07/07/2026
Issues Politics & Society

Pamflet “Polisi Mitra Buruh” di DPR Dikritik Massa May Day 2026

Rentetan persekusi, kriminalisasi aktivis, dan kekerasan seksual yang dilakukan aparat kepolisian bikin massa aksi menilai narasi di pamflet “Polri mitra buruh” tak sesuai kenyataan.

  • May 1, 2026
  • 3 min read
  • 632 Views
Pamflet “Polisi Mitra Buruh” di DPR Dikritik Massa May Day 2026

Foto: Dokumentasi Magdalene

Pamflet bertuliskan “Polri mitra buruh, siap mengawal aspirasi dan perlindungan pekerja” terpasang di gerbang utama Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) sejak siang hingga sore dalam peringatan May Day 2026, (1/5). Spanduk berukuran sekitar 4×3 meter itu disebut berasal dari Polda Metro Jaya.

Keberadaan pamflet tersebut memicu respons dari massa aksi buruh yang hadir di lokasi. Sejumlah peserta aksi mempertanyakan narasi yang menyebut kepolisian sebagai mitra buruh.

Buruh asal Bandung, Dedi Prasetya, 44, menilai klaim tersebut tidak sesuai dengan pengalaman yang ia alami. Ia mengingat peristiwa peringatan Hari Buruh 2025 yang menurutnya berujung pembubaran paksa oleh aparat.

Baca juga: May Day 2026: Aliansi Perempuan Indonesia Tuntut Penghapusan Diskriminasi di Dunia Kerja

“Selama ini buruh bersama rakyat berjuang menuntut hak dan kesejahteraanya tanpa pihak lain. Nasib buruh yang buruk kerap diadvokasi oleh serikat-serikat buruh sendiri, mitra kami adalah rakyat, mahasiswa, elemen bawah lainnya,” kata Dedi kepada Magdalene di sela-sela aksi di DPR pada (1/5).

Dedi menolak narasi kepolisian sebagai mitra buruh dan mempertanyakan pesan yang disampaikan melalui pamflet tersebut.

Hal serupa disampaikan Anas, personel band The Brandals, yang turut hadir dalam aksi. Ia menilai narasi tersebut tidak sejalan dengan berbagai pengalaman yang ia dan kelompoknya alami dalam sejumlah aksi sebelumnya.

“Kita semua tau polisi bukan mitra buruh, bukan mitra rakyat. Dari kasus yang nggak kehitung seperti ngebunuh, merkosa lah. Terus masang pamflet begini di gerbang DPR gak pantes banget, justru kalo gini malah meledek menurut gua,” tuturnya kepada Magdalene.

Ia juga menyinggung peristiwa May Day 2025 yang menurutnya diwarnai tindakan pembubaran dan penangkapan. Dalam pandangannya, klaim sebagai mitra buruh perlu diikuti dengan perubahan di internal institusi kepolisian.

“Tahun lalu kita istilahnya dilecehkan dan diserang dan beberapa aktivis serta pertugas medis dikriminalisasi dan ditangkap. Terus masang beginian di may day. Nggak ada permintaan maaf tiba-tiba sekarang, minta jadi mitra atau partner ini kan etikanya nol,” katanya.

Baca juga: Dari Soeharto ke Prabowo, Tuntutan Perempuan Buruh Masih Sama: Apa Artinya?

Menurut Anas, peringatan May Day merupakan ruang bagi buruh untuk menyuarakan kondisi kerja yang mereka hadapi. Ia menyebut persoalan upah, jam kerja, hingga jaminan sosial masih menjadi isu utama yang dirasakan buruh.

“Saya merasakan itu sebagai buruh. Kita selalu ditempatkan di eselon paling bawah di struktur ekonomi. Dan dalam praktikrnya upahnya di bawah standar. tuntutan kasus yang terjadi udah ga bisa dihitung lah yah, outsourcing yang diberhentikan, lalu jamsostek bpjsnya tunjangan hari tuanya diperbaiki, layanan juga, kesempatam kerja juga disediakan lebih banyak juga,” katanya.

Kritik terhadap pamflet tersebut menjadi bagian dari dinamika aksi May Day 2026 di Jakarta, yang diwarnai berbagai tuntutan buruh terkait kondisi kerja dan perlindungan tenaga kerja.

About Author

Ahmad Khudori

Ahmad Khudori adalah seorang anak muda penyuka kelucuan orang lain, biar terpapar lucu.