07/06/2026
Issues Opini Safe Space

Puisi dan Pemulihan Penyintas Kekerasan Seksual 

Puisi menghadirkan ruang ekspresi tanpa paksaan. Dalam forum penyintas, kata-kata bahkan diam dapat menjadi bagian dari proses pemulihan.

  • February 13, 2026
  • 5 min read
  • 2499 Views
Puisi dan Pemulihan Penyintas Kekerasan Seksual 

Seorang kawan yang sedang menulis tesis meminta saya membantu memfasilitasi Focus Group Discussion (FGD) tentang pemulihan psikososial pascatrauma pada penyintas kekerasan seksual melalui puisi. Permintaan ini terasa menarik sekaligus menantang. Di satu sisi, saya perlu menjaga forum tetap menjadi ruang aman. Di sisi lain, saya menyadari pertemuan tersebut juga bagian dari proses penelitian. 

Catatan ini adalah refleksi saya sebagai fasilitator FGD. Dari proses tersebut, saya menemukan kembali pelajaran penting tentang bagaimana ruang aman bekerja. Puisi hadir bukan sekadar sebagai medium ekspresi, melainkan sebagai cara menjaga jarak aman tanpa memaksa siapa pun membuka pintu luka. 

Di akhir sesi, saya menutup diskusi dengan puisi. Pilihan itu terasa tepat untuk merangkum suasana yang muncul di ruang bersama tersebut: 

teraduk-aduk aku 
seperti kopi dalam gelasmu 
hatiku larut 
seperti air dalam dinginmu 
hatiku tumpah 
seperti matahari dalam diamnya 
kita menghangat 
seperti cahaya dalam terangnya 
kita pulih. 

Baca juga: “Kami Netral”: Pernyataan yang Bisa Mengkhianati Penyintas Kekerasan Seksual di Kantor

Ruang Aman Bukan Panggung Pengakuan 

Saya ingat, dalam banyak kasus kekerasan yang kami tangani, hampir semua korban memilih diam. Diam menjadi strategi bertahan hidup, cara menghindari stigma dan tudingan yang kerap diarahkan kepada korban. 

“Sudah empat tahun saya jadi korban, selama ini saya diam,” kata seorang penyintas. 

Diam sering dibaca sebagai ketidakberdayaan. Dalam praktik pendampingan, kita kerap terdorong mendorong penyintas untuk berani bicara. Seolah ruang aman tercipta jika semua orang mau bercerita, menangis, lalu kita menyimpulkan: akhirnya ia lega. 

Pengalaman FGD ini memperlihatkan lapisan yang berbeda. Pendekatan arts-based research membuka cara lain membaca diam. Diam tidak selalu berarti ketiadaan partisipasi. Ia bisa menjadi ekspresi, bahkan mekanisme perlindungan diri. 

Dalam kerja aktivisme yang saya jalani lebih dari dua dekade, saya akrab dengan berbagai metode partisipatif. Sebagai fasilitator, saya terbiasa menahan dorongan paling umum, yakni menghidupkan forum dengan meminta orang bicara. 

Metode fasilitasi tidak pernah kekurangan alat bantu. Plano, sticky notes, hingga berbagai media sederhana dapat digunakan. Bahkan tanpa perlengkapan, forum tetap dapat dijaga hidup melalui nyanyian, musik, atau permainan kata. 

Baca juga: ‘Broken Strings’: Membaca Kekerasan Lewat Tubuh, Bahasa, dan Waktu

Tubuh sebagai Media Refleksi 

Untuk memetakan emosi peserta, kami menggunakan metode body mapping, pendekatan partisipatif yang menggunakan gambar tubuh sebagai media refleksi. Peserta diminta menandai bagian tubuh yang menyimpan rasa sakit maupun kekuatan. 

Kebanyakan peserta menggambarkan rasa sakit di dada dan kepala. Dada menjadi simbol luka emosional, kepala mewakili beban pikiran. Mendengar dan menyaksikan proses ini menghadirkan kesadaran lain: pendamping pun tidak kebal terhadap rasa sakit. 

