13/06/2026
Issues Politics & Society

Kecelakaan KRL dari ‘POV’ 3 Anker Perempuan: Pulang adalah Sebuah Pertaruhan

Insiden yang menewaskan 15 perempuan di gerbong khusus KRL Bekasi Timur mengingatkan satu hal. Bagi perempuan pekerja, perjalanan pulang kerap jadi pertaruhan keselamatan.

Kecelakaan KRL dari ‘POV’ 3 Anker Perempuan: Pulang adalah Sebuah Pertaruhan

Foto: Wikimedia Commons

Setiap sore di Jakarta, ribuan orang bergerak dengan pola yang nyaris sama. Mereka turun tangga stasiun dengan langkah cepat, menatap gawai masing-masing, merapatkan tas punggung ke dada, lalu mempercepat jalan saat suara kereta terdengar mendekat. Begitu pintu terbuka, tubuh-tubuh lelah itu kembali saling mendorong dan berdesakan demi satu tujuan sederhana: Pulang.

Namun bagi banyak perempuan pekerja, perjalanan pulang tak pernah sesederhana itu. Ada badan yang sudah remuk setelah bekerja seharian, ongkos yang harus dihitung ketat, anak yang menunggu di rumah, pekerjaan domestik yang belum selesai, dan rasa waswas yang ikut menumpang bersama mereka saban harinya.

Pada (27/4) malam, rutinitas itu berubah menjadi kabar duka. Di Stasiun Bekasi Timur, KAJJ Argo Bromo Anggrek menabrak rangkaian KRL Commuter Line lintas Cikarang. CNN Indonesia melaporkan lebih dari 80 orang luka-luka dan 15 orang meninggal dunia. Seluruh korban tewas merupakan perempuan yang berada di gerbong khusus perempuan paling belakang.

Peristiwa itu terasa dekat karena perempuan adalah bagian penting dari pengguna KRL. KAI Commuter mencatat total pelanggan KRL Jabodetabek sepanjang 2025 mencapai 349.111.451 perjalanan. Sementara itu, data ketenagakerjaan yang dikutip CNBC Indonesia pada Februari 2026 menunjukkan pekerja komuter perempuan mencapai 28,18 persen dari total pekerja komuter.

Sebelumnya, pada 2018, PT KCI juga menyebut komposisi penumpang KRL sekitar 35 persen perempuan dan 65 persen laki-laki, seperti dikutip detikNews. Meski ada penurunan jumlah komuter perempuan, tapi angka-angka ini menunjukkan, setiap hari ada ratusan ribu perempuan yang menggantungkan pekerjaan dan perjalanan pulang mereka pada KRL.

Di antara mereka, ada Ayu, Della, dan Hani. Tiga pekerja di Magdalene yang hidupnya juga bertumpu pada jadwal kereta. Bagi mereka, kecelakaan Bekasi Timur bukan sekadar berita jauh. Itu bisa saja terjadi pada siapa pun yang berdiri di gerbong saat jam pulang kantor, termasuk mungkin mereka sendiri.

Baca juga: Tragedi di Stasiun Bekasi Timur: Semua Korban Perempuan, Gerbong Khusus Perempuan Kembali Dipertanyakan

POV Ayu: KRL adalah Jalan Ninja Penghematan buat Kelas Pekerja

Aku tinggal di Depok dan bekerja sebagai Redaktur Pelaksana Magdalene. Aku juga mengajar di sebuah kampus swasta. Rumahku berjarak sekitar 36 kilometer dari kantor media di Palmerah.

Dulu, saat kantor masih berlokasi di Rasuna Said, Jakarta Selatan, aku lebih sering menyetir sendiri menggunakan mobil pribadi. Namun setelah kantor pindah, aku beralih ke moda transportasi umum. Alasannya sederhana: Lebih efisien, jadwalnya pasti, dan biayanya lebih masuk akal.

Sebagai warga kota penyangga, moda yang paling realistis menjangkau kantorku memang KRL. Aku biasanya mengambil rute Jakarta Kota, turun di Gondangdia, lalu menyambung ojek online.

Biaya KRL pulang-pergi sekitar Rp10 ribu. Ojek online sekitar Rp40 ribu. Parkir motor di Stasiun Depok seharian Rp7 ribu. Total sekitar Rp57 ribu sehari. Buat keluarga kelas pekerja dengan satu anak dan cicilan, angka itu tetap harus dihitung serius agar tak mengganggu neraca keuangan rumah tangga.

