dipisahkan dari ruang lain dengan sekat tebal. Dapur menyatu dengan ruang makan atau ruang keluarga, terbuka, terlihat, dan menjadi bagian utuh dari rumah. Jendela-jendela besar membuat ruang terasa lega, terang, dan mengalir.
Pemandangan itu terasa berbeda dengan gambaran dapur yang akrab bagi banyak dari kita di Indonesia. Dalam banyak rumah, terutama yang lebih tradisional, dapur biasanya berada di belakang—jauh dari ruang tamu, jauh dari pandangan, dan seolah menjadi ruang yang memang tidak perlu diperlihatkan. Dapur identik dengan pekerjaan yang kotor, panas, penuh asap, dan karenanya ditempatkan di wilayah yang lebih tersembunyi.
Apalagi di masa lalu, banyak ibu masih menggunakan kayu bakar yang asapnya ke mana-mana. Sementara itu, ide menambahkan cerobong asap atau saluran pembuangan asap di area dapur juga belum lazim karena dianggap mengurangi ciri khas dapur tradisional. Seolah-olah asap memasak dan bau khas dapur memang tidak bisa dipisahkan dari esensinya.
Karena itu, ketika melihat dapur yang terbuka dan menjadi bagian dari ruang bersama, saya bukan sekadar merasa heran pada desainnya. Saya justru mulai memikirkan apa arti letak dapur itu bagi kehidupan sehari-hari di dalam rumah. Siapa yang terlihat ketika bekerja di sana? Siapa yang tetap bisa terlibat dalam percakapan? Dan siapa yang, sebaliknya, hilang dari ruang sosial rumah karena harus berada “di belakang”?
Baca juga: Lumbung Pangan untuk Negara, Piring Kosong untuk Mama Papua
Sekat rumah, sekat percakapan
Yang saya tangkap dari perbedaan bentuk dapur bukan semata soal estetika, melainkan soal alur komunikasi dan visibilitas. Ketika dapur terbuka menyatu dengan ruang lain, orang yang sedang memasak tidak otomatis terpisah dari percakapan keluarga. Ia masih bisa mendengar obrolan, ikut menanggapi, bahkan tetap hadir ketika tamu datang. Dapur tidak lagi sepenuhnya menjadi wilayah sunyi yang memisahkan kerja domestik dari interaksi sosial.
Sebaliknya, ketika dapur diletakkan jauh di belakang dan tertutup dari ruang utama, orang yang bekerja di sana mudah terisolasi. Dalam banyak rumah, peran itu paling sering diisi perempuan. Saat tamu datang, misalnya, perempuan kerap harus bolak-balik ke belakang untuk menyiapkan minuman atau makanan, sementara percakapan utama berlangsung di depan. Kehadirannya menjadi terputus-putus. Ia tetap bekerja untuk menopang situasi sosial, tetapi belum tentu ikut sepenuhnya di dalamnya.
Dapur dan fungsinya memang bisa berlaku seperti pedang bermata dua. Di satu sisi, dapur bisa menjadi ruang bagi perempuan untuk berkreasi, membuat berbagai olahan, berkontemplasi, meluangkan waktu untuk diri sendiri, bahkan merasakan bentuk kebebasan kecil sebagai individu. Namun di sisi lain, dapur juga sering terasa sebagai ruang isolasi: tertutup, terpencil, dan terbuang. Berada di dapur belakang, bergelut dengan panas, sesak, dan keterpisahan, seolah menempatkan perempuan di balik tembok pembatas antara ruang produktif—apa yang terjadi di luar—dan ruang reproduktif atau domestik.
Di zaman modern seperti sekarang, terutama di kota-kota besar, konsep open plan kitchen atau semi outdoor kitchen memang sudah banyak diterapkan dalam berbagai desain rumah. Namun, pemilihan desain dapur terbuka sering kali bukan lahir dari kesadaran untuk mendorong emansipasi perempuan atau membuka dialog keluarga demi kesetaraan gender. Tidak selalu. Sering kali konsep itu dipilih karena alasan efisiensi dan estetika. Karena itu, yang kita lihat dalam kehidupan sehari-hari bisa jadi baru sebatas simbol. Secara fisik, sekat pembatas dapur memang sudah ditumbangkan. Tetapi secara psikis, dialog kesetaraan belum tentu ikut terbuka.
Baca juga: Buka Puasa di Luar: Tanda-tanda Beban Domestik Mulai Dibagi
Di sinilah pentingnya sinkronisasi antara simbol dan praktik dalam kehidupan sehari-hari. Sebuah konsep dapur tidak hanya punya makna tersurat, tetapi juga makna tersirat. Menghilangkan sekat secara fisik baru separuh dari pekerjaan. Selebihnya adalah bagaimana kita memanfaatkan keterbukaan itu untuk membangun dialog dan membuka percakapan dengan anggota keluarga.
Dapur adalah salah satu sumber utama bagi perempuan dalam mendemonstrasikan kasih sayang lewat berbagai masakan yang diolah. Perempuan, ibu, dan dapur adalah bagian penting dari kehangatan rumah. Tetapi ketika perempuan tidak lagi merasa terisolasi dan justru menjadi bagian penuh dari demokrasi dalam keluarga, maka yang dihasilkan bukan hanya hidangan yang nikmat, melainkan juga suasana rumah yang lebih sehat. Kenikmatan yang tersaji tidak lahir dari tekanan emosi, melainkan dari imajinasi, partisipasi, dan pemberdayaan diri.
Tulisan ini bagian dari serial Hari Kartini yang mengangkat tema pentingnya lingkungan yang memungkinkan perempuan bertumbuh. Baca tulisan lainnya di sini untuk melihat beragam perspektif kontributor.





















