Jadi Tuli, Kenapa Urusan Aksesibilitas dan Bahasa Tak Pernah Selesai?
Di ruang rapat, juru bahasa isyarat (JBI) hampir selalu ada. Saya salah satu pendiri startup sosial yang bekerja di bidang aksesibilitas dan pemberdayaan komunitas Tuli di Indonesia. Tim kami terdiri dari Tuli dan dengar, sehingga aksesibilitas bukan sesuatu yang baru dibicarakan ketika seorang Tuli masuk ke ruangan. Dalam rapat internal, pertemuan dengan klien, agenda kantor, sampai ketika saya menjadi pembicara, JBI disiapkan untuk memastikan saya dapat mengikuti percakapan.
Namun, ada sesuatu yang sering tidak terlihat ketika orang melihat saya mengikuti rapat.
Ketika seseorang berbicara, mata saya tidak hanya mengikuti JBI. Tanpa sadar, saya juga memerhatikan gerak bibir pembicara. Kadang saya menangkap satu kata, kadang beberapa frasa yang familier. Ada kalanya saya dapat menebak kalimat berikutnya karena saya sudah mengenal kata-kata tersebut jauh sebelum menjadi Tuli sepenuhnya. Namun ketika ada bagian yang tidak tertangkap, saya harus menghubungkannya dengan informasi dari JBI, gerak bibir, ekspresi, konteks pembicaraan, dan pengetahuan Bahasa Indonesia yang sudah tersimpan dalam ingatan saya.
Masalahnya, percakapan tidak menunggu saya selesai menyusun semuanya.
Ketika saya masih mencoba memahami satu bagian, pembicara sudah melanjutkan ke kalimat berikutnya. Jika ada informasi yang terlewat, saya harus memilih: Mengejarnya atau membiarkannya lewat agar tidak kehilangan informasi berikutnya. Kadang saya berhasil menyusun kembali konteksnya. Kadang tidak. Ada bagian percakapan yang baru saya pahami beberapa menit kemudian, bahkan setelah rapat selesai, ketika potongan-potongan informasi yang sebelumnya terpisah akhirnya menemukan hubungannya.
Rasanya seperti menyusun puzzle yang kepingannya terus ditambahkan ketika saya belum selesai menyusun gambar sebelumnya.
Dari luar, saya terlihat baik-baik saja. Saya duduk di ruang rapat, memperhatikan JBI, melihat pembicara, mencatat, lalu ikut memberikan pendapat. Tidak ada tanda yang mudah dibaca jika saya sedang mengeluarkan energi tambahan untuk memahami percakapan. Rasa lelah itu biasanya baru terasa setelah semuanya selesai. Konsentrasi saya menurun, kepala terasa penuh, dan saya membutuhkan waktu untuk berada dalam keadaan yang lebih tenang.
Pengalaman tersebut membuat saya mempertanyakan sesuatu yang selama ini jarang saya bicarakan: bagaimana mungkin saya tetap mengalami kelelahan komunikasi ketika aksesibilitas sebenarnya sudah tersedia?
Jawabannya membawa saya kembali kepada bahasa.
Baca Juga: Laki-laki Tuli dan Beban Harus Tegas
Saya Menjadi Tuli, Bukan Berarti Saya Berganti Bahasa
Saya menjadi Tuli pada 2016. Saat itu saya belum menguasai Bahasa Isyarat Indonesia (BISINDO) dan belum memiliki pengalaman hidup sebagai bagian dari komunitas Tuli. Sebelum menjadi Tuli sepenuhnya, Bahasa Indonesia sudah menjadi bahasa pertama saya. Saya menggunakannya untuk berbicara, membaca, menulis, belajar, bekerja, dan memahami lingkungan sekitar. Bahasa Indonesia tidak datang setelah saya menjadi Tuli. Bahasa itu sudah membentuk saya jauh sebelumnya.
Karena itu, ketika pendengaran saya berubah, saya tidak merasa sedang kehilangan bahasa. Yang berubah adalah cara saya mengaksesnya.
Tahun 2018 menjadi masa transisi penting ketika saya mulai lebih dekat dengan komunitas Tuli dan mengenal BISINDO. Saya belajar menggunakannya dan menemukan pengalaman komunikasi yang selama ini belum saya kenal. Saya mulai memahami komunikasi dapat berlangsung sepenuhnya secara visual dan tidak harus menjadikan suara sebagai pusat interaksi. BISINDO kemudian menjadi bagian penting dalam kehidupan saya, tetapi keberadaannya tidak menggantikan Bahasa Indonesia sebagai bahasa pertama saya.
