15/06/2026
Culture Opini

Mendengarkan Maskulinitas yang Manusiawi dari Band Perunggu

Maskulinitas mungkin terlampau sering dibingkai dengan gagah, kuat, dan perkasa, sifat yang tak selalu dimiliki manusia. Mendengarkan Perunggu mengingatkan, menjadi maskulin tidak perlu berhenti menjadi manusia.

  • March 29, 2026
  • 6 min read
  • 1451 Views
Mendengarkan Maskulinitas yang Manusiawi dari Band Perunggu

Foto: Cherry Pop

Kayak lagu band pop 2010-an gitu ya,” kata saya ketika teman memperdengarkan salah satu lagu ‘33x’ milik Perunggu. Musiknya mudah diterima telinga, petikan gitar yang statis, diikuti pola bas dan drum yang lambat, jauh dari rumit tapi tidak bisa dibilang sederhana. 

Berbeda dari lagu pop kala itu, Perunggu enggak bicara tentang separuh dirinya yang sudah diberikan kepada pasangan atau membuat perempuan jatuh cinta meski sebelumnya tidak. Band yang terdiri dari tiga orang ini menggambarkan kehidupan laki-laki usia 29 yang merasa terjebak dalam keadaan stagnan. 

Liriknya tidak mengindahkan fantasi laki-laki kuat nan macho yang harus tegar setiap saat. Ada pesan untuk merawat kesehatan mental dan spiritual dalam ‘33x’. Ini tergambar dalam reff yang menyarankan para pendengar untuk tidak takut melambat dalam hidup dan memetakan kembali harapan masa depan. 

Di antara pusaran nirfungsi / Petakan semua lagi, titik tuju yang t’lah terpatri / Melamban bukanlah hal yang tabu / Kadang itu yang kau butuh, bersandar hibahkan bebanmu //” 

Adegan perkenalan saya dengan ‘33x’ bisa terjadi karena saya menggumamkan penggalan lirik yang jadi tren TikTok pada 2025. “Kami pernah di situ / di posisimu / helakan kesahmu //” Satu kalimat yang menyadarkan pendengar, mereka tak pernah sendiri dalam hidup ini, ada orang yang akan paham keluhan hidup karena punya pengalaman yang sama. 

Seorang teman memperdengarkan versi penuhnya setelah saya mengaku tidak tahu Perunggu. Band ini cukup menarik. Mereka menggeser makna maskulinitas hanya dengan mengekspresikan rasa lelah dengan hangat, tanpa menggurui pendengarnya. 

Baca juga: Endah Widiastuti dan Hak Cipta yang Tak Kunjung Terang

Ekspresi

‘33x’ bukan satu-satunya karya yang menggeser maskulinitas semu. Alih-alih mengajak pendengarnya terlihat kuat setiap saat, Perunggu mengingatkan untuk menerima setiap fase hidup dalam ‘BIang Lara’. 

Tempo lagu yang sedang dan distorsi gitar menonjolkan kesan semangat. Suara vokalis Maulana Malik Ibrahim atau Maul yang khas rasanya seperti teman yang membujuk pendengar untuk tetap menikmati hidup meskipun sedang ada di putaran bawah ‘Biang Lara’. Setiap perasaan, bahkan perih, berhak dirayakan dengan caranya masing-masing. 

Tak perlu ada simbol kebahagiaan yang dibuat-buat untuk menutupinya. Ini ditunjukkan ketika Maul menyanyikan:  “Jika ini letih / Berhenti palsukan senyum itu, mulai / Rayakanlah perih.” Kombinasi vokal, musik, dan lirik lagu ini mungkin mampu mengupas kepalsuan yang sudah mengeras pada ekspresi para pendengarnya. 

Bicara tentang ekspresi yang tertahan, lagu ‘Aku Ada Untukmu’ menggugah nostalgia dengan notasi yang menenangkan. Rindu hinggap ketika sang vokalis Maulana Malik Ibrahim atau Maul menyanyikan setiap kenakalan semasa sekolah yang dideskripsikan sebagai “bukti kebodohan yang sempurna.” 

Mulai dari “aneka upaya kabur sekolah”, hingga “menghafal nama semua ayah teman sekolah,” melayangkan helai kenangan yang bikin senyum-senyum sendiri. Saya teringat sahabat yang selalu berkeliaran dalam hidup sejak kami duduk di sekolah dasar. Dua laki-laki yang sedari kecil tak diajarkan mengungkapkan perasaan pada satu sama lain. 

Tabu akan timbul jika rasa terima kasih dan syukur terucap secara verbal. Namun, setiap ia hadir saat saya merasa sendiri di hidup ini, lirik Perunggu yang berkata, “Aku ada untukmu / Boleh saja kalau kau ragu / Aku ada untukmu / Walau mungkin tak selalu,” seakan terputar dalam kepala seperti soundtrack film yang menggambarkan rangkulan dalam hening saat kami sedang menguatkan satu sama lain. 

