07/07/2026
Culture Opini

Mitos Cinta sebagai Penyembuh dalam Album Baru Olivia Rodrigo

Lewat album ketiganya, Olivia Rodrigo membongkar mitos cinta sebagai penyembuh, narasi yang selama ini diwariskan kepada perempuan.

  • June 26, 2026
  • 9 min read
  • 669 Views
Mitos Cinta sebagai Penyembuh dalam Album Baru Olivia Rodrigo

Foto: Spotify

Pisces and a gemini but I think we might go really nice together…

Bridge lagu “drop dead” dari album terbaru Olivia Rodrigo berjudul “you seem pretty sad for a girl so in love” itu terngiang di kepala saya dua empat pertujuh. Melodinya begitu mudah akrab di telinga. Ditambah, lagu romantis ini seperti angin segar dari Olivia Rodrigo yang selama ini lebih banyak mengeluarkan lagu bernuansa patah hati.

Di album debutnya “SOUR”, Olivia mengeksplorasi patah hati dan perasaan tidak aman di masa-masa remaja. Album keduanya “GUTS”, menceritakan soal gejolak saat beranjak dewasa. Sementara “you seem pretty sad for a girl so in love” mengisahkan perihal realitas cinta yang tidak bisa otomatis menyembuhkan kesedihan dan kecemasan dari diri seorang individu.

Album ini terbagi menjadi dua bagian, yakni “girl so in love” dan “you seem pretty sad”. Dalam “girl so in love” Olivia membawakan lagu-lagu cinta yang penuh euforia, magis, dan terasa penuh harapan. Sementara itu, “you seem pretty sad” berisikan lagu-lagu soal kemerosotan hubungan, kesadaran bahwa hubungan tersebut menjadi tidak sehat, dan proses menyakitkan untuk mengakhirinya.

Yang menarik dari album ini adalah bagaimana Olivia memotret cinta, yang selama ini selalu dilekatkan dengan citra “penyembuh” atau “penyelamat” dalam dongeng-dongeng dan cerita populer, tetapi nyatanya cinta justru dapat menyeret seseorang lebih dalam lagi ke dalam kesedihan. 

Baca juga: Olivia Rodrigo and the Expiration Date of Female Likeability

‘girl so in love’: Gagasan cinta yang penuh euforia

Bagian ‘girl so in love’ dalam album ini terdiri dari tujuh lagu, antara lain berjudul: “drop dead”, “stupid song”, “honeybee”, “maggots for brains”, “u + me = <3”, “my way”, dan “purple”.

Secara garis besar, bagian ini memperdengarkan perasaan menggebu-gebu saat proses pendekatan hingga pacaran, dimana tokoh dalam lagu-lagunya memiliki gagasan kalau orang yang disukainya sangat sempurna. 

Hal ini terlihat dalam lagu pembuka “drop dead”, dari lirik “And I feel like I might throw up / Left hook, right punch to the gut / You’re so so pretty boy I’m paranoid I made you up”. Dari lirik itu terlihat tokoh dalam lagu sangat kagum dengan orang yang ia suka, dan bermanifestasi bahwa dirinya akan berakhir bersama dengan orang yang disukainya. Olivia menyebutnya sebagai “feminine intuition”. 

Euforia ini berlanjut ke lagu “stupid song”. Dalam lirik “You’re a spark in the dark and my clothes are caught aflame” terlihat bagaimana lirik tersebut menggambarkan bagaimana orang yang disukainya diposisikan sebagai cahaya yang datang menyelamatkan ketika dunianya sedang suram.

Gagasan cinta sebagai “penyembuh” dan “penyelamat” semakin tergambar dalam lagu “honeybee”. 

So I guess that it’s true / Time can heal even the worst of wounds

In the dark, I’m not scared / I just reach and you’re right there

Penggambaran cinta sebagai penyembuh atau penyelamat sejatinya telah lama melekat dalam narasi di kisah-kisah cinta. Misalnya, dalam dongeng putri tidur, karakter sang putri baru dapat bangun dari kutukan tidur panjangnya setelah mendapat ciuman dari laki-laki cinta sejatinya.

Mengutip tulisan Intan dan Handayani (2022), narasi seperti ini merupakan pelanggengan gagasan tentang ketergantungan perempuan pada laki-laki. Norma patriarki melekatkan perempuan pada stigma tradisionalnya, yaitu mendamba tokoh laki-laki ideal sebagai penyelamat bagi perempuan.

