Habis Gelap, (Tak) Terbit Terang? Refleksi Ayah atas Pelecehan di FHUI
Suatu hari anak perempuan saya yang belum lama lahir ini akan tumbuh besar. Ia akan pergi ke sekolah, duduk di bangku kuliah, lalu memasuki dunia yang hari ini sedang kita bentuk bersama. Sebagai ayah, saya ingin percaya ia akan hidup di masa yang lebih adil, belajar dengan aman, dan dihargai sebagai manusia utuh.
Namun keyakinan itu goyah ketika membaca kasus pelecehan seksual verbal yang dilakukan 16 mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Indonesia terhadap puluhan korban, termasuk mahasiswi dan dosen perempuan, di dalam grup obrolan internal. Kasus ini terasa dekat bagi siapa pun yang memiliki anak perempuan.
Yang menyakitkan bukan hanya tindakannya, melainkan cara pandang di baliknya. Perempuan dibicarakan sebagai bahan candaan. Tubuhnya dijadikan objek hiburan. Martabatnya dihapus dari percakapan. Kekerasan semacam ini lahir dari kebiasaan melihat perempuan bukan sebagai subjek, melainkan sesuatu yang bisa dikomentari bersama.
Saya terus memikirkan satu pertanyaan sederhana: Bagaimana jika yang mereka jadikan bahan lelucon itu adalah ibu sendiri, saudari, atau kelak anak perempuan mereka? Apakah masih akan terasa lucu?
Setiap April, kita kembali mengulang kalimat yang akrab: “Habis gelap terbitlah terang.” Kita merayakan Kartini, mengenang perjuangannya membuka akses pendidikan bagi perempuan. Namun kasus seperti ini membuat perayaan itu terasa getir. Perempuan memang sudah masuk ke ruang pendidikan, tetapi belum tentu aman di dalamnya.
Terdidik Tidak Selalu Berperspektif Setara
Kasus FH UI menampar anggapan lama seolah pendidikan tinggi otomatis melahirkan manusia yang menghormati perempuan. Para pelaku berada di fakultas hukum, ruang yang seharusnya mengajarkan keadilan, hak, etika, dan perlindungan terhadap korban. Mereka bukan orang yang asing dengan konsep persetujuan, relasi kuasa, atau kekerasan seksual.
Di sinilah ironi itu terlihat terang. Orang yang terliterasi, sedang belajar hukum, bahkan kelak bisa menjadi bagian dari sistem penegakan keadilan, tetap bisa melakukan kekerasan. Gelar, kampus ternama, dan kemampuan akademik ternyata bukan jaminan seseorang memiliki empati.
Kita terlalu sering menyamakan pintar dengan bermoral. Padahal pengetahuan hanya alat. Ia bisa dipakai untuk membela yang lemah, tetapi bisa juga dipakai untuk merendahkan orang lain. Seseorang dapat fasih bicara soal hukum di ruang kelas, lalu menertawakan perempuan di ruang percakapan tertutup.
Kartini menggunakan pena dan literasi untuk melawan ketidakadilan. Namun hari ini, literasi juga bisa dipakai untuk menyusun candaan seksis, menormalisasi pelecehan, dan melanggengkan budaya merendahkan perempuan. Karena itu, membaca buku tidak otomatis membuat seseorang adil.
Masalah utamanya bukan kurang pendidikan, melainkan cara laki-laki dibesarkan. Banyak yang tumbuh dengan keyakinan perempuan adalah objek komentar, objek penilaian, bahkan alat hiburan antar sesama laki-laki. Ketika itu dibiarkan, pendidikan tinggi hanya memberi bungkus yang lebih rapi pada kekerasan lama.
Baca juga: Yang Kita Tahu Sejauh ini tentang ‘Grup Chat’ Seksis Mahasiswa FH UI
Habis Gelap, Terbitlah Apa?
Saya membayangkan suatu hari anak perempuan saya masuk kampus impiannya. Ia belajar keras, mengejar cita-cita, dan percaya masa depan sedang menunggunya. Lalu ia berada di ruang yang sama dengan laki-laki yang cerdas, berprestasi, tetapi tidak pernah belajar menghormati perempuan. Pikiran itu menyesakkan.
Apa gunanya saya menyekolahkannya setinggi mungkin agar ia bisa menjadi “Kartini” versinya sendiri, jika dunia yang ia masuki masih memandang perempuan lebih dulu sebagai tubuh?
Kartini sudah membuka pintu. Perempuan sudah masuk ke dalamnya. Tetapi terang belum sepenuhnya hadir jika ruang itu masih menyimpan penghinaan, candaan seksis, dan ancaman yang dianggap biasa.
Karena itu, emansipasi tidak cukup berhenti pada akses. Anak laki-laki harus dibesarkan dengan empati, rasa hormat, dan pemahaman tentang batas tubuh orang lain. Laki-laki dewasa harus berani menegur temannya sendiri, bukan ikut tertawa atau memilih diam.
Baca juga: Setelah Banyak Kasus Kekerasan Seksual Viral, Kenapa Kampus Belum Belajar?
Kalau tidak, setiap April hanya akan menjadi pengulangan. Seremoni tanpa perubahan.
Dan suatu hari nanti, ketika anak perempuan kita cukup besar untuk memahami dunia, ia mungkin akan menatap kita bukan untuk meminta jawaban, tetapi untuk menagihnya.
“Habis gelap… terbitlah apa, Yah?”
Saya berharap saat hari itu datang, kita bisa menjawab: terang itu kami perjuangkan, bukan sekadar kami rayakan.
Tulisan ini bagian dari serial Hari Kartini yang mengangkat tema pentingnya lingkungan yang memungkinkan perempuan bertumbuh. Baca tulisan lainnya di sini untuk melihat beragam perspektif kontributor.





















