07/07/2026
Culture Opini

Bangkitnya Laki-laki ‘Green Flag’ dalam Media Kita: Pertanda Apa Ini?

Ada yang bergeser dari cara kita melihat laki-laki yang atraktif.

  • March 9, 2026
  • 7 min read
  • 1495 Views
Bangkitnya Laki-laki ‘Green Flag’ dalam Media Kita: Pertanda Apa Ini?

Satu label ini belakangan makin sering muncul: green flag male character. Di linimasa, di grup percakapan, sampai di kolom komentar, istilah ini terus berulang seakan menjadi standar baru dalam menilai laki-laki fiksi. Ia mungkin bisa berganti-ganti tokoh setiap bulan—dari karakter novel ke pemeran serial terbaru—tetapi 

Pertanyaannya, apa sebenarnya yang sedang kita cari di balik label itu?

Biasanya, momen untuk menyebut seorang karakter laki-laki sebagai green flag justru datang dari gestur-gestur kecil dalam keseharian tokoh. Misalnya, saat seorang tokoh laki-laki memperlakukan pasangannya dengan penuh kesabaran atau menghormati pilihan pasangannya. Bukan gombalan atau tindakan heroik, melainkan hal-hal sederhana yang terasa lebih manusiawi. 

Dalam banyak kondisi, yang menjadi fokus sebenarnya adalah sikap green flag yang termanifestasi dalam karakter laki-laki itu. Ini memang masih bisa dibaca sebagai bentuk fangirling, tetapi dengan pergeseran fokus: dari pesona fisik ke kualitas emosional dan perilaku. Tokohnya boleh berganti-ganti, tetapi kriterianya tetap sama. 

Fenomena ini menarik karena menunjukkan adanya pergeseran cara kita, terutama perempuan, mengonsumsi dan merespons representasi laki-laki di media. 

Jika dulu standar ketampanan atau kekayaan menjadi tolok ukur utama, kini kualitas emosional dan cara memperlakukan pasangan justru menjadi sorotan. Bukan berarti aspek fisik dan materi tidak penting, tetapi ia bukan lagi satu-satunya penentu. 

Baca juga: Rekomendasi K-Drama dengan Karakter ‘Red dan Green Flags’

Green Flag dan Female Gaze

Di saat yang sama, kajian mengenai female gaze menunjukkan bagaimana media, baik dalam buku, film, dan serial, sering memposisikan laki-laki sebagai sosok yang lembut, mau mendengarkan, dan hadir secara emosional. 

Melalui tulisannya “Deconstructing the Male Gaze: A Critical Study of Female Perspective in Theory and Practice” (2025), Shreyoshi Dhar menegaskan bahwa female gaze menggeser fokus narasi ke pengalaman perempuan, dan pada saat yang sama menghadirkan bentuk maskulinitas yang lebih empatik serta relasional.

Laki-laki dalam bingkai female gaze tidak harus selalu kuat dan tak pernah salah, ia justru menjadi menarik ketika menunjukkan kerentanannya. Selama tidak merusak, justru memperdalam koneksi emosional.

Dalam banyak kasus, perempuan juga bisa memetakan bahwa karakter-karakter green flag umumnya ditulis oleh perempuan. Penegasan atas frasa “men written by woman“. Artinya, ada semacam kode yang hanya bisa ditangkap dan dieksekusi dengan tepat oleh perempuan ketika menuliskan sosok laki-laki impian. Bukan berarti penulis laki-laki tidak bisa menciptakan karakter green flag. Tetapi, kecenderungannya, karakter laki-laki green flag ikonik lahir dari penciptaan perempuan yang paham betul seperti apa laki-laki yang diidamkan.

Karakter laki-laki tersebut tidak sekadar diproyeksikan sebagai kekasih ideal, melainkan sebagai gambaran tentang hubungan yang memungkinkan perempuan merasa aman dan dihargai.

Baca juga: Pasangan ‘Green Flag’ di ‘1 Kakak 7 Ponakan’ Terlalu Sempurna untuk Jadi Nyata

Representasi Laki-laki Green Flag di Media

Jika melihat budaya populer, istilah green flag sering terikat pada karakter laki-laki yang hadir secara emosional dan konsisten. Lee Ik-jun dari Hospital Playlist misalnya, dikenal sebagai ayah hangat yang suportif. Hong Du-sik dalam Hometown Cha-Cha-Cha juga banyak dipuji karena bisa menjadi penopang emosi tanpa mengambil alih kendali. Lalu ada Jun Ho dari Extraordinary Attorney Woo, yang kejelasan komunikasinya membuatnya dicintai banyak penonton. 

Di Indonesia, figur green flag juga mulai banyak dibicarakan. Sadam dalam Petualangan Sherina 2 disebut-sebut sebagai “Green flag 2023” karena dewasa, mendengar, dan menjadi tempat kembali yang aman. Dalam Lyora: Penantian Buah Hati, tokoh Fajrie (Darius Sinathrya) tampil sebagai suami suportif yang stabil di tengah perjuangan panjang program bayi tabung. Banyak perempuan menilai karakter-karakter seperti ini sebagai “standar minimal yang seharusnya wajar”, sekaligus menyoroti betapa jarangnya representasi laki-laki sehat di layar lokal.

Daya tarik karakter ini ada pada perilaku mereka: hadir tanpa mendominasi, mendukung tanpa mengekang, dan memberi ruang bagi pasangan untuk bertumbuh. Penonton sering menyebut act of service, komunikasi jelas, serta kemampuan mengelola emosi sebagai indikator utamanya. 