Selain soal biaya, ada alasan lain kenapa aku memilih KRL. Jalanan Jakarta belum selalu nyaman bagi perempuan yang menyetir sendiri. Saat dulu harus berkendara jauh untuk bekerja, ada mental load yang menumpuk bahkan sebelum pekerjaan pagiku dimulai.

Foto: Dokumentasi pribadi Ayu

POV Della: Dari Karawang, Hidupku Mengikuti Jam Kereta

Aku tinggal di Karawang dan bekerja sebagai Graphic Designer Magdalene. Sejak 2023, hidupku seperti diatur jadwal kereta.

Dari rumah, aku naik kereta lokal Karawang-Cikarang, lalu transit ke KRL Commuter Line rute Cikarang-Tanah Abang via Manggarai. Dari Tanah Abang, perjalanan masih lanjut ke Palmerah.

Setiap pergi kerja, hidupku soal mengejar waktu: Berpindah peron, berlari kecil agar tidak tertinggal, menghitung menit demi menit supaya bisa sampai rumah sebelum terlalu malam dan kembali memeluk anakku.

Pulang dari Palmerah selalu dimulai dengan satu hal: Bersiap untuk lelah. Turun di Stasiun Tanah Abang, aku langsung terseret arus ribuan orang yang sama-sama ingin pulang. Berdiri di depan pintu, ikut war masuk gerbong, berharap dapat tempat duduk, meski lebih sering harus pasrah berdiri berdesakan sepanjang perjalanan.

Setelah sampai Cikarang, perjuangan belum selesai. Aku masih harus lanjut naik kereta lokal ke Karawang. Fisik rasanya terkuras, mental juga. Tapi sebagai pekerja kelas menengah, kereta adalah pilihan paling masuk akal: Murah, relatif tepat waktu, dan jauh lebih pasti dibanding macet yang enggak bisa diprediksi.

Foto: Dokumentasi pribadi Della

POV Hani: Gerbong Perempuan adalah Tempat Mencari Sedikit Aman

Aku tinggal di Tangerang Selatan dan bekerja di bagian Product and Program Development Coordinator Magdalene. Sudah sekitar setahun terakhir, aku rutin naik KRL untuk berangkat dan pulang kerja.

Jejeran perempuan berbaris ke belakang jadi pemandangan yang akrab tiap kali aku naik KRL. Biasanya antara pukul 07.00 sampai 08.00 WIB, semuanya berebut naik gerbong khusus perempuan yang letaknya di paling depan dan paling belakang rangkaian.

Sebagai perempuan yang beberapa kali mengalami pelecehan di transportasi umum, memilih gerbong khusus perempuan adalah caraku merasa sedikit aman. Mau di gerbong mana pun saat rush hour, jarak antarorang nyaris setipis baju yang menempel di badan ketika kereta melaju. Tapi logikaku sederhana: Lebih baik berdesakan di gerbong perempuan dibanding di gerbong umum.

Meski kemungkinan pelecehan masih ada, setidaknya aku merasa lebih aman di tengah ibu pekerja, ibu lansia, atau ibu rumah tangga yang membawa anaknya sekadar bertamasya ke Jakarta.

Foto: Dokumentasi pribadi Hani

POV Ayu: Gerbong Perempuan Distigma tapi Orang Lupa Melihat Konteksnya

Aku tahu ada banyak stigma soal gerbong perempuan. Katanya perempuan yang berada di gerbong perempuan lebih galak, ribut, suka marah-marah, bahkan lebih “ganas” saat berebut ruang.

Namun orang sering lupa, banyak perempuan di gerbong itu sudah memulai hari lebih pagi dibanding komuter lelaki. Mereka bekerja, mengurus rumah, memikirkan anak, lalu pulang dengan sisa-sisa tenaga. Mereka berdiri berjam-jam dalam kondisi gerah karena AC tak sanggup mendinginkan gerbong yang penuh sesak, lapar, dan berdempetan. Jadi ini bukan soal perempuan lebih emosional, melainkan kelelahan yang menumpuk dan dianggap biasa.