Baca juga: Mendengar Fufu Clan, Mendengar Hidup Kelas Menengah yang Terimpit

Lagu Cinta Perantau 

Tak hanya berekspresi secara jujur, Perunggu juga lihai dalam memverbalkan kasih sayang. Lagu ‘Tapi’ dan ‘Ini Abadi’ terdengar seperti surat cinta yang merdu, masing-masing kepada ibu dan pasangan. 

‘Tapi’ mengisahkan tentang seorang yang bersiap merantau ke Jakarta, metropolitan yang selalu sibuk di benak cukup banyak orang. Semua keraguan yang dirasakan penulis lagu untuk meninggalkan kampung halamannya di Bandung menghantuinya setelah dua hari merantau. Semua lirik awal ini diiringi dengan musik yang lebih elektrik. 

Selain pola drum yang terdengar membutuhkan kegesitan tangan, suara synthesizer yang mengisi genjreng gitar akustik tanpa efek, memberikan kesan mengawang, cocok untuk bengong sambil menunggu travel, kereta, atau pesawat ke kota tujuan. Pun begitu, keraguan itu terbayar tuntas ketika penulis lagu sadar akan kehadiran doa ibu di hidupnya. 

“Dunia boleh saja menahanku / Atau perlahan bongkar mimpiku / Dunia boleh saja menahanku / Kupunya doa Ibu.” 

Sementara, ‘Ini Abadi’ adalah surat cinta untuk hubungan jarak jauh. Penulis lagu lagi-lagi harus bekerja di Jakarta, meninggalkan pasangannya di Bandung. Banyak janji yang terbengkalai dan hubungan penuh dengan perpisahan, dinyanyikan dengan iringan piano yang lambat dan alat musik string yang sayup-sayup mengimbangi vokal. 

Penulis lagu ingin pasangannya tahu, hubungan jarak jauh ini tidak akan selamanya. Mereka akan melewati perbedaan kota yang sementara, hingga suatu saat bisa merawat kasih sayang yang abadi. “Tentang mimpi berkecukupan / Tanpa harus lembur lagi ke Gambir lagi / Senin pagi dilanjut taksi tenangkanlah / Ini abadi.” 

Perunggu tak perlu berkata akan menyeberangi samudera, membeli perhiasaan mahal, atau menaklukan Himalaya. Mereka hanya bekerja di Jakarta dan berharap hubungan jarak jauh tak akan selamanya. Bukan berarti kiasan berbunga-bunga tidak boleh ada. Namun, sebagian pendengar lebih cocok dengan sesuatu yang nyata. 

Baca juga: Pengalaman Mendengar Hipdut: Instrumen Penuh ‘Pleasure’, Liriknya Bikin ‘Guilty’

Cara Halus Mendobrak Norma 

Satu benang merah dalam setiap lagu Perunggu, mulai dari album Memorandum (2022) hingga Dalam Dinamika (2025) serta singlesingle-nya adalah kekayaan ekspresi dalam mengungkapkan perasaan sehari-hari. Tema yang cukup jarang diangkat oleh band berpersonil full laki-laki. 

Karya-karyanya menanggalkan maskulinitas beracun. Mereka berhasil menuturkan perasaan laki-laki sebagai manusia biasa, yang rapuh, lelah, dan membutuhkan kasih sayang. 

Meski tidak persis, saya teringat cara band Nirvana mendobrak norma maskulinitas beracun dalam musik rock pada era 1990an. Melansir popmatters.comindustri rock selama era 1980-an dikuasai band gagah yang gemar mengobjektifikasi perempuan dalam karya. Nirvana kemudian hadir sebagai angin segar, mengakhiri dekade kelam itu. 

Mereka membawa tema yang sebelumnya tabu dibicarakan. Dalam karya-karyanya, vokalis sekaligus gitaris Nirvana Kurt Cobain berteriak ala punk keras tentang budaya pemerkosaan dan norma gender yang perlu dilenyapkan. Band ini berhasil mengabadikan sudut pandangnya, sebagai jejak yang bisa diikuti para penerus. 

Perunggu pun sama. Mereka menunjukkan, musisi atau band laki-laki tidak melulu harus membuat lagu yang terdengar gagah. Alih-alih melunturkan citra maskulin, ekspresi akan perasaan menciptakan maskulinitas yang lebih manusiawi dan tidak beracun. 

Mereka berhasil menyadarkan pendengar untuk tidak perlu selalu mengejar juara satu. Tak ada salahnya menikmati Perunggu saat kita sedang berada di podium juara tiga. 

Jadi, juara tiga juga, A? 

About Author

Andrei Wilmar

Andrei Wilmar bermimpi buat jadi wartawan desk metropolitan.