Menukil Allan (2016), Simone de Beauvoir dalam The Woman in Love menulis perempuan yang jatuh cinta cenderung menjadikan kekasihnya sebagai pusat dan sumber makna, mengangkatnya ke status semacam tuhan, dan mencari pembenaran atas keberadaan dirinya melalui sang kekasih.

Pemikiran Beauvoir semakin terlihat nyata dalam lagu-lagu lainnya di bagian “girl so in love”. Di “maggots for brains” misalnya, karakter dalam lagu menjadikan sang kekasih sebagai pusat dunia. Ia bilang dirinya seperti zombie atau mayat hidup saat sang kekasih tidak berada di dekatnya. Pikirannya pun selalu memikirkan kekasihnya.

Implikasi lebih lanjut dari pemujaan itu menurut Beauvoir adalah kecemburuan. Meskipun laki-laki dan perempuan mengalami kecemburuan, Beauvoir berpendapat bahwa dalam kasus perempuan kecemburuan terjadi karena ia sudah menyerahkan seluruh dirinya pada cinta itu. 

Dengan demikian kehilangan sang kekasih berarti kehilangan segalanya. Akibatnya, perempuan lain mudah dianggap sebagai ancaman, dan rasa cemburu ini semakin mengurung dirinya dalam dunia sang kekasih.

Kecemburuan itu tampak dalam lagu “my way”. Karakter dalam lagu digambarkan cemburu dengan kehadiran perempuan lain, dikarenakan perempuan tersebut terus berada di sekitar kekasihnya meskipun tahu kekasihnya sudah ada yang punya.

Di sinilah letak masalahnya, ketika rasa aman ditempatkan di tangan orang lain, rasa aman itu tidak pernah benar-benar menjadi milik sang perempuan. Dan inilah yang kelak dibongkar oleh bagian “you seem pretty sad”, yang mulai terlihat dari lagu “Purple”. Lagu ini menjadi jembatan dari bagian “girl so in love” ke “you seem pretty sad”. 

Di lagu “Purple”, meskipun melodinya terdengar romantis, di sini karakter dalam lagu digambarkan mulai menyadari kalau hubungannya tidak sehat. Perlahan-lahan ia sadar kalau ia mulai tenggelam dalam kesedihan. Sebagaimana digambarkan dalam lirik berikut.

I Had big dreams ‘til I tied myself to you / Now I’m all consumed

Melt with you ‘til it all turns black / Are we so in love / Are we too attached

Melt with you ‘til I just feel sad

Baca juga: Lagu Patah Hati Olivia Rodrigo: Saatnya Rayakan Kehilangan dengan Elegan

‘you seem pretty sad’: Ketika Cinta Tak Bisa Menyembuhkan

Jika bagian pertama menggambarkan euforia jatuh cinta, bagian ini memperlihatkan kemerosotan hubungan secara emosional. Mulai dari munculnya berbagai masalah, patah hati, hingga berakhirnya hubungan tersebut.

Bagian “you seem pretty sad” mengeksplorasi perasaan cemas dalam hubungan, takut ditinggalkan, patah hati, hingga mencapai kesadaran akan nilai diri sendiri. Bagian ini terdiri dari enam lagu: “the cure”, “begged”, “what’s wrong with me”, “less”, “expectations”, dan “cigarettes smoke”.

Lagu “the cure” mengisahkan kesadaran pahit bahwa cinta ternyata tidak mampu menyembuhkan luka yang selama ini sang karakter bawa. Kesadaran ini tergambar lewat metafora medis yang memenuhi lagu. Sang kekasih diibaratkan penawar racun, dan cintanya terasa seperti obat, tetapi seberapa pun racun itu berusaha untuk disedot cinta tetap tidak akan pernah menjadi obatnya.

Lagu selanjutnya, “begged” menunjukkan kesadaran karakter dalam lagu bahwa hubungan yang dijalani sudah tidak sehat dan satu arah. Dibalut dengan genre balada, lagu ini berkisah tentang bertahan dalam hubungan yang timpang dan penuh rasa sakit, karena harus memohon untuk mendapatkan kasih sayang yang seharusnya diberikan secara tulus.

So I’m cool and forgiving / I’ll take what you’re giving / But nothing’s quite enough / When I know that to get it Ibegged

Kesadaran bahwa hubungan tersebut tidak sehat kemudian berkembang menjadi pertanyaan yang lebih mendasar: apakah selama ini masalahnya ada pada hubungan itu, atau justru pada dirinya sendiri?

Pertanyaan tersebut menjadi inti dari lagu “what’s wrong with me” yang dibawakan bersama Robert Smith. Lagu ini menggambarkan fase ketika seseorang mulai mempertanyakan dirinya setelah hubungan yang dijalani terus-menerus menimbulkan ketidakbahagiaan.

Namun, alih-alih menemukan kekurangan dalam dirinya, karakter dalam lagu justru menyadari bahwa sumber penderitaannya bukanlah kekurangan pribadi, melainkan dari hubungan yang sudah memburuk. 

Kesadaran ini penting karena mematahkan pola yang sebelumnya dibangun dalam bagian “girl so in love”. Jika pada fase jatuh cinta sang kekasih ditempatkan sebagai sumber rasa aman dan makna hidup, maka pada titik ini karakter dalam lagu mulai menyadari bahwa sang kekasih bukanlah sosok yang sempurna dan mungkin adalah sumber ketidakbahagiaannya. Ia menarik kembali pusat hidupnya dari sang kekasih kepada dirinya sendiri.

Puncak dari kesadaran itu hadir dalam lagu “expectations”. Lagu ini berbicara tentang pengembangan diri, mengenali nilai diri sendiri, dan keberanian untuk menaikkan standar setelah melalui hubungan yang mengecewakan.

I thought that he was perfect / And now his number’s blocked / Took a couple months / But now I am secure

I won’t settle for a guy with a fake job / They seem so desperate for loving / But baby I’m not / Gave my heart with zero stipulations / Now I take careful consideration

Dari lirik itu, terlihat bahwa karakter dalam lagu mulai perlahan sembuh dan sadar akan nilai dirinya sendiri. Ia mengusahakan kesembuhannya sendiri dan tidak lagi memusatkan nilai dirinya pada sang kekasih.

Album kemudian ditutup oleh “cigarette smoke”. Sebagai lagu terakhir, “cigarette smoke” tidak lagi berfokus pada upaya memperbaiki hubungan, melainkan pada proses berdamai dengan kehancurannya. 

Karakter dalam lagu menyesali waktu yang telah ia habiskan, marah karena bertahan terlalu lama, sekaligus menyadari bahwa rasa sepi setelah putus ternyata lebih baik daripada terus-menerus memohon kasih sayang dari orang yang tidak mampu memberikannya.

Baca juga: Olivia Dean dan Seni Mencintai yang Tak Buat Perempuan Kehilangan Diri

Membongkar Mitos Cinta sebagai Penyelamat Diri

Setelah mendengarkan seisi album, pertanyaan yang menjadi judul album–kenapa seorang perempuan yang jatuh cinta justru merasa sedih–terjawab. 

Kesedihan tersebut bukan semata persoalan personal, melainkan sesuatu yang berakar jauh lebih dalam. Seperti yang ditulis Beauvoir, perempuan sejak lama diposisikan untuk mencari pembenaran atas keberadaan dirinya melalui cinta. Perempuan dibangun untuk menjadikan sang kekasih sebagai pusat dan sumber makna hidupnya.

Dalam psikologis, fenomena ini disebut Cinderella Complex, atau kondisi psikologis dimana seseorang memiliki ketakutan bawah sadar akan kemandirian dan sangat bergantung pada orang lain, terutama pasangan, yang merupakan hasil pengondisian sejak perempuan masih kecil melalui dongeng-dongeng yang menjanjikan bahwa sang putri baru akan utuh setelah datang cinta sejati. 

Di sinilah letak keberanian album ini. Olivia tidak menolak cinta, tetapi ia membongkar skrip yang selama ini diwariskan: bahwa perempuan baru menjadi utuh ketika diselamatkan, dipilih, dan dicintai. 

Lewat perjalanan dari “girl so in love” menuju “you seem pretty sad”, ia memindahkan pusat penyembuhan dari sosok kekasih kembali ke dalam dirinya sendiri, dan menunjukkan bahwa rasa aman bukanlah sesuatu yang bisa dititipkan melainkan sesuatu yang harus dibangun sendiri.

Pada akhirnya, “you seem pretty sad for a girl so in love” adalah catatan tentang seorang perempuan yang berhenti menunggu diselamatkan, dan memilih menyelamatkan dirinya sendiri. Sebuah penolakan terhadap dongeng yang sejak lama mengajari perempuan bahwa cinta adalah satu-satunya jalan menjadi utuh.

Dan rasa aman itu, pada akhirnya, ia temukan sendiri. 

Took a couple months / But now I am secure” 

About Author

Muhammad Rifaldy Zelan

Muhammad Rifaldy Zelan adalah penyuka makanan pedas tapi gak suka berkeringat. Ia juga suka duduk-duduk di taman dengan pikiran kosong.