Menubuh: Ketika Tubuh Diakui sebagai Sumber Pengetahuan
Jauh sebelum saya mengenal ruang-ruang kelas di Sekolah Tinggi Filsafat Teologi Jakarta, pemahaman saya tentang tubuh lebih dulu dibentuk oleh bangku-bangku gereja di masa remaja. Dari sana, saya terbiasa mendengar khotbah yang membelah manusia menjadi dua: roh yang agung dan tubuh yang fana. Dalam warisan dogma semacam itu, tubuh ditempatkan di posisi serba salah. Ia dibutuhkan untuk hidup, tetapi juga dicurigai.
Kita tinggal di dalam tubuh, tetapi diajarkan untuk tidak sepenuhnya mempercayainya. Tubuh dianggap mudah tergoda, lemah, dan harus dikendalikan, sementara roh diletakkan lebih tinggi, seolah menjadi pengawas yang lebih suci.
Buku Tubuh & Roh saya tulis dari kegelisahan saya atas warisan pemisahan tersebut. Namun, saya tidak berangkat dari asumsi bahwa relasi kita dengan tubuh selalu damai. Sebaliknya, buku ini mengakui sesuatu yang sering luput dalam obrolan rohani. Bagaimana bagi banyak orang, tubuh justru adalah ruang konflik. Ada yang tumbuh dengan tubuh yang terus-menerus dinilai—terlalu gemuk, terlalu gelap, terlalu maskulin, atau terlalu feminin.
Baca juga: ‘The Period of Her’: Menstruasi dan Upaya Merebut Tubuh Sendiri
Ada yang hidup dengan disforia gender; merasakan jarak antara tubuh yang dilihat orang lain dan tubuh yang ia alami dari dalam. Ada penyintas kekerasan seksual yang tubuhnya menyimpan memori trauma, sehingga sentuhan, bau, atau sensasi tertentu bisa memicu ketakutan. Dalam situasi seperti ini, tubuh tidak selalu terasa seperti rumah yang aman.
Di tengah realitas itulah Tubuh & Roh memanfaatkan satu praktik sebagai fondasi berteologinya: menubuh. Menubuh bukan sekadar memiliki tubuh. Ini adalah tindakan sadar untuk menghidupi tubuh sebagai subjek, sebagai sumber pengalaman dan pengetahuan, bukan sekadar objek yang dinilai, diatur, atau diperbaiki. Namun, saya juga ingin menegaskan bahwa menubuh bukan ajakan untuk “mencintai tubuh” secara instan. Ia bukan slogan penerimaan diri yang mengabaikan luka. Menubuh adalah kesediaan untuk mendengarkan tubuh, termasuk ketika ia berbicara melalui ketidaknyamanan, kecemasan, atau penolakan.
Bagi seseorang yang mengalami disforia gender, menubuh bisa berarti mengakui bahwa rasa tidak selaras itu nyata dan valid. Ia bisa berarti mengambil langkah afirmatif, baik sosial maupun medis, untuk membuat tubuh lebih selaras dengan identitas yang dirasakan. Dalam konteks ini, menubuh bukan mempertahankan tubuh biologis apa adanya, tetapi setia pada pengalaman tubuh yang dihidupi dari dalam.
Bagi penyintas kekerasan seksual, menubuh mungkin berarti sesuatu yang jauh lebih pelan. Ia bisa berarti membangun kembali rasa aman sedikit demi sedikit. Mengizinkan tubuh merasa takut tanpa menyalahkannya. Tidak memaksa diri untuk segera pulih demi memenuhi ekspektasi sosial tentang “ketangguhan”. Menubuh, dalam situasi ini, adalah praktik ketabahan.
Baca juga: Vokalis Band Sukatani Dipecat, Bukti Tubuh Perempuan Jadi Alat Pembungkaman
Melalui Tubuh & Roh, saya mencoba meletakkan tubuh dan roh tidak lagi dalam hubungan atasan-bawahan. Roh tidak dijadikan hakim yang mengontrol tubuh, tetapi dipahami sebagai dimensi makna yang bekerja melalui pengalaman tubuh itu sendiri. Spiritualitas tidak lagi melayang di luar, melainkan berakar pada cara kita hadir di dalam dunia—melalui napas, sentuhan, relasi, dan keputusan-keputusan yang kita ambil atas tubuh kita.
Pendekatan ini juga menggeser cara kita memahami pengetahuan. Selama ini, pengetahuan sering diasosiasikan dengan rasio dan doktrin. Padahal tubuh menyimpan arsip yang tidak kalah penting seperti trauma, rasa aman, kenikmatan, ketakutan, dan keinginan. Semua itu membentuk cara kita memahami diri dan dunia. Menubuh berarti mengakui bahwa pengalaman yang dirasakan, baik menyenangkan maupun menyakitkan, adalah bagian dari proses memahami hidup.
Di titik ini, pembicaraan tentang tubuh tidak bisa dilepaskan dari relasi kuasa. Tubuh selalu berada dalam jaringan norma: norma gender, moralitas agama, standar kecantikan, wacana kesehatan, dan lainnya. Tubuh perempuan sering dikontrol melalui standar kepantasan. Tubuh queer diawasi melalui narasi dosa. Penyintas kekerasan kerap disalahkan karena dianggap tidak menjaga tubuhnya. Dalam konteks seperti ini, ajakan untuk setia pada pengalaman tubuh sendiri menjadi tindakan yang tidak sepenuhnya netral.
Menubuh dapat dibaca sebagai praktik perlawanan. Ia tidak selalu bersuara keras, tetapi ia menolak logika yang memisahkan manusia dari tubuhnya sendiri. Ia menolak gagasan bahwa tubuh hanya layak dihargai ketika sesuai dengan norma. Jika selama ini tubuh harus dibenarkan oleh roh, maka dalam pandangan ini, roh justru menemukan maknanya melalui tubuh yang dihidupi dengan sadar. Bahkan ketika tubuh itu rapuh dan tidak sempurna.
Pada akhirnya, Tubuh & Roh tidak menawarkan solusi instan atas konflik ketubuhan, tapi menawarkan ruang refleksi. Menubuh bukan tujuan akhir, melainkan proses yang terus berlangsung; proses menemani tubuh dalam seluruh kompleksitasnya. Di dunia yang gemar memisahkan makna dari pengalaman, saya ingin mengingatkan bahwa hidup tidak pernah dijalani dari luar tubuh. Kita selalu hidup dari dalamnya, baik ketika tubuh terasa seperti rumah, maupun ketika ia masih terasa asing.
Dan mungkin, justru dalam kesediaan untuk tetap tinggal di dalam tubuh yang rumit itulah, spiritualitas menemukan bentuknya yang paling jujur.




