Bagi saya, kedua bahasa itu tidak pernah harus dipertentangkan. Saya dapat menggunakan BISINDO ketika berkomunikasi dengan komunitas Tuli, tetapi ketika membaca tulisan panjang, memahami dokumen, atau mengolah informasi secara tertulis, Bahasa Indonesia tetap menjadi bahasa yang mendominasi dalam literasi saya. Dalam situasi tertentu, saya juga masih menggunakan Bahasa Indonesia secara lisan. Ketika seseorang berbicara, saya kadang secara spontan memperhatikan gerak bibirnya, terutama jika kata atau frasa yang diucapkan sudah familier bagi saya.
Kebiasaan tersebut bukan sesuatu yang saya pilih untuk mempertahankan kehidupan sebelum menjadi Tuli. Ia terbentuk dari pengalaman bertahun-tahun ketika pendengaran dan bahasa masih bekerja dengan cara yang berbeda. Setelah menjadi Tuli, kebiasaan itu tidak serta-merta hilang. Saya tidak selalu mengandalkannya, tetapi mata saya masih mencarinya ketika seseorang berbicara.
Di sinilah pengalaman saya menjadi rumit. Bahasa yang saya kuasai tetap sama, tetapi jalur untuk mengakses bahasa tersebut berubah. Sebelum menjadi Tuli, saya dapat menerima Bahasa Indonesia melalui suara dan mengolahnya menjadi pemahaman. Setelah menjadi Tuli, dalam situasi tertentu saya harus mengakses informasi melalui JBI, gerak bibir, konteks visual, memori terhadap kata dan frasa, serta literasi Bahasa Indonesia yang telah terbentuk sebelumnya.
Bahasa itu tidak hilang. Tetapi jalan menuju bahasa itu menjadi berbeda.
Perubahan tersebut juga membuat saya melihat kembali pengalaman saya di komunitas Tuli. Saya pernah berada dalam situasi ketika kemampuan saya menggunakan Bahasa Indonesia secara lisan membuat identitas Tuli saya dipertanyakan. Saya pernah berhadapan dengan anggapan seorang Tuli yang benar-benar Tuli seharusnya menggunakan BISINDO, bersekolah di SLB, atau tumbuh dalam lingkungan komunitas Tuli sejak kecil.
Saya tidak ingin menjadikan pengalaman itu sebagai tuduhan kepada seluruh komunitas Tuli. Komunitas Tuli sendiri sangat beragam, dan saya memahami mengapa bahasa menjadi persoalan yang sangat penting di dalamnya. BISINDO memiliki sejarah dan posisi penting sebagai bahasa yang tumbuh dalam komunitas Tuli Indonesia, sementara orang Tuli selama bertahun-tahun menghadapi tekanan untuk mengikuti standar komunikasi masyarakat dengar. Mempertahankan BISINDO dan identitas Tuli karena itu merupakan bagian penting dari perjuangan melawan dominasi tersebut.
Namun, perjuangan melawan standar masyarakat dengar tidak perlu melahirkan standar baru yang membuat sejarah bahasa seorang Tuli harus seragam.
Paddy Ladd, dalam Understanding Deaf Culture: In Search of Deafhood (2003), memandang Deafhood sebagai proses memahami keberadaan Tuli melalui pengalaman budaya, bahasa, komunitas, dan identitas. Bagi saya, gagasan tersebut penting justru karena membuka kemungkinan perjalanan menjadi Tuli tidak memiliki satu pintu masuk. Ada orang yang mengenal BISINDO sejak kecil, ada yang menemukannya ketika dewasa, ada yang tumbuh dengan komunikasi lisan, dan ada yang menggunakan beberapa cara komunikasi sekaligus.
Saya berada di salah satu ruang tersebut. Saya Tuli yang membawa Bahasa Indonesia sejak sebelum menjadi Tuli “seutuhnya”, kemudian mengenal BISINDO setelah memasuki komunitas Tuli, dan masih memiliki kebiasaan membaca gerak bibir ketika berhadapan dengan orang yang berbicara. Tidak satu pun dari pengalaman tersebut perlu dihapus untuk membuktikan identitas saya.
Justru sejarah bahasa itulah yang membantu menjelaskan mengapa saya dapat mengalami kelelahan dalam komunikasi dengan cara tertentu.
Baca Juga: Justina Miles di Super Bowl: Bukan Penerjemah Bahasa Isyarat tapi ‘Performer’ Tuli
Ketika Bahasa Tetap Ada, tetapi Jalur Auditori Berubah
Saya mulai memahami pengalaman tersebut ketika menemukan pembahasan mengenai auditory fatigue. Lindsay Zombek dan Donna L. Sorkin dalam “Tired of Being Tired: Managing Auditory Fatigue” yang diterbitkan di The Hearing Journal (2023) menjelaskan auditory fatigue dapat muncul sebagai kesulitan mempertahankan perhatian, meningkatnya kesulitan memahami percakapan, rasa lelah setelah aktivitas mendengarkan, serta kesulitan berkonsentrasi ketika percakapan berlangsung lebih lama. Mereka juga menjelaskan pengalaman tersebut dapat terjadi pada orang Tuli maupun hard of hearing (HoH).
