11/09/2026
Culture Issues Opini

‘She Smells Like Flowers’: Kunti Core dan Cara Baru Melihat Kuntilanak

Kuntilanak lekat dengan kematian tragis dan feminitas yang menyeramkan. Kini, ciri-ciri itu justru dirayakan lewat kunti core.

  • September 11, 2026
  • 8 min read
  • 3 Views
‘She Smells Like Flowers’: Kunti Core dan Cara Baru Melihat Kuntilanak

Ada satu hal yang berubah dari cara saya melihat kuntilanak setelah dewasa. Saya tidak terlalu takut lagi padanya. Bukan karena sekarang saya berani menonton film horor sendirian atau tiba-tiba kebal terhadap cerita hantu. Kalau tengah malam ada suara perempuan tertawa dari pohon belakang rumah, saya mungkin tetap akan mengunci pintu dan pura-pura tidak dengar.

Tapi setiap mendengar kata “kuntilanak”, belakangan yang terlintas di kepala saya justru bukan wajah menyeramkan. Saya membayangkan seorang perempuan. Rambutnya panjang, pakaiannya putih, suaranya melengking, kadang tertawa, lebih sering diceritakan meratap. Dan, entah bagaimana, kehadirannya selalu begitu feminin sampai-sampai ia punya aroma: bunga.

Di antara sekian banyak hantu yang tumbuh bersama saya dalam cerita-cerita Indonesia, kuntilanak adalah yang paling saya ingat lewat wanginya. Bau melati di malam hari bahkan cukup untuk membuat orang saling berpandangan dan bercanda, “Ada kunti lewat, nih.” Aroma yang semestinya lembut justru menjadi salah satu penanda paling kuat dari kehadiran sosok yang ditakuti itu.

Namun perlahan, wangi melati itu membawa saya pada pemikiran lain. She could have smelled like death. Instead, we imagined her smelling like flowers. Dari semua aroma yang bisa kita berikan kepada makhluk yang datang dari kematian, tanah basah, darah, pembusukan, imajinasi kolektif kita memilih bunga. Dan entah kenapa, saya merasa itu sedikit menyedihkan, sekaligus sedikit manis.

Baca juga: Apa Kuntilanak dan Sundel Bolong Tak Ingin Potong Rambut?

Sebelum Menjadi Hantu, Ia adalah Perempuan

Tidak ada satu versi tunggal mengenai asal-usul kuntilanak. Folklore memang sekadar berpindah dari mulut ke mulut, berubah mengikuti tempat dan generasi yang menceritakannya. Namun, satu motif terus berulang. Kuntilanak dikaitkan dengan perempuan yang meninggal dalam keadaan tragis, terutama ketika sedang mengandung atau melahirkan.

Berbagai kajian tentang legenda ini juga mencatat kepercayaan mengenai perempuan yang meninggal ketika hamil atau ketika proses persalinannya belum selesai. Dengan demikian, dalam sejumlah versi cerita, identitas kuntilanak sejak awal tidak bisa dilepaskan dari pengalaman tubuh perempuan. Ia bukan sekadar hantu yang kebetulan mengambil bentuk perempuan, melainkan sosok yang asal-usulnya berkaitan erat dengan kehamilan, persalinan, dan kematian.

Semakin dewasa, bagian itu justru semakin sulit saya abaikan. Waktu kecil, cerita kuntilanak berhenti pada, “Dia hantu perempuan dan dia menyeramkan.” Tidak pernah terpikir oleh saya untuk bertanya: Apa yang terjadi kepada perempuan itu sampai ia menjadi hantu?

Pertanyaan tersebut mengubah cara saya melihat sosok ini. Sebab tiba-tiba saya tidak lagi melihat monster yang kebetulan berbentuk perempuan. Saya melihat perempuan yang mengalami sesuatu yang mengerikan, lalu dikenang masyarakat sebagai monster.

Bahkan setelah menjadi monster, ia tidak pernah benar-benar kehilangan identitas keperempuannya. Kita tetap memberinya rambut panjang, membalutnya dengan gaun, membiarkannya menangis, dan menyematkan bunga kepadanya. Kita bahkan tetap berusaha membuatnya tampil cantik. Ia mati, tetapi feminitasnya tidak.

Dalam buku The Monstrous-Feminine: Film, Feminism, Psychoanalysis (1993), Barbara Creed menawarkan cara menarik untuk membaca monster perempuan dalam budaya horor. Bagi Creed, perempuan tidak sekadar muncul sebagai versi perempuan dari monster laki-laki. Tubuh perempuan sendiri, seksualitas, reproduksi, kehamilan, menjadi ibu, berulang kali digunakan budaya sebagai sumber kecemasan dan kengerian.

