11/06/2026
Lifestyle

Lepas dari Doomscrolling: 7 Aktivitas Analog yang Bikin Tenang

Stop doomscrolling. Temukan 7 aktivitas analog mudah—membaca buku fisik, menulis jurnal, berkebun, memasak—yang bisa meredakan penat dan mengembalikan fokus harianmu.

  • February 23, 2026
  • 6 min read
  • 818 Views
Lepas dari Doomscrolling: 7 Aktivitas Analog yang Bikin Tenang

Di era digital sekarang, hampir semua orang selalu menggenggam smartphone. Ditambah lagi, rutinitas kerja sering menuntut kita menatap layar laptop atau komputer sepanjang hari.

Akibatnya, mudah sekali terjebak dalam siklus tanpa henti: ibu jari yang terus menggulir layar dan paparan cahaya biru yang perlahan membuat mata lelah.

Arus informasi yang deras—dari berita terbaru seperti gempa hari ini sampai perkembangan kesehatan global—sering berujung pada beban mental yang tak sedikit.

Karena itu, banyak orang mulai beralih ke aktivitas analog sebagai cara sederhana meredakan penat. Aktivitas ini membantu menemukan kembali ketenangan dan rasa diri di tengah hiruk-pikuk digital.

Secara sederhana, aktivitas analog adalah kegiatan yang tidak melibatkan teknologi atau gawai. Jika dipelihara sampai jadi kebiasaan, aktivitas analog bisa berkembang menjadi hobi yang memberdayakan.

Baca Juga: Cari Validasi dari Diri, Bukan Instagram Story

Kenapa aktivitas analog relevan di era doomscrolling

Lanjut dari pembahasan sebelumnya: mengapa aktivitas analog terasa relevan di era doomscrolling? Singkatnya—karena analog memberi ruang yang sengaja kita ambil dari hiruk-pikuk digital, dan ada bukti praktis serta jurnalistik yang mendukung manfaatnya. Menurut The Guardian dalam artikel I deleted news apps: Guardian readers on how to stop doomscrolling, banyak orang yang benar-benar mengurangi kecemasan dengan membatasi akses berita dan mengganti rutinitas scrolling dengan kegiatan lain yang lebih bermakna.

Memberi jeda dari overstimulasi digital

Setiap hari otak kita terpapar arus notifikasi, berita pendek, dan konten yang terus-menerus menuntut reaksi—sebuah kondisi yang diulas sebagai tantangan utama di dunia kerja modern dalam artikel Conquering Digital Distraction (Harvard Business Review). Aktivitas analog (mis. membaca buku fisik, berkebun, atau merajut) memutus siklus itu: tidak ada notifikasi tiba-tiba, tidak ada scroll tanpa ujung—hanya alur kegiatan yang menenangkan dan memberi otak kesempatan ‘bernapas’.

Mengembalikan fokus yang terpecah

Dikutip dari Scientific American, The Reading Brain in the Digital Age: The Science of Paper versus Screens, riset tentang perbedaan membaca di layar dan kertas menunjukkan bahwa layar cenderung “menguras” sumber daya mental kita dan bisa membuat ingatan terhadap bacaan menjadi kurang kuat—sementara membaca fisik seringkali memfasilitasi keterlibatan yang lebih mendalam.

Dengan aktivitas analog yang menuntut konsentrasi bertahap (menulis jurnal, memasak, merajut), kemampuan fokus yang sempat tercerai mulai tersusun ulang.

Mengaktifkan indra secara menyeluruh

Dunia analog seringkali multisensori—aroma kopi, tekstur kertas, suara langkah di taman—yang membawa kita keluar dari “kepala” dan menempatkan kita kembali ke tubuh. Dikutip dari Frontiers, A multisensory mindfulness experience di Frontiers in Psychology, studi eksperimental tentang pengalaman mindfulness multisensori menunjukkan peningkatan regulasi emosi dan keterlibatan atensi ketika indera lain dilibatkan, bukan hanya penglihatan melalui layar. Itu sebabnya aktivitas analog terasa lebih ‘grounding’.

Mempraktikkan slow living—bukan cuma kata kunci

Slow living bukan sekadar estetik Instagram; ini mindset yang mendorong proses bertahap dan penghargaan terhadap ritme alami. Aktivitas analog seperti menanam, membaca satu bab per hari, atau membuat makanan dari awal memaksa kita memperlambat tempo—hasilnya adalah latihan sabar yang mengembalikan makna pada proses, bukan hanya mengejar output cepat.

