‘Na Willa’ dan Lima Buku Anak yang Wajib Dibaca Orang Dewasa
Film Na Willa besutan sutradara Ryan Adriandhy tengah mencuri perhatian publik. Hingga (26/3) lalu, film ini tercatat telah disaksikan sebanyak 436.208 kali di berbagai bioskop Tanah Air. Diadaptasi dari seri novel populer Na Willa: Serial Catatan Kemarin karya Reda Gaudiamo, kisahnya mengajak penonton menyelami dunia melalui sudut pandang Na Willa, anak perempuan berusia enam tahun yang tinggal di gang pinggiran Surabaya pada era 1960-an.
Sejak terbit pertama kali pada 2012, novel ini telah menjadi bacaan lintas generasi. Kepolosan Na Willa yang penuh rasa ingin tahu membuka ruang untuk melihat dinamika keluarga multikultural, dengan ibu yang berasal dari Nusa Tenggara Timur dan ayah keturunan Tionghoa, serta interaksinya dengan lingkungan sekitar.
Kesederhanaan narasi yang dihadirkan justru menyimpan kompleksitas emosional yang kuat bagi pembaca dewasa. Dunia anak yang tampak ringan itu menghadirkan lapisan makna yang dalam. Tidak hanya Na Willa, sejumlah buku anak lain juga menawarkan pengalaman serupa. Berikut lima rekomendasi yang memberi kesan mendalam bagi pembaca dewasa.
Baca Juga: ‘Invisible Women’: Data Laki-laki yang Utama, Perempuan Nanti Saja
Na Willa dan Rumah dalam Gang & Na Willa dan Hari-hari Ramai
Melanjutkan kesuksesan buku pertamanya, Reda Gaudiamo kembali membawa pembaca ke dunia Na Willa yang mulai beranjak sekolah dan menghadapi dinamika keluarga yang lebih luas. Dalam buku kedua, Na Willa harus menghadapi perubahan besar saat pindah ke Jakarta, meninggalkan Gang Kerembangan serta sahabat-sahabatnya: Dul, Farida, dan Bud.
Memasuki buku ketiga, lapisan emosionalnya semakin terasa. Willa mulai belajar memendam perasaannya sendiri, terutama saat menghadapi kesepian di sekolah baru dan kerinduan pada waktu bersama Mak. Perannya sebagai kakak juga menghadirkan dinamika baru yang memperlihatkan campuran kebahagiaan dan kecemasan khas anak pertama.
Meski konflik semakin terasa, Reda tetap menjaga kemurnian dunia anak yang polos dan penuh permainan. Ilustrasi karya Cecilia Hidayat turut memperkuat suasana, menghadirkan nostalgia yang mengajak pembaca kembali ke masa kecil.
Taman Tanpa Aturan
Ditulis oleh Noor H. Dee dengan ilustrasi dari L.P. Hok dan Platypo, Taman Tanpa Aturan menghadirkan kumpulan cerita pendek yang ringkas namun berlapis makna. Buku setebal sekitar 60 halaman ini memuat 24 cerita mini, masing-masing hanya dua hingga tiga halaman.
Sebagai bagian dari seri Pustaka Mekar penerbit Marjin Kiri, buku ini terasa ringan sekaligus segar. Cerita-ceritanya yang absurd dan jahil justru menjadi daya tarik utama, menghadirkan kontras dengan kecenderungan orang dewasa yang semakin kaku dan terlalu rasional.
Bagi pembaca muda, buku ini dapat memantik pertanyaan kritis dan empati. Sementara bagi pembaca dewasa, cerita seperti “Cica yang Senang Menggambar di Dinding” atau “Anak Paling Nakal Sedunia” menghadirkan refleksi tentang cara memahami dunia anak yang tidak selalu sejalan dengan logika orang dewasa.
Baca Juga: Getir Perempuan Palestina: Ditundukkan Israel dan Bangsanya Sendiri
Kisah Camar dan Kucing yang Mengajarinya Terbang
Karya Luis Sepúlveda ini menghadirkan kisah tentang kucing pelabuhan bernama Zorbas dan burung camar bernama Kengah. Kengah yang sekarat akibat limbah minyak di pelabuhan Hamburg meminta Zorbas berjanji untuk mengerami telurnya dan mengajari anaknya terbang.
Dari premis sederhana ini, cerita berkembang menjadi refleksi tentang tanggung jawab dan solidaritas lintas makhluk. Sepúlveda juga mengkritik cara pandang antroposentrisme, yang menempatkan manusia sebagai pusat dan menjadikan alam sekadar objek eksploitasi.
Kerusakan lingkungan dalam cerita ini tidak digambarkan sebagai kebetulan, melainkan sebagai hasil pilihan manusia. Pesan yang dihadirkan terasa kuat tanpa menggurui, mengajak pembaca merenungkan hubungan manusia dengan alam dan makhluk lain.
Panggilan Sang Monster
Dikenal dengan judul A Monster Calls, novel karya Patrick Ness berfokus pada Conor O’Malley, remaja berusia 13 tahun yang menghadapi kenyataan pahit ketika ibunya menjalani pengobatan kanker. Setiap malam, ia didatangi sosok monster yang menjadi representasi dari beban emosionalnya.
Cerita ini menggambarkan pergulatan batin yang kompleks, mulai dari rasa kehilangan, kemarahan, hingga kesepian. Kehidupan Conor yang diwarnai hubungan dengan ayah yang jauh, nenek yang kaku, serta lingkungan sekolah yang tidak suportif mempertegas tekanan yang ia hadapi.
Di balik narasi yang sederhana, tersimpan tema universal tentang duka dan penerimaan. Kombinasi antara emosi yang intens dan humor yang halus membuat kisah ini relevan bagi pembaca dari berbagai usia.
Baca Juga: ‘As Long As Lemon Trees Grow’: Trauma dan Perlawanan dalam Konflik Suriah
Kiki’s Delivery Service
Sebelum dikenal luas melalui adaptasi animasi Studio Ghibli, kisah ini berasal dari novel karya Eiko Kadono. Kiki, penyihir muda, menjalani tradisi merantau selama satu tahun bersama kucingnya, Jiji, untuk belajar mandiri di kota baru.
Perjalanan Kiki menghadirkan refleksi tentang rasa ragu terhadap diri sendiri, yang kerap dikenal sebagai imposter syndrome. Dalam prosesnya, ia belajar menghadapi ketidakpastian, membangun kepercayaan diri, serta menemukan makna dari kemandirian.
Cerita ini menunjukkan bahwa kedewasaan tidak selalu hadir melalui kekuatan luar biasa, melainkan melalui keberanian untuk bertahan dan beradaptasi. Pesannya sederhana, tetapi relevan bagi siapa pun yang sedang mencari arah dalam hidup.





















