Aku Dicap Punya ‘Daddy Issue’, Aku Menolak Label itu
Kakak laki-lakiku adalah orang pertama yang melontarkan pernyataan aku punya daddy issue. Kesimpulan itu muncul dari keputusanku menikah dengan laki-laki yang usianya terpaut jauh di atasku. Dalam pandangannya, alasan utamaku berkaitan dengan kebutuhan akan pelindung dan penyelamat dalam hidup.
Latar belakang keluarga kami kerap dijadikan dasar penilaian tersebut. Kami tumbuh tanpa figur ayah yang utuh, sementara masa kecil lebih banyak didominasi oleh sosok ibu. Figur ayah hanya hadir dalam potongan kenangan acak, dengan memori yang sangat terbatas dalam ingatan.
Meski memiliki latar belakang begitu, aku tidak melihat pilihan ini semata-mata didorong kebutuhan akan sosok pelindung. Yang kucari dari pasangan hidup adalah laki-laki yang menghargai perempuan, memiliki visi hidup yang sejalan, serta mampu menyediakan ruang untuk berekspresi dan bertumbuh. Usia bukan faktor utama, meski pada akhirnya kriteria tersebut kutemukan pada seseorang yang lebih tua.
Respons terhadap stigma tersebut berubah seiring waktu. Dua puluh tahun lalu, tidak ada keberanian untuk menyanggah atau membela diri secara terbuka. Bentuk perlawanan saat itu hadir dalam keputusan untuk tetap menjalani pilihan hidup yang telah diambil.
Kini, sebagai perempuan dewasa, stigma daddy issue terasa mengganggu karena lebih sering diarahkan kepada perempuan. Cara pandang ini menunjukkan kecenderungan menyederhanakan pengalaman perempuan sekaligus mengerdilkan jati diri mereka.
Pertanyaan yang terus muncul adalah alasan di balik pelabelan tersebut. Ketika figur ayah tidak hadir dalam keluarga, dampaknya tidak hanya dirasakan anak perempuan. Anak laki-laki juga mengalami kekosongan yang sama dalam proses tumbuh kembangnya.
Baca juga: Bangkitnya Laki-laki ‘Green Flag’ dalam Media Kita: Pertanda Apa Ini?
Fenomena dan Bahaya Laten Manosphere
Di berbagai negara Eropa, diskusi tentang manosphere semakin menguat dalam beberapa waktu terakhir. Perdebatan ini mencuat setelah peluncuran dokumenter Inside the Manosphere (2026) oleh Louis Theroux, yang membuka ruang pembicaraan tentang komunitas online pembentuk narasi maskulinitas tertentu.
Manosphere merujuk pada komunitas online yang mempromosikan definisi menjadi laki-laki melalui pendekatan sempit dan agresif. Dalam praktiknya, narasi yang dibangun kerap merendahkan sekaligus mengambinghitamkan perempuan atas berbagai persoalan yang dihadapi laki-laki. Salah satu gagasan yang berkembang adalah anggapan gerakan feminisme telah menggerus hak-hak laki-laki.
Kelompok ini aktif menjangkau anak muda melalui berbagai platform, mulai dari media sosial, gaming, aplikasi kencan online, hingga podcast. Mereka membangun citra maskulinitas berdasarkan ukuran kekayaan, penampilan fisik, dominasi dalam relasi, serta kontrol terhadap pasangan.
Narasi tersebut diperkuat melalui berbagai produk seperti program olahraga, gaya hidup glamor, hingga pelatihan finansial yang menjanjikan hasil instan. Dalam konteks ini, anak muda yang sedang mencari identitas dan figur rujukan kerap melihat komunitas tersebut sebagai ruang yang terasa memahami pengalaman mereka.
Di balik citra percaya diri yang ditampilkan, terdapat pola latar belakang yang serupa. Sejumlah pelaku dalam komunitas ini tumbuh dalam situasi fatherless. Temuan ini menunjukkan dampak ketidakhadiran orang tua tidak hanya dialami anak perempuan, tetapi juga anak laki-laki.
Dampaknya tidak berhenti di dunia digital. Narasi manosphere mulai masuk ke ruang sosial, lingkungan sekolah, hingga percakapan sehari-hari. Situasi ini mendorong perhatian dari organisasi internasional seperti United Nations dan Plan International yang mulai melakukan berbagai inisiatif pencegahan.
Baca juga: Kalau Patriarki, Pasti Misogini: Relasi yang Sering Disalahpahami
Mendorong Perempuan, Mendidik Laki-laki
Sebagai seorang ibu dari anak laki-laki yang dalam beberapa tahun ke depan akan memasuki usia puber, ada kesadaran akan potensi paparan terhadap berbagai pengaruh seperti manosphere. Situasi ini mendorong keterlibatan dalam diskusi yang berkembang.
Upaya membekali anak tidak berhenti pada larangan atau pengawasan, tetapi berfokus pada pembangunan ketahanan mental dan kemampuan berpikir kritis. Anak perlu diajak memahami cara kerja narasi di media, mengenali bias, serta mempertanyakan pesan yang mereka terima. Pada saat yang sama, anak perempuan perlu didorong untuk berani bersuara dan menegosiasikan ruangnya, sementara anak laki-laki perlu diajak memahami makna tanggung jawab, empati, serta relasi yang setara.
Pendekatan ini menempatkan pendidikan nilai sebagai proses yang berkelanjutan dan kolektif. Keluarga menjadi ruang pertama, tetapi tidak berdiri sendiri. Sekolah, komunitas, hingga lingkungan sosial yang lebih luas ikut berperan dalam membentuk cara generasi muda melihat relasi gender. Tanpa keterlibatan bersama, narasi yang timpang akan lebih mudah mengisi ruang-ruang kosong dalam proses tumbuh kembang anak.
Dalam konteks ini, fenomena seperti daddy issue dan manosphere perlu dibaca secara lebih utuh, tidak sekadar dilekatkan pada satu gender. Sebab, penyederhanaan semacam itu justru menutup ruang untuk memahami akar persoalan yang lebih kompleks, termasuk relasi kuasa dan pengalaman hidup yang beragam. Pendekatan yang lebih setara membuka kemungkinan untuk membangun relasi yang lebih adil di masa depan.
Cuma soal waktu, gelombang manosphere bakal menjangkau lebih banyak ruang, termasuk lingkungan terdekat kita. Ketika itu terjadi, respons yang dibutuhkan bukan memperkuat stigma atau ikut mengipasi narasi yang merugikan. Pilihan yang lebih konstruktif adalah mengelola, meredam, dan menghadapi fenomena tersebut dengan kesadaran, agar tidak berkembang menjadi persoalan yang lebih luas.
Ilustrasi oleh Karina Tungari





















