Sebagai orang tua, saya ikut merasakan marah, sedih, dan hancurnya kepercayaan ketika mendengar kasus kekerasan balita di tempat penitipan anak Little Aresha di Yogyakarta. Sulit membayangkan trauma yang harus ditanggung anak-anak, juga rasa bersalah yang kini mungkin menghantui para orang tua mereka.
Di tengah kemarahan publik, ada satu hal yang terus mengusik saya, yakni pengakuan beberapa orang tua korban yang menyalahkan diri sendiri. Mereka merasa terlalu percaya pada pengelola dan pengasuh yang berbicara lembut, bersikap sopan, dan terlihat penuh perhatian. Mereka mengabaikan tanda-tanda awal, laporan perkembangan anak yang tak sesuai kenyataan, luka-luka kecil di tubuh anak, hingga fakta bahwa lembaga tersebut ternyata belum berizin.
Baca juga: Kasus ‘Daycare’ Jogja: Jangan Salahkan Ibu, Marah dan Tagihlah pada Negara
Mudah sekali menghakimi dari luar. Namun jika saya berada di posisi mereka, besar kemungkinan saya pun akan bertanya hal yang sama: kenapa saya lebih mempercayai orang lain daripada naluri saya sendiri?
Sayangnya, jebakan seperti ini bukan hal langka. Kita semua pernah mengalaminya. Membeli barang karena penjualnya ramah, memilih jasa karena pemiliknya terasa meyakinkan, atau memberikan kepercayaan karena seseorang pandai menciptakan rasa nyaman.
Kesopanan memang memudahkan interaksi karena ia adalah pelumas sosial. Tetapi justru karena itulah, ia juga bisa melumpuhkan kewaspadaan kita.
Ketika perasaan nyaman mengambil alih, nalar sering kali melambat. Pertanyaan-pertanyaan penting tertunda. Verifikasi dianggap tidak perlu. Kita merasa sungkan untuk terlihat curiga, apalagi di budaya seperti Indonesia, di mana menjaga harmoni dan perasaan orang lain sering dianggap sama pentingnya dengan menyelesaikan urusan itu sendiri.
Dalam masyarakat yang sangat menjunjung relasi interpersonal, keramahan kerap dibaca sebagai tanda dapat dipercaya. Padahal, kesopanan dan kompetensi adalah dua hal yang sama sekali berbeda. Yang satu menyangkut cara seseorang berinteraksi; yang lain menyangkut kemampuan dan integritasnya. Masalah muncul ketika kita mencampuradukkan keduanya.
Tidak mengherankan jika banyak bisnis memahami betul kekuatan ini. Mereka tahu bahwa rasa hangat bisa menjadi alat pemasaran yang sangat efektif. Dan sebagian orang, seperti yang diduga terjadi dalam kasus Little Aresha, memanfaatkannya dengan cara yang paling keji.
Baca juga: Bagaimana Jika Tak Ada Surga di Telapak Kakiku?
Saat rasa nyaman tidak cukup
Pelajaran penting dari tragedi ini bukanlah agar kita menjadi sinis terhadap semua orang. Dunia sudah cukup melelahkan tanpa harus mencurigai setiap senyum. Namun, ada perbedaan besar antara percaya dan menyerahkan penilaian sepenuhnya.
Untuk urusan yang menyangkut keselamatan, kesehatan, dan masa depan—terutama anak—rasa nyaman saja tidak pernah cukup.
Salah satu langkah konkret yang bisa kita ambil adalah menetapkan apa yang disebut sebagai non-negotiable areas atau daftar hal-hal yang harus kita verifikasi sendiri dalam kondisi apapun, tidak peduli seberapa meyakinkan kesan pertama yang kita dapatkan. Area-area penting seperti pendidikan, kesehatan, dan keselamatan anak selayaknya masuk dalam daftar ini.
Kita bisa memulainya dari, misalnya, saat naik kendaraan umum, pastikan tali pengaman atau pelampung tersedia dan digunakan. Saat anak ikut kendaraan orang lain, tidak ada salahnya mengingatkan soal keselamatan berkendara meski pengemudinya terlihat berpengalaman. Di ranah pendidikan, kita berhak tahu apa yang seharusnya dipenuhi pihak sekolah, dan tidak perlu sungkan menuntut itu. Di rumah sakit, kita punya hak untuk bertanya, meminta penjelasan ulang, atau mengajukan keberatan, karena itu menyangkut nyawa.
Hal-hal ini terdengar sederhana, tapi dalam praktiknya tidak mudah. Bertanya bisa dianggap tidak percaya. Meminta klarifikasi bisa dianggap cerewet. Menuntut hak bisa terasa lancang. Di sinilah kita perlu melatih apa yang disebut sebagai kemampuan self-advocacy, atau mengadvokasi diri, baik sebagai individu maupun sebagai orang tua. Akan ada ketidaknyamanan, terutama di awal. Tapi ini adalah keterampilan yang bisa dipelajari, dan yang lebih penting, bisa kita tunjukkan kepada anak-anak kita melalui contoh nyata sehari-hari.
Tidak ada kata terlambat untuk mulai. Ketika kita sudah bisa mempraktikkan ini dari dalam rumah, kita sedang mewariskan sesuatu yang jauh lebih berharga dari sekadar rasa sungkan yang terjaga. Kita sedang mengajarkan anak-anak kita untuk berani bersuara ketika ada yang tidak beres, dan untuk tidak diam hanya demi menjaga perasaan orang lain.
Baca juga: Bisnis ‘Daycare’ Menjamur, Perempuan Masih Sulit Akses ‘Daycare’ yang Layak?
Tragedi Little Aresha menyedihkan dengan banyak cara. Tapi di antara semua itu, ada pengingat yang keras: anak-anak kita belum bisa melindungi diri mereka sendiri. Tanggung jawab itu ada di pundak kita. Dan melindungi mereka kadang berarti kita harus tetap mengajukan pertanyaan—meski suasananya terasa nyaman, meski pihak di depan kita terlihat sangat meyakinkan.
Kesopanan adalah nilai yang indah. Ia membuat hidup bersama menjadi lebih manusiawi. Tetapi kesopanan bukan bukti kompetensi, apalagi jaminan keamanan.
Untuk hal-hal yang benar-benar penting, kita tidak membutuhkan orang yang sekadar membuat kita nyaman. Kita membutuhkan orang yang memang layak dipercaya. Dan seperti pepatah mengatakan, “In God we trust, all others we audit.” Kepercayaan itu penting, tetapi verifikasi tetap tidak boleh ditinggalkan.





