Di TikTok, pujian untuk green flag bukan soal visual, tapi hal-hal kecil seperti cara tokoh mendengar, meminta izin, atau konsisten menepati ucapan.

Respons penonton di media sosial juga menunjukkan kuatnya fenomena ini. Video bertagar#greenflag ditonton jutaan kali, diiringi komentar seperti, “Kenapa cowok kayak gini nggak ada di sekitar gue?”, atau “Act of service selalu menang.” Ada pula yang menulis, “Di dunia nyata ada nggak ya yang begini?” Pola komentar ini menggambarkan bahwa figur green flag bukan sekadar hiburan. Tetapi refleksi kebutuhan emosional yang banyak perempuan rasa tidak terpenuhi.

Representasi green flag penting karena menghadirkan model hubungan yang lebih sehat: komunikasi jelas, empati, dan kehadiran sebagai mitra. Ketika banyak perempuan merasa relasi nyata belum mampu memberikan rasa aman ini, karakter green flag memberi bahasa untuk menuntut batas dan standar baru. Mereka mengingatkan bahwa hubungan yang sehat bukanlah fantasi, hanya belum cukup sering dicontohkan.

Banyak perempuan mengaku green flag lebih mudah ditemukan di film. Salah satu sebabnya adalah literasi emosional laki-laki di dunia nyata yang masih rendah. Lebih banyak laki–laki yang tumbuh dengan larangan menunjukkan perasaan. Maskulinitas tradisional juga tidak memberi ruang untuk lembut atau empatik. Di sisi lain, perempuan sejak kecil lebih terbiasa dengan komunikasi relasional. 

Akibatnya, ekspektasi pun tidak selalu bertemu dan tokoh green flag menjadi bentuk harapan, sekaligus kritik terhadap budaya yang belum banyak membesarkan laki-laki seperti itu.

Baca juga: Denny Caknan, Domestifikasi Perempuan, dan ‘Red Flag’ Mas-mas Jawa Misoginis

Adiksi terhadap Sosok Ideal

Lalu, mengapa tokoh seperti ini terasa begitu mempesona, bahkan adiktif? Jawabannya terletak pada cara media membentuk representasi gender. Dalam ulasan penelitian berjudul Gender and Media Representations: A Review of the Literature on Gender Stereotypes, Objectification and Sexualization (2023), Santoniccolo dan rekan-rekan menegaskan bahwa media memiliki pengaruh besar dalam membentuk norma dan ekspektasi gender. Representasi yang terus-menerus menghadirkan stereotip dan idealisasi tertentu membuat perempuan lebih mudah menginternalisasi preferensi emosional terhadap figur yang memberikan rasa aman dan afeksi, kebutuhan yang kerap tidak terpenuhi dalam relasi nyata.

Ada semacam siklus yang terbentuk: perempuan merasa tidak mendapatkan apa yang mereka butuhkan dalam hubungan sehari-hari, lalu mereka beralih ke media untuk mencari pengganti emosional. Media pun dengan sigap menyediakan karakter-karakter yang dirancang khusus untuk mengisi kekosongan itu. Semakin banyak perempuan yang mencari, semakin banyak pula konten green flag diproduksi. 

Di sisi lain, banyak representasi populer tentang laki-laki di ruang publik, lebih banyak digambarkan melalui kacamata yang menonjolkan sisi negatifnya. Laki-laki dalam keseharian kerap diceritakan sebagai pihak yang tidak setia, manipulatif, sulit berkomitmen, atau terlalu dominan. Media sosial, utamanya, menjadi tempat pengalaman buruk perempuan dengan laki-laki didokumentasikan dan disebarluaskan. Menjadi media solidaritas, sekaligus menciptakan kecemasan kolektif terhadap relasi heterogen.

Setiap kali bertemu laki-laki baru, ada daftar panjang tanda bahaya yang harus diperiksa. Apakah ia tipe yang manipulatif? Apakah ia bisa diajak bicara terbuka? Apakah ia akan bertahan saat masalah datang? 

Karena itu, ketika perempuan menemukan oase berupa karakter green flag di media, ia menjadi sesuatu yang dianggap langka dan menenangkan. Seperti beristirahat sejenak dari dunia nyata.

Pertanyaannya, apakah tokoh-tokoh ideal dalam representasi media populer itu benar-benar tidak ada di dunia nyata? Mungkin tidak sepenuhnya. Mereka ada. 

Namun kultivasi pesan dan kecenderungan bertemu dengan aspek negatif laki-laki di dunia nyata membuat kemungkinannya terasa lebih kecil. Belum lagi fakta bahwa laki-laki nyata tidak datang dengan naskah dan arahan sutradara. Mereka bisa saja bersikap green flag di awal, lalu berubah seiring waktu. Atau sebaliknya, mereka butuh waktu untuk menunjukkan sisi terbaiknya.

Perempuan penikmat media populer sadar bahwa karakter laki-laki green flag adalah konstruksi cerita yang sudah disaring melalui naskah, sudut kamera, dan ritme emosi yang dirancang untuk menyentuh penonton. 

Laki-laki fiksi tidak menceritakan seluruh hidupnya; ia hanya muncul pada momen-momen paling indah dan paling penting secara naratif. Lebih sering, kita sebagai pembaca atau penonton tidak diberi kesempatan untuk menyelami kompleksitas diri mereka selain apa yang ditampilkan dalam narasi.

About Author

Suci Marini Novianty