Sulit rasanya tidak memikirkan kuntilanak ketika membaca gagasan itu. Asal-usulnya begitu dekat dengan kehamilan, persalinan, darah, kematian, dan tubuh maternal. Dalam beberapa literatur mengenai hantu perempuan Indonesia, kuntilanak bahkan dibaca sebagai figur yang berdiri di batas antara korban dan pelaku: ia lahir dari tragedi, tetapi setelah kematian memperoleh kekuatan yang sebelumnya tidak ia miliki.

Di situlah kontradiksi kuntilanak menjadi menarik. Ia korban, tetapi kita takut kepadanya. Ia mati, tetapi punya kuasa. Ia menyeramkan, tetapi cantik. Ia berbahaya, tetapi datang membawa aroma bunga.

Bahkan tangisannya kini terdengar berbeda bagi saya. Dulu saya menganggap suara tangisan atau ratapan kuntilanak sekadar perangkat horor, suara menyeramkan sebelum jumpscare yang diciptakan untuk membuat orang lari. Sekarang sesekali saya justru berpikir: Bagaimana kalau itu adalah bagian paling manusiawi yang tersisa darinya? Tentu saya tidak sedang mencoba menentukan psikologi makhluk folklore seolah ia manusia sungguhan.

Tetapi sebagai simbol budaya, menarik bahwa ketika kita membayangkan perempuan yang meninggal tragis dan tidak bisa beristirahat, kita membayangkannya masih menangis. Ia sudah menjadi makhluk yang cukup kuat untuk ditakuti manusia, tetapi cara kita membayangkan kesedihannya masih sangat dikenali sebagai kesedihan perempuan. There is something painfully tender about that. She is a monster, but she is still crying. She is still, somehow, just a girl.

Baca juga: Takut Setan dan Hal-hal Gaib: Bawaan atau Pengalaman?

Lalu Internet Menemukan Kunti Core

Mungkin karena itulah saya sangat tertarik ketika beberapa tahun terakhir istilah “kunti core” muncul di internet. Sesuatu yang dulu bisa membuat orang merinding sekarang menjadi cara mendeskripsikan parfum. “Kunti Core” lazim digunakan untuk aroma white floral yang kuat, melati, tuberose atau sedap malam, serta ylang-ylang atau kenanga.

Istilah itu lahir dari asosiasi lama masyarakat antara aroma bunga-bunga tersebut, khususnya melati, dan kehadiran kuntilanak. Dulu, mencium wangi melati di tengah malam adalah peringatan keras untuk tidak menoleh ke belakang. Sekarang, semerbak melati dan tuberose yang pekat, feminin, dan sedikit misterius justru lebih mudah diasosiasikan dengan parfum atau estetika kunti core daripada sesuatu yang menakutkan.

Kita mengambil salah satu kode paling ikonik dari hantu perempuan Indonesia dan menjadikannya estetika. Bukan darahnya. Bukan wajah menyeramkannya. Bukan kematiannya. Justru bunganya, feminitasnya, dan aura misteriusnya. Sesuatu yang dulu menandai monstrositasnya kini bisa menjadi bagian dari daya tariknya.

Selama bertahun-tahun, karakteristik feminin kuntilanak digunakan untuk membuatnya mengerikan. Sosok perempuan yang cantik dibikin terlalu pucat; rambut panjangnya dibiarkan terurai liar; gaun putihnya selalu muncul dari balik kegelapan. Suara perempuan itu diubah menjadi tawa atau ratapan yang menyayat, dan aroma bunga yang dibawanya bertransformasi menjadi pertanda petaka sedang mendekat.

Lalu sebuah generasi melihat karakteristik yang sama dan dengan santainya membedah sosoknya: rambut hitam panjang yang memikat, gaun putih dengan kesan ethereal, serta paduan jasmine dan tuberose yang gorgeous. Seorang perempuan misterius yang berjalan sendirian di malam hari? She kind of has a vibe.

Perubahan itu menarik karena yang direklamasi bukan sekadar sosok hantunya, melainkan ciri-ciri feminin yang selama ini membuatnya mudah dikenali sebagai monster. Rambut panjang, pakaian putih, kecantikan, aroma bunga, dan kesan misterius tidak lagi otomatis bekerja sebagai kode ketakutan. Ciri-ciri tersebut bisa dibaca sebagai sesuatu yang indah, feminin, bahkan menyenangkan.