Istilah itu membantu saya memberi nama pada sebagian pengalaman yang selama ini sulit saya jelaskan. Namun, pengalaman saya tidak persis sama dengan orang yang masih mendengar tetapi harus berusaha lebih keras dalam lingkungan bising. Setelah menjadi Tuli, akses auditori saya sudah sangat berbeda. Saya tidak menerima Bahasa Indonesia melalui pendengaran seperti sebelumnya. Saya justru mengandalkan jalur visual dan pengetahuan bahasa yang sudah saya miliki untuk membangun kembali makna dari informasi yang masuk.
Karena itu, ketika saya berbicara tentang auditory fatigue, saya tidak sedang mengatakan saya masih mendengar sebagaimana sebelum menjadi Tuli. Yang saya soroti adalah beban yang muncul ketika proses memahami bahasa tetap membutuhkan upaya besar setelah akses auditori terhadap bahasa tersebut berubah secara drastis.
Bahasa Indonesia sudah tersimpan dalam memori saya. Saya mengenali kosakata, struktur kalimat, konteks, dan pola komunikasi yang sudah saya gunakan selama bertahun-tahun. Ketika seseorang berbicara, pengetahuan itu tetap bekerja. Saya dapat mengenali sebuah gerakan bibir yang familier, menghubungkannya dengan konteks, lalu mencocokkannya dengan informasi yang saya dapatkan melalui JBI. Jika salah satu potongan tidak tersedia, saya mencoba mengisinya berdasarkan informasi yang ada.
Proses tersebut dapat berlangsung cepat. Justru karena cepat, ia sering tidak terlihat sebagai pekerjaan.
Ketika rapat berlangsung satu atau dua jam, pekerjaan kecil itu dapat terjadi berkali-kali. Saya mempertahankan perhatian, memindahkan fokus visual, mencari konteks, mencocokkan kata, menyimpan bagian yang belum dipahami, lalu kembali mengikuti pembicaraan. Ketika seseorang berbicara lebih cepat atau beberapa orang berbicara hampir bersamaan, tuntutannya dapat meningkat.
JBI tetap membantu. Tanpa JBI, situasinya mungkin jauh lebih sulit. Tetapi keberadaan JBI tidak membuat seluruh proses pengolahan informasi menjadi otomatis.
Inilah perbedaan antara akses terhadap informasi dan energi yang diperlukan untuk mengakses informasi.
Sebuah informasi dapat tersedia bagi saya dan tetap menuntut konsentrasi yang besar. Saya dapat memahami sebuah rapat dan tetap merasa lelah setelahnya. Saya dapat berpartisipasi secara penuh dan tetap membutuhkan waktu untuk memulihkan konsentrasi. Tidak ada kontradiksi di antara keduanya.
Karena itu, saya tidak melihat auditory fatigue sebagai alasan untuk mempertanyakan efektivitas BISINDO atau JBI. Sebaliknya, konsep tersebut membantu membuka percakapan yang lebih luas tentang apa yang terjadi setelah akses disediakan. Jika informasi sudah tersedia, bagaimana tubuh Tuli memprosesnya? Berapa banyak perhatian yang diperlukan? Apakah semua informasi diterima dengan cara yang sama? Dan apa yang terjadi setelah komunikasi selesai?
Pertanyaan itu penting karena kelelahan tidak selalu tampak sebagai kegagalan.
Tuli yang kelelahan mungkin tetap menyelesaikan pekerjaannya. Ia mungkin tetap berbicara dalam rapat, mengirim laporan, bertemu klien, atau memberikan presentasi. Dari luar, produktivitasnya tidak berkurang. Yang tidak terlihat adalah energi yang harus dikeluarkan untuk mencapai hasil tersebut.
Di tempat kerja, kondisi semacam ini mudah disalahpahami. Ketika seorang Tuli mampu berkomunikasi secara lisan, membaca gerak bibir, menggunakan teks, atau mengikuti rapat dengan JBI, orang lain dapat mengira kebutuhan komunikasinya sudah sederhana. Padahal, kemampuan menggunakan berbagai cara komunikasi tidak selalu berarti prosesnya ringan. Kemampuan beradaptasi tidak seharusnya dijadikan alasan untuk mengurangi akses.