Mengurangi kecemasan akibat paparan berita negatif—dari konsumsi ke kreasi

Doomscrolling sering berujung pada konsumsi pasif berita negatif yang meningkatkan kecemasan. Mengubah energi itu menjadi tindakan kreatif (menulis, menggambar, berkebun, memasak) memberi kontrol terasa kembali: kamu bukan lagi hanya menyerap stres, tapi menghasilkan sesuatu yang nyata. Dikutip dari The Guardian, ‘I deleted news apps’: Guardian readers on how to stop doomscrolling, pembaca The Guardian yang memutuskan menghapus aplikasi berita melaporkan penurunan kecemasan dan peningkatan waktu untuk aktivitas produktif—bukti anekdot yang didukung saran praktis jurnalistik.

Baca Juga: Sia-sia dan Ancam Privasi, Setop Coba Fitur ‘Add Yours’ di Instagram

Aktivitas analog untuk melepas penat

Kalau doomscrolling membuat kepala penuh, aktivitas analog bekerja seperti cara “mengosongkan gelas”—bukan kabur dari realita, melainkan kembali ke hal-hal sederhana yang nyata dan bisa disentuh. Kabar baiknya, kamu enggak perlu jadi kreator atau ahli dulu untuk mulai; aktivitas ini fleksibel, rendah tekanan, dan bisa disesuaikan dengan ritme harianmu.

  1. Membaca buku fisik: kembali ke cerita tanpa notifikasi

Ada kenikmatan tak tergantikan saat membuka buku cetak—suara halaman dibalik, tekstur kertas, berat buku di tangan—dan ini membantu meminimalkan gangguan dibanding baca di layar. Menurut Scientific American, The Reading Brain in the Digital Age: Why Paper Still Beats Screens, membaca di kertas seringkali lebih mendukung pemahaman dan keterlibatan mendalam dibanding layar.

Mulai dari 10–15 menit sehari; konsistensi kecil lebih berguna daripada ambisi besar.

  1. Menulis jurnal: memindahkan beban dari kepala ke kertas

Menulis jurnal itu seperti merapikan lemari pikiran: menuliskan rasa, ide, atau keluh-kesah membuat beban jadi konkret dan lebih mudah diatur. Harvard Health, Writing about emotions may ease stress and trauma, menjelaskan bahwa expressive writing atau menulis tentang emosi dapat mengurangi stres dan membantu pemrosesan pengalaman emosional.

Atur ritual simpel—satu paragraf sebelum tidur—supaya jurnal jadi alat bukan tugas.

  1. Menggambar atau mewarnai: terapi tanpa harus jago

Coret-coret bebas atau mewarnai buku dewasa bukan soal hasil akhir, melainkan proses. Studi klinis dari PubMed Central, The effects of coloring therapy on patients with generalized anxiety disorder, menunjukkan coloring therapy memberi efek positif pada kecemasan dan suasana hati pada beberapa kelompok peserta.

Biarkan tangan bekerja—ulang-ulang gerakan sederhana itu sudah seperti meditasi ringan.

  1. Berkebun: menyentuh tanah, menyentuh ketenangan

Berkebun, bahkan sebatas merawat pot di jendela, menghadirkan hubungan langsung dengan alam dan ritme hidup yang menenangkan. Menurut PubMed Central, Gardening for health: a regular dose of gardening, berkebun dan paparan ruang hijau berkaitan positif dengan kesehatan mental dan fisik.

Tanaman mengajarkan sabar: prosesnya pelan, tapi berdampak nyata pada perasaan kita.

  1. Memasak dari nol: hadir sepenuhnya di dapur

Memasak melibatkan banyak indra—bau, suara, rasa, tekstur—sehingga memaksa kita hadir penuh saat melakukan aktivitas. Penelitian dan tinjauan tentang “kitchen therapy” dari PubMed Central mencatat manfaat psikososial memasak untuk kesejahteraan, termasuk pengurangan stres.

Mulai dengan resep sederhana; prosesnya sendiri adalah bagian dari hadiah.

  1. Merajut & kerajinan tangan: ritme yang menenangkan

Kegiatan needlecraft—merajut, crochet, menyulam—memiliki pola berulang yang menenangkan sistem saraf. Kajian dan penelitian terbaru dari PMC, Creating arts and crafting positively predicts subjective wellbeing, menemukan bahwa kegiatan kreatif dan kerajinan punya efek positif pada kesejahteraan, mood, dan mengurangi rasa kesepian.

Hasil kecil yang terlihat memberi perasaan kontrol dan kepuasan nyata.

  1. Jalan kaki tanpa gadget: berteman dengan sunyi

Jalan santai tanpa ponsel atau earphone membuka ruang untuk merasakan napas, langkah, dan lingkungan—sebuah latihan kehadiran sederhana. Artikel dari Psychology Today, 2 Mental Health Benefits of ‘Silent Walking’, menyoroti manfaat “silent walking” untuk ketenangan dan fokus mental.

Coba rutinitas 10–20 menit; sensasinya seringkali lebih menenangkan daripada scrolling.

About Author

Kevin Seftian

Kevin merupakan SEO Specialist di Magdalene, yang sekarang bercita-cita ingin menjadi dog walker.