Ada sesuatu yang sangat menyenangkan dari perubahan ini. Sebuah bentuk kecil dari apa yang bisa kita sebut reclamation of the monstrous feminine. Tetapi mungkin saya bahkan lebih menyukai istilah lain: tenderness toward the monstrous feminine. Sebab kita tidak selalu harus merebut kembali monster perempuan dengan menjadikannya lebih garang, lebih kuat, atau lebih ganas. Kadang-kadang kita merebutnya kembali dengan mengizinkannya menjadi lembut, whimsicalflowery, sedikit absurd, bahkan adorable tanpa menghapus tragedi yang membuatnya menjadi monster sejak awal.

Penelitian tentang hantu perempuan Indonesia memang menunjukkan bagaimana adaptasi kontemporer mulai memungkinkan figur-figur ini bergerak dari korban pasif menjadi sosok yang memiliki agensi. Dalam konteks kuntilanak, perubahan cara melihat sosok ini juga membuka pertanyaan lain: mengapa ciri-ciri yang membuatnya feminin sekaligus menjadi bagian dari hal yang membuatnya menakutkan?

Kita tidak lagi cuma bertanya, “Kenapa dia menyeramkan?” Kita mulai melihat bagaimana tubuh, kecantikan, kesedihan, dan feminitas ikut membentuk sosok monster perempuan tersebut. Pada saat yang sama, kunti core menunjukkan bagaimana simbol-simbol itu dapat dipisahkan dari rasa takut dan diberi makna baru.

Baca juga: Ada Apa dengan Pocong: Apa Arti Pocong dalam Film Indonesia?

Mengingat Perempuan di Balik Kuntilanak

Saya tentu tidak ingin mengubah tragedi perempuan menjadi sesuatu yang romantis. Tidak ada yang indah dari kematian saat melahirkan. Tidak ada yang whimsical dari kekerasan, kehilangan, atau tubuh perempuan yang mati dalam keadaan tragis. Justru sebaliknya. Mungkin rasa sedih yang saya rasakan terhadap kuntilanak muncul karena untuk pertama kalinya saya melihat tragedi itu.

Sebagai anak kecil, saya menerima monstrositasnya sebagai sesuatu yang sudah jadi: kuntilanak menyeramkan karena kuntilanak adalah hantu. Sebagai orang dewasa, saya mulai melihat konstruksinya. Ada seorang perempuan di sana. Seorang perempuan yang dalam berbagai versi cerita tidak pergi dengan tenang. Seorang perempuan yang kemudian diingat melalui kesedihan, amarah, rambut panjang, tubuh putih, dan bunga-bunga.

Dan barangkali itulah yang membuat kunti core terasa begitu strangely sweet bagi saya. Kita mengambil sesuatu yang dulu digunakan untuk menandai ketakutan, lalu mengembalikannya menjadi keindahan. Melati bukan lagi peringatan untuk lari; ia bisa sekadar menjadi melati lagi. Rambut panjang tidak lagi harus menyembunyikan monster; ia bisa sekadar menjadi indah.

Feminitas yang dulunya membantu menjadikan kuntilanak mengerikan kini justru menjadi bagian yang membuat orang tertarik kepadanya. Namun perubahan itu tidak harus berarti tragedinya ikut menjadi indah. Ada perbedaan antara mereklamasi citra perempuan yang dibentuk sebagai monster dan meromantisasi kematian perempuan yang menjadi asal-usul ceritanya.

Kuntilanaknya mungkin tidak berubah. Kita yang berubah. Selama bertahun-tahun, masyarakat terbiasa membaca aroma melati di malam hari sebagai tanda kehadirannya. Wangi yang seharusnya lembut dan menyenangkan justru diberi makna sebagai pertanda sesuatu yang menyeramkan.

Namun hari ini, asosiasi itu mulai bergeser. Melati dan sedap malam tidak lagi hanya mengingatkan kita pada hantu perempuan bergaun putih, tetapi juga pada parfum, estetika, dan kunti core yang justru dirayakan karena kesan feminin dan misteriusnya. Yang berubah bukan bunganya, melainkan makna yang kita tempelkan padanya.

Barangkali di situlah perubahan itu terasa paling sederhana: simbolnya tetap sama, tetapi cara kita memaknainya tidak lagi sepenuhnya sama. Kuntilanak tetap hidup dalam cerita sebagai sosok yang menyeramkan, tetapi ia tidak lagi harus dilihat hanya melalui rasa takut. Ada ruang untuk melihat kesedihan dan feminitasnya tanpa menghapus tragedi yang melekat pada kisahnya.

Mungkin kita hanya tumbuh cukup dewasa untuk melihat perempuannya sebelum melihat monsternya. Dan setelah melihatnya, rasanya semakin sulit untuk memandang kuntilanak hanya sebagai sesuatu yang harus ditakuti.

About Author

Agnes Monica Marpaung

Agnes Monica Marpaung, M.I.Kom. merupakan dosen Program Studi Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jakarta.