Puisi kemudian kami hadirkan bukan sebagai tugas kreatif, melainkan medium ekspresi yang lentur. 

Seperti diperkenalkan Leavy (2009) dalam Method Meets Art: Arts-Based Research Practice, pendekatan ini menggunakan seni untuk memahami pengalaman tanpa menilai estetika. Puisi tidak ditimbang dari keindahan bentuknya, melainkan dari makna yang dibawanya. 

Saya memosisikan puisi sebagai teknologi jarak aman. Ia memberi kendali pada penyintas untuk memilih kata, menentukan batas, atau memilih diam. 

Baca juga: 5 Fakta yang Jarang Dibicarakan dari Pemerkosaan Massal 1998

Puisi, Diam, dan Pemulihan Kolektif 

Untuk membantu peserta memulai, saya menyiapkan tiga paket kartu kata: positif, negatif, dan netral. Peserta diminta memilih satu atau dua kata yang paling dekat dengan suasana hatinya. Dari sana, mereka bebas merangkai puisi atau prosa pendek. 

Saya tidak melakukan koreksi. Semua yang ditulis peserta adalah puisi. 

Seluruh peserta menulis, kecuali satu orang. Ia hadir, mendengarkan, menangis, tetapi tidak menulis. 

Dalam logika FGD konvensional, situasi ini mungkin dibaca sebagai rendahnya partisipasi. Dalam kerangka arts-based research, diam menjadi bentuk ekspresi non-verbal. Ia bisa menjadi cara menjaga jarak aman, bahkan strategi bertahan di dalam forum itu sendiri. 

Saya mencatatnya sebagai data. 

Salah satu penyintas menulis dua baris pendek: 

aku bukan korban 
aku cahaya 

Dua baris itu terasa sangat kuat. Tidak panjang, tidak dramatis, tetapi cukup untuk menggambarkan pergeseran cara memandang diri. 

Ketika puisi tersebut dibacakan, peserta lain merespons dengan ungkapan sederhana: “ikut merinding”, “ikut lega”. Di titik itu, pemulihan tampak bekerja dalam dimensi kolektif. 

Selama ini, banyak penyintas membutuhkan layanan konseling, tetapi aksesnya terbatas. Faktor biaya, keterbatasan layanan, dan minimnya dukungan sistemik membuat pemulihan sering terasa eksklusif. 

Pendekatan berbasis seni membuka kemungkinan lain. Ia tidak menggantikan layanan profesional, tetapi menyediakan ruang ekspresi yang lebih mudah dijangkau dan dapat dilakukan bersama. 

Seorang pendamping mengungkapkan kelelahan yang ia rasakan. 

“Selama ini capek kali bikin gugatan, replik, duplik. Gak nyangka, bikin puisi sama-sama gini malah lega.” 

Kalimat itu menegaskan satu hal penting. Puisi di ruang semacam ini bukan sekadar ekspresi artistik, melainkan mekanisme regulasi emosi. 

Dari proses tersebut, saya menarik satu pelajaran yang terasa mendasar. Pemulihan tidak selalu berarti membuka seluruh pengalaman untuk dikatakan. 

Diam tetap hak. 

Puisi bekerja karena ia menyediakan spektrum pilihan. Seseorang dapat berbicara melalui metafora, melalui satu kata, atau melalui keheningan. 

Pendekatan berbasis seni berpotensi menjadi ruang pemulihan hanya jika berpijak pada kerangka yang menempatkan penyintas sebagai subjek utama. Kuasa, batas, dan pilihan tetap berada di tangan mereka. 

Tanpa itu, puisi berisiko berhenti sebagai teks indah yang tidak menyentuh pemulihan. 

Di ruang aman, bahkan satu kata dapat menjadi langkah pertama menuju pulih. 

About Author

Laili Zailani

Lely adalah fasilitator pemberdayaan perempuan, pendiri HAPSARI dan Rumah Kata. Fellow Ashoka Indonesia (2000), serta penulis yang percaya bahwa cerita adalah alat perubahan.