07/07/2026
Issues

‘Panic Buying’ BBM: Apa yang Terjadi dan Kenapa Kita Harus Tenang

Panic buying sering muncul waktu krisis: dari tisu toilet sampai BBM. Artikel ringkas ini mengurai definisi, akar psikologis, dan langkah pencegahan yang mudah dipraktekkan.

  • March 13, 2026
  • 7 min read
  • 1570 Views
‘Panic Buying’ BBM: Apa yang Terjadi dan Kenapa Kita Harus Tenang

Perseteruan antara Amerika Serikat dan Israel dengan Iran belakangan ini kembali memanas. Ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah tersebut memicu kekhawatiran global, terutama terkait kemungkinan terganggunya pasokan energi dunia. Banyak pihak cemas konflik ini bisa berdampak pada distribusi minyak internasional yang selama ini sangat bergantung pada stabilitas kawasan tersebut.

Kekhawatiran itu bukan tanpa alasan. Jika konflik semakin meluas, jalur ekspor minyak strategis seperti Selat Hormuz berpotensi ikut terdampak. Selat ini dikenal sebagai salah satu rute perdagangan energi paling penting di dunia. Ketika isu gangguan pasokan mulai beredar, respons masyarakat di beberapa daerah pun langsung terlihat: panic buying bahan bakar mulai terjadi.

Fenomena ini sempat terlihat di Aceh pada 5 Maret 2025. Dikutip dari Tirto dalam artikel Fenomena Panic Buying BBM di Aceh, Pertamina: Pasokan Aman, warga terlihat mengantre panjang di sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU). Salah satunya terjadi di SPBU Tan Saril yang bahkan sempat memicu kemacetan di jalur Takengon–Isaq. Situasi ini membuat aparat kepolisian harus turun langsung untuk mengatur lalu lintas dan memastikan arus kendaraan di sekitar SPBU tetap terkendali.

Laporan serupa juga sempat muncul di daerah lain. Dikutip dari Tempo dalam artikel Tidak Lagi ‘Panic Buying’, Pembelian BBM di Sejumlah Daerah Normal, antrean panjang sebelumnya juga terlihat di sejumlah SPBU di Lhokseumawe dan Kabupaten Jember, Jawa Timur. Kepanikan masyarakat saat itu dipicu oleh kekhawatiran akan kelangkaan BBM akibat eskalasi konflik di Timur Tengah. Namun pada Senin, 9 Maret 2026, situasi di SPBU di kedua wilayah tersebut dilaporkan sudah kembali normal. Antrean menghilang, dan masyarakat tidak lagi melakukan panic buying dalam pembelian BBM.

Lalu, sebenarnya apa yang dimaksud dengan panic buying—dan mengapa fenomena ini bisa terjadi ketika muncul isu krisis atau konflik global?

Baca Juga: Cadangan BBM Menipis di Tengah Konflik Dunia, Apa Skenario Terburuk buat Warga?

Apa Itu Panic Buying?

Singkatnya, panic buying adalah kebiasaan tiba-tiba membeli barang dalam jumlah besar karena takut barang itu akan langka di masa depan. Menurut penjelasan ekonomi di Investopedia, Panic Buying: Meaning, Psychology and Implications, perilaku ini menyebabkan lonjakan permintaan yang mendadak sehingga stok cepat menipis dan berpotensi memicu kenaikan harga sementara.

Dari sisi ekonomi, efeknya cukup sederhana: ketika banyak orang belanja berlebihan sekaligus, distribusi barang terganggu—bukan selalu karena kekurangan produksi, tetapi karena permintaan melonjak di depan. Dikutip dari Willey Online Library, Panic buying research: A systematic literature review and future research agenda, mencatat bahwa panic buying kerap menjadi respons terhadap ancaman berulang dan menimbulkan tekanan pada rantai pasok serta pasar ritel.

Secara psikologis, panic buying lebih bisa dimengerti: ini cara manusia merasa mengembalikan kendali saat situasi terasa tidak pasti. Artikel di Psychology Today, Why Are We Panic Buying During the Coronavirus Pandemic?, menjelaskan bahwa orang membeli banyak barang untuk meredam kecemasan, meniru perilaku orang lain, dan menyiapkan diri menghadapi kemungkinan kekurangan. Jadi bukan cuma “orang panik,” melainkan sebuah coping mechanism yang wajar secara emosional.

Ada juga dasar ilmiah yang mendukung mekanisme ini: konsep scarcity heuristic—kecenderungan menilai sesuatu sebagai lebih berharga saat terlihat langka—membuat dorongan membeli meningkat ketika barang tampak susah didapat. Penelitian dan ulasan akademis di PubMed/PMC tentang psychological underpinning of panic buying, menemukan hubungan kuat antara persepsi kelangkaan, kecemasan, dan niat melakukan panic buying. Jadi, informasi yang beredar (atau sekadar foto rak kosong) seringkali cukup memicu gelombang pembelian.

Baca Juga: Konflik Iran-Israel: Akankah Dunia Masuk Perang Dunia III?  

Contoh Panic Buying di Berbagai Negara

Fenomena panic buying tidak hanya terjadi di satu negara. Dalam berbagai krisis global—mulai dari pandemi hingga gangguan ekonomi—perilaku belanja panik sering muncul dengan pola yang mirip: muncul kabar yang memicu kekhawatiran, masyarakat langsung membeli barang dalam jumlah besar, lalu stok di pasar tiba-tiba menghilang. Analisis BBC dalam artikel The Psychology Behind Panic Buying menjelaskan bahwa perilaku ini sering dipicu oleh rasa kehilangan kontrol saat menghadapi situasi yang tidak pasti, sehingga membeli dan menimbun barang menjadi cara cepat untuk merasa lebih aman.

Panic Buying Saat Pandemi COVID-19

Salah satu contoh panic buying terbesar terjadi pada awal pandemi COVID-19 tahun 2020. Ketika virus mulai menyebar secara global, masyarakat di berbagai negara berbondong-bondong membeli kebutuhan dasar seperti masker, hand sanitizer, makanan instan, hingga tisu toilet. Laporan The New York Times berjudul Why We’re Panic-Buying Toilet Paper menjelaskan bahwa lonjakan pembelian ini dipicu oleh kombinasi ketakutan, rumor kelangkaan, serta efek ikut-ikutan dari perilaku orang lain.

Fenomena ini terlihat jelas di Amerika Serikat, Australia, dan Jepang. Di Australia, panic buying tisu toilet bahkan sempat viral dan memicu keributan di supermarket. The Guardian dalam artikel Australia’s Toilet Paper Panic Shows How Fear Spreads Faster Than Facts mencatat bahwa meski produksi tetap normal, foto rak kosong yang viral di media sosial membuat masyarakat semakin panik dan membeli lebih banyak barang.

Panic Buying Bahan Bakar di Inggris

Contoh lain terjadi di Inggris pada tahun 2021 ketika masyarakat panik membeli bahan bakar setelah muncul kabar kekurangan sopir truk pengangkut bensin. Meski pemerintah menyatakan stok sebenarnya cukup, kekhawatiran publik tetap memicu antrean panjang di SPBU. Laporan BBC News berjudul UK Fuel Crisis: Why Panic Buying Made the Shortage Worse menjelaskan bahwa lonjakan pembelian justru memperparah gangguan distribusi yang awalnya terbatas.

Kasus ini menunjukkan bahwa panic buying sering muncul karena ketidakpercayaan terhadap stabilitas pasokan. Ketika masyarakat merasa distribusi barang terancam, mereka cenderung membeli lebih banyak dari yang dibutuhkan. Ironisnya, tindakan tersebut justru mempercepat kelangkaan yang sebenarnya ingin mereka hindari.

Baca Juga: Apa Dampaknya Perang AS-Iran Buat Warga Lemah Ekonomi Indonesia?

Cara Mencegah Panic Buying

Fenomena panic buying tidak hanya merugikan konsumen, tetapi juga dapat mengganggu stabilitas pasar dan distribusi barang. Ketika banyak orang membeli kebutuhan dalam jumlah berlebihan secara bersamaan, sistem pasokan yang sebenarnya stabil bisa tiba-tiba mengalami tekanan besar. Akibatnya, barang menjadi sulit ditemukan, harga melonjak, dan masyarakat yang benar-benar membutuhkan justru kesulitan mendapatkan akses terhadap kebutuhan pokok.

Karena itu, pencegahan panic buying bukan hanya tanggung jawab satu pihak. Fenomena ini membutuhkan kerja sama antara pemerintah, pelaku bisnis, media, dan masyarakat. Dengan strategi komunikasi yang tepat, sistem distribusi yang kuat, serta kesadaran kolektif untuk berbelanja secara bijak, kepanikan massal dapat diminimalkan. Di bawah ini adalah beberapa pendekatan yang dapat dilakukan untuk mencegah atau setidaknya mengurangi risiko terjadinya panic buying.

  1. Paham dampaknya dulu

Panic buying bukan cuma repot buat individu—kalau banyak orang menimbun sekaligus, sistem pasokan yang semula stabil bisa kebanjiran permintaan, harga naik, dan kelompok paling rentan justru kesulitan mendapat barang. PubMed Central, Possible Controlling Measures of Panic Buying During COVID-19, menjelaskan pentingnya tindakan koordinatif antara pemerintah dan pelaku usaha untuk menahan gelombang pembelian berlebihan.

  1. Pemerintah: komunikasi cepat, jelas, dan konsisten

Pemerintah harus memberi update rutin tentang ketersediaan stok dan distribusi—kalimat singkat, data nyata, dan frekuensi yang konsisten membantu meredam spekulasi. Panduan WHO tentang Risk Communication Strategy menekankan bahwa pertukaran informasi real-time dan transparansi mengurangi ketakutan publik.

  1. Aturan sementara & langkah operasional dari retailer

Ritel dan distributor bisa menerapkan pembatasan pembelian untuk produk tertentu, jam khusus untuk pekerja esensial, atau kuota per pelanggan agar distribusi lebih adil. Contoh kebijakan seperti ini pernah diterapkan selama COVID-19 dan terbukti membantu menstabilkan pasokan sementara.

  1. Peran media & platform digital—kurangi sensasional, perkuat fakta

Media dan platform perlu menahan diri dari foto rak kosong atau judul yang memicu kepanikan; sebaliknya, mereka wajib menonjolkan informasi verifikasi tentang pasokan. Studi PubMed Central, Factors Affecting Panic Buying during COVID-19 Outbreak and Strategies: A Scoping Review, menyarankan monitoring dan klarifikasi cepat terhadap rumor di media sosial untuk mencegah amplifikasi ketakutan.

  1. Masyarakat: belanja sesuai kebutuhan dan tunjukkan empati

Langkah paling sederhana tapi krusial: beli secukupnya, beri prioritas pada yang paling membutuhkan, dan gunakan saluran resmi jika ragu soal ketersediaan. Perilaku kolektif seperti ini, jika dipraktikkan banyak orang, jauh lebih efektif meredam panic buying daripada solusi teknis saja.

About Author

Kevin

Kevin merupakan SEO Specialist di Magdalene, yang sekarang bercita-cita ingin menjadi dog walker.