Aksesibilitas Bukan Sekadar “Ada atau Tidak Ada”
Pengalaman tersebut membuat saya melihat aksesibilitas dengan ukuran yang sedikit berbeda. Selama ini, kita sering bertanya apakah JBI sudah tersedia, apakah takarir sudah ada, atau apakah materi sudah diberikan dalam bentuk yang dapat diakses. Pertanyaan-pertanyaan tersebut penting dan harus tetap dipenuhi. Tetapi setelah itu, kita perlu bertanya apa yang terjadi pada orang Tuli ketika ia menggunakan akses tersebut.
Di tempat kerja, misalnya, memberikan materi rapat sebelum pertemuan dapat membantu seseorang memahami konteks tanpa harus memproses seluruh informasi untuk pertama kalinya ketika rapat berlangsung. Percakapan yang tidak saling tumpang tindih, tempo berbicara yang wajar, jeda setelah informasi penting, serta catatan tertulis juga dapat membantu mengurangi beban konsentrasi. Hal-hal seperti ini mungkin tampak sederhana, tetapi bagi seseorang yang harus mempertahankan perhatian visual sepanjang rapat, perbedaannya dapat terasa besar.
Saya juga memiliki tanggung jawab untuk mengenali batas diri. Saya perlu meminta pengulangan ketika informasi terlewat, meminta materi tertulis ketika diperlukan, mengatakan jika percakapan bergerak terlalu cepat, dan mengambil jeda ketika konsentrasi mulai menurun. Namun, aksesibilitas tidak seharusnya bergantung sepenuhnya pada kemampuan orang Tuli untuk terus-menerus menjelaskan kebutuhannya.
Lingkungan kerja juga perlu memahami akses bukan hanya sebuah fasilitas. Akses adalah pengalaman.
Hal yang sama berlaku ketika kita membicarakan identitas Tuli. Pengalaman saya menunjukkan keberagaman cara berkomunikasi tidak seharusnya digunakan untuk menentukan siapa yang lebih atau kurang autentik sebagai Tuli. Saya tidak menjadi kurang Tuli karena Bahasa Indonesia merupakan bahasa pertama saya. Saya juga tidak menjadi lebih Tuli hanya karena kemudian belajar BISINDO. Kedua bahasa tersebut berada dalam sejarah hidup saya dengan fungsi dan pengalaman yang berbeda.
BISINDO tidak perlu dikurangi nilainya agar Bahasa Indonesia saya dapat diakui. Bahasa Indonesia juga tidak perlu ditempatkan sebagai standar agar pengalaman saya sebagai Tuli dianggap sah.
Posisi seperti ini penting karena narasi tentang Tuli terlalu sering diletakkan dalam pilihan yang berlawanan: bahasa lisan atau bahasa isyarat, masyarakat dengar atau komunitas Tuli, teknologi atau budaya, kehilangan atau penerimaan. Padahal, kehidupan nyata jauh lebih beragam daripada kategori-kategori tersebut. Seseorang dapat menjadi bagian dari komunitas Tuli sambil tetap membawa sejarah komunikasi dari masa sebelum menjadi Tuli. Ia dapat menggunakan BISINDO sekaligus Bahasa Indonesia. Ia dapat membutuhkan JBI sekaligus secara spontan memperhatikan gerak bibir.
Tidak ada kontradiksi dalam hal itu.
Yang perlu kita pertanyakan justru mengapa seseorang harus memilih satu bagian dari sejarah hidupnya agar identitasnya dianggap sah.
Hampir satu dekade setelah menjadi Tuli, saya akhirnya memahami rasa lelah setelah rapat bukan sekadar persoalan saya kurang beristirahat atau belum menemukan cara komunikasi yang tepat. Ada pekerjaan kognitif yang berlangsung setiap kali saya berusaha memahami percakapan melalui jalur yang berbeda dari masa sebelum saya menjadi Tuli. Bahasa Indonesia tetap ada dalam diri saya, tetapi jalur auditori yang dulu membantu saya mengaksesnya sudah berubah. Saya kemudian mengandalkan penglihatan, memori, konteks, BISINDO, JBI, dan berbagai strategi lain untuk memastikan bahasa itu tetap dapat saya pahami.
Mungkin karena itu, ketika sebuah ruang mengatakan dirinya sudah aksesibel, saya tidak lagi hanya ingin tahu apakah JBI tersedia.
Saya ingin tahu berapa banyak energi yang harus dikeluarkan orang Tuli untuk benar-benar memahami apa yang terjadi di dalam ruang tersebut.
Sebab aksesibilitas yang baik bukan hanya membuat seseorang dapat mengikuti percakapan. Aksesibilitas yang baik juga memberi kesempatan bagi tubuh Tuli untuk keluar dari percakapan itu tanpa merasa telah menghabiskan seluruh tenaganya hanya untuk memahami bahasa yang sebenarnya sudah ia kenal.




