Aku pernah melihat perempuan pingsan di kereta. Pernah juga melihat orang menangis diam-diam. Buatku, itu bukan gambaran buruk tentang perempuan di gerbong khusus, melainkan potret kerasnya perjuangan harian yang sering tak terlihat. Beberapa pengalaman tak mengenakkan pun pernah kualami sendiri, dari kuku patah karena terjepit, tali tas putus, lupa mengambil kotak bekal karena terlalu mengantuk, sampai kebablasan ke Stasiun Nambo karena pulas tertidur.

Foto: Dokumentasi pribadi Ayu

Baca juga: Duka di Stasiun Kereta: 15 Perempuan Jadi Korban Kecelakaan KRL di Bekasi Timur

POV Della: Gerbong yang Ditabrak Itu Sangat Mungkin Gerbongku

Sebagai perempuan, aku hampir selalu memilih gerbong khusus perempuan. Awalnya karena ingin merasa lebih aman, terutama saat sedang hamil. Di tengah padatnya commuter line, gerbong perempuan memberi sedikit rasa tenang dari kekhawatiran pelecehan atau desakan berlebihan.

Tapi ada alasan praktis juga. Dari Palmerah, saat mengejar kereta ke arah Cikarang, gerbong pertama yang paling mudah dijangkau sering kali gerbong perempuan. Kalau harus berlari ke gerbong lain, bisa-bisa keretanya keburu jalan. Jadi pilihan itu bukan sekadar soal kenyamanan, tapi strategi bertahan.

Saat mendengar kabar kecelakaan itu, aku terus memikirkan satu hal: Gerbong yang dihantam itu bukan ruang asing bagiku. Itu ruang yang sangat mungkin kutempati di hari lain, di jam lain, dalam kondisi lain.

Foto: Dokumentasi pribadi Della

POV Hani: Di Dalam Gerbong itu, Aku Belajar Banyak tentang Perempuan

Ada banyak label yang disematkan pada gerbong khusus perempuan. Tapi selama setahun terakhir konsisten memilih gerbong ini, aku justru belajar banyak hal tentang pengalaman bertahan hidup perempuan.

Ibu muda yang baru punya anak biasanya terlihat dari wallpaper ponselnya. Ada perempuan yang terus-menerus menelepon rumah memastikan anaknya sudah mandi dan makan, di saat ia sendiri masih berjuang untuk pulang. Ada pekerja yang sibuk scroll media sosial atau menonton film karena mungkin mereka hanya punya waktu saat itu.

Begitu pun perempuan-perempuan paruh baya yang sering kutemui. Mereka biasanya hendak berkunjung ke keluarga yang terpaut jarak antar kota. Wajah datar penuh tanya sering terlihat, tapi justru mereka paling bisa menikmati perjalanan, melihat ke luar jendela sambil mendengarkan pengumuman stasiun.

Yang paling sering kutemui adalah perempuan-perempuan yang bisa tidur pulas di kereta saat dapat kesempatan duduk. Buat mereka, kursi satu sampai dua jam perjalanan itu seperti jackpot yang tak selalu datang setiap hari.

Foto: Dokumentasi pribadi Hani

POV Ayu: Aku Menangis dan Tak Bisa Tidur Dua Malam

Saat kecelakaan terjadi, aku baru pulang dari liputan lapangan selama sepekan di kawasan geothermal Ijen, Bondowoso, Jawa Timur. Sulitnya sinyal membuat aku agak tertinggal dari berita-berita Jakarta.

Sesampainya di rumah, aku lebih dulu membaca berita tentang penyiksaan anak di daycare Yogyakarta yang ternyata tak berizin. Sebagai ibu pekerja dan perantau yang tinggal jauh dari keluarga besar, isu pengasuhan selalu terasa personal buatku.

Belum selesai mencerna kabar pertama, datang berita lain: Kecelakaan KRL. Korban tewas seluruhnya perempuan di gerbong perempuan. Saat membaca kabar tersebut, suaraku tercekat. Rasa duka naik menyumpal sampai dada, bikin napas sesak. Terlalu banyak duka datang beruntun dan berimbas pada perempuan pekerja.

Air mataku makin deras. Badanku rasanya seperti agar-agar, lelah sekali, tapi mata tak kunjung bisa terpejam. Setiap kali mencoba memejamkan mata, air mata justru tiba-tiba mengalir lagi. Dua malam terakhir aku bahkan cuma bisa tidur paling lama dua jam. Besoknya aku tetap harus bekerja, mengajar di kampus, atau mengerjakan tugas-tugas S3 yang bikin pening kepala. Seolah tragedi seperti ini hanya bagian dari keseharian perempuan pekerja yang dianggap biasa.

