‘Food Misogyny’: Bahkan Diskriminasi Gender juga Ada di Meja Makan Kita
Bagi banyak orang, meja makan adalah simbol kehangatan, tempat keluarga berkumpul untuk berbagi kasih lewat hidangan. Namun, bagi sebagian lainnya, terutama perempuan, meja makan bisa jadi ruang pertama mereka belajar hierarki.
Saya tumbuh dalam keluarga etnis Jawa. Pemandangan di meja makan rumah kami seperti ritual patriarki tak tertulis. Mama, yang menghabiskan berjam-jam di dapur, selalu duduk paling akhir. Sebelum ia menyentuh sendoknya, nasi dan lauk terbaik lebih dulu disajikan untuk Papa sebagai kepala keluarga, lalu untuk adik laki-laki saya.
Kami, para perempuan harus sabar menunggu giliran. Mama sering mendapat bagian terakhir. Tidak jarang ia hanya menyantap sisa, bahkan melewatkan protein utama seperti daging.
Ketika dewasa dan menempuh pendidikan S2 Kajian Gender, saya mulai melihat pola ini sebagai bentuk diskriminasi gender yang kerap luput disadari. Pelan-pelan saya mencoba menghentikan praktik tersebut di rumah sendiri.
Namun di luar sana, praktik diskriminasi ini masih terjadi. Belakangan, cuitan dari akun X tentang diskriminasi gender di meja makan viral. Disebut pengguna sebagai food misogyny, cuitan tersebut memicu ribuan balasan dari perempuan di berbagai belahan dunia yang membagikan pengalaman serupa.
Hingga (25/2) kemarin, cuitan itu telah menembus 13,4 juta tayangan. Perempuan dari berbagai budaya akhirnya menyadari ketidakadilan di meja makan mereka memiliki nama, dan itu adalah bagian dari struktur penindasan kolektif yang sistematis.
Istilah food misogyny memang belum populer di dunia akademik. Namun praktiknya nyata dan dekat dengan keseharian kita, mulai dari cara makanan dibagi, disajikan, dan dipersepsikan yang kerap dipengaruhi bias gender. Dalam budaya patriarkal, makanan bukan cuma soal kenyang. Ia bisa jadi cara halus untuk menunjukkan siapa yang diprioritaskan dan siapa yang harus mengalah.
Baca juga: Kesepian dan Isolasi: Musuh dan Tema Utama Karya Sastra Jepang
Korea Selatan
Di Korea Selatan, food misogyny terlihat melalui praktik shrinkflation berbasis gender. Sejumlah restoran dilaporkan memberi porsi berbeda untuk pelanggan perempuan dan laki-laki.
Media Civic News mewawancarai Lee Yu-jeong, pekerja kantor berusia 28 tahun. Ia menceritakan pengalaman saat makan siang di restoran dan mendapati porsi nasinya jauh lebih sedikit dibanding rekan laki-lakinya. Ketika memprotes, pelayan menjawab santai, “Kamu perempuan, kan?”
Fenomena ini kemudian diuji melalui eksperimen video program Golden Egg di saluran MBN. Hasilnya menunjukkan mayoritas restoran yang diuji memberi porsi lebih kecil kepada pelanggan perempuan meski harga yang dibayar sama.
Praktik ini juga terjadi pada layanan pesan antar. Sejumlah perempuan mengaku menggunakan nama laki-laki atau nama maskulin saat memesan agar memperoleh porsi yang dianggap “normal”.
Amerika Serikat
Di Amerika Serikat, dugaan praktik serupa muncul melalui eksperimen Emily Joy Lemus di akun TikTok @emilyjoylemus pada awal 2025. Ia memesan dua menu identik di restoran cepat saji. Semua bahan dan pilihan sama, kecuali nama depan yang digunakan: Satu nama perempuan, satu nama laki-laki.
Hasilnya menunjukkan hidangan dengan nama laki-laki tampak lebih banyak. Untuk memastikan, Lemus mengulang eksperimen di tempat lain dan membawa timbangan. Berat pesanan atas nama perempuan tercatat 685 gram, sementara pesanan atas nama laki-laki mencapai 714 gram.
Selisih hampir 30 gram ini memunculkan pertanyaan tentang kemungkinan bias tak sadar dalam proses penyajian.
Selain soal porsi, pengalaman diskriminasi juga muncul dalam pelayanan restoran. Kritikus makanan Eve Hill-Agnus dari D Magazine menulis pengalamannya di steakhouse Dallas.
Di Al Biernat’s, meski Hill-Agnus membayar tagihan ratusan dolar dengan kartu kreditnya, pelayan mengembalikan kartu tersebut sambil menjabat tangan rekan laki-laki di mejanya.
Di Pappas Bros, pelayan bahkan menolak berbicara langsung atau melakukan kontak mata dengannya. Setiap pertanyaan tentang menu justru dijawab ke arah laki-laki yang duduk bersamanya.
Baca juga: Magdalene Primer: Perbedaan Misogini dan Seksisme
Inggris
Di Inggris, isu ini diuji melalui penelitian berjudul Gender disparities in portion sizes: A natural field experiment (2025). Penelitian tersebut melibatkan 147 partisipan yang dibayar untuk menjadi pelanggan restoran dalam eksperimen lapangan.
Hasilnya menunjukkan meski pelanggan yang lebih tinggi cenderung menerima porsi sedikit lebih besar, faktor gender menjadi variabel paling signifikan.
Laki-laki menerima rata-rata 147 gram daging lebih banyak. Perempuan rata-rata menerima 132 gram atau sekitar 89 persen dari porsi laki-laki, meski harga yang dibayar sama.
Temuan ini menunjukkan adanya bias kognitif dalam pelayanan. Porsi besar pada perempuan dipersepsikan tidak lazim. Konsekuensinya, konsumen perempuan membayar lebih mahal per gram makanan yang diterima.
Baca juga: Rambut Pendek An San dan Feminisme yang Ditabukan Korea Selatan
Uganda dan India
Penelitian yang diterbitkan Journal of Ethnobiology and Ethnomedicine Springer pada 2024 mendokumentasikan tabu budaya terhadap konsumsi protein hewani di Distrik Buyende, Uganda. Perempuan hamil dan menyusui dilarang memakan ikan, ayam, serta telur ikan karena mitos seputar komplikasi persalinan.
Larangan ini diwariskan secara turun-temurun melalui interaksi sosial komunitas. Dampaknya, banyak perempuan mengalami hidden hunger, defisiensi mikronutrien kronis, dan anemia. Dalam sejumlah kasus, pembatasan tersebut tidak berhenti setelah masa kehamilan, melainkan melekat sepanjang hidup.
Di India, khususnya dalam sejarah kuliner Bengali, makanan juga menjadi alat pengaturan moralitas perempuan. Laporan Food52 mencatat para janda dilarang mengonsumsi makanan yang dianggap “panas” atau “membangkitkan gairah”, termasuk daging, ikan, bawang putih, dan bawang merah. Mereka diwajibkan menjalani diet vegetarian yang sangat sederhana.
Pembatasan tersebut berdampak pada kondisi gizi janda-janda lanjut usia. Sementara laki-laki tetap menikmati makanan kaya protein dan rempah, perempuan yang kehilangan suami dibatasi aksesnya terhadap jenis makanan tertentu.
Pada akhirnya, food misogyny memperlihatkan diskriminasi gender tidak selalu hadir dalam bentuk kebijakan formal. Ia sering tersembunyi dalam praktik sehari-hari yang dianggap wajar atau tradisional. Dari porsi yang menyusut hingga tabu protein, meja makan dapat menjadi ruang reproduksi ketimpangan yang berdampak langsung pada kesehatan dan kesejahteraan perempuan.
Ilustrasi oleh Karina Tungari





















