Belajar Melepas Beban: Pelajaran Hidup dari Seorang Ibu di Negeri Orang
Ketika pertama kali menginjakkan kaki di Australia dan menetap sementara di sana, saya datang dengan keyakinan kuat harus bekerja keras. Tujuannya apa lagi selain membantu perekonomian keluarga di kampung halaman.
Apalagi status saya sebagai anak sulung, membuat saya terbiasa memanggul seluruh beban keluarga di pundak. Perasaan itu menguat setelah kepergian ayah. Dalam banyak momen, muncul dorongan seolah saya harus mengisi ruang yang ia tinggalkan.
Keyakinan tersebut jarang saya pertanyakan. Sebab, sejak kecil saya tumbuh dengan pemahaman sederhana tentang bakti kepada orang tua. Semakin besar tanggung jawab yang dipikul demi keluarga, semakin baik pula seorang anak menjalankan perannya.
Bagi saya, wujud bakti paling nyata adalah bekerja keras, membantu kebutuhan keluarga, serta memastikan adik dapat melanjutkan pendidikan. Cara pandang itu melekat kuat hingga terbawa jauh ke Australia, ribuan kilometer dari rumah.
Namun pandangan tersebut perlahan berubah melalui pengalaman sehari-hari bersama keluarga sederhana yang menampung saya selama tinggal di Melbourne.
Pemilik rumah tempat saya tinggal adalah perempuan paruh baya yang membesarkan dua anak seorang diri. Anak sulungnya kini bekerja sebagai manajer di perusahaan teknologi di Victoria. Anak bungsunya bekerja di sebuah klinik kesehatan tidak jauh dari rumah mereka.
Dalam banyak hal, ia mengingatkan saya pada ibu saya di Indonesia. Keduanya sama-sama perempuan tangguh, mandiri, serta terbiasa menghadapi hidup tanpa banyak keluhan.
Meski demikian, ada perbedaan mencolok dalam cara ia memandang kehidupan.
Baca juga: ‘Eldest Daughter Syndrome’: Beratnya Jadi Anak Sulung Perempuan
Ketika Waktu Luang Tidak Dianggap Pemborosan
Sebagai tuan rumah, ia sering mengajak saya melakukan kegiatan sederhana pada akhir pekan. Kadang kami berjalan di pantai, singgah di dermaga kecil untuk memancing, atau menonton pacuan kuda di Mornington.
Pengalaman seperti itu terasa cukup baru bagi saya. Selama ini saya memandang waktu sebagai sesuatu yang harus selalu digunakan secara produktif. Waktu seharusnya diisi dengan bekerja, belajar, atau melakukan hal-hal yang dianggap berguna.
Bagi beliau, kegiatan santai tersebut merupakan bagian wajar dari kehidupan. Ia menikmati waktu luang dengan berjalan di tepi pantai, berbincang ringan sambil menunggu umpan pancing bergerak, atau menyaksikan keramaian di arena balapan kuda.
Perbedaan cara pandang tersebut perlahan saya sadari.
Suatu sore, ketika kami duduk minum teh di rumah, saya bercerita tentang perasaan tanggung jawab terhadap keluarga di Indonesia. Saya menjelaskan keinginan membantu pendidikan adik, harapan yang muncul sebagai anak sulung, serta usaha untuk menjadi anak yang berbakti.
Ia mendengarkan dengan penuh perhatian. Setelah saya selesai berbicara, ia menyampaikan satu kalimat sederhana yang membekas hingga sekarang.
“Sometimes you also need to take care of yourself,” katanya dengan tenang.
Kalimat tersebut terdengar sederhana. Namun bagi saya, kalimat itu membuka cara pandang baru.
Selama ini saya memegang keyakinan semakin besar pengorbanan demi keluarga, semakin tinggi pula nilai bakti seorang anak. Dalam kerangka berpikir seperti itu, memikirkan diri sendiri sering terasa seperti tindakan egois.
Pengalaman tinggal di Melbourne bersama beliau membuat saya melihat kehidupan dari sudut pandang berbeda.
Baca juga: Kekerasan Anak Aghnia Punjabi, Tak Mudah buat Ibu Pekerja Tinggalkan Anak
Meninjau Ulang Makna Tanggung Jawab
Saya mulai memahami hidup tidak selalu harus dipenuhi rasa terbebani. Ada saat seseorang perlu berhenti sejenak setelah hari yang panjang. Ada saat seseorang membutuhkan ruang untuk bernapas.
Pengalaman tersebut tidak mengurangi rasa sayang saya kepada keluarga di rumah. Justru pengalaman itu membantu saya melihat kembali makna tanggung jawab dengan cara yang lebih seimbang.
Saya tetap ingin membantu keluarga. Namun kini saya memahami hidup tidak hanya tentang memikul beban. Hidup juga tentang memberi ruang bagi diri sendiri untuk tumbuh, beristirahat, serta menikmati perjalanan yang sedang dijalani.
Ketika mengenang masa tinggal di Melbourne, saya menyadari betapa beruntungnya pernah hidup berdampingan dengan dua perempuan kuat. Ibu saya di Indonesia serta ibu yang menampung saya selama di Australia.
Dari keduanya saya belajar kekuatan perempuan tidak hanya tampak dari kemampuan menghadapi kesulitan hidup. Kekuatan itu juga terlihat dari kebijaksanaan dalam memaknai pengalaman hidup.
Baca juga: Anak Perempuan Dibuang, Anak Lelaki Disayang
Pengalaman tersebut membuat saya kembali memikirkan bagaimana budaya membentuk cara seseorang memahami tanggung jawab keluarga.
Dalam banyak keluarga Asia, termasuk Indonesia, anak sulung sering tumbuh dengan kesadaran menjadi penopang bagi anggota keluarga lain. Perasaan itu lahir dari rasa sayang sekaligus solidaritas kuat dalam keluarga.
Namun ketika melihat cara ibu di Melbourne memandang relasi orang tua dan anak, saya memahami setiap keluarga memiliki cara berbeda dalam menafsirkan kasih sayang dan tanggung jawab.
Ada keluarga yang menekankan pengorbanan. Ada pula keluarga yang menekankan kemandirian. Dan dari perbedaan tersebut muncul satu pelajaran penting: Enggak ada satu cara tunggal untuk menjadi anak yang baik.
Ilustrasi oleh Karina Tungari




