Sejak kejadian itu, pikiranku juga melayang ke hal-hal kecil yang selama ini terasa sepele, tetapi mendadak jadi sangat berharga. Aku punya kebiasaan berkirim kabar dengan orang-orang terdekat setiap kali berangkat atau pulang naik moda transportasi apa pun, termasuk KRL. Kadang hanya pesan singkat: “Aku berangkat ya,” “Aku di kereta,” atau “Aku pulang sekarang.”

Aku juga sering mengingatkan teman, keluarga, atau pasangan untuk melakukan hal serupa. Sebab di balik pesan-pesan singkat itu, selalu ada doa kecil yang diam-diam kupanjatkan: Semoga kami semua sampai tujuan dengan selamat.

Foto: Dokumentasi pribadi Ayu

POV Della: Aku Selamat karena Pulang Sedikit Lebih Cepat

Malam kecelakaan (27/4), aku pulang dengan rute yang sama seperti biasanya. Sama persis. Hanya saja, aku pulang sedikit lebih cepat. Dan mungkin selisih waktu itulah yang membuat aku bisa kembali ke rumah dengan selamat.

Subuh harinya, ketika membuka ponsel yang mati karena kelelahan setelah perjalanan panjang, aku melihat banyak panggilan tak terjawab dan pesan dari orang-orang terdekat, termasuk ibuku yang menghubungi berkali-kali.

Mereka menanyakan satu hal: “Kamu aman, kan?” Saat itulah aku tahu ada kecelakaan. Dan yang paling membuat dada sesak, gerbong khusus perempuan menjadi bagian pertama yang terhantam.

Aku langsung menangis. Sebagai perempuan, sebagai ibu, aku memeluk suami dan anakku erat-erat pagi itu.

Hari itu aku sadar, pulang dengan selamat adalah privilege yang sering kita anggap biasa.

Foto: Dokumentasi pribadi Della

Baca juga: Semua Korban Kecelakaan Kereta di Bekasi Timur Adalah Perempuan

POV Hani: Dukanya Terasa Kolektif

Saat mendengar tabrakan KRL dengan Kereta Bromo, aku menangis sejadi-jadinya. Rasanya tak kuasa membayangkan bagaimana mereka yang hanya berusaha mencuri waktu untuk menonton film kesayangannya, mendamba makan bersama anak dan pasangan, atau sekadar tidur melepas lelah setelah jarang dapat tempat duduk, tiba-tiba dihantam kereta lain.

Di umur 30 tahun dan 10 tahun merantau di Jakarta, rasanya baru kali ini aku merasakan duka begitu mendalam untuk orang-orang yang bahkan tak kukenal.

“Bagaimana dunia bisa sekejam ini pada orang-orang yang setiap harinya hanya mencoba bertahan hidup?” Pertanyaan itu beberapa kali hinggap di benakku.

Pagi setelah kejadian, pasanganku bilang dia juga ikut menangis, membayangkan bagaimana jadinya jika dia menjadi salah satu yang menerima kabar bahwa akulah yang ada di dalam gerbong itu.

Isi pesan pasangan Hani ketika mendengar kabar berita tersebut. (Foto: Dokumentasi pribadi Hani)

POV Bertiga: Yang Diminta Sebenarnya Sederhana

Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Arifah Choiri Fauzi pada (28/4) seperti dikutip Tempo, mengusulkan evaluasi penempatan gerbong perempuan agar tidak lagi di ujung rangkaian, melainkan di tengah. Tujuannya untuk mempermudah evakuasi dan meningkatkan pengawasan.

Usulan itu penting tapi evaluasi tak boleh berhenti di posisi gerbong saja. Sistem keselamatan harus lebih serius, petugas harus sigap, akses evakuasi harus jelas, dan transportasi publik harus sensitif gender.

Dari POV kami sebagai anker perempuan, gerbong perempuan tak boleh dibaca sebagai solusi final atas akar masalah kekerasan seksual di ruang publik. Ia hanya salah satu langkah, bukan jawaban tunggal.

Pada akhirnya, yang diminta kami bertiga sebenarnya sederhana saja: Berangkat kerja, lalu pulang ke rumah dengan selamat. Sebuah harapan yang di kota ini ternyata tak selalu mudah didapat.

About Author

Purnama Ayu Rizky, Siti Parhani and Della Nurlaelanti Putri