13/07/2026
Economy Issues Opini

Suami-Istri Kerja ‘Full Time’ tapi Hidup Tetap Pas-pasan: Kita yang Salah atau Sistem yang Bermasalah?

Banyak keluarga hidup dari dua penghasilan penuh waktu, tetapi masih sulit menabung. Curhat pelanggan warung pecel lele saya tentang kegelisahan kelas pekerja dan sistem ekonomi yang tak berpihak.

  • March 13, 2026
  • 7 min read
  • 1874 Views
Suami-Istri Kerja ‘Full Time’ tapi Hidup Tetap Pas-pasan: Kita yang Salah atau Sistem yang Bermasalah?

Malam ini warung pecel lele saya kedatangan tamu spesial, Dika, kawan lama yang bekerja sebagai operator produksi di Bekasi. Ia datang bersama istri dan anak balitanya setelah pulang kerja. Kehadiran mereka membuat warung sederhana ini berubah jadi ruang berbagi dan update kehidupan masing-masing.

Warung seperti ini kerap menjadi tempat singgah orang-orang yang hidupnya jarang masuk laporan ekonomi makro. Hidup mereka enggak diukur dari grafik pertumbuhan ekonomi, melainkan sisa saldo di akhir bulan. Dari percakapan sederhana pula, saya sering mendengar kisah tentang bagaimana ekonomi bekerja buat keluarga pekerja, terutama pekerja kelas menengah.

Dika memesan makanan dengan strategi ekonomi yang sangat taktis dan terukur. Satu porsi ayam, tahu tempe, dan nasi tambah satu setengah piring. Anak mereka makan dengan lahap disuapi ibunya menggunakan daging ayam bagian paha, sementara Dika dan istrinya makan dengan porsi yang bisa disebut tahu diri—sedikit lauk tetapi banyak nasi dan sambal.

Apakah cara makan seperti ini terlihat biasa saja buatmu? Bagi bagi banyak keluarga pekerja itu merupakan strategi bertahan hidup yang real. Anak tetap mendapat bagian terbaik dari lauk yang tersedia di meja. Orang tua menyesuaikan diri agar makanan cukup untuk semua orang.

Setelah makan, istrinya pamit pulang lebih dulu menggunakan motor sambil membawa si kecil yang sudah mengantuk. Pulang ke rumah bukan berarti waktu istirahat telah tiba. Ia masih harus menidurkan anak, mencuci pakaian, dan menyiapkan kebutuhan esok hari sebelum kembali bekerja.

Dika tinggal sebentar di warung dan mengambil satu sachet kopi Kapal Api. Ia menyeduh kopi itu sendiri menggunakan air dispenser lalu duduk menghampiri saya. Di tengah suasana santai, ia mulai bercerita tentang hidup yang terasa makin sempit.

Gile. Tanggal segini gaji sisa dikit. Susu anak mau abis, beras mau abis, token listrik bunyi tit tit tit kayak bom waktu. Gue sama bini udah kerja pagi malem, main judol kagak, tapi kok gini gini aja ya hidup?”

Kalimat itu terdengar seperti keluhan jamak. Padahal di dalamnya ada pertanyaan besar yang jarang benar-benar dijawab. Salah satunya, kenapa banyak keluarga pekerja yang sudah bekerja penuh waktu tetap merasa hidupnya tidak pernah benar-benar lega?

Saya mencoba melakukan hitungan kasar di kepala. Jika gaji mereka berdua setara upah minimum Bekasi, penghasilan rumah tangga ini bisa berada di kisaran Rp11 juta sampai Rp12 juta per bulan. Artinya dua orang dewasa bekerja penuh waktu setiap hari untuk menopang satu keluarga kecil.

Di atas kertas angka itu terlihat cukup. Namun kehidupan nyata sering tidak mengikuti logika di atas kertas.

Baca juga: #RaporMerahPemerintah: Dear Prabowo-Gibran, Ekonomi Kami Tak Tumbuh Seperti Katamu

Hitung-hitungan Planet Bekasi

Biaya hidup sederhana di Kota Bekasi tidak bisa dianggap ringan. Kontrakan rumah rata-rata berada di kisaran Rp1,5 sampai Rp1,8 juta per bulan. Angka ini menjadi pengeluaran pertama yang tidak bisa ditunda oleh keluarga pekerja.

Jika pasangan seperti Dika terlalu sibuk bekerja hingga tidak sempat memasak, biaya makan tiga orang dengan gizi standar dapat mencapai sekitar Rp3,5 juta sebulan. Kebutuhan dasar seperti susu anak, popok, dan vitamin juga membutuhkan sekitar Rp800 ribu.

Listrik dan air menambah sekitar Rp600 ribu lagi setiap bulan. Pada titik ini saja hampir separuh penghasilan rumah tangga sudah habis untuk kebutuhan dasar. Namun masih ada biaya lain yang jarang masuk dalam percakapan ekonomi makro. Biaya tersebut adalah ongkos bekerja.

Bensin dua motor, parkir liar, makan siang di kantin pabrik, serta kuota internet untuk koordinasi kerja dapat menyedot sekitar Rp3,5 juta per bulan. Jika masih ada cicilan motor, pengeluaran bisa bertambah sekitar Rp1,5 juta.

Ditambah iuran warga atau biaya mendadak seperti obat ketika anak demam sekitar Rp500 ribu. Total pengeluaran akhirnya mudah menembus Rp12 juta.

Hasil akhirnya bukan tabungan. Hasil akhirnya adalah hidup yang hanya cukup untuk bernapas dari hari ke hari secara bare minimum.

Baca juga: #MerdekainThisEconomy: ‘Good Bye Passion’, Jalan Aman Gen Z buat Bertahan

Kerja Keras Saja Tak Cukup, Negara Harus Hadir

Situasi seperti ini sering membuat pekerja menyalahkan dirinya sendiri. Dalam psikologi sosial terdapat konsep internal attribution, yaitu kecenderungan manusia menjelaskan kegagalan hidup sebagai akibat dari kekurangan pribadi, bukan kondisi struktural. Konsep ini diperkenalkan oleh Fritz Heider, psikolog sosial asal Austria yang kemudian mengajar di University of Kansas di Amerika Serikat, dalam bukunya The Psychology of Interpersonal Relations (1958).

Dika mungkin berpikir ia kurang pintar saat sekolah. Andai dulu lebih pandai Matematika, mungkin ia bisa menjadi insinyur, bukan operator pabrik. Cara berpikir seperti ini semakin kuat ketika seseorang terus-menerus melihat konten motivasi financial freedom di media sosial.

Pesannya sederhana: Jika miskin, berarti kamu kurang gigih atau kurang disiplin.

Namun realitas yang saya lihat malam ini terasa berbeda. Tangan Dika kapalan dan penuh luka gores akibat pekerjaan fisik di pabrik. Istrinya memiliki kantung mata gelap karena kurang tidur mengurus anak sambil bekerja.

Jika kerja keras sudah dilakukan setiap hari tetapi hidup tetap terasa sempit, mungkin masalahnya bukan sekadar pada individu. Kita perlu serempak bertanya: Apakah sistem ekonomi memang memberi ruang hidup yang cukup bagi kelas pekerja?

Konstitusi Indonesia menyebut tujuan negara adalah mencerdaskan kehidupan bangsa. Namun jika pekerja lokal kalah bersaing karena pendidikan tidak relevan dengan kebutuhan industri, itu bukan sekadar kegagalan individu. Itu kegagalan sistem pendidikan yang dikelola negara.

Jika dua orang dewasa bekerja penuh waktu tetapi penghasilannya hanya cukup menutup biaya hidup dasar, itu bukan sekadar masalah gaya hidup. Itu tanda daya tawar buruh dalam sistem ekonomi kita terlalu lemah.

Upah minimum diperdebatkan setiap tahun, tetapi harga kontrakan, transportasi, dan kebutuhan pokok naik jauh lebih cepat. Negara menetapkan angka upah, sementara pasar menentukan harga hidup. Di tengah tarik-menarik itu, keluarga pekerja seperti Dika yang akhirnya harus menanggung selisihnya.

Di kota industri seperti Bekasi, pekerja sering harus membeli dua motor hanya agar bisa sampai ke tempat kerja tepat waktu. Transportasi publik belum cukup menjangkau kawasan industri secara efektif. Ongkos mobilitas akhirnya menjadi pajak tidak resmi bagi kelas pekerja.

Sementara itu pendidikan, pelatihan kerja, dan peningkatan keterampilan masih mahal bagi banyak orang. Negara sering berbicara tentang peningkatan kualitas sumber daya manusia, tetapi akses terhadap upskilling dan pelatihan industri belum merata.

Dalam kondisi seperti ini banyak keluarga pekerja hidup dalam sistem yang menyerupai roda hamster. Mereka berlari sekuat tenaga setiap hari, tetapi posisi mereka tidak banyak berubah.

Saya sendiri adalah bukti kecil dari cerita itu. Saya sarjana Psikologi. Apakah saya bodoh? IPK saya lumayan.

Apakah saya malas? Saya kerja dua shift. Malam jualan di warung ini. Jika dagangan agak sepi, paginya saya menyalakan aplikasi Gocar Driver di ponsel dan kembali mencari penumpang di jalanan kota.

Lalu kenapa saya berakhir di sini, bukan di ruang kerja HRD perusahaan multinasional seperti yang dulu dibayangkan banyak orang ketika saya lulus kuliah?

Mungkin karena lapangan kerja formal memang tidak berkembang secepat jumlah lulusan. Industri kita mengalami deindustrialisasi dini. Kita lebih sering menjadi pasar bagi produk orang lain, bukan produsen yang menciptakan lapangan kerja baru.

Ketika lapangan kerja formal sempit, yang memiliki privilege biasanya lebih dulu mendapat tempat. Mereka yang punya koneksi, modal, atau orang dalam lebih mudah masuk ke pintu yang tersedia. Sisanya, seperti saya, bertarung bebas di sektor informal. 

Baca juga: ‘Oh My Ghost Clients’: Drakor Horor-Komedi Penyemangat Pekerja ‘In This Economy’

Berbuat Baiklah pada Dirimu Sendiri

Tulisan ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan makar pada negeri ini. Saya hanya ingin mengatakan sesuatu kepada para ayah dan ibu pekerja keras di luar sana. Banyak keluarga mengalami situasi yang sama dengan cerita Dika malam ini.

Jika gaji habis sebelum akhir bulan dan susu anak harus dihemat, jangan buru-buru membenci diri sendiri. Banyak orang sudah bekerja keras tetapi tetap menghadapi sistem ekonomi yang berat.

Kalian sudah melakukan yang terbaik dengan tenaga yang kalian miliki. Tugas paling penting sekarang mungkin hanya bertahan hidup, menjaga kewarasan, dan memastikan anak-anak memiliki kesempatan lebih baik di masa depan.

Dan ketika musim Pemilu datang, ingat rasa lelah ini. Jangan menukarnya dengan serangan fajar yang hanya cukup membeli beras satu minggu.

Karena rakyat yang benar-benar sejahtera tidak membutuhkan bantuan sosial. Mereka hanya membutuhkan kesempatan yang adil.

About Author

Akhmad Yunus Vixroni

Akhmad Yunus Vixroni adalah penulis yang percaya bahwa menjaga senyum istri adalah sumber